Lentera Terakhir Amira

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 29 December 2016

Angin yang sedang berhembus kencang pagi itu berhasil membuat amira menggigil hebat. Hari itu ia tak seperti biasanya, ia pergi ke kampus dengan menaiki kendaraan umum. Entah apa sebabnya, namun bukan hanya itu, ia juga pergi dengan mata yang sembab dan wajah yang kusut. Sungguh bukan amira yang biasa kukenal. Aku mencoba untuk mendekatinya dari belakang…

“Amira!” Kutepuk pundaknya dengan cukup kencang sehingga membuat dia sedikit terkejut. Dia tak menjawab melainkan tersenyum kecut.
“Apa yang terjadi denganmu?” Selidikku padanya.
“Kau tak perlu tau yan, tak ada yang perlu tau dengan semua ini.” Jawabnya ketus namun matanya berkaca-kaca.
Hatiku semakin tak karuan melihat orang yang aku sayangi seperti ini.

Aku terus mengikuti langkah amira yang semakin cepat. Sesampainya di depan kelas aku menahannya supaya tidak masuk dan aku menyeretnya ke taman. Kududukkan dia di bangku taman dan sejenak kubiarkan dia berdiam. Aku melihat ia sudah tak tahan lagi menampung air matanya.

“Kau anggap aku ini apa? Kau punya masalah dan tak mau membaginya denganku? Apa aku melakukan kesalahan padamu. Kau juga tak bilang jika pagi ini kau berangkat lebih dulu, aku menjemputmu dan bunda bilang kau berangkat naik kendaraan umum. Apa yang kau mau? Kau tak mau cerita lagi denganku?” Serentetan pertanyaan kulontarkan padanya dan bukannya menjawab Amira malah menangis sejadi jadinya. Perlahan kudekap tubuhnya sehingga air matanya membasahi dadaku.
“Ceritalah, apa yang terjadi?” Tanyaku padanya sembari mengusap air mata di pipinya. Ia menggeleng dan tetap menutup mulutnya. Tak sepatah katapun ia katakan. Karena kesal aku pun melepas pelukanku dan hendak pergi meninggalkannya. Amira menarik tanganku dan ia berkata.
“Apa kau akan sanggup mendengarnya jika aku menceritakan semuanya kepadamu?” Aku tak menjawab dan hanya kembali duduk di sampingnya.
“Apa kau mencintaiku yan?” Tanyanya.
“Apa yang kau katakan? Kau meragukanku setelah 5 tahun kita bersama?” Tanyaku balik.
“Bukan itu yang kumaksud, aku tak ingin melukaimu.” Amira kembali bercucuran air mata.
“Sebenarnya ada apa dengan kau? Akhir akhir ini kau sering tak datang kuliah. Dan saat kau tak datang ponsel kau tak bisa terhubung ponsel bunda dan juga abah. Apa yang kau senbunyikan dariku.” Dengan wajah kesal aku hendak kembali beranjak meninggalkan amira dan ia kembali menahanku. Namun kali ini aku memalingkan pandanganku darinya.
“Aku sakit.” Kata Amira. “Kau sering tau akhir-akhir ini nafasku sering terasa berat. Dan tentang yang kau tanyakan aku sering tak datang kuliah, aku kesakitan dan aku tak pernah mau dibawa ke dokter. Hingga kemarin aku sempat tak sadarkan diri lalu abah membawaku ke dokter. Dokter bilang belum parah, tapi apapun dapat terjadi padaku.”
Aku terduduk lemas mendengar penjelasan amira. “PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)” lanjutnya.
Aku tak lagi berkata-kata dan memluknya sangat erat. Dia menangis sejadi jadinya.

Keesokan harinya aku dan Amira hendak pergi menonton bioskop selepas ada kelas di kampus.
“Yan, makasih kau tak meninggalkanku setelah tau keadaanku yang begini.”
“Kenapa aku harus meninggalkanmu, sudah 5 tahun kita bersama dan sudah ada cincin yang bersemat di jari kita, aku mau meninggalkan kau hanya karena cobaan ini? Aku tak bodoh sayang.” Kubelai lembut keapala Amira dengan penuh rasa cinta. Jujur sesungguhnya hatiku sangat pedih dengan semua ini.
“Yan, apapun yang terjadi hari ini kau jangan menitikkan sedikitpun air mata kau.” Aku menghentikan mobilku secara mendadak dan menatap dalam mata amira yang mulai berlinang.
“Hey, apa yang kau katakan. Kau akan sembuh. Oh ya kau ingat hari ini hari apa?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraannya yang mulai ngawur.
“Aniv ke 5 kita.” Jawabnya sembari memelukku.
Aku mengambil sesuatu di jok belakang mobilku. Dan aku beri kepada Amira.
“Apa ini?” Tanyanya.
“Kau buka nanti, sekarang kita ke tempat biasa saja. Tak apa kan kalau kita tak jadi pergi ke bioskop?”
“Terserah kau saja.” Jawabnya dengan senyum yang sangat manis.
“Oh ya, masih ada lagi untuk kau.” Kuberikan setangkai mawar dan coklat berbentuk hati untuk amira. Ia hanya tersenyum dan mencium keningku.
“Terimakasih.” Katanya.

Sesampainya di danau tempat biasa kita merayakan aniv dan tempat dulu kita jadian Amira segera membuka kotak besar yang tadi kuberikan.
“Pasti lentera.” Tebaknya. Sudah menjadi tradisiku dengan amira jika aniv ganjil aku akan memberinya lentera dan jika aniv genap ia yang akan memberiku lentera.
“Setelah lentera berbentuk cabe, lentera apa lagi sekarang.” Candanya. Kami pun tertawa terbahak-bahak setelah amira membuka kotak lentera dan saat itu kuberi lentera berbentuk nama Amira dan ada sepasang boneka pengantin.
“Terima kasih banyak.” Amira tersenyum, dan ia tiba-tiba memegang dadanya.
“Mir, Amira. Kau tak apa? Aku memeluknya.”
“Ttee..erima kasih. Aku mencintaimu.” Dengan nafas tercengal ia mengatakannya. Amira pun menutup matanya, dan nafasnya berhenti berhembus.
“Amiiraaaaaa!!” Teriakku. Aku menahan tangis karena amira telah mengatakan apapun yang terjadi aku tak boleh menangis.

Aku membawanya pulang, dan keesokan harinya ia dimakamkan di sebelah makan neneknya.

End

Cerpen Karangan: Keyko Dera V.L
Facebook: Keyko De Vellina El

Cerpen Lentera Terakhir Amira merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When I Miss You

Oleh:
Jari-jari kokoh itu terus menekan setiap tuts piano di depannya. Mengalunkan sebuah nada indah yang siapa saja mendengarnya akan terhipnotis. Aku berjalan mengikuti alunan suara indah itu, yang aku

Gue Benci Hari Itu

Oleh:
Saat di ruangan kelas. Saat pelajaran Fisika, saat itu bu Ranty tidak hadir “Christine, sini deh!, Ada yang ingin gue omongin sama lo!” Sapa Yeni. “Ada apa Yeni?” Jawab

Melepas Adalah Puncak Mencintai

Oleh:
Hidup adalah gerakan dari sebuah lembaran takdir yang tertulis di lauhul mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan. Tak terkecuali takdir tentang cinta, tentang manisnya pertemuan atau pahitnya perpisahan. Jika aku

Cinta di Ujung Senja

Oleh:
Sinar matahari yang mulai redup ditemani semilir angin kencang menciptakan ombak menabrak batu karang. Terlihat seorang gadis mengenakan gamis polos berwarna abu-abu muda dengan kerudung biru mudanya yang tertiup

Takdir Ku

Oleh:
“Dear Diary. Ini memang pahit dan sulit untuk aku jalani. Namun, aku harus bisa untuk menelannya dan menjalaninya. Ini adalah ujian untukku.. agar aku mengerti betapa sulitnya mencari sekeping

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *