Lima Menit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 September 2017

“Fan, dengerin dulu. Jangan gegabah ngambil keputusan. Takutnya nanti nyesel.” Nasehat Afiq diiringi suara gemercik hujan, bak angin yang berlalu di telingaku. Aku terlanjur kecewa. Bahkan memberi sedikit penjelasan pun tidak. Erina! Apa salahku padamu.

Hujan semakin deras, sederas tetesan air di pelupuk mataku. Entah apa kata teman-temanku jika mereka melihatku seperti ini. Erina. Gadis itu yang membuatku seperti ini.

“Naufan cukup! Kita nggak tau apa alasan Erina. Jangan su’udhan dulu.” Lagi-lagi Afiq memberikan beberapa petuah andalannya. Biasanya Aku selalu luluh dengan apa yang Ia katakan. Tapi kali ini tidak. Kata-katanya berlalu begitu saja di telingaku. Fikiranku sungguh sangat kacau sekarang.

Sudah dua tahun Aku membina hubungan dengan Erina. Tak pernah ada masalah serius dalam hubungan kami. Baru kemarin kami bertemu di taman. Dan hari ini, tiba-tiba Elga, salah satu teman dekatnya datang menemuiku dan memberiku sepucuk surat. Apa-apaan ini? Tanpa ada penjelasan sedikitpun, dia pergi begitu saja.

Afiq masih saja setia berceloteh di sampingku. Dia terus saja membela Erina. Aku semakin geram mendengarnya. Dengan amarah yang meluap-luap, Aku berdiri sambil meremas sepucuk surat yang ada di genggamanku.

“Stop Fiq. Nggak usah sebut-sebut nama itu lagi.”

Baru kali ini aku membentak Afiq seperti itu. Telingaku sungguh panas mendengar semua celotehannya. Ya Aku tau dia hanya berusaha meredam emosiku. Tapi hal itu justru membuatku semakin panas. Semakin membenci nama itu.

“Ayolah, Fan. Mana Naufan yang biasanya, mana Naufan yang…”
“Tinggalkan Aku sendiri!”

Terlihat raut kekecewaan dari wajahnya. Dengan lesu Ia keluar dari kamarku. Tinggallah aku sendiri. Merenungi nasib senduku di tengah mencekamnya udara malam ini.

Dengan malas, kulangkahkan kakiku menuju balkon di samping kiri kamarku. Hujan masih deras. Terlihat beberapa kali cahaya menyala-nyala di langit, diiringi suara gemuruh yang begitu menggelegar. Huhhh.. dengan menghela nafas berat, kulangkahkan kembali kakiku.

Kutarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhku. Berharap ini mimpi. Ayolah bangun. Kembali seperti semula.
Segala macam kenangan-kenagan bersamanya berputar-putar dalam ingatanku. Membawaku terlelap ke alam mimpi.

Matahari telah menampakkan kilauan indahnya. Beberapa menerobos masuk melalui celah-celah jendela di kamarku.
“Kringggg!!!”
Bersamaan dengan bunyi alarm yang memekakan telinga itu, terdengar suara lembut seorang bidadari di balik pintu. Ya siapa lagi kalau bukan Bunda.
“Tok.. tok tok. Naufan? Bangun nak. Nanti kamu terlambat ke sekolah”
“Iya Bun. Ini juga udah bangun”

Dengan malas kubuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Kuambil ponsel di atas meja kecil di samping ranjang. ’27 missed calls and 15 messages’. Huhhh.. kuhembuskan nafas, dan kulempar ponselku ke atas tempat tidur. “nggak penting” fikirku dalam hati.

Tepat pukul 06.00, Aku berangkat ke sekolah. Sampai sekolah hanya ada beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang melewati koridor. Ya maklum saja. Ini masih pagi. Kuteruskan langkahku menuju kelas. Sesampainya di kelas, Aku melihat Afiq dan Elga. Mereka? Tumben sekali mereka rajin. Biasanya bel masuk baru datang.

Menyadari kehadiranku, dengan langkah tergesa Afiq menghampiriku.
“Fan. Ada sesuatu yang harus kita bertiga bicarain” kata Afiq dengan muka datar dan wajah yang nampak begitu serius.
“Apa lagi? Kalau tentang gadis itu, lebih baik nggak usah” jawabku sedikit ketus.
“Fan, dengerin kita dulu. Maaf sebelumnya kita berdua nggak kasih tau soal ini. Erina yang minta semuanya untuk dirahasiain. Tapi sekarang, kita berdua nggak bisa rahasiain ini. Kita nggak tega lihat Erina menderita, Fan. Tolong. Jenguk dia Fan. Sebelum terlambat.”
“Kita berdua cuma nggak mau lihat Kamu nyesel, Fan. Kata dokter, Erina nggak akan bertahan lama”
Jedarrr.. bagai tersambar petir rasa hatiku begitu mendengar penuturan kedua sahabatku ini. Erina? Ada apa ini? Ada apa dengan Erina? Nggak bertahan lama? Maksudnya apa? Berbagai macam pertanyaan berputar-putar dalam otak ku. Erina.. ada apa lagi ini? Ada apa denganmu?

“Apa maksud kalian?”
Kutatap tajam kedua manusia di depanku ini. Seketika mereka saling pandang dan menunduk. Selang beberapa detik kudengar isakkan dari salah satunya. Elga. Kenapa dia menangis?
“hiks.. hikss.. temui Erin, Fan. Tolong. Buat dia bahagia di akhir hidupnya” jawab Elga dengan isakan yang semakin mendalam.
“Elga, jelasin semu…” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, terdengar alunan lagu yang kutau berjudul sempurna dari ponsel Afiq.
‘kau begitu sempurna,. Di mataku kau begitu indah…’

“iya hallo?”
“…”
“Apa? Iya, tante tenang ya.. saya ke sana sekarang”
Tutt (sambungan telepon terputus)

“Kita ke rumah sakit sekarang. Erin kritis” kata Afiq tiba-tiba.
Ya Tuhan… apa lagi ini. Sembuhkan gadis kecilku Tuhan. Apapun penyakitnya, tolong sembuhkan dia. Aku ingin bersamanya. Aku ingin mengatakan padanya kalau Aku tidak membencinya. Izinkan aku bersamanya Ya Rabb.

Sekitar sepuluh menit perjalanan. Entahlah bagaimana dengan izinku pada sekolah nantinya. Kami segera bergegas menuju kamar inap Erina. Sesampainya di sana, hanya raut wajah kesedihan nan penuh air mata dari keluarga Erina. Belum sempat Aku menyalami mereka, dokter keluar dari kamar tempat Erina di rawat.

“Apa di sini ada yang bernama Naufan?” Tanya dokter tersebut kepada kami. Aku tercengang begitu mendengar namaku di sebutkan dokter itu. Buru-buru kuangkat tanganku sembari menjawab pertanyaan dokter tersebut.
“Saya dok. Saya Naufan”
“Saudara Naufan sebaiknya anda temui pasien. Sedari tadi pasien memanggil-manggil nama Naufan. Kita berdo’a saja, semoga sang Khaliq memberikan kesembuhan pada Erina.”
Setelah mendengar penuturan dokter tadi, Aku meminta izin kepada keluarga Erin untuk masuk terlebih dahulu. Ada rasa tidak enak mendahului keluarganya. Tetapi sepertinya mereka cukup mengerti. Karena yang mereka inginkan hanyalah kesembuhan Erina. Bisa melihatnya tertawa lagi adalah anugerah terindah dari Tuhan.

Sekali lagi kumantapkan langkah kakiku mendekati ranjang kecil, tempat gadisku berbaring dengan begitu lemahnya. Aku duduk di bangku dekat ranjangnya. Kuraih tangan mungilnya. Kugenggam erat, seakan takut kehilangan. Melihatnya seperti ini, mataku mulai memanas.
“Erina… ini aku Naufan.” Kutatap tubuh mungil dihadapanku ini. Runtuh sudah pertahanku. Tak sanggup lagi aku menahannya. Buliran-buliran hangat mulai mengalir, membasahi pipiku. Semakin terisaknya diriku sekarang. Bahkan hampir tak terdengar suara nan lembut, menyapa, menyebutkan namaku dengan indahnya.
“Na..ufan..”
Aku mendongak, menatap sang empunya suara. Memastikan apakah benar gadis kecilku yang berkata.
“Erina.. kamu sudah sadar.. (sambil menghapus sisa air mataku) tunggu sebentar, Aku panggil dokter..”
Belum sempat aku melangkah, terasa tangan yang begitu rapuh memegang pergelangan tanganku. Ya Erina. Sepertinya ia enggan Aku pergi.
“Jangan pergi. Lima menit saja. Aku ingin bicara, Fan”

Aku kembali duduk di tempatku semula. Tak tega rasanya melihatnya yang begitu rapuh, dengan tatapan tak berdaya. Kupererat genggaman tanganku pada jemari mungilnya.
“Aku di sini, sayang” Ia tersenyum mendengar ucapanku. Tak terasa, Aku ikut menyungingkan senyuman.

“Fan, aku minta maaf ya. Bu…”
“Sttt… sudahlah Erina” ku potong pembicaraannya, karena Aku geram mendengar perkataan maaf itu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu Erina sayang. Kataku dalam hati.
“Naufan dengarkan Aku dulu. Aku mohon jangan memotong pembicaraanku” katanya dengan suara semakin melemah. Kuputuskan untuk diam. Dan mendengarkan setiap kata-kata yang ia lontarkan.
“Naufan… Aku minta maaf, Aku memang salah tidak memberitahumu sejak awal. Bahkan Aku malah menitipkan surat yang tak berisi penjelasan sedikitpun itu. Aku mencintaimu Fan.. terimakasih Kamu mau jadi bagian dalam hidupku selama dua tahun ini. Simpan kenangan kita ya..”

Cerpen Karangan: Arum (Rumtamah Fitriani)
Facebook: ArumFii
Nama: Rumtamah Fitriani (Arum)
Kelas : XI Agama
Sekolah: Man 2 Ponorogo
Alamat: Sambit, Ponorogo
IG: arumfii_
twitter: @ArumFii

Cerpen Lima Menit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Kesampaian

Oleh:
Agustus 2010 awal pertamanya aku menginjakkan kakiku di bangku SMA yang menjadi pilihanku. Em.. perkenalkan terlebih dahulu nama aku tiya satya, cukup senang aku waktu itu karena masa-masa aku

Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

Goyah

Oleh:
Sakittt! Itulah rasa yang menghiasi jiwaku saat ini. “Aku tahu ini berat, sangat berat malah, namun kita juga tidak bisa egois karena cinta, mungkin aku harus pergi saat ini

Surat Tersimpan

Oleh:
“Entah karena terbiasa atau aku memang menyukainya, padahal dulu perasaan istimewa ini tak ada untuk dirinya” gumam dalam hati Aryan yang melamun di gerbang kampus. “Kamu melamun..?” Aryan hanya

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Chelina adalah seorang gadis cantik yang sangat dikagumi para cowok-cowok di SMAnya, beberapa kali cowok nembak dia, dia enggak pernah mau menerima, katanya sih “pacaran itu sok penting, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *