Little Thing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Angin berhembus kencang mengibarkan rambut hitam panjangku. Desiran ombak terdengar di telingaku. Matahari tampak di ujung sana segera menghilang. Ku pegang erat sebuah kalung kerang di tanganku. Butiran air mata jatuh ke pipiku. Teringat sebuah kenangan. Pikiranku terbang ke masa itu. Ku terduduk di atas pasir putih menikmati indahnya sunset di sana. Seseorang mengejutkanku dari belakang. Dialah Vern.

Senyumnya mengembang membuat kedua matanya menyipit. Dia orang istimewa yang sering menemaniku di kala sedih maupun bahagia. Dia sahabat sejatiku. Dia selalu mendukung semua usahaku. Walaupun kadang dia bersikap seperti anak-anak, tapi kami saling melengkapi. Tak jarang orang mengira kami adalah sepasang kekasih.

Ku kejar Vern yang baru saja mengejutkanku. Ku dorong dia ke tepi pantai hingga kaus hitamnya basah terkena air. Tak terima dengan perlakuanku dicipratkannya air itu ke arahku. Dan kini kami malah perang air hingga kami benar-benar basah. Pantai sore ini memang tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan akhir pekan. Tanganku mulai bergetar menggigil begitu pula dengan kedua kakiku. Karena hari juga mulai malam kami akhirnya pulang penuh dengan canda tawa.

Kenangan yang benar-benar indah. Aku tak mungkin bisa melupakan Vern. Dia juga seperti malaikat yang selalu menjagaku dan selalu ada di sampingku. Hari ini badanku tak begitu fit. Ku rasakan kepalaku seperti berputar. Namun demi tekadku agar menjadi penari profesional ku paksakan diriku untuk menari mengikuti irama musik. Vern tampak memasang muka cemberutnya di sudut ruangan. Dia memang selalu menaniku ketika berlatih.

“Sudahlah Mey kau bisa latihan esok hari, jangan paksakan dirimu,” pinta Vern tak ku hiraukan. Ku terus mengikuti iringan musik yang menggema ke penjuru ruangan. Lima menit pertama ku lalui dengan sukses sampai lima menit ke dua ku rasakan dunia benar-benar berputar. Ku pegangi kepalaku yang terasa panas. Sampai akhirnya aku pun tak mampu menyeimbangkan tubuhku dan akhirnya aku pun jatuh.

Ku buka mataku perlahan. Ku lihat langit-langit putih di hadapanku.
“Akhirnya kau sadar” terdengar jelas suara yang menyebalkan di sampingku. Vern. “Tak ku sangka kau seberat itu” katanya lagi membuatku melotot.
“Sebenarnya apa yang kau makan? Dan berapa banyak?” lanjutnya sambil memijat-mijat lengannya. Aku paling sensitif apabila seseorang mengatakanku gendut atau berat. Karena ku prioritaskan sebagai penari harus memiliki tubuh yang indah dan ideal.

Ku bangun berusaha menjitak kepala Vern. Namun kepalaku kembali terasa pusing. Vern tampak sigap menjaga tubuhku agar tidak jatuh dari tempat tidur UKS. “Sudahlah, kau tidur dulu. Aku akan menemanimu” kata Vern membenahi posisiku. Suaranya begitu menenangkan.

Tak ku sangka dia bisa menjadi bagian dari diriku yang tak akan ku lupakan. Karena memang pada awalnya aku dengan Vern tak berhubungan baik. Mengingat sifat Vern yang bawel dan terlalu banyak komentar. Sedangkan aku tidak terlalu suka diatur dan lebih suka ketenangan. Benar-benar bukanlah pasangan atau couple yang serasi. Namun hal itu tak berlaku bagi kami. Tak terasa dua bulan sudah aku menjalani hubungan dengan Vern sebagai sepasang kekasih. Memang aneh. Tapi entah mengapa aku seperti tak bisa mengatakan tidak. Banyak hal yang ku lakukan dengannya. Dia membuat hidupku semakin berwarna.

Namun ku lihat mulai ada kejanggalan pada diri Vern. Dia sering meninggalkanku dan terkadang menolak ku ajak pergi. Kini aku tengah berada di taman bermain di kota. Kami asyik menikmati berbagai macam permainan di sana. Ini saat bersamaku sedan Vern setelah seminggu dia tak mengabariku. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Ku rasa sudah tiga jam kami bermain-main di sana. Ku lihat wajah Vern yang pucat. Apakah dia sakit? Tangannya pun terasa dingin.

“Ah… aku hanya kedinginan, kau tak perlu berlebihan”
“Tapi kau pucat”
“Itu wajar bukan?” katanya lagi kemudian mengelus kepalaku lembut. “Jangan menghawatirkan aku”

Hembusan angin semakin dingin dan kencang sore ini. Ku lihat kembali sebuah kalung di tanganku. Ku tutup mataku membayangkan wajah Vern. Air mataku jatuh ke pipiku. Ku berhenti menari dan suara tepukan tangan dan sorakan terdengar menggema di ruangan itu. Ku bungkukkan badanku memberi salam dan tirai merah diturunkan. Ini adalah kompetisi menari yang ku impikan sejak dulu. Dan kini aku berhasil berada di panggung ini menunjukkan kemampuanku. Di balik panggung banyak teman yang menyalamiku. Tapi mataku terus menerus mencari seseorang yang beberapa bulan terakhir menghilang. Aku merindukannya.

Mungkin dia tak akan datang. Batinku sedih. Tiba-tiba sebuket bunga muncul di hadapanku dari belakang. Ku tolehkan kepalaku dan menangkap seseorang yang telah lama ku cari. Tak bisa ku pungkiri aku sangat bahagia melihatnya. Ku peluk Vern yang berdiri di belakangku tersenyum. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” katanya dan menarikku ke luar gedung pertunjukan.

Kami naik ke lantai dua dan memandang indahnya malam dari atas balkon gedung. Ku lihat Vern tampak berbeda malam ini. Dia tampak lebih pucat dari biasanya. Aku mulai khawatir dengannya. Dikeluarkannya sebuah kalung dari saku jaketnya. Kalung dengan liontin berbentuk persegi sederhana tapi cantik. “Aku tak tahu mau bilang apa tapi aku harap kau tidak akan sedih kau tidak akan menangis ketika melihat benda ini.” katanya mulai berbicara. Aku bingung apa maksud dari kata katanya. “Aku ingin kau ingat aku. Dan..” katanya sambil berjalan ke belakangku dan memasangkan kalung itu ke leherku. “Aku menyayangimu.” lanjutnya membuatku terkejut.

Tiba-tiba tubuhnya terkulai dan kedua tangannya di atas pundakku yang menopang tubuhnya yang tinggi. Ku terkejut sebenarnya apa yang terjadi. Vern tak kunjung bangun dari pundakku. Ku pegang tangannya yang dingin dan berkeringat dan beberapa saat seorang pria rapi membawa tubuh Vern ke mobilnya. Setelah beberapa hari kemudian aku mendengar kabar kematian Vern. Ibu Vern bercerita tentang teman istimewa Vern yang ternyata aku dan bercerita tentang penyakit lemah jantung yang diderita Vern selama ini.

Ku menangis sepenuhnya sambil menggenggam kalung pemberian Vern. Ku tak menyangka malam itu malam terakhirku dengan Vern. Hembusan angin menerbangkan rambutku berulang kali. Dan Terdengar lirih suara Vern. “Aku ingin kau ingat, tak kau tangisi Mey.”
Ku angkat wajahku dan ku usap air mataku. “Aku akan selalu mengingatmu Vern.”

Cerpen Karangan: ZiChan
Facebook: Zhizy

Cerpen Little Thing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa

Oleh:
Aku sangat bahagia sekarang setelah aku kenal dia. Natan, itu namanya orang yang aku kenal dari aku sma, dia yang telah merubah hidupku. Tak ada lagi sedih, murung, sendiri,

Rinai Tak Pernah Hilang

Oleh:
Ingin rasanya di sisa hidupku badan ini telah melaksanakan kewajibannya.. apa lagi aku seorang muslim. ‘Allahuakbar allahuakbar’ kumandang azan menggema ke telinga Aisyah. Langsung Aisyah mengambil air wudhu. Terasa

Aku dan Lelaki Bermata Bintang

Oleh:
Pada suatu malam di bulan agustus, aku mengalami sesak napas. Tidak seperti yang sebelum-sebelumnya, malam itu paru-paruku seakan berubah menjadi api dan membakar seluruh tubuhku, sehingga membuatku kepayahan. Dalam

Rangga Radit

Oleh:
“Caraku mendapatkan Radit adalah mendekati sahabatnya, Rangga. Saat Radit cemburu, saatnya aku harus mengorbankan hati Rangga. Rangga maafkan aku. Aku egois karena mengorbankanmu untuk kepentinganku.” Pikirku. Hari itu sangat

Antara Narko dan Maryam

Oleh:
Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. sering kali aku bolos sekolah, teman teman memanggilku narko. Pagi ini sangat cerah, langit begitu indah, dan matahari yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *