Long Distance Relationship

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 26 November 2016

Pagi itu aku benar-benar dikagetkan dengan nada dering spongebob ponselku. Itu alarmku yang telah aku setel ulang setelah subuh. Aku lirik jendelaku matahari menunjukkan sudut teriknya menyinariku. Tak terasa sudah pukul 8 yang tertera di layar ponselku, tapi aku masih merasakan kantuk yang luar biasa.
Tak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Apa karena aku terlalu larut dalam renungan rasaku. Rasa yang tak pernah beranjak sedikitpun selama 7 tahun ini. Mengapa? Mengapa demikian. 5 tahun aku bersamamu dan 2 tahun pula aku telah sedikitnya lepas darimu. Dalam status di tahun-tahun terakhir ini aku tidak memegang peran penting dalam kehidupan dramamu. Tak menjadi tokoh utama yang menemani dalam skenariomu. Kali ini benar-benar berbeda. Aku dengan hidupku dan kamu mungkin dengan hidupmu.

Waktu berlalu, tak terasa begitu berat hariku tanpamu. Hari yang panjang yang terus kujalani sesingkat mungkin dengan alur cerita yang tak banyak orang mengerti. karena apa? Hadirmu selalu saja ada dalam hatiku. Bahkan dalam pelupuk pagi mataku kamu seolah-olah menempel enggan beranjak sedikitpun. Bagaimana tidak? Kamu kamu kamu dan terus kamu yang menyelimuti pikiranku. Tenggelan dalam penatnya lautan rindu yang terkadang seolah akan membunuhku. Tak langsung saja melenyapkanku hingga aku benar-benar lupa akanmu, tetapi secara perlahan kamu menyiksaku.
Padahal tak sedikit kilo meter yang memisahkan kita bahkan ribuan mil, tak hanya lautan yang ada namun juga benua. Kadang aku selalu memaksankan otakku untuk bekerja dua kali lipat lebih keras dari batasan maksimalnya. Untuk apa? Untuk menekan pikiranku agar mampu menerima keputusanmu. Untuk membuat jarak yang jauh menjadi dekat. Mewujudkan mimpi menjadi nyata. Agar kisahku dan kamu kembali utuh menjadi tentang kita. Tapi hal itu mustahil, sangat mustahil. karena sampai sekarang aku masih disini tetap menunggumu sendiri.

Mungkin aku adalah wanita penipu yang memakai banyak topeng untuk menutupi wajah asliku, menutupi semua yang aku miliki hingga pada akhirnya aku terlalu suka dalam dasar kedustaan. Menipu diriku dan orang lain sekitar yang selalu memandangku. Bagaimana tidak? Aku disini selalu menanti dengan senyum yang terulas di wajahku. Padahal semua itu tak mudah untuk kujalani. Andai mereka tahu perpisahan kita tak seindah cerita dalam dongeng. karena apa? Setiap perpisahan dalam dongeng akan dipertemukan kembali dengan cara yang mengagumkan, baik bagi penonton dan pemerannya.
Aku selalu berharap bahwa perpisahanku nantinya akan seperti itu. Selalu ada pertemuan. Tapi aku tak akan pernah berharap lebih untuk mendapatkannya. karena aku menyadari terlalu jauh jarak antara kita, terlalu berbeda waktu kita dan bukan pada satu masa yang sama lagi antara kita. Siapa yang sangka bahwa untaian kronologi kita akan aku putar kembali dalam ingatanku. Akan aku jadikan momen paling sederhana dalam hidupku. Bukan sesederhana seperti simple yang kalian harapkan ya… tapi sederhana penilaianmu terhadapku yang tak pernah menuntut lebih akan diriku.

Lembaran-lembaran kisah lalu aku buka kembali hingga pada waktu awal pertemuanku dengan kamu melalui cara yang tak indah dan tak seromantis seperti pada cerita dongeng. Sebuah kereta bawah tanah yang menjadi saksi bisu akan pertemuan kita. Pemandangan yang tak pernah indah kamu temui dalam diriku. Pribadi yang urakan dan porak-poranda. Aku mungkin sedikit cantik ‘seperti kata orang’ tapi aku tak pernah terlalu memikirkan penampilanku. Kelakuanku juga tak seanggun wanita pada umumnya. Tertidur dalam kereta adalah salah satu hobiku. Kereta hampir sampai pada pemberhentian selanjutnya, dan itulah pemberhentianku. Sesorang menepukku perlahan dan memanggilku lembut berusaha membangunkanku. “agashi, agashi, agashi bangun, kereta sudah hampir sampai”. Dengan air terjun yang membasahi sudut bibirku aku mengucek mata dan mulai membukanya. Sekilas aku tersontak dengan apa yang ada di hadapanku. “akh… i…ii.iya aku sudah bangun”. Aku berusaha menyadarkan diri dan mengelap air di pipiku yang aku yakin berasal dari air liurku. Masih dalam keadaan setengah sadar aku tetap menatapmu. Senyum tipis terbit dari sudut bibirmu, tak lama kamu mulai membuka lebar bibirmu dan tertawa menatapku. Tatapan tajam dari matamu yang sekejap itu mampu meluluhkan hatiku, ditambah dengan sedikit senyuman itu. Yah, itulah pertemuan pertama antara kamu dan aku. Masih sangat jelas aku mengingatnya.

Ssssssseettt… kereta benar-benar berhenti. Dengan muka kucel dan pakaian yang sedikit lusuh aku turun dari kereta. (bukan kereta labu dari film cinderella ya). Jalanku pun agak sedikit goyah karena rasa kantuk masih tersisa di mataku. Perlahan namun pasti aku berjalan menyusuri rerumputan hijau yang menenangkan hati dengan pemandangan sisi jalan yang mampu menyadarkanku dari rasa kantuk itu. Akhirnya sampai juga di tempat tujuanku. Tempat aku mengayom pendidikan SMAku. Hari itu merupakan hari pertama aku masuk sekolah setelah melewati masa orientasi yang sedikit kekanak-kanakan itu. tapi sedikit kupikirkan kembali itu cukup menyenangkan perasaanku. Hampir tiba di ruang kelasku, aku melihat sosok yang tak asing bagiku dari kejauhan. Kamu berjalan ke arahku, wow, sedikit terkejut aku ketika kamu hampir tiba di hadapanku. Tapi aku salah, kamu tidak menghampiriku melainkan berjalan ke arah yang berbeda dari harapanku. “kandas sudah, hufft”. Dengan gontai aku menuju ruang kelasku.

Jam pertama dimulai, seperti pada umumnya tahun ajaran baru dengan lingkungan yang baru pasti dibuka denga perkenalan. Mulai dari nama, hobi dan berbagai pertanyaan lainnya yang aku tak terlalu menyukainya. “perkenalkan namaku vionafiqa Azahra, biasa dipanggil vio. Hobiku tidur makan, dan bla bla bla bla”. Kalian pasti tahu apa saja yang akan aku katakan dan apa yang akan mereka tanyakan padaku.
Sedikit ulasan mengenaiku, namaku Vionafiqa Azahra, aku gadis kelahiran Bandung, 20 Juli 1999, saat ini usiaku menginjak 17 tahun. Hal yang paling aku sukai adalah basket, bisa dibilang basket juga menjadi hobiku. Tak banyak orang menduga orang sepertiku yang urak-urakan dan porak-poranda dalam penampilan lalu menyukai basket mengenakan hijab. Yah, aku memang berhijab, namun aku tak pernah mengatakan bahwa hijab mengganggu aktivitas harianku, apalagi yang berhubungan dengan kegemaranku bermain basket. Tidak! Mereka salah menilai hijabku, aku suka dan aku nyaman, maka dari itu aku tak terlalu mementingkan perkataan mereka. Hanya saja selalu aku jadikan pelajaran untuk diriku menjadi lebih kuat di kemudian hari. karena apa? Ada hijabku yang selalu menyemangatiku
Salah satu kekuranganku adalah tidak terlalu pandai menerima pelajaran di kelas. Walaupun aku banyak kekurangan, tapi itulah kekurangan terbesarku. Tapi jangan salah, aku cukup aktif loh dalam kegiatan ekskul. Terutama basket, aku sangat menyukainya. karena itu aku cukup tinggi dari rata-rata tinggi siswa perempuan di sekolahku. Tapi tidak lebih tinggi juga dari siwa laki-laki yang ada. karena basket ini juga yang membuat aku tak terlalu mementingkan penampilanku. Bisa dibilang aku adalah gadis tomboy (hanya sedikit tapi ya).
Awal masuk aku tak terlalu memiliki banyak teman. Namun aku mempunyai sahabat SMP yang kebetulan memiliki minat yang sama untuk melanjutkan ke SMA yang sama pula. Dan lebih terkejutnya aku dan dia satu kelas. Namanya rika, dia gadis yang cantik, lembut, manis, anggun, dan banyak hal lainnya hingga dia banyak disukai oleh siswa yang ada di SMAku. Tapi aku kasihan dengan siswa laki-laki yang menyukainya, karena sahabatku Rika sudah mempunyai pacar di SMA lain. “ckckck, turut berduka ya atas patah hatinya kalian haha”. Aku dan Rika suadah seperti keluarga sendiri, bahkan Rika menganggapku seperti adiknya sendiri, mungkin karena dia lebih dulu lahir dari aku. Kemanapun pergi kami selalu bersama-sama.
Kecuali, pilihan ekskul. Kali ini aku dan Rika memiliki jalan yang berbeda. karena aku menyukai basket, aku mengikuti club basket sedangkan Rika mengikuti club tari yang ada. Hingga waktu terus berjalan kegiatan ini membuat kami sibuk akan urusan masing-masing dan tidak banyak kesempatan untuk bertemu dengan Rika di sekolah kecuali di kelas. Tapi tiap akhir minggu kami selalu menyempatkan waktu untuk pergi ataupun sharing berbagai hal, mulai dari pelajaran hingga kegiatan ekskul.

Awal masuk sekolah aku tak menyangka bahwa kamu juga satu sekolah denganku. Aku cukup terkejut dengan semua itu. Keterkejutanku bertambah ketika aku aku bergabung dalam club basket. Pertemuan sekaligus perkenalan anggota baru dalam club menghadirkan sosok kamu, lelaki yang membuatku menjadi orang bodoh kuadrat dan selalu membuatku salah tingkah. Disitulah aku tahu bahwa kamu senior di sekolah dan club basket yang aku ikuti. Cukup sering latihan dan telah berjalannya waktu aku semakin tahu mengenaimu, tapi aku tidak mengenalmu.

Semakin meledak-ledak perasaanku, namun aku harus tahu tempat. Dimana sekarang aku berdiri di hadapannya, lelaki yang membuat jantungku berdetak kembali, seolah-olah terbangun dari kematiannya. Aku menyukaimu, tapi aku tak dapat mengatakannya. Jangan tanya mengapa aku tak dapat melakukannya. Kamu, laki-laki yang menurutku mendekati sempurna. Bukan hanya aku yang beranggapan begitu, banyak perempuan di sekolah yang beranggapan sama sepertiku. Mereka menyukaimu, dari latar belakangmu ataupun dari pribadimu sendiri. Pribadi yang baik, sopan, ramah dan sedikit tampan menurutku serta memiliki sisi lain yang menarik. Ditambah kamu menjadi kapten dalam tim basket laki-laki sekolah kita, semakin bertambah saja fans kamu tiap tahunnya.

Tapi tahukah kamu? Aku masih tetap disini. Tetap menutup erat-erat bibirku untuk tidak mengatakan apapun kepadamu. Hingga waktu bergulir selama 1 tahun aku tetap diam dalam bisuku. Tak mampu tersampaikan perasaanku dan hanya mampu aku pendam rapat dalam kotak yang mungkin akan menjadi kenangan akanmu. Tak munafik, ingin sekali aku menyatakan rasaku yang terpendam padamu sebelum kamu lulus. Tapi aku cukup malu, denganmu. Tapi aku tidak berniat untuk berpacaran denganmu, karena aku hanya ingin memberitahu apa yang aku rasa selama ini. Cukup lega jika aku mampu. Aku juga tak akan menuntutmu lebih, apalagi untuk membalas perasaanku. Tidak! Aku bukan orang semacam itu.

Semua itu tak pernah tersampaikan. Aku selalu menyukaimu dengan caraku, dengan kemauanku dan dengan diriku sendiri. 2 tahun berlalu hingga waktu kelulusanmu tiba perasaanku tak pernah goyah, hari itu aku menghadiri acara kelulusanmu, bukan semata-mata untuk bertemu denganmu. karena aku mengikuti pentas seni perpisahan yang ditunjukkan untuk angkatanmu. Sebenarnya tak hanya itu, aku ingin mencoba memberitahumu hal itu. kukumpulkan niatanku untuk mengatakan padamu, hingga aku telah benar-benar siap bertemu denganmu.

Prok prok prok, kala itu aku berada di basement setelah pertunjukanku selesai. Aku mendengar gesekan antar sepatu dan dan lantai yang menimbulkan suara tersendiri. suara langkah ka ki itu semakin mendekat, mendekat dan mendekat. Tak berpikir panjang aku memasang kuda-kuda seperti akan menangkap mangsa dan melumpuhkannya. Dan ternyata, jeng jeng jeng… tersontak kaget sampai akan terjatuh, namun tidak terjatuh. Aku masih tertegaun dengan mulut ternganga melihatmu berdiri di hadapanku. (Kamu, Muhammad Al-Fatah, kelahiran Bandung, 15 Juli 1997. Tinggi badan 172cm (boom) berat badan 58kg (prak) senior yang aku suka dalam diam selama dua tahun ini).

“Vio”. Aku harus jawab apa. “Ada apa?. Vio aku sangat ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana. “ada yang ingin aku sampaikan ke kamu”. Dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Apa. Apakah dia tahu jika aku menyukainya dan akan menyuruhku berhenti menyukainya lalu mengusirku. Aaaakh aku tidak tahu. “A..a..aaapa kak?”. “Vi, sebenarnya aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu dalam kereta bawah tanah, tapi aku tidak berani mengungkapkannya padamu. Aku takut mendapat penolakan darimu, aku memilih diam dan menatapmu dari kejauhan. Memperthatikanmu dari jarak aman dan selalu menjagamu saat kamu terjaga” (kecepatan 160 km/jam).
Ssssst, seperti tersambar petir hatiku mendengarnya. Bukan karena kata-katamu yang terucap dari bibirmu tapi karena kecepatan bicaramu yang sangat sulit untuk aku ikuti. “hah! Apa? Bisa kau ulang kak?” (dengan ekspresi wajah bodoh dan senyum getir diwajahku aku memintamu mengulang perkataanmu). “aku menyukaimu, kamu bagaimana? Maukah jadi seseorang yang spesial untukku? Pacar misal atau teman atau sahabat?” katanya. Hal itulah yang selama ini aku tunggu, kata sederhana itu. sangat indah terlontar dari bibirmu. “aku juga menyukaimu kak, sejak hari pertama kita bertemu, dalam kereta dan wajah semrawutku aku mulai menyukaimu. Aku bersedia mungkin menjadi seseorang yang spesial untukmu, tapi untuk pacar aku tidak mau. Bukan karena aku punya orang lain yang aku sukai, hanya saja aku tidak ingin pacaran. Mungkin untuk teman atau sahabat yang baik aku bisa lakukan itu untukmu kak. karena kita telah sama-sama tau, aku menyukaimu begitupun sebaliknya kamu menyukaiku”. “baiklah aku mengerti dan aku menghargai keputusanmu” tersenyum tipis penuh kehangatan.

Hari itu seolah hatiku bagai taman yang bunga-bunganya mekar bersamaan, sangat indah dan harum. Seperti dipenuhi aliran sungai di tengah bentangan pohon yang menyejukkan hatiku. Bahkan orang lain pun mampu merasakan kebahagianku termasuk Rika sahabatku. Lepas hari pernyataan itu kamu melanjutkan pendidikanmu ke Australia. Tapi aku dan kamu masih saling berhubungan via email. Kabar selalu aku terima darimu, bisa disebut kita LDRan tanpa ikatan pacaran hingga waktu bergulir.

5 tahun berlalu. Aku telah menyelesaikan pendidikanku. Namun 2 tahun terakhir aku tak pernah mendengar kabarmu sama sekali, kamu tiba-tiba menghilang bagai diterpa badai. Tak kunjung datang dan tak kunjung mengabariku. Aku sangat khawatir kala itu. apakah terjadi sesuatu padamu? Hingga pada suatu waktu aku mendapat kabar kematianmu. Tak percaya akan hal itu aku mendatangi kediamanmu yang ada di Bandung, tanpa kusangka bendera kuning tertera di depan kediamanmu. Dengan gontai aku melangkah mendekati pintu rumahmu, berharap tak terjadi apa-apa padamu. Sangat berharap bahwa kabar yang aku dengar hanya belaka. Aku terus melangkah memastikannya, hingga pada satu titik aku terfokus pada sosok yang telah terbaring kaku di tengah puluhan orang yang mendoakanmu. Ku mendekat, menyisihkan sedikit kain penutup seraya menyakinkan diriku bahwa itu bukan kamu. Berharap wajah yang terbaring itu berubah menjadi wajah lain yang tak kukenal. Tapi ternyata tidak, hal itu mustahil. Wajah itu tetap wajah yang aku kenal, itu wajahmu kak ‘Muhammad Al-Fatih’. Masih tak percaya aku akan takdir yang begitu cepat memisahkan kamu dan aku sebelum menyatukannya. Jiwa yang sebelumnya kokoh akan kata-kata yang pernah kau ucapkan menjadu luluh lantah akibat shock darimu juga. Beberapa menit berlalu, sentuhan lembut tangan kakak perempuanmu mampu menenangkanku dan sedikit mengurangi isakku.

Perlahan beliau menuntunku menuju tempat yang bisa membuatku lebih tenang. Dan aku mulai tenang akan hal itu. dikeluarkannya kotak berwarna violet dari laci, dengan hiasan ranting pohon sebagai tema sketsanya dan memberikannya padaku. Sangat cantik dengan warna dan corak kesukaanku. Ternyata kamu masih mengingatnya. Terimaksih.
Masih berlinang air mata aku seraya membuka kotak pemberianmu untukku. Kuambil isi yang ada dalam kotak itu, beberapa amplop dengan warna yang sama dengan kotak yang aku pikir berisi surat. Sangat banyak, satu tumpuk. Aku mencoba menghitungnya, “1, 2, 3, 4, 5, … 24”. sebanyak inikah surat yang kau beri untukku. Lekat-lekat kupandangi satu persatu. Disitu tertera waktu di setiap sudut amplopnya. Yang aku yakin itu adalah tanggal penulisannya.

Surat pertama yang aku buka adalah ‘Aus, 01 Juli 2021’. Kubuka amplop itu dan aku ambil secarik kertas yang ada. Dan aku mulai membaca isi yang tertulis di dalamnya.

Surat pertama
Dear
Vionafiqa Azahra
“Vi, apa kabar kamu? Aku harap kamu tetap baik-baik saja. Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar. Aku merindukanmu. Waktu telah berlalu begitu lama ya, 3 tahun sudah. Bagaimana kuliahmu? Apakah kamu menyukainya? Apa kamu sudah memiliki banyak teman bermain? Pastinya, karena kamu bukan orang yang betah berdiam diri saja. Sedang musim apa disana vi? Disini daratan seolah berubah warna menjadi putih karena tertutup salju. Jarak pandang juga cukup terganggu karena tebalnya kabut. Tapi tidak dengan pandanganku akanmu vi, tidak akan pernah kabur dan tertutup kabut juga kok. Hehe memasuki musim dingin disini bukanlah hal yang mudah bagiku vi. Penyesuaian suhu terkadang membuatku ingin pulang ke Bandung dan bertemu sapa denganmu. Lain waktu aku pasti kembali vi. Doakan aku cepat menyelesaikan pendidikanku dan bertemu denganmu. Maaf ya aku tak bisa intensif lagi menghubungimu, karena aku tak diizinkan untuk menyentuh elektronikku lagi. Terimakasih atas waktu yang telah kamu beri”

Aus, 01 Juli 2021
Muhammad Al-Fatah

Surat kedua
Dear
Vionafiqa Azahra
“lagi-lagi hal yang sama aku tanyakan padamu vi, apa kabar? Dan aku selalu berharap kamu akan baik-baik saja. Disini memasuki ujung musim vi, aku merasakan dinginnya suhu menusuk ke tulang-tulangku vi. Seolah-olah tak ada kehangatan lain selain dari senyumanmu vi. Tetap tersenyum ya vi. Semangat menjalani pendidikanmu. Aku juga selalu semangat menjalaninya. Oh ya vi, selamat ulang tahun ya. Maaf aku terlambat ngucapinnya. Semoga apa yang menjadi cita-citamu dapat terwujud, amiin. Aku disini selalu mendoakan yang terbaik untukmu vi.Terimakasih atas waktu yang telah kamu beri vi”.

Aus, 01 Agustus 2021
Muhammad Al-Fatah

Ada apa sebenarnya denganmu tah? Pikiranku tak karuan waktu itu. pertanyaan kian hari kian menumpuk, tapi tak ada satupun jawaban darimu.
Kulanjut membuka surat ketiga darimu tah.

Surat ketiga
Dear
Vionafiqa Azahra
“hai vi, satu bulan lamanya aku menunggu untuk mengirimkan surat ini untukmu lagi. Tahu gak vi, disini awal musim semi loh. Banyak tunas-tunas yang tumbuh. Kuncup-kuncup bunga muncul dan menunggu kemekarannya. Aku semakin mengingatmu vi, kamu yang selalu menyukai bunga. Aku membayangkan andai saja kamu ada disini dan aku dapat menemanimu melihat bunga-bunga bermekaran. Betapa bahagianya hatiku vi. Terimakasih atas waktu yang telah kamu beri vi”

Aus, 01 September 2021
Muhammad Al-Fatah

Lagi, lagi dan lagi aku membaca satu persatu suratmu. Tak kuasa aku membendung air mataku lagi. Hingga surat terakhirmu yang aku baca aku masih dalam keadaan yang sama.

Surat ke-24 (terakhir)
Dear
Vionafiqa Azahra
“hai vi, masih dengan pertanyaan yang sama. Kamu apa kabar? Selalu dengan harapan yang menyertai pertanyaanku padamu, semoga kamu selalu baik-baik saja. Vi, aku berada dalam dekapan awal musim dingin yang sekejap membuat tubuhku benar-benar merasakan kaku dan ngilu. Aku tidak tahu mengapa. Tapi rasanya puncak rasa sakit yang selama ini aku sembunyikan semakin menjadi-jadi. Aku sangat merindukanmu vi disini. Sangat sangat ingin melihatmu. Suatu waktu aku pernah berharap untuk dapat berjumpa denganmu lagi vi. Tapi takdir berkata lain.
Takdir tak pernah benar-benar mengizinkanku untuk mengunjungimu dan bertemu sapa dengan. Setiap ruang waktu yang aku miliki untuk dapat lari ke dekapanmu selalu terhalang oleh rasa sakit yang hinggap di tubuhku. Maaf ya vi, aku tidak pernah cerita padamu. Kepergianku ke Australia bukan semata-mata untuk menempuh pendidikan. Tapi aku menjalani sederet pengobatan untuk cancer ku yang mulai menyebar. Waktu 3 tahun aku pikir cukup untuk membersihkanku dari sel-sel kanker itu. tapi aku salah vi. Sel kanker itu malah berubah menjadi lebih ganas 2 tahun terakhir ini. Aku terus berbaring di atas tempat tidur yang tak pernah aku sukai untuk melawannya. Tapi tubuhku berkata berbeda. Tubuhku tak mampu lagi menerima zat-zat kimia yang terus-terusan mmemasuki tubuhku. Hingga pada suatu waktu aku merasakan sakit yang benar-benar hebat menyerangku. Aku pikir itulah waktuku.
Aku sudah tak mampu lagi untuk bertahan vi. Aku mohon kepada keluargaku untuk mengikhlaskanku. Begitu pula aku mohon padamu vi, tolong ikhlaskan dan lepaskan aku. Kemudian belajarlah melupakanku. Jaga dirimu baik-baik vi, karena aku tak dapat menanyakan kabarmu lagi maka kamu harus mengatakan padaku bahwa kamu baik-baik saja. Dan satu hal lagi, selamat ulang tahun vi, aku meninggalkan sesuatu dalam kotak surat itu untukmu. Terimalah vi tapi jangan larut padaku. Terimakasih vi atas waktu yang telah kamu berikan padaku. Aku sangat mencintaimu.
Aus, 01 Juni 2023
Dari seorang yang sangat mencintaimu
Muhammad Al-fatah

Tangisku meledak hingga dadaku terasa sangat sesak. Tak dapat berkata apapun untukmu. Hanya mencoba diam mengikhlaskanmu, sosok yang aku cintai tanpa sempat aku miliki. Sambil memandangi terus surat terakhirmu kuambil benda yang kau tinggalkan. Kupandangi karena menurutku itu tak asing. Kubuka perlahan dengan sedikit terkejut aku ambil note yang ada. “selamat ulang tahun vi. Maukah kau menikah denganku ketika aku kembali?”

Cerpen Karangan: Nungki Nuari Dewi
Blog / Facebook: Nungkinuaridewi96.wordpress.com / Nungki Nuari Dewi
terimakasih telah menyempatkan membaca cerita ini. kritik dan saran dipersilahkan ^^

Cerpen Long Distance Relationship merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hening

Oleh:
Mobil Avanza melaju menyerobot derasnya hujan bahkan aku hampir tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Irwan mencoba mengelapnya untuk mengurangi embun yang menempel di kaca depan. Lampu temaran mobil

I Always Love You

Oleh:
Pada hari itu seorang gadis terlambat masuk sekolah setelah melewati pekan liburan. Gadis itu bernama Evita Wulandasari Bunga Zainal siswa dari SMA ternama di jakarta. Saat sampai di sekolahnya

Senja di Taman

Oleh:
“Kalau nanti aku pergi, apa kamu mau menungguku?” tanya Karin pada Anggih. “aku berjanji akan menunggumu sampai kapanpun.” balasnya. Dua tahun sudah aku menunggunya. Menghabiskan waktu dengan bersantai sambil

Cintaku Berumur 40 Hari

Oleh:
Hari pertamaku prakerin seperti hari pertamaku masuk sekolah, ada rasa takut dan ada rasa sedih. Baru pertama aku kos jauh dari orangtua sedih sudah menyelimuti perasaanku dan takut bakal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Long Distance Relationship”

  1. Inayah says:

    Sumpah bener bener larut dalam ceritanya sukses trus ya akhii!:) boleh nggak aku kontekan sm akhi buat bahas karya2 akhi itu n yg lainnya hehe

Leave a Reply to Inayah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *