Love In Silence

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 October 2015

Nina memandangi sebuah novel yang ada di depan matanya, ia merasa judul buku itu hampir mirip dengan kisah silamnya 2 tahun lalu. Ia mulai membuka halaman pertama buku itu dan menjauh dari keramaian toko buku dari para pembeli. Hanya dengan membaca halaman pertamanya saja, Nina sudah merasa tertarik dengan buku yang berjudul cintaku setulus mawar putih. Ia segera menuju kasir untuk membawa buku itu pulang dan menumpuk di antara buku-buku lain koleksinya.

Sial baginya, ia harus menunggu antrean panjang di kasir. Terjebak dalam menunggu membuatnya kembali membuka halaman kedua dari buku itu.
“sesungguhnya dalam hati, aku masih mencintainya. Aku yakin rasa itu masih sama. Hanya saja aku berpura-pura menghibur diriku sendiri dengan terus berkaca di depan cermin dan bilang bahwa aku telah melupakanmu, ya aku telah melupakanmu. Namun tidak dengan rasa cintaku yang masih terus ku simpan.” itulah sepenggal kalimat dari novel yang ia baca. Kalimat itu tak ubahnya seperti jendela sorot balik untuknya mengingat masa lalu itu.
“mbak silahkan..” ucap pramugari kasir pada Nina yang tertinggal jauh dari antrian, karena terhanyut oleh novel yang ia baca.

Pada saat ia berada di parkiran, tertera sebuah motor dengan nomor polisi B 54 NNY. Jika diamati, plat nomor itu membentuk sebuah nama yaitu “Sunny”.
“Apakah itu benar-benar motornya?” pertanyaan yang seketika muncul dan membayangi pikirannya. Namun ia segera berlalu begitu saja.

Nina terkagum-kagum membaca buku itu. Bagaimana bisa penulis menempatkan dirinya sama persis dengan yang dialami pembaca. Setelah melahap habis bacaan demi bacaan yang ada di novel itu, ia mencari diary usangnya dulu. Ia merindukan masa lalunya, ia ingin tahu bagaimana dulu dalamnya perasaan itu pernah hadir.

11 januari 2011
“Dear diary,
Setengah tahun sudah berjalan, aku mengenalnya. Awalnya aku biasa saja terhadapnya, ku anggap ia teman biasa. Tapi seiring waktu berjalan, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Ku rasakan nyaman berada dekatnya. Entah mengapa aku selalu menginginkan ia hadir di sekolah. Karena saat ia tak hadir, aku merasa kehilangan semangat. Jujur saja salah satu semangatku kini ke sekolah adalah dengan kehadirannya. Tanpa ku kira ia juga merespon dan tampaknya ia juga merasakan apa yang aku rasa. Kami saling bercanda, dekat satu sama lain. Dan semenjak itu hari-hariku selalu bahagia dan ceria.

Nina tampak senyum-senyum sendiri membaca diary usangnya dulu. Ia mulai rindu kembali akan masa itu walaupun sudah beberapa bulan ini ia berhasil mengusir kenangan itu. Ia sebenarnya tak ingin mengembalikan kenangan itu. Baginya, masa lalunya itu memang indah namun jika hal itu tak dapat terulang lagi, buat apa ia terus mengingat dan berharap. Karena yang ia harapkan kini sudah tak tahu ke mana perginya.

Ya Nina adalah seorang gadis polos, cuek, dan berhati lembut. Namun sayang ia kurang beruntung dalam hal percintaan. Bukan karena tak ada para lelaki yang menyukainya. Tapi, karena ia sangat perasa dan hal inilah yang membuatnya selektif memilih pasangan. Ia harus memilih sesuai dengan perasaanya. Sangat sulit untuknya menerima cinta dari laki-laki yang tak ia cintai. Pernah ia mencoba namun itu hanya bertahan selama 2 bulan. Dan kini cobaan berat tengah melandanya. Hatinya terkunci hanya pada satu pria yaitu Sunny. Meski ia pernah jatuh cinta pada pria lain setelah ia mencintai Sunny. Namun tetap saja perasaan itu kembali pada Sunny. Ia juga berusaha menemukan sosok diri Sunny di dalam diri temannya Adam. Namun tetap saja perasaan itu lagi dan lagi kembali pada Sunny.

“sun.. tampaknya kau telah punya tempat khusus di relung hatiku” kata-kata yang selalu diucapkan Nina jika ia kembali mengingat Sunny.

Sunny adalah teman Nina yang menjelma menjadi cinta pertama untuknya. Mereka dipertemukan di sebuah sekolah sederhana di kelas yang sama. Satu tahun menjalin persahabatan. Ternyata mereka menghadirkan rasa cinta untuk satu sama lain. Namun penyesalan terjadi ketika perasaan itu tak dapat terungkap. Perpisahan telah merebut sebagian harapan dan kebahagiaan di antara mereka termasuk Nina. Dan karena itulah Nina menganggap Sunny adalah cinta pertamanya. Karena, setelah Sunny tak lagi berada di sisinya meski hanya sebatas sahabat, Nina merasa kehilangan separuh dari kebahagiaan yang ia rasakan beberapa tahun terakhir ini.

Setelah kehilangan itu, ia tak lagi pernah merasakan bagaimana cinta sejati hadir menyapanya, sewaktu ia bersama Sunny. Ia benar-benar telah mengunci hatinya hanya untuk Sunny. Namun tidak dengan Sunny, beberapa bulan berselang ia telah menggandeng wanita lain yang juga merupakan sahabatnya untuk menjadi pacarnya. Kekecewaan meliputi Nina. “Kenapa ia begitu berani mengatakan cintanya pada Lisa dan Dea namun tidak denganku.” Meski semua itu telah berlalu tapi detik demi detik momentum itu selalu membekas untuk Nina. Dan sampai sekarang Nina masih berharap dan berdoa agar orang yang ia cintai dapat menjadi jodohnya kelak.

Hari ini Nina kembali menuju ke toko buku untuk mencari buku baru yang cukup menggugah hati untuk membelinya. Lagi-lagi Nina melihat motor itu telah terparkir dengan rapi di tempat yang sama seperti kemarin ia lihat.
“semoga saja ini tidak seperti apa yang aku pikirkan” ucapnya dalam hati. Ia meyakinkan diri dan melangkah memasuki toko buku tersebut.

Brakkk.. Nina menjatukan beberapa buku yang tersusun rapi. Seluruh pasang mata tertuju ke arahnya dengan tatapan sinis. Namun di antara pasang mata itu ada seseorang yang mendekati Nina dan membantu Nina membereskan buku-buku itu. Nina menjulurkan tangan dan tertunduk malu sembari mengucapkan terima kasih kepada orang itu.

“ya sama-sama” jawab orang itu dengan menyambut juluran tangan Nina. Tiba-tiba Nina tersentak kaget saat tangan itu menyambut tangannya. Ada semacam perasaan lama yang hadir kembali. Ia mengingat sekilas tentang motor yang bernomor polisi Sunny tersebut. Nina menegapkan pandangannya ke arah orang tersebut. Keduanya saling pandang dan mulai saling mengingat wajah yang terpampang di hadapan mereka masing-masing.

“Nina…”
“Sunny…”
Ucap keduanya kaget dengan diiringi tawa kecil setelah berhasil menganalisa wajah satu sama lain.

Pertemuan itu membawa mereka bernostalgia. Sunny mengajak Nina untuk makan siang bersama di dekat sekolah mereka dulu. Nina sedikit heran, kenapa Sunny malah mendekat ke arah mobil jazz hitam bukan ke arah motor itu.
“ayo masuklah” ajak Sunny.
“ya baiklah”
“apakah ini mobilmu sun?” tanya Nina.
“ya, memangnya kenapa nin?”
“lalu motor itu?” sahut Nina sembari menunjuk ke arah motor berwarna hijau tersebut.
Tak berapa lama seorang cewek ke luar dan menaiki motor itu, Sunny baru menyadari akan maksud Nina.
“ya, mungkin itu ide yang bagus! Akan ku coba hahaha”
Hal kecil itu mengundang tawa di antara keduanya.

“bagaimana kabarmu?” Sunny memulai pembicaraan.
“alhamdulillah baik, lalu bagaimana denganmu?”
“sama sepertimu. Sudah lama kita tidak berjumpa. Sekarang kau tampak makin anggun dengan hijabmu”
“terima kasih sun, sekarang aku telah dewasa dan memahami kodrat wanita sesungguhnya. By the way kuliah di mana sekarang?”
“di Bandung jurusan kedokteran, apakah kau masih memegang cita-citamu dulu untuk menjadi bidan?”

Nina hening sejenak ia tak menyangka Sunny masih ingat hal kecil tentangnya.
“hmm, Tuhan berkata lain. Sekarang aku kuliah jurusan interior design” ucap Nina dengan tersenyum.
“ya, mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu”
“takdir Allah memang jalan yang terbaik”
Keduanya saling tersenyum dan kembali bercerita sampai tak sadar langit mulai senja.

Pertemuan itu kembali menghadirkan kebahagiaan yang pernah hilang dari Nina. Cinta pertamanya datang kembali di hidupnya. Semenjak itu mereka kembali berkomunikasi via handphone. Nina sekarang tahu jika Sunny kuliah di luar kota. Ia sedikit sedih jika harus menunggu pertemuan keduanya yang tak tahu akan terjadi lagi atau tidak. Setiap malam sehabis mendekatkan diri sengan Rabb-Nya. Nina selalu berdoa dan tak lupa menyisipkan nama Sunny untuk kembali menjadi jodohnya. Andai memang Tuhan punya rencana lain lagi, ia ikhlas. Ia cukup berterima kasih karena bagian yang pernah hilang dan rapuh itu kembali tumbuh dalam hidupnya dengan harapan ia bisa berjodoh dengan Sunny.

Tapi pertemuan itu telah membawa Nina ke jalur perasaan yang salah dan tak semestinya ia lanjutkan. Di kota sana Sunny telah memantapkan hatinya untuk seorang wanita cantik yang merupakan calon dokter juga. Wanita itu tak jauh berbeda dengannya. Hal ini dituturkan langsung oleh Sunny.
“Ia baik, cantik, ramah, sopan, penyayang semua itu hampir sama denganmu nin” ucap Sunny via telephone.
Mendengar hal itu, Nina merasa bahwa hatinya seakan-akan tak punya kesempatan untuk bahagia. Karena, orang yang ia cintai telah mempunyai jodohnya. Ia selalu harus menerima kenyataan yang jauh berdeda dari harapannya.

Andai waktu itu terulang lagi. Andai akulah orang yang berada di sampingnya. Mungkin semua akan terasa indah.
“Tuhan, jika memang ia jodohku maka biarkan suatu saat aku menemukan jalan yang benar untuk kembali padanya” doa yang selalu diucap Nina dalam salatnya.
Di balik kabar bahwa Sunny akan bertunangan dengan wanita yang bernama Hana. Ada tangis yang tumpah dari seorang yang masih mencintai Sunny yaitu Nina. Lalu Nina memutuskan pergi ke sebuah desa yang sangat terpencil. Ia lakukan ini, agar ia bisa terlepas dari bayang-bayang cinta pertamanya Sunny.

Di atas puncak yang sepi dan tanpa ada orang yang mendengar, Nina menangis sedalam-dalamnya. Ia menumpahkan segala perasaannya dalam air matanya. Tak ada yang tahu akan keberadaan Nina. Tampaknya kali ini perasaannya sudah benar-benar serius sehinnga sakitnya juga benar-benar dalam menancap ke hati Nina. Hari-hari Nina, ia habiskan di desa yang tenang itu. Ia tak ingin pulang kembali ke sana jika hanya mengungkit lukanya. Tapi tetap saja setiap harinya ia menangis tersedu-sedu sendirian di atas puncak.

“ya Allah beri aku jalan keluar, jika memang engkau tak mengizinkan aku berjodoh dengannya aku ikhlas tapi tolong buang perasaan ini dariku” doa Nina setelah pupus harapannya untuk Sunny.
Nina bersedih tiap harinya. Diringi bayangan akan kebahagiaan Sunny dengan Hana. Ia masih terperangkap dalam cinta menyakitkan itu.

Satu tahun telah berlalu. Ia kini tampak kurus dan tak seceria dulu. Ia terserang penyakit yang sangat ditakuti banyak orang yaitu kanker otak. Sungguh hidup yang sulit bagi Nina. Berada jauh dari keluarga dan berusaha melawan kanker itu sendirian. Meskipun begitu ia tetap tak ingin pulang atau kembali ke rumah orangtuanya. Ia sengaja memilih desa kecil ini sebagai tempat tinggalnya karena di desa ini ia merasa sangat damai meski terkadang sepi menghinggapi.

Ia kembali merenung di puncak dan tiba-tiba teringat akan cinta pertamanya.
“mulai sekarang kanker ini akan menghancurkan diriku dan menghancurkan semua tentang Sunny”
“tidak!! itu tidak akan pernah terjadi” suara itu terucap lantang dari arah belakang Nina.
“Nina.. maafkan aku yang tak pernah peka akan perasaanmu. Sebenarnya aku juga menyayangimu” ucap Sunny yang tak diduga kedatangannya.
Nina terkejut dan meneteskan air matanya mengingat akan semua yang telah terjadi.

“seharusnya kau berada di sisi Hana sun, ini semua telah terjadi padaku tak ada yang perlu diperbaiki atau disesali” ucap Nina.
“Nina, Hana telah pergi dari dunia ini… sebenarnya pertunangan itu karena perjodohan orangtuaku, maafkan aku, jika kau bersedia, menikahlah denganku. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakanmu lagi. Aku akan berusaha menghancurkan kanker itu dari hidupmu” ucap Sunny.
“tapi aku sudah tidak seperti dulu, lebih baik kau mencari wanita yang lebih baik dariku…” Nina mengharu, matanya mulai berkaca-kaca.
“tidak ada yang bisa lebih baik darimu, mencintaiku dalam diam selama 4 tahun. Aku tahu itu cinta yang sangat tulus”

Nina mulai meneteskan air mata, lalu Sunny langsung memeluk Nina dan mengecup kening wanita yang tulus mencintainya.

Cerpen Karangan: Maulita Nurina Indah Sari
Facebook: Maulita Cifarani
Instagram: maulitanis
Pin 749d0d94
Maulita Nurina Indah Sari. Lahir di palembang 19 juli 1997.

Cerpen Love In Silence merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sembilan Tahun Silam

Oleh:
“Lihat Dimas, dia.. Astaga! Tampan, maskulin, pandai bermain basket, dan selalu mempesona.” Ucap Nabilla dengan sungguh-sungguh. “Key, lihatlah! Kau ini, kenapa melamun terus?” lanjutnya sambil menggoncang-goncang tubuhku. “Kau sudah

Istri Yang Tersakiti

Oleh:
Hay namaku Eka aku berusia 22 tahun saat ini aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Saat ini hidupku memang berkecukupan tapi kurasa kebahagiaan ini kurang

Alpha Centaury B

Oleh:
“Namanya Sirius, dialah yang selalu menemaniku di saat tahun baru dengan sinarnya yang paling terang,” “Kau tahu, letak bintang itu di sebelah mana?” “Kau mengujiku? Sirius ada di rasi

Sebongkah Luka

Oleh:
Rasa itu menggelepar, merasuki setiap angan dan mimpinya. Ada pelangi yang terbias di matanya. Warna yang mungkin mampu menciptakan butiran-butiran embun di kala fajar. Hingga di setiap dekapan khayalnya

I Will Always Love You

Oleh:
Hari ini pertama aku masuk sekolah menengah atas atau sma setelah satu minggu kemarin di MOS. senangnya berkenalan dengan teman teman baru. Sudah satu bulan aku sekolah disini dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *