Love is Pain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 September 2016

Ponsel itu terpelanting ke bawah begitu saja, melayang dan akhirnya jatuh tepat di atas keramik hingga menimbulkan sebuah suara. Perempuan yang baru saja menjatuhkan barang itu hanya bisa diam tanpa kata. Buliran bening mulai mengumpul di kantung matanya. Baru saja ia mendengar berita yang begitu buruk dan membuatnya ngeri. Ini tidak mungkin terjadi. Ini tidak mungkin terjadi. Gadis itu menggeleng gelengkan kepalanya tidak mau.
Air matanya pun jatuh menelusuri pipi halusnya.

Temannya baru saja mengatakan bahwa pacar, kekasih dari gadis itu baru saja meninggal dunia tadi karena sebuah kecelakaan. Siapa yang tidak kaget dengan berita mengejutkan ini? Gadis yang awalnya duduk di sisi ranjang itu pun kini malah menjatuhkan tubuhnya ke atas keramik bersamaan dengan ponsel yang sempat ia jatuhkan tadi. Jantungnya bergetar hebat. Baru saja ia merasakan cinta yang indah bersama dengan kekasihnya, tapi lagi lagi Tuhan mengambilnya. Mungkin ini untuk yang kesekian kalinya. Tapi ini yang paling meyakitkan, bukan perempuan lain yang mengambilnya, tapi sang penciptanya. Kekasih yang kini telah tiada itu sangatlah berharga bagi Salsabila, panggil saja namanya Sabil. Dia sangat perhatian dan selalu memberinya cinta dan kasih sayang. Dia adalah laki laki yang sangat sempurna, tapi mengapa takdir malah melakukan ini padanya? Sabil tidak percaya ini, mengapa takdir telah begitu kejam terhadap kisah cintanya. Sangat sangat kejam.

1 Tahun kemudian.
Sejak saat itu Salsabila tidak ingin lagi berkenalan dengan kata bercinta. Bagi dia kata itu memiliki makna yang sangat buruk. Lebih buruk dari sampah sampah yang menumpuk di sisi jalan. Mencintai itu seperti menjerumuskan diri pada duri duri yang sangat tajam, sangat merugikan. Cinta itu sangat menyakitkan. Hanya menimbulkan luka dan air mata. Cinta memang membuat jantung gemetar, dan cinta juga bisa membuat jantung berhenti berdetak.

Sekarang langkahnya tiba di depan kelas. Tapi ia terhenti di sana, seorang pria berdiri di depannya seolah menghalanginya untuk masuk.

“Permisi,” ujar Sabil cuek.

“Permisi?”

“Aku bilang kamu minggir, aku mau masuk.”
Pria itu melirik langit langit dan menghela napas pelan. “Minggir?”
Sabil tidak suka ini, ia mulai kesal.
“Aku gak akan biarin kamu masuk sebelum kamu jawab pertanyaan aku. Dari mana aja kamu kemarin? Gak ada kabar bahkan aku telepon pun kamu gak angkat,”
“Emang penting aku kasih tau semuanya sama kamu? Nggak kan!”
“Gak penting tapi itu buat aku khawatir gak tenang. Itu penting buat aku.”
“Kamu siapa aku?!”

Seorang mahasiswa masuk dan pria itu membiarkannya. Ia sama sekali belum mengizinkan Sabil masuk, tetap berdiri di depan Sabil seolah tengah mengintrogasinya.

“Selalu gitu.”
“Please Rai! Aku gak mau berdebat sama kamu!”

Salsabila mencoba masuk dan mendorong bahu Raihan hingga ia mundur. Sabil pun bisa masuk dengan gampangnya. Raihan hanya melirik Sabil yang kini berjalan menuju kursinya dengan sekilas. Selalu begini. Dia selalu cuek dan selalu ingin melakukan apa yang dia inginkan. Raihan sangat mencintai perempuan itu, tapi ia tidak pernah peka. Meski sekarang status mereka adalah sepasang kekasih, tapi mereka sama sekali belum pernah menampakan sikap mesranya di depan orang lain. Mungkin karena sikap cuek Sabil dan Raihan yang selalu bersikap sabar menghadapi Sabil. Raihan masih tetap mencintai Sabil, ada sesuatu yang membuatnya sangat tertarik padanya. Cintanya memang tidak bertepuk sebelah tangan, tapi rasanya masih tetap hampa. Raihan tidak mengerti ini.

“Yang aku tau cinta itu sakit.
Saat kita mencintai seseorang yang sama sekali tidak tahu tentang hati kita.
Kita hanya bisa bergumam ‘Aku cinta kamu’ saat orang yang kita cintai tidak ada di dekat kita.
Dan takut saat dia mendengarnya, dia akan lari. Lari sejauh mungkin.
Lalu timbulah luka. Bersiaplah mata akan meneteskan air matanya.
Dan ada yang lebih meyakitkan lagi. Yaitu tentang kisahku, kisah cinta yang begitu miris untuk kita dengar.
Sekarang aku akan curahkan semuanya dalam kertas putih ini…”

Sabil melepaskan pandangannya dari kertas yang ia tulis. Memikirkan tentang rangkaian kata selanjutnya. Untuk pertama kalinya ia akan curahkan tentang masa lalunya. Meski terasa begitu sakit, ia harus tetap melakukan ini demi mengingat cintanya dulu.

Lalu Raihan datang dan tiba di depan Sabil yang tengah berpikir. Ia memberikan sebotol air aqua pada Sabil, menyuruhnya untuk segera meminumnya.

“Udah selesai nulis puisinya?” tanya Raihan yang tahu apa yang tengah dilakukan Sabil. Dia senang sekali menulis puisi, itu sebabnya Raihan sangat tertarik dengan gadis itu. Seperti ada sebuah magnet yang menariknya supaya dekat dengan Sabil.

Sabil tidak merespon itu, ia ingin kembali menulis kisahnya dan tak menghiraukan Raihan dan air putih yang Raihan berikan.

“Sabil,” panggil Raihan.

Sabil masih belum menjawab dan tetap menyimpan kedua matanya pada kertas putih itu dan meneruskan tulisannya.

Sedari tadi Raihan belum melihat Sabil minum. Itu sebabnya ia belikan air putih untuknya sebagai tanda rasa sayangnya padanya. karena merasa dicuekkan, Raihan pun merebut bolpoin yang dipegang Sabil untuk menulis kata selanjutnya. Sabil mendongkakkan kepalanya tidak terima dengan apa yang dilakukan Raihan.

“Balikin pulpennya Rai!”

“Aku gak mau balikin ini sebelum kamu mau minum ini. Ayolah Bil, sekali aja lirik aku dan lakuin apa yang aku mau.”

Sabil telah dibuat kesal luar biasa dengan tindakan Raihan. Apalagi ia tiba tiba merebut pulpennya hanya untuk menyuruhnya untuk minum air putih. Sekarang Sabil tidak bisa menahannya lagi. Raihan masih menatap Sabil. Sabil bangkit dari duduknya, ia pun meraih sebotol air putih yang berada di tangan Raihan. Pria itu mulai tersenyum, tapi perlahan senyumannya terhenti dan nyaris hilang ketika melihat apa yang ternyata dilakukan pacarnya itu. Sabil membuka tutup botolnya lalu membuang seluruh airnya ke atas tanah dengan seluruh emosinya tanpa memikirkan perasaan Raihan.

“Aku gak butuh air itu bahkan aku gak butuh perhatian dari kamu! Aku emang terima cinta kamu tapi bukan berarti kamu bisa ngatur ngatur aku! Kalau aku gak mau, aku gak mau! Jangan paksa aku!” bentak Sabil di depan wajah Raihan. Ia lepaskan juga botol yang berada di tangannya. Raihan tidak bergeming, tak ada kekuatan lagi untuk membuka mulutnya membalas apa yang dilontarkan gadis di depannya ini.
Sabil mendelikan kedua matanya lalu pergi dari hadapan Raihan meninggalkan kertasnya yang masih terhampar di kursi itu. Raihan menjatuhkan bolpoinnya, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan dan dikatakan Sabil. Perlahan ia mulai duduk di atas kursi dengan lemas. Melihat botol yang kini sudah terhampar di atas tanah. Sabil sama sekali tidak menghargai kasih sayangnya.
Mengapa dia begitu sangat kasar dan keras kepala?

Raihan lirikan pandangannya pada kertas yang tadi Sabil tinggalkan. Terjajar rangkaian tulis tangan di atas kertas itu dengan indahnya. Tangan Raihan mulai menggapainya dan berniat untuk membaca tulisan Sabil, mungkin ini adalah puisinya.

“Yang aku tau cinta itu sakit….”

Sabil beridiri di balik pohon. Perlahan air matanya mulai keluar menelusuri pipinya. Dadanya terasa begitu sesak dan sakit. Napasnya mulai tak bisa ia atur. Air mata itu tetap keluar dengan sendirinya. Tak ada yang tahu tentang isi hatinya sekarang. Rasanya ini benar benar sangat sakit. Sekarang terdengar suara pekikan tangisan dari mulutnya, seperti sebuah tekanan hebat. Sabil sama sekali tidak ingin menangis, tapi ini terlalu sakit hingga ia sulit menahan tangisan itu. Ini sangat menyesakkan dadanya. Telapak tangannya ia simpan di mulutnya, membungkam suara tangisannya yang rasanya ingin meledak.

Sekarang Raihan tau. Mengapa Sabil selalu bersikap seperti itu. Apa dia trauma?
Langkah Raihan terlihat begitu lemas di atas aspal. Ia baru tahu tentang kisah cinta yang Sabil jalani dulu. Dia pernah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Apa dia belum bisa berpaling dari kekasihnya dulu? Apa dia belum bisa memberikan cintanya padanya? Lalu mengapa dia mau menerima cintanya dulu jika masih ada orang lain dalam hatinya? Untuk apa? Untuk apa dia melakukan ini?
Raihan teringat setiap perlakuan yang pernah Sabil lakukan, sikap cuek dan kerasnya. Tapi setiap melihat wajah Sabil, selalu membuat rasa cinta Raihan padanya berlanjut tanpa henti.
Cinta memang aneh kadang membuat orang gila.

Ini tidak membuat Raihan menyerah. Cintanya pada Sabil begitu sangat besar hingga ia mempunyai tekat untuk bisa mengambil hatinya dan membantu melupakan semua masa lalunya.
Sabil sangat suka menulis puisi, tapi apa ia akan suka saat Raihan memberikannya ucapan cintanya? Apa hatinya akan luluh?

Raihan terus saja melanjutkan perjalannya tanpa mengilangkan pikirannya tentang sosok Sabil. Mobil dan motor saling berlalu lalang menemani setiap langkah Raihan yang ia tempuh. Cukup membuat suasana hati Raihan tidak terlalu kosong di sore hari.

Keesokan harinya.
Seperti biasa, Sabil masuk ke kelasnya dan duduk di bangkunya. Para mahasiswa ataupun mahasiswi yang berada di sana sibuk dengan candaan dan gurauan mereka. Para laki laki yang menceritakan tentang keasyikannya menonton pertandingan bola di TV kemarin. Dan para perempuan yang bercerita tentang aktor idola mereka, seperti di sinetron atau darama korea. Tapi ada juga yang belajar tentang materi yang akan mereka bahas hari ini.

Baru kali ini Salsabila belum menemukan sosok prianya. Kemana Raihan? Biasanya dia sudah berada di kelas sebelum Sabil tiba. Sabil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan jarum jam yang tertera di sana. Sabil sangat menyayangkan tentang kejadian kemarin, ia sedikit merasa bersalah karena telah menumpahkan air minum yang diberikan Raihan untuknya. Tak seharusnya Sabil berbuat seperti itu. Saat itu Sabil hanya merasa kesal. Sabil tidak ingin mencintai Raihan seperti laki laki sebelumnya yang sempat meninggalkannya dulu. Jika Sabil mencintainya lebih dalam lagi, suatu saat cinta itu pasti akan membunuhnya. Di sisi lain, ia juga tidak bisa terus menerus menyakiti hati Raihan. Itu berarti Sabil telah sangat egois.

Tiba tiba ponsel Sabil berdering sesaat, ada sebuah pesan masuk di ponselnya yang tengah Sabil pegang. Sabil pun melirik layar ponselnya dan menyentuh kotak pesan. Di atas pesan terpampang nama ‘Raihan’.
Mata Sabil mulai membaca isi pesan tersebut.

“Sabil. Sekarang aku udah tau tentang masa lalu kamu. Aku ngerti dengan semua itu. Itu sebabnya kamu terus bersikap cuek karena kamu takut untuk jatuh cinta lagi. Sekarang ada satu buah pertanyaan dalam benak aku. Kamu cinta aku, atau nggak?
Kalau kamu cuma terima aku untuk jadi pelampiasan kamu, aku terima dengan sepenuh hati aku. karena yang aku tau cuma satu, aku cinta kamu. Cinta kamu Bil, cinta ini milik kamu. Gak peduli kamu gak mau cintain aku balik, gak peduli tentang hati kamu yang masih tertutup rapat. Cinta adalah mencintaimu. Mencintaimu seperti sebuah lantunan melodi yang menyejukan hati. Untuk itu aku gak akan pernah lepasin itu’

Sabil sangat terharu dengan kata kata Raihan yang ia kirim lewat SMS. Ia tidak percaya ini, sebegitu cintakah dia padanya? Membaca pesan itu membuat hati Sabil luluh dan nyaris ingin menyentuh kata cinta lagi. Beberapa detik kemudian, pesan kembali masuk. Meneruskan kata kata sebelumnya yang terpotong.

“Tapi kalau kamu emang cinta sama aku. Datang ke halte deket kampus kita. Di sana aku bakal tunggu kamu. Kita bakal saling ngungkapin isi hati kita dan aku percaya, kalau hubungan sepasang kekasih ini didasari atas nama cinta.
Aku tunggu kamu di sini. Love you Sabil.”

Sabil tidak bisa berkata apa apa lagi. Mungkin ini saatnya untuk membuka lembaran baru, melupakan tentang Love is painnya. Sabil bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kelas. Melupakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekarang dia berdiri di sini, dan harus mengikuti apa yang telah menjadi takdirnya menjadi kekasih dari Raihan. Dia memang mencintai Raihan, tapi Sabil hanya takut untuk menerima risikonya nanti. Sabil terus berlari menyusuri trotoar. Tak peduli seberapa sakitnya nanti. Sabil mencoba menghapus semua kenangan buruk dan ketakutannya tentang sebuah kata cinta yang akan berakhir tragis.

Sekarang Sabil sudah tiba di tempatnya. Halte yang ditempati Raihan sudah berada di seberang sana. Mobil dan motor berlalu lalang di tengah tengah pandangan mereka. Raihan yang berdiri di halte itu memberikan senyumannya pada Sabil, prediksinya tidak salah. Sabil pasti datang dan dengan datangnya dia, Raihan sudah menerima jawaban dari pertanyaannya. Sabil juga mencintainya, dia hanya takut saja mengulangi masa lalunya dulu.
Sementara di seberang sana juga Sabil tersenyum haru pada Raihan, meski sempat terhalangi oleh beberapa mobil. Sabil mulai melangkahkan kakinya untuk segera menyeberang, tapi Raihan mengangkat tangannya menghentikan langkah Sabil, ia juga menggeleng gelengkan kepalanya seolah melarang Sabil untuk datang padanya. Raihan menunjuk dirinya lalu memberi kode bahwa dia yang akan datang pada Sabil ke sana. Sabil pun tersenyum dan kembali mundur, mengerti kode yang diberikan Raihan.

Raihan mulai melangkahkan kakinya turun dari halte itu sambil terus memandang Sabil. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju jalan raya. Sabil terus memandang Raihan menanti kedatangannya. Ia janji akan segera memeluknya dan meminta maaf.

Tapi –
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang, dan Raihan pun kurang fokus dalam meyebrangi jalannya. Sabil sudah melihat mobil itu dengan perasaan tidak tenang, ekspresinya berubah, Raihan terus tersenyum padanya tanpa peduli tentang jalanan di sampingnya. Sabil menggeleng gelengkan kepalanya. Raihan juga mengalihkan pandangannya ke samping dan matanya sudah melihat mobil itu begitu dekatnya. Dan –

‘BRUKKKK’ Tubuh Raihan terpental dengan jarak yang cukup jauh setelah menerima hantaman kencang dari mobil ugal ugalan itu. Sabil yang melihat itu dengan sangat jelasnya, ia hanya diam mematung. Pandangannya kosong. Matanya melebar dengan sendirinya. Wajahnya memerah dan matanya mulai berkaca kaca. Seluruh orang yang berada di sekitar jalan itu mulai berhamburan mengerumuni Raihan yang sudah tergeletak tak berdaya di atas aspal dengan cairan darah yang keluar dari hidung dan kepalanya.

‘Cinta itu sangat menyakitkan. Lagi lagi aku merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Melihat orang yang kita cintai pergi, dan ini adalah finalnya. Kejadian itu dilihat di depan mataku sendiri. Cintaku selalu seperti ini. Berakhir tragis dan air mata itu lagi lagi turun. Kenapa Tuhan terus saja melakukan ini?’
Buliran bening itu berjatuhan membasahi pipi Sabil.

“RAIHAAAAAAN!”

Suara Sabil terdengar sangat lantang dan memekik hebat disertai tangisannya yang detik berikutnya akan segera meledak.

TAMAT

Cerpen Karangan: Jaisi Quwatul
Facebook: Jaisii Quwatul

Cerpen Love is Pain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggu Kabar Darimu

Oleh:
“Lala“ sebutan nama itu yang sering kau lontarkan jika kau ingin memulai percakapan denganku lewat sms. Aku pun sering tersenyum tersipu serndiri jika aku membacanya. Sudah hampir 1 bulan

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 1)

Oleh:
Kalimat itulah yang selalu ku bisikkan dalam hatiku sepanjang kebersamaan kami. Menikah denganya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam kehidupanku. Bagaimana aku bisa tiba-tiba hidup bersamanya, andai saja tidak ada

Dunia Tak Lagi Sama

Oleh:
Perkenalkan namaku Icha, Hari itu seperti biasa aku menunggu bus di halte, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dari belakangku. “Hey cha?” Jawabnya. “Iya, kok tahu namaku?” jawabku. “Masih muda

Ryan dan Lia

Oleh:
Hujan di sore itu seolah menambah rasa tangis dan sedih yang dialami Ryan, bagaimana tidak dia begitu mengiginkan Lia ada di sampingnya seperti dahulu ketika dia bersedih. Namun sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *