Love of The Task (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 29 May 2014

Dua puluh November 2011. Lima hari setelah Yudha terakhir kalinya datang dan mengobrol di rumahku. Hari ini hujan sedang rindu kepada bumi. Sehingga ia turun membasahi bumi. Dingin pun sangat amat terasa di setiap penjurunya. Dingin di hari ini hampir senada dengan dingin yang aku rasakan di hati ini. Sebenarnya ini adalah tahun ketiga ketika aku ditinggalkan olehnya. Reyha Permana.
Kekasihku yang pergi meninggalkanku untuk melanjutkan pendidikan di negri Sakura. Dia menjanjikan tiga tahun belajar disana. Seharusnya aku senang karena tak kurang dari satu bulan lagi dia akan pulang kembali ke Indonesia. Tapi entah kenapa seakan aku memang sudah tak ingin lagi dibuat menunggu olehnya. Dia tak pernah ada kabar setelah dia pergi. kalau kata Helen bilang, percuma aku mengharapkan orang yang belum tentu dia mengharapkanku juga. Aku sudah berusaha melupakannya karena seringkali ada selentingan gosip yang aku dapat bahwa dia memang sudah tak setia.

Sore itu aku berdiri di balik jendela kamarku. Aku senang sekali melihat hujan. Merasakan desiran angin yang selalu menjadi teman setianya. Aku seakan teringat kepada seseorang kala itu. Sudah hampir sepuluh hari dia tak pernah bicara lagi padaku. Si ‘dingin’ Yudha. Mungkin dia marah karena aku menertawakannya. Dia selalu menghindar kalau aku ajak bicara. Aku hampir kehabisan ide untuk mengajaknya pergi untuk sekedar mengobrol. Meminta maaf tepatnya.

Tuuuttt, tuuuttt, tuuuttt. “Nomer yang tuju sedang sibuk, silahkan hubungi beberapa saat lagi.” Selalu suara ini yang kudengar jika aku menelpon Yudha. Bahkan bertemu di kampus pun dia sudah jarang sekali menyapaku. Atau mungkin dia sudah punya pacar, sampai dia tak mau lagi terlihat dekat degan wanita lain? Entahlah yang jelas aku hanya ingin meminta maaf jika memang sikapku waktu itu sudah menyinggung perasaannya.

“Yudha, temuin gue malem ini di café tempat biasa kita ngobrol. Gue tunggu lo disana jam 7 malem.”
Aku gak tau sms itu akan dibaca atau mungkin diabaikan oleh Yudha.

Dan jam 7 malam tepat. Aku sudah duduk bersandar di kursi café sendirian. Beberapa kali waiters menghampiriku dengan pertanyaan yang sama. Dan selalu aku jawab “sebentar saya sedang menunggu teman”. Sampai yang ke empat kalinya akhirnya aku memutuskann untuk memesan ice cream chocolate. Walaupun di luar sana cuaca masih sedingin tadi sore. Waiters pun seperti keheranan menatapku.

Ini sudah mangkuk ketiga yang ku pesan. Jam di tanganku pun sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi Yudha tak kunjung terlihat. Berulang kali sudah ku coba menelpon, tapi tak pernah diangkat. Sms dan bbm pun tak ada yang dibalas satu pun. Dengan sangat kecewa aku pulang ke rumah dengan sedikit rasa kesal. Aku tak pernah mengira Yudha sampai semarah ini dan membalasnya seperti ini.

Dua puluh lima November 2011. Aku masih belum melihat Yudha di kampus. Di kelas, di aula, di taman bahkan tak ada. Teman-teman tak ada yang tahu. Padahal dia adalah salah satu murid teladan dan tak pernah sekalipun dia membolos kuliah. Tapi hari ini dia tidak masuk bahkan di kelas Perpajakan, pelajaran favoritnya. Aku semakin bingung. Sampai akhirnya sebuah ide muncul di otakku. Aku menuju ke ruang akademik kampus, kerena disitulah semua data para mahasiswa terkumpul dan siapa tahu aku akan mendapatkan kabar kenapa Yudha tak pernah masuk kuliah selama sepuluh hari ini.

Tapi akademik pun tak memberikanku jawaban yang pasti. Mereka hanya mendapatkan kabar dari Yudha tiga hari lalu bahwa dia pulang ke Batam, kampung halamannya. Hatiku lumayan tenang setelah mendengar kabar itu. Aku pun tidak terlalu mencemaskannya lagi.

Pagi hari tepat ditanggal dua puluh tujuh di bulan ke sebelas ini, cuaca seperti sedang satu hati denganku. Mendung tertutup awan kesedihan. Yudha belum juga mengabariku. Aku semakin cemas dan aku masih tetap dengan perasaan ini. Merasa bersalah dan ingin meminta maaf.
“Hey!” tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menepuk pundakku dari belakang.
“Yudha?” ujarku dalam hati. Aku begitu yakin itu adalah Yudha karena suaranya sangat persis. Dan kebiasaan menepuk pundak pun adalah kebiasaan dia. Dan aku hapal betul soal itu.
Aku membalikkan tubuhku. “Lo Nadine kan? Mahasiswi jurusan akuntansi. Gue Setia.” Laki-laki asing itu mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. Sejenak aku merasa melihat Yudha di wajahnya. Tapi ah, itu cuma hayalanku saja. Mungkin karena aku terlalu memikirkannya.
“Sorry, lo siapa? Dan kenapa lo kenal gue? Lo bukan mahasiswa disini kan. Soalnya gue gak pernah lihat.” Tanganku tiba-tiba ditarik olehnya dan dituntun menuju sebuah mobil.

Sedan Soluna silver sekarang tepat berada di hadapanku. Aku hapal betul itu adalah mobil Yudha. Tapi aku tak melihat Yudha disana. Aku mencoba menengok ke dalam mobil mencari sosok laki-laki itu. Tapi aku tak menemukannya. Sampai akhirnya Setia menyuruhku masuk ke dalam mobil itu dan berucap padaku jangan takut. Aku pun menurutinya.

Satu jam kemudian aku sadar bahwa aku sekarang sedang berada di tempat parkir sebuah rumah sakit. Hatiku berdebar tak karuan. Apalagi sedari tadi tak ada penjelasan apapun dari Setia. Dia hanya sesekali menatapku dengan pandangan serius dan matanya yang sedikit ku lihat bengkak. Kemudian aku masuk ke salah satu kamar di rumah sakit itu. Di luar pintunya bertuliskan kamar IGD. Jantungku kian berdetak kencang rasanya sendi-sendiku juga mulai terasa sedikit linu. Membayangkan siapa yang ada di dalam sana.

“Yudha!” sontak aku kaget ketika aku melihat seseorang di depanku ditempeli bermacam-macam alat kedokteran. Kepala dibalut dengan perban. Dan aku semakin lemas ketika melihat alat pendeteksi detak jantung di sebelah ranjangnya menunjukkan tak ada detakan. Seketika itu juga aku berlari menghampiri sosok yang terbujur kaku itu. Mataku meneteskan air mata seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.

Aku menghampiri Setia yang sedang berada di balik jendela kamar rumah sakit itu. “Heh, apa yang sebenernya terjadi? Yudha kenapa? Dan lo, lo siapa sebenernya?” aku mendorong dadanya dan bertanya pada Setia dengan nada membentak.
“Yudha kecelakaan sepuluh hari yang lalu. Mobil yang dia kendarai menabrak pohon di pengkolan dekat rumah kami. Mobil itu meledak dan beruntung Yudha tertolong dari percikan api, karena saat malam itu hujan sedang turun sangat deras. Lo tadi tanya gue siapa. Gue, adik kandungnya Yudha. Dan udah lima hari dia koma. Gak sadar sama sekali.” Ku lihat mata Setia berkaca-kaca saat itu. Dan aku lemas ketika mendengar ceritanya.
“Sepuluh hari yang lalu.” Hatiku teringat sesuatu. “Jam berapa kecelakaannya? Tapi tadi mobil Yudha gak apa-apa kan?”
“Waktu itu dia bilang mau temuin cewek di café Warna. Mobil Yudha pas hari itu masih dibengkel karena lagi deperbaiki. Dan dia berangkat sekitar jam 8 malem dari rumah, pake mobil gue. Setau gue Yudha emang kurang bisa sama mobil matic, apalagi mobil gue kan matic. Gue udah coba peringati dia. Bahkan gue udah bersedia nganter dia waktu itu. Tapi dia bilang dia harus cepet-cepet karena ada seseorang yang nungguin dia. Belum sempet gue nanya siapa orangnya dia udah langsung pergi. Dan saat gue baru aja masuk rumah, gue denger ada suara ledakan yang kenceng banget dan bikin gue kaget. Ternyata suara itu suara mobil gue yang kecelakaan. Dan pas kecelakaan itu gue nemuin ini.” Setia menyodorkan sebuah buku kecil kusam dan sebuah bunga mawar putih yang terlihat sudah agak layu.
Aku mengambil kedua benda itu dan kemudian aku duduk di sebuah sofa yang ada di sebelah ranjang tidur. “Apa ini?”
“Aku nemu ini tepat sesaat setelah Yudha kecelakaan. Ada kemungkinan buku dan bunga itu bakal dikasihin ke seseorang. Dan seseorang itu mungkin aja lo Nadine.” Setia ikut duduk di sebelahku.
“Eh!” Aku kemudian menatap Setia keheranan.
“Lihat tulisan di bunga itu. Ada nama lo kan? Dari situ gue tahu kalau mungkin saat Yudha kecelakaan dia emang mau pergi nemuin lo. Makanya gue cari tahu dan gue bawa lo kesini. Mungkin setidaknya Yudha bisa merasakan kehadiran lo.” Setia terlihat menghampiri Yudha di ranjang tidurnya.

Aku melihat sebuah kertas yang tertempel di bunga mawar putih itu. Disitu memang tertulis untukku. Aku pun membuka lembaran buku kusam yang pekat oleh debu. Dan sangat terkejutnya aku saat melihat ada fotoku disitu. Ukuran foto 3R yang dipajang tepat di halaman pertama.

Dan anginlah yang menghembuskan cinta ini, dimana aku tak pernah merasakan sebelumnya. Tapi wanita ini membuat hatiku senang apabila aku melihat senyumannya. Nadine Sesilia Paramita. Sungguh aku sangat menyayangimu. Tapi entah harus aku mulai darimana untuk menjelaskan semuanya. Karena selama ini aku merasa kamu tak pernah peka dengan apa yang aku lakukan untukmu. Sebenarnya aku tak bermaksud pamrih, hanya saja apa salah jika aku mencintai kamu saat ini? Aku memang tak bisa dan memang tak biasa dengan bersikap romantis atau seperti layaknya pria lain di luar sana. Harapan ini rasanya memang sia-sia. Maka dari itu aku sedikit menjaga jarak. Setidaknya aku sadar diri dengan posisiku yang hanya menjadi seorang teman bahkan hanya menjadi sahabat katamu. Maaf jika aku tiba-tiba menghilang. Aku takut perasaanku terlalu dalam dan semakin mendalam lagi. Aku tak mau ada yang tersakiti. Aku tahu kamu sangat menyayangi pacarmu, maka dari itu aku ingin menjauh saja darimu. Hanya bisa aku tulis dalam diary ini semua yang indah tentang dirimu. Semua pujian untukmu, puisi dan cerita indah lainnya. Maaf jika aku suatu saat pergi membawa rasa sayang ini hingga jauh. Untukmu yang terkasih. Nadine.

Air mataku tak terasa telah menetes. Tulisan itu yang aku baca dalam buku usang ini. Aku tak pernah tau jika Yudha menyayangiku. Aku langsung menghampiri Yudha. Bibirku tak sanggup berkata apapun rasanya sangat berat sekali, aku hanya bisa menangis di hadapannya. “Yud, lo harus bangun.” Hanya itu yang sanggup aku katakan dengan suara lirih. Yudha masih terlihat kaku.

“Dokter bilang harapan untuk hidupnya sangat kecil, Yudha banyak sekali kehilangan darah pas kecelakaan itu. Apalagi Yudha punya penyakit kanker darah. Kakinya patah karena terjepit pintu mobil.” Setia mengelus kepalaku.
“Apa? Leukemia?” aku menatap Setia. Dia hanya mengangguk lemas tanpa ada kata-kata lagi dari bibirnya. “Dan sekarang lo pasrah aja kakak lo kaya gini, hah?” emosiku mulai terkoyak.
“Gak ada yang bisa gue lakuin selain berdoa. Karena dokter pun sebenarnya udah maksimal ngurus semua. Tapi yang punya takdir kan hanya Tuhan.” Setia terlihat terpukul.

Tiba-tiba saja jari tangan Yudha terasa bergerak saat aku pegang. Dan alat pendeteksi detak jantungku terlihat dengan bergaris-garis naik turun yang hidup. Aku menarik nafas panjang. Sedikit demi sedikit Yudha terlihat membuka kedua matanya.
“Nad…diiinnne. Ah…” terdengar suara lirih keluar dari bibir Yudha. Aku dan Setia saling menatap satu sama lain. Kami berdua terkejut bercampur senang.
“Iya Yud, gue disini.”
“Maaf ya gue gak dateng pas lo sms. Gue telat berangkatnya dan…”
“sssttt. Itu gak penting Yud. Maafin gue juga kalau gue selama ini gak peka sama lo.” Aku mencium kening Yudha.
“Jadi lo udah baca diary gue?” Yudha terlihat menatap Setia, adiknya. Setia hanya mengedipkan mata kanannya kepada Yudha. Aku menunduk dan tersenyum.
“Gue juga suka sama lo Yud. Makasih buat kebaikan lo selama ini. Gue seneng udah kenal sama lo.” Tubuhku memeluk erat Yudha yang masih terbaring lemah.
Baru saja lima menit rasanya kami berbincang, tiba-tiba aku merasakan nafasnya Yudha sesak. Dan …

“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Tuhan punya kehendak lain.” Dokter berkata seraya pergi meninggalkan kami.
“Yudhaaaaaa!!” aku sontak menjerit. Dan Setia merangkulku menjadi sandaran tangisanku.

Hari ini, 25 Desember 2011. Hujan turun dengan derasnya. Seperti satu jiwa denganku. Kesedihan yang mendalam ini sangat amat terasa sampai ke seluruh tubuh. Saat-saat terakhir di rumah sakit satu bulan yang lalu belum bisa aku lupakan. Masih jelas terbayang wajah Yudha yang saat itu aku peluk dengan erat. Tapi hidup terus berjalan dan aku tak bisa terus-menerus ada dalam kotak kesedihan. Aku yakin, Yudha sudah tenang disana. Dan aku tak akan pernah melupakan semua kenangan dengannya.

Sekarang aku tahu. Ternyata cinta bisa hadir dari orang ‘dingin’ sekalipun. Cinta tak pandang siapa dan tak penting bagaimana cara ia memulainya. Cinta takkan terhalang oleh apapun dan oleh siapapun. Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya jarak yang dapat memisahkan kedua insan yang sedang jatuh cinta.

Cerpen Karangan: Henida Eka Permata
Blog: Www.myhenida.tumblr.com
Facebook: Nidda Henida Eka Permata
Nama: Henida (Nidda)
Twitter: @henidaEP

Cerpen Love of The Task (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergi Yang Tak Pernah Kembali

Oleh:
Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup. Tidak

Separuh Aku

Oleh:
Dan terjadi lagi… Kisah lama yang terulang kembali… Kau terluka lagi… Dari cinta rumit yang kau jalani… Namaku Cakka Nuraga, cowok yang amat sangat beruntung bisa memiliki sahabat seperti

Kau Cantik Hari Ini (Part 1)

Oleh:
“Mas, ada sedikit masalah dengan kereta yang akan ke Jakarta, mungkin perjalanan akan ditunda satu jam, mas sudah sampai di stasiun?, atau jika tidak mas bisa pulang dulu, nanti

Kebahagiaan Yang Gagal

Oleh:
Pagi ini seperti biasa, aku menjalankan aktivitas pagiku: menuntut ilmu. Setiap pagi benakku bagai pasar, ramai dikelilingi bayanganmu. Meski sebenarnya, kau bukan siapa-siapa dalam hidupku. Tuhan hanya menakdirkan kau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *