Love Really Hurts (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 11 January 2014

Untuk yang kesekian kalinya aku melirik jam tanganku. Sudah jam delapan malam. Fallen menyuruhku untuk datang jam tujuh tepat. Tapi sudah satu jam aku menunggu, tak muncul batang hidungnya juga. Aku mulai kesal dan hampir pergi dari cafe itu saat sosok yang kutunggu berjalan santai di pintu masuk cafe. Membuatnya menjadi sorotan perhatian para wanita-wanita muda di tempat yang ramai itu. Begitu melihat diriku yang duduk sendirian, ia langsung melambai ke arahku dan tersenyum padaku.

“Maaf ya aku terlambat.” Ucapnya menyesal sambil menarik kursi dan duduk di atasnya. “Hmm kau sudah pesan makanan? Tadi aku sudah makan saat bertemu dengan klien.” Katanya tak bersalah.

“Jadi kau menyuruhku menunggu untuk membuatku kelaparan, sementara kau enak-enakan makan dengan klienmu?” seruku ketus. “Kau benar-benar keterlaluan!” aku memasang wajah cemberut dan marahku. Aku membuang muka darinya, tak ingin satu detik pun aku melihat wajah menyebalkan itu.

“Jangan ngambek gitu. Kalau kau lapar pesan saja makanan yang kau suka. Nanti aku yang traktir.” Tersungging senyum jahil di bibirnya.

Tanpa berpikir panjang, aku pun memanggil pelayan dan memesan makanan yang paling enak di restoran ini. Sepuluh menit kemudian tiga macam makanan Eropa tersaji di meja. Aku menatapnya dengan perut keroncongan. Karena seharian ini aku belum makan. Dan aku sangat lapar dengan acara menunggu pria menyebalkan itu. Aku langsung menyesap minumanku dan melahap habis tiga piring masakan Eropa itu. Aku tak peduli dengan tatapan tak percaya Fallen saat menatapku makan dengan rakus. Dan aku tak peduli imejku akan jatuh di matanya. Yang kupikirkan sekarang adalah mengisi perutku agar tak lapar lagi.

“Astaga! Kau terlihat begitu rakus makannya.” Ocehnya sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aku tak pernah melihat seorang gadis sepertimu, makan seperti sudah satu minggu belum makan. Apa kau tak tersedak karena makan terlalu cepat?”

Aku menggeleng dengan mulutku yang penuh dengan makanan.

“Lihat! Semua orang melihatmu. Pasti mereka berpikir yang tidak-tidak tentangmu sekarang.” Ucapnya lagi dengan wajah malu karena semua orang menatap ke arah kami.

Aku tak peduli dengan apa yang diocehkan Fallen. Sudah cukup ia membuatku menunggu dan membuatku kelaparan. Dan sekarang apa aku salah melepaskan rasa laparku dengan makan seperti orang rakus?

Butuh waktu lima belas menit untuk menghabiskan semua makanan yang tersaji di meja. Begitu selesai makan, kutatap Fallen yang ternyata sibuk dengan iPhone tabletnya. Sepertinya dia tengah mengecek pekerjannya.

“Apa kau masih berkerja di luar jam kerja?” tanyaku.

Ia menegakkan kepalanya dan menatapku. Kemudian ia tersenyum.

“Lihat dirimu.” Katanya terhenti. Tangannya mengambil tisu di meja. Kemudian tubuhnya dicondongkan mendekatiku. Tanganya yang memegang tisu mengelap bibirku. “Kau makan seperti anak kecil. Mulutmu belepotan seperti baru belajar makan saja.” Ujarnya sambil mengelap mulutku yang kotor dengan minyak makanan.

Aku hanya diam melihat Fallen bersikap begitu perhatian padaku. Dan lagi, suara degup jantungku terdengar begitu keras, sampai terdengar oleh Fallen.

“Kau gugup?” tanyanya sambil memandangku. Kini ia telah selesai mengusap mulut belepotanku. Tapi tangannya tak beranjak dari mulutku, dan tubuhnya masih tetap condong ke arahku.

Aku menatap matanya yang berjarak beberapa senti.

Hatiku benar-benar tak karuan dibuatnya. Bahkan aku merasakan sekujur tubuhku bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Bukan karena aku sakit. Tapi terlebih karena rasa malu dan nervous, bisa berhadapan sedekat itu. Aku masih terdiam dengan wajah bingungku. Kemudian…

“Hahaha… Kau terlihat lucu saat kau bingung. Dan lihat! Wajahmu terlihat memerah seperti orang malu. Hahahaha…” Fallen tertawa keras setelah kembali duduk. Ia menertawakan diriku yang terlihat bodoh di depannya.

Astaga! Lagi-lagi ia membuat diriku menjadi bahan candaannya. Melihat itu, aku langsung memasang wajah cemberutku. Akan kubalas kau suatu saat nanti! Jeritku dalam hati dengan sorotan mata yang penuh amarah.

Fallen masih tertawa. Tangannya memegang perut, dan matanya mulai berair. Semua orang di tempat itu jelas menatap ke arah kami. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Ini justru membuatku malu. Sangat malu!

“Terima kasih sudah mau pergi denganku malam ini.” Ucapnya dengan nada tulus.

Mendengar ucapannya aku langsung menghentikan kakiku dan menghadap tubuhnya sambil menatap menyelidik.

“Kenapa ucapanmu terdengar seperti tak biasa? Apa kau berencana mengerjaiku lagi?” tanyaku spontan.

Bibirnya tersenyum kecil. Dan kutahu, kali ini senyumnya tak seperti senyum jahil yang biasa ia tampakkan. Tapi seperti senyum tulus.

“Kau selalu berburuk sangka. Buang jauh-jauh pikiran itu.” Ia mengacak rambutku dan membuatku kesal.

“Biasanya kau selalu menjadikanku bahan candaanmu. Apa kau tak tahu itu?!” ketusku masih dengan tampang marah dan merapikan kembali rambutku yang dibuat acak-acakan.

“Tentu saja aku tidak akan menjahilimu lagi. Paling tidak untuk sekarang.”

Aku tak begitu memperhatikan kata-kata Fallen.

Sekarang kami tengah berjalan-jalan di taman. Malam ini terlihat sangat ramai dengan pemuda-pemudi yang berkencan. Ditambah lagi dengan para keluarga yang meluangkan waktu weekend mereka. Aku memandangi sepasang pemuda-pemudi yang tengah duduk mesra. Mereka sepertinya asyik membicarakan sesuatu. Dan mereka terlihat saling menyayangi satu sama lain. Itu terlihat jelas di mata mereka.

“Kenapa?” tanya Fallen yang tiba-tiba melihatku terbengong. Ia pun mengikuti kemana arah tatapanku. “Oh, mereka terlihat sangat bahagia ya.”

Aku tak menanggapi perkataan Fallen. Aku terlalu asyik memandangi pasangan itu. Hingga mataku terasa panas dan setetes air hangat mengalir di pipiku.

“Kau kenapa? Apa kau cemburu melihat mereka? Jangan bilang kalau bocah ingusan itu adalah pacarmu?” Fallen memberondong serentetan pertanyaan.

Aku masih terdiam dan menangis tanpa suara.

“Jangan seperti ini. Kau membuatku takut.” Ucap Fallen cemas.

“Apa kau tahu sakitnya hatiku sekarang, melihat mereka bisa merasakan kebahagiaan bersama orang yang mereka cintai, sedangkan aku tidak?” kataku bergetar. Tak ada respon dari Fallen. “Walaupun setiap hari aku hidup bersama orang itu, aku tak bisa mengekspresikan bagaimana perasaanku dan seberapa besar aku mencintainya dengan semauku. Karena ada batas yang memaksaku untuk terus menyimpan perasaanku. Dan setiap harinya aku terluka karena itu. Bahkan aku tak tahu sampai seberapa besar lukaku hingga aku tak bisa menangis untuk merasakan perihnya sakit itu. Aku terus berpura-pura, bahwa aku baik-baik saja di depannya. Aku terus berpura-pura menjadi orang lain di depannya. Dan apa kau tahu betapa sakitnya itu, Fallen?” aku menatap Fallen dengan mata sembab penuh air mata. Sementara ia menatapku kalut.

1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik…

“Hahahahahaha…” Aku tertawa keras, memecahkan kebisuannya. “Kena kau sekarang! Aku sudah berhasil balas dendam atas perbuatanmu tempo hari yang membuatku kesal. Hahahahaha…” aku tertawa keras, bertolak belakang dengan suara tangisan di hatiku. Tak sepenuhnya aku mengerjai Fallen. Karena memang benar semua apa yang kukatakan tentang perasaanku. Dan semua itu tentang Fallen. Tapi aku tak mau mengakuinya bahwa itu jujur. Aku tak mau ia marah dan menjauhiku. Biarlah semua perasaan yang kukatakan tadi ia anggap sebagai bahan candaan saja. Tanpa ada rasa canggung setelahnya.

“Hey! Kau terlalu serius menanggapinya. Aku sudah selesai bercandanya, kenapa kau masih memasang tampang serius begitu sic?” ujarku sambil mengapus air mataku dengan punggung tanganku. Tapi…

Tanganku yang sedang menghapus air mata ditarik kasar oleh Fallen dan dicengkramnya dengan kuat. Sementara tangannya yang lain memegang pipiku. Wajahnya didekatkannya ke wajahku hingga kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Kami berciuman. Aku tak bergerak sama sekali karena shock dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Setelah aku sadar, aku mendorong kuat tubuh Fallen ke belakang. Dengan kuat kugosok bibirku dengan tanganku. Tapi tanganku keburu ditahan oleh Fallen. Ia menatapku tajam.

“Apa-apaan ini?!” tanyaku ketus. “Kau tak bisa seenaknya melakukan itu padaku. Kau sudah…”

“Sekarang biarkan aku mengatakan semuanya Mikha.” Suaranya selaras dengan matanya yang mengandung emosi. “Aku… aku benar-benar menyukaimu. Sejak dulu, sejak kita masih SMA. Tapi aku tak berani mengatakannya. Karena kau bersikap tak peduli padaku. Bahkan kau menjauhiku. aku benar-benar tersiksa dengan perasaan ini. Bahkan saat kita dipertemukan malam itu, aku merasa senang bisa melihatmu lagi. Tapi aku sedih saat kau bersikap tak mengenaliku. Maka kubiarkan Papaku menikahi Mamamu, agar aku bisa melihatmu setiap harinya. Aku tak mau kehilanganmu lagi.” Tandasnya. Wajahnya terlihat sangat terluka.

Sekujur tubuhku lemas dan tubuhku merosot jatuh terduduk ke tanah. Kedua bahuku bergetar menahan isak tangisku. Wajahku menunduk menatap tanah. Tanganku masih dipegang lemah oleh tangan Fallen.

Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Setelah semuanya terbongkar aku tak tahu harus berbuat apa.

“Katakan sesuatu Mikha…” kalimatnya terpotong.

Aku masih menangis. Dan kali ini tangisku semakin keras.

“Aku… aku tak tahu apa yang harus kukatakan, terlebih lagi apa yang harus kulakukan sekarang.” Aku mencoba menghentikan tangisku. Tapi hatiku terlalu sakit untuk saat ini. “Kukira dulu, kau yang tidak menyukaiku. Bahkan kudengar kau berpacaran dengan Christie. Kau juga berkata bahwa aku bukanlah tipe gadis yang kau sukai. Kau berniat mendekatiku karena kau ingin taruhan dengan teman-temanmu. Aku merasa tersakiti saat kudengar itu. Tapi aku bodoh untuk tetap menyukaimu. Kuputuskan pergi ke Aussie untuk bisa melupakanmu. Tapi nyatanya tidak. Aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan rasa suka ini telah mendarah daging, hingga sulit terlepas dari diriku.” Aku menghentikan kalimatku, memberi jeda. “Aku juga merasa terkejut saat melihatmu lagi malam itu. Aku berpikir inilah takdirku. Bahwa kau bukan takdir untukku. Tapi takdirku untuk terus menyukaimu tak pernah terputus.” Aku berhenti bicara. Aku menangis keras.

Fallen menggenggam bahuku dan menuntunku untuk berdiri dan menghadapnya. Wajahnya, ia tundukkan untuk bisa sejajar dengan wajahku.

“Kalau begitu, ayo kita mulai dari awal. Kita bicara pada Papa dan Mama. Kalau mereka tak mengijinkan kita untuk bersama, kita lari saja.” Ujar Fallen penuh semangat dan emosi.

“Jangan egois Fallen!” bentakku. “Dari awal kita memang tak ditakdirkan untuk bersama. Biarlah Papa dan Mama mereguk kebahagiaan di sisa hidup mereka. Lagipula kita adalah keluarga, kau adalah abangku sekarang. Dan juga…” Aku ragu untuk mengatakan kalimat ini, “Kau sudah punya kekasih.”

“Tidak Mikha. Aku tak mencintainya. Lagipula kita bukan saudara kandung. Kita bisa menikah.”

“Tidak Fallen.” Aku menggeleng lemah. “Sudah kuputuskan untuk kembali ke Aussie. Kembali ke Ayah kandungku. Dan membiarkan Mama bahagia dengan Papa. Dan kau tak perlu canggung lagi karena tak ada lagi aku di rumah itu.”

“Mikha!” serunya kesal. “Apa ini yang kau inginkan?”

“Aku tak tahu harus bagaimana lagi Fallen.” Aku menangis sejadi-jadinya. “Aku sudah lelah. Kalau aku bersama denganmu, maka Papa dan Mama yang terluka. Dan aku tak mau itu. Lebih baik aku yang terluka. Dan kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”

Aku pergi meninggalkan Fallen yang terus berteriak memanggil namaku. Tak peduli beribu pasang mata menatap bertanya-tanya pada kami. Aku terus berjalan meninggalkan cintaku. Ini sudah keputusanku. Besok aku akan mengemasi barang-barangku dan kembali ke Aussie, tapi tidak ke rumah Papa. Karena Papa sudah mempunyai keluarga baru. Aku tak mau menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan mereka. Atau mungkin, aku akan pergi ke tempat yang tak bisa mereka temukan. Aku ingin menghilang dari kehidupan mereka. Karena aku tak ingin mereka mengingatku sebagai beban mereka.

“Mikha!” jerit Fallen, “Kau tahu?! Mencintaimu benar-benar menyakitikuuu…!” teriak Fallen.

Aku tak menoleh ke belakang. Aku tak ingin goyah dengan keputusan yang kuambil. Biarlah aku yang terluka.

‘Maafkan aku Fallen. Aku benar-benar minta maaf.’ Batinku sambil menangis.

Pagi harinya aku berpamitan pada Mama dan Papa untuk pergi berlibur ke rumah Papa di Aussie. Walau mereka sempat ragu dengan alasanku, karena aku membawa semua barang-barangku. Tapi akhirnya mereka tak mempertanyakannya. Lagi pula barang-barangku tak terlalu banyak, hanya satu koper. Dan itu cukup memudahkanku untuk membawanya tak seperti orang pindahan.

Mama dan Papa juga tak meragukan alasanku pergi berlibur ke rumah Papa. Karena aku tahu bagaimna sifat Mama, yang tak mungkin dengan sukarela menelepon dan bertanya kepada Papa, menanyakan kebenaran alasan berliburku. Ini sesuatu yang menguntungkan bagiku.

Mama dan Papa Ardi mengantarku ke bandara. Dan aku sedikit sedih, karena Fallen tak ikut mengantarku, terlebih lagi sejak pagi tadi aku tak melihat sosoknya di rumah. Kata Papa Ardi, dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Sisi lain hatiku senang. Karena ini berarti ia mulai melupakanku. Dan melupakan kejadian semalam.

Aku melambai ke arah Mama dan Papa. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihat wajah mereka yang mungkin tak akan bisa kulihat lagi. Maafkan aku Mama. Mungkin kalau Mama tahu ini, Mama akan bersedih. Tapi aku tak mau Mama tahu alasan mengapa aku melakukan ini.

Setelah melihat Mama dan Papa Ardi pergi, aku berjalan menuju loket penjualan tiket. Sebelum sampai ke loket, aku melewati tempat sampah dan kubuang tiket jurusan Australia. Loket yang kudatangi adalah loket dengan jurusan Korea Selatan.

Waktunya pesawat lepas landas dan aku berjalan menuju pesawatku, aku sempat melihat seseorang yang familiar tengah berjalan menuju pesawat di samping kanan pesawat yang kunaiki. Pesawat yang tadinya menjadi tujuanku, tapi kini tiket itu tergeletak manis di tong sampah.

Selamat jalan kehidupan lamaku. Batinku saat pesawat mulai mengudara.

Cerpen Karangan: Mia
Facebook: www.facebook.com/der.laven3

Cerpen Love Really Hurts (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Lagu Adalah Perasaanku Untukmu

Oleh:
Malam itu, felly diam memandang foto seorang cowok yang sangat dia cintai. Dia adalah awan, cowok yang dia kenal beberapa bulan yang lalu. Mereka menjalin hubungan yang serius tapi

Cita-Citaku

Oleh:
Semua orang pasti memiliki cita-cita. Termasuk aku. Aku mempunyai cita-cita yang sangaat tinggi. Hanya saja, cita-citaku ini akan membuat orang di sekitarku merasa sedih, tetapi membuatku bahagia. Minggu pagi.

Senja

Oleh:
Kini aku hanya bisa terdiam dalam tidurku dan menyaksikan mimpi yang begitu aneh ini. Suara ayam jago pun membangunkanku, Seolah ia ingin menghentikan mimpiku. “ahh ternyata sudah pagi.” Ucapku

Key

Oleh:
Helaan nafas tiada henti sore itu membuatku kelelahan Mengadah dan tertunduk bukanlah sebuah keputusan Bukan mauku begini, tapi kemauanmu Ah! Tidak juga sepertinya Kalau saja bisa kugenggam, tidak akan

Sersadu Pasir Putih (Kau Kakakku?) Part 1

Oleh:
Sore itu, semburat senja menghangatkan dinginnya lautan, menambah kehangatan dalam kebersamaan bagi mereka. “Roni! Oper bolanya!” Aldo berlari mendekati kotak penalty. Kali ini umpan lambung, tak menyia-nyiakan kesempatan, Aldo

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “Love Really Hurts (Part 2)”

  1. Renata Aulia Putri Ramadhani says:

    Cerpen nya bikin nangis niyh. Abizz gw menghayati bgt. Klo gx di hayati ntar gx ngerti, klo di hayati bkin nangis. huhuhuhuhu… (;-(;-(

  2. Syafirana says:

    Cerpennya bagus, bikin nagis. Hemmm mengharukan tau.
    Love is hurt.:>

  3. via says:

    cerpen ny bgus bgt….bkin trharu tapi smbungan ny mna??
    love really hurts part 3 gk ada ya??

  4. sopiana says:

    mba,ko cerita selanjutnya ga da ya…
    atau hanya sampai part 2 aja y???
    padahal seru loh ceritanya love really hurts

  5. safira says:

    Jadi nangis nie….bikin yg ke 3 dong biar seru

  6. nadya says:

    lanjut dong yang ke 3 pasti seru

  7. Aull says:

    Bagus banget…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *