Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 August 2013

Suara burung itu mengagetkanku. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Saat ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10 batinku. Cukup lama juga aku duduk di pelataran masjid sekolahku ini.
Entah kenapa ku langkahkan kakiku ke tempat ini. Mungkin karena tidak ada kegiatan lain yang harus ku lakukan. Sekolahku sedang sibuk mengadakan lomba untuk mengisi waktu setelah ulangan. Dan ini saat yang tepat untukku menyendiri. Beranda masjid ini adalah tempat yang menyenangkan. Aku bisa terhindar dari celotehan teman-temanku yang kadang-kadang ngawur. Tempat ini begitu tenang. Membuat pikiranku yang kusut kembali jernih.

Ku lihat di sekitar masjid, banyak siswa-siswa lain yang duduk sepertiku. Tetapi kebanyakan mereka bergerombol dengan teman-temannya. Hanya untuk sekedar menepis sepi yang di rasa. Mungkin saja sama seperti kesepian yang ku rasakan.
Beberapa pasang mata menoleh ke arahku. Mungkin mereka heran, kenapa aku berada di tempat ini sendirian. Mungkin itu juga yang menjadi pertanyaanku. Kenapa di tempat ini aku merasa sendirian? Padahal aku salah. Seharusnya aku menyadari kalau Tuhan masih bersamaku. Kesepian yang sekarang ini ku rasakan, tiada artinya jika aku menyadari kalau Tuhan bersamaku.

Aku menatap pohon akasia yang ada di seberang pelataran masjid. Pohon itu semakin meranggas karena matahari bulan Juni yang terik. Daun-daunnya yang ditiup angin, seakan menyampaikan lagu kesedihan tentang kesendiriannya.
Kemudian tatapan kosongku kembali menatap sekumpulan siswa yang berada beberapa meter di depanku. Ada rasa sedih yang menyeruak dadaku ketika melihat mereka. Kesedihan yang menenggelamkanku dalam ruang yang tak ku mengerti. Aku mencoba menepis semua gundah ini.

Sekarang aku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku sadar, ada sekelumit rasa yang membuncah dalam hatiku. Rasa yang kian menggangguku. Belum pernah lagi ku rasakan hal ini. Sejak aku ditinggalkan pergi oleh seorang laki-laki. Yang kalau boleh jujur, laki-laki yang sangat aku cintai. Sejak saat itu aku takut berkelana di alam nyata. Aku takut, aku akan semakin tenggelam dalam kepedihan.

Matahari semakin terik. Aku sudah tak ingat berapa lama aku di tempat ini. Hatiku bertanya, kenapa dia belum muncul juga? Biasanya di saat seperti ini, dia selalu pergi ke masjid. Entah untuk apa. Yang pasti senyumnya sudah menggugah hatiku.
Tapi, sampai saat ini dia belum kelihatan. Kemana dia? Tanyaku dalam hati. Hari ini aku hanya ingin melihat senyumnya. Dan aku ingin menyampaikan isi hatiku padanya. Walaupun dia pikir aku seperti orang gila, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tahu apa yang aku rasakan.

Aku semakin lelah, menunggu ketidakpastian ini. Akankah takdir berpihak padaku? Ku coba mengisi waktuku dengan membaca novel yang ku pinjam dari temanku. Tapi, itu tidak bisa mengalihkan pikiranku tentang dia. Sosok yang betul-betul mengubah duniaku. Ya Tuhan, kenapa waktu begitu lambat berjalan? Padahal aku sudah lama menunggunya. Aku bertekad, hari ini akan ku tuntaskan semuanya. Semua rasa yang begitu menggangguku.
Ku lirik arlojiku sekali lagi. Sudah menunjukkan pukul 12 siang. Matahari tepat berada di atas kepalaku. Perutku semakin lapar. Aku takut jika aku pergi, aku tidak bisa bertemu dia lagi. Kenapa aku jadi seperti ini? Sadar Din, di dunia ini tidak ada pangeran berkuda seperti impianmu.

Aku mondar-mandir untuk sekedar melepas penat yang menghampiri. Kenapa dia belum datang juga? Aku sudah menunggunya dari tadi pagi. Tapi, kenapa sampai sekarang dia tidak datang? Apa mungkin, dia tidak ke masjid hari ini?
Tiba-tiba angin putus asa kembali menerpa hatiku. Sejak kapan aku menjadi putus asa seperti ini? Hanya karena satu hal. Cinta, yang bagIku kata-kata itu sangat sulit untuk dapat ku miliki. Aku mencoba bersabar. Tunggu satu jam lagi. Kalau dia tidak datang, lebih baik aku akhiri semuanya. Ku mainkan jemariku. Ku hempaskan diri yang lelah ini ke lantai masjid. Walaupun hatiku gelisah, ku coba untuk tenang.

Terdengar suara azan sayup-sayup berkumandang. Ku lihat beberapa siswa yang tak ku kenal memasuki rumah Allah ini. Dan aku, tentu saja aku juga masuk. Setelah berwudhu, aku bersiap untuk shalat berjamaah.
Di dalam doaku setelah shalat. Aku hanya meminta yang terbaik untukku. Aku hanya ingin semuanya jelas, karena penantian ini tidak menyenangkan. Hatiku pedih menahan keharuan. Kalaupun nantinya aku tidak bisa bersama dia, mungkin memang itu yang terbaik untukku. Aku berharap agar dia selalu bahagia.

Setelah shalat, aku kembali ke pelataran masjid. Alhamdulillah, sekarang pikiranku sudah tenang. Mungkin berkat shalat Zuhur yang sudah ku laksanakan.
Tidak berapa lama, orang yang aku nanti pun datang. Aku berusaha untuk tersenyum padanya. Tapi dia sama sekali tidak menoleh kepadaku. Dia bersama teman-temannya sehingga aku pun mau tidak mau harus menunda keinginanku untuk berbicara kepadanya.

Tanpa sengaja mataku tertuju pada selembar kertas yang terjatuh di tanah. Sepertinya itu milik Ari. Ku langkahkan kakiku untuk mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah surat. KU buka sampulnya dan aku mulai membaca huruf demi huruf yang tertera.

DEAR NIDA APRILIANI
Mungkin bagimu, aku teralu lancang. Tapi, aku hanya ingin mengatakan semua ini padamu. Maafkan aku jika kata-kataku menyinggung perasaanmu.
Sejak pertama kali melihatmu, ada rasa yang menyeruak dalam dadaku. Entah apa itu. Saat itu aku tidak peduli. Tapi, seiring waktu aku mulai merasakan kalau rasa itu kian menjadi. Dan, sekarang aku ingin menyatakan semuanya padamu.
Maukah kamu menjadi kekasihku? Orang yang selalu ada untukku, yang mencintaiku seperti aku yang mencintaimu. Aku tunggu jawabanmu, Nida. Aku janji, aku akan selalu mencintaimu.

With Love
ARI R. KUSUMA

Ya Tuhan, apa yang terjadi? Surat ini, surat ini sudah cukup menjawab semua penantianku. Apakah semua ini nyata? Ternyata orang yang dia cintai bukan aku. Titik-titik bening itu pun jatuh. Aku merasa bumi yang ku pijak sudah tak ada lagi. Aku tidak lagi merasakan semilir angin. Semua sudah jelas sekarang.
Tiba-tiba mataku tertuju kepada sesosok wanita yang ku kenal, Nida. Dan di sampingnya, di samping wanita itu adalah Aldi, laki-laki yang mulai aku cintai. Laki-laki yang ku harap bisa menjadi pangeranku.

Sekarang semuanya sudah musnah. Semua ini lebih dari cukup untukku. Air mata yang sedari tadi membasahi pipiku, semakin mengucur deras. Dunia mulai tidak bersahabat untukku. Dan, sekarang titik-titik hujan bercampur dengan air mataku. Ku biarkan hujan membasahi diriku. Membuat luka dalam hatiku menjadi semakin menganga. Aku tidak tahu, kenapa hujan turun sekarang? Apakah alam ikut menangis bersamaku? Aku sadar, semuanya sudah musnah. Mimpiku sudah pergi tak bersisa. Hanya tinggalkan luka yang menggores hatiku.
Sayup-sayup di antara suara hujan, ku dengar lagu Luka dari Angkasa.

Mestinya ku tak harus mengenal dirimu
Mestinya ku tak harus mencintai dirimu
Sakit yang ku rasakan takkan pernah hilang
Cinta yang kau berikan bukanlah untukku

Kelua, 21 Januari 2012

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi
Facebook: Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia

Cerpen Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Tentang Dinda

Oleh:
Ini adalah sebuah cerita dari masa lalu, cerita menyakitkan dari seorang yang baru patah hati. Konon, sebuah cerita cinta tak selalu berakhir indah. Akan ada yang menangis, akan ada

Cinta Yang Salah

Oleh:
Cinta sejati?, apa itu cinta sejati? apakah cinta sejati itu benar benar ada? Aku tak mempercayai lagi yang namanya cinta sejati setelah aku dikhianati oleh seseorang yang sangat aku

Selamat Tinggal

Oleh:
Aku masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan ketika akan menyatakan cinta kepada orang yang mereka kasihi, bagaimana mereka menekan rasa malu mereka dalam menyatakan hal seperti

Burnt

Oleh:
Aku disini bersamanya. Amanda. Kami sedang makan malam di sebuah café kecil setelah lelah berkeliling Jakarta. Seperti biasa, Amanda makan banyak. Beberapa perempuan mengeluh tentang naiknya berat badan mereka,

Sekeping Cerita Alya

Oleh:
Pagi ini mentari tidak mencerahkan langit dengan kilaunya yang menyilaukan mata. Sudah tiga hari ini cuaca di kawasan Jakarta Selatan ini di rundung mendung. Mendung biasanya mempengaruhi mood seseorang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *