Lupa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Aku masih berdiri di bawah senja yang sama. Di bawah jingga yang sama. Juga di bawah temaram yang sama. Saat lembayung senja mulai mengirimkan pasukan merah saganya, mengusir sore hari dengan paksa dan menggantinya dengan malam yang pekat juga dingin yang tak lagi bersahabat.

Tepat tiga tahun lalu, aku sangat menyukai jingga ini, siluet pantai ini, suara ombak ini, gemerisik pasir ini, dan angin sore ini.

Tepat tiga tahun lalu ada dua bayangan berdiri di sini, siluet seorang perempuan setinggi 150 centi dengan perawakan berisi dan seorang lelaki tinggi 170 centi dengan badan yang kurang isi, perpaduan yang aneh, namun siapa sangka, si tirus menyukai si pendek berisi dan si pendek berisi tak mampu melihat pemuda yang lain lagi.

Tepat tiga tahun lalu, di sini, kita mengucap janji untuk saling berbagi. Saling jujur satu sama lain, meskipun itu pahit, kau bilang kejujuran adalah tangga teratas dari sebuah hubungan. Aku tersenyum ketika kau mengatakan itu. Kau sungguh berbeda. Tak seperti pemuda kebanyakan. Terkadang kau pendiam, terkadang humoris, terkadang cuek tak bersahabat, terkadang rasa ingin tahumu itu tanpa sadar mampu membuatku meloncat kegirangan. Bagaimana tidak? Kau menanyakan ke semua orang perihal diri ini, bagaimana mungkin hatiku tidak akan membuncah kesenangan?

Ini tanggal 22 Mei 2015, hari ulang tahun seorang Alea… Alea Almadina, dan kau memanggilku dengan sebutan si “rendah hati” berdasarkan arti bahasa Arab dari kata “Alea”. Aku suka, karena kau satu-satunya orang yang tak perlu bertanya, apa arti dari namaku. Menurutku akan terlihat konyol jika pertama berkenalan dengan seorang perempuan langsung bertanya, namamu bagus sekali, kalau boleh tahu, apa artinya?

Hei, wake up! Kalau kau benar ingin mendekati seorang perempuan, cari tahulah sebanyak mungkin tentangnya, jangan malah bertanya meski untuk sekedar basa-basi, kurasa itu konyol sekali!

Dan kau, jingga-ku, kau tidak begitu. Dan itu menjadi salah satu alasan kenapa aku menyukaimu.

Jingga, ini tahun ketiga kita. Apa kau juga akan datang ke sini lagi untuk mengenang kisah kita seperti dua tahun sebelumnya?

Kau datang… kau selalu datang, dan aku selalu mengamatimu dari sepuluh jengkal langkah kakiku menujumu tanpa kau tahu.

Aku juga tahu, setiap tanggal 22 Mei, hari jadi hubungan kita yang bertepatan dengan hari ulang tahunku, kau akan membawa lilin sebanyak 21 buah dua tahun lalu, dan bertambah satu lilin lagi di satu tahun sesudahnya.

“Selamat ulang tahun, Alea sayang, semoga apa yang kau ingin selalu kau dapat, semoga kau selalu cemerlang setiap hari, senyummu yang bersinar itu, jangan pernah kau hilangkan. Aku, Satria, jingga-mu, sungguh tak ingin kau kehilangan sinar senyummu itu. Tertawalah meski tanpaku, berbahagialah karena doaku selalu untukmu. Dan maaf, aku tak lagi bisa bersamamu. Aku memilih menjadikanmu sepenggal kenangan terindah. Namun tak perlu khawatir, kau takkan pernah pergi dari ingatanku yang kekal, sungguh!”

Lalu… kau pergi setelahnya, setelah berbicara sendiri di hadapan kue ulang tahun dan sebuah kado yang kau tinggalkan begitu saja di pantai ini.

Apa kau tahu? Kedua hadiah itu kini di tanganku. Di tangan kananku ada sebuah kotak musik berbentuk bulat dengan miniatur seorang gadis Jepang memakai red yukata yang sedang melihat ke arah atas memperhatikan bunga sakura yang berjatuhan. Ah, kau selalu tahu kesukaanku, sakura, Jepang, red yukata, mereka selalu mampu melengkungkan garis senyum di bibirku. Dan di tangan kiriku, ada buku puisi Kahlil Gibran – Broken Wings yang telah tamat kubaca puluhan kali. Sejujurnya aku pun bingung, kenapa buku ini begitu menarik? Apa karena aku pecinta puisi novel, ataukah karena buku ini adalah pemberianmu, atau malah mungkin karena kedua alasan itu?

Dan, sekarang, aku sudah memutuskan, aku akan menarikmu, menarikmu kembali sekuat tenaga ke sisiku. Sungguh takkan menyerah kalah. Kalau urusan semangat dan kegigihan, aku yang selalu menang, dan kau yang selalu mengalah. Karena itu, kumohon, Satria-ku, jingga-ku, biarkan Alea-mu menang lagi kali ini!

“Sayang, ayo pergi. Udaranya sudah mulai dingin, aku takut dede di dalam perutku ini akan kedinginan nanti.” Sepuluh jengkal langkah sebelum aku mendekat, tubuh mungil itu mendahuluiku. Seorang perempuan cantik, berwajah ayu, dengan kulit putih mulus yang kukira itu adalah…

“Baiklah, ayo kita pulang, aku minta maaf karena belum bisa melupakan cinta pertamaku, tapi… aku janji, ini yang terakhir kalinya aku datang ke pantai ini. Aku akan belajar mencintaimu demi anak kita kelak. Terimakasih sudah menungguku dengan sabar selama ini. “Alea” … jika kau ingin tahu nama cinta pertamaku, itu adalah namanya. Aku mungkin tak bisa melupakannya, dia akan selalu menjadi sepenggal kenangan terindah di dalam hatiku. Aku hanya bisa menguncinya dalam hati, karena kenangannya tak mungkin pergi. Tapi, kau akan memilikiku selamanya, dan kau akan memiliki ruang lebih banyak di dalam hatiku kelak, bersediakah kau menungguku hingga saat itu tiba?” di sana, di mata lelaki tirus itu, kulihat sedikit berembun.

“Insya Allah” jawab perempuan itu sambil tersenyum.

Lalu mereka berdua pergi.

Aku, Alea Almadina… di tahun ketiga setelah berpisah dengannya, aku ingin kembali.

Aku, Alea Almadina, akhirnya sadar, sepuluh jengkal kakiku ini sudah terlalu lama… harusnya aku memeluknya di tahun pertama atau di tahun kedua saat Satria-ku datang sendirian ke pantai ini.

Aku, Alea Almadina, hanya menjadi sepenggal kenangan dalam hidupnya. Sepenggal saja, dan sisanya adalah milik si perempuan bertubuh mungil dengan kulit putih mulus itu.

Aku, Alea Almadina, lupa… aku terlalu mencintaimu sampai membuatku lupa bahwa mungkin kau bisa, sangat bisa mencintai orang lain lagi.

Cerpen Karangan: Cinta Nungky Lestari
Blog: cinta1668.wordpress.com

Cerpen Lupa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikam Hati (Part 1)

Oleh:
PROLOG Hujan terus berguyur di pukul 15:00. Azan ashar telah berkumandang. Dinginnya musim hujan membuatku menikmati kehangatan di tempat tidur dengan membenamkan diri di selimut. Di meja rak kecil

Love Really Hurts (Part 1)

Oleh:
Aku terperangah begitu melihatnya. Melihat sosok tubuhnya di belakang calon suami Mama, Papa baruku. Yeah malam ini, Mama dan Om Ardi berencana makan malam di rumah. Sudah lama aku

Kepastian Cinta

Oleh:
Mengenal cinta tidaklah mudah, apalagi memahaminya. Sangat sulit sekali. Di masa depan, di mana tak seorang pun tahu apa yang terjadi pada kemudian hari. Semua hal yang penuh dengan

Hujan Dan Air Mata (Part 1)

Oleh:
Aku suka jika hujan turun. Karena aku selalu ingat, ketika hujan turun aku bisa menghabiskan waktu hingga dua jam hanya berdua denganmu saja. Aku ingat, ketika hujan turun, kau

Takdirlah Sutradaranya

Oleh:
Andai kau menyatukan sepasang kasih, tiada luka menyayat lara, tiada puitis mengandung dusta tiada air mata terbuang percuma, tiada hidup berakhir sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa memanggil cinta?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *