Maaf Aku Harus Meninggalkanmu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 January 2017

Mentari pagi menyapa dunia dengan senyum indahnya. Menghiasi dan menerangi alam semesta. Dila si gadis baik dan manis keluar dari kamar kosnya untuk berangkat ke sekolah. Bersama sahabat baiknya, Handa. Dia lebih cantik, dan lebih kaya dari Dila. Tapi, semua itu tidak menghancurkan persahabatan di antara mereka berdua. Mereka sudah bersahabat selama tiga tahun lamanya. Sejak mereka duduk di bangku SMP dulu.

“Sudah siap Hand?” Tanya Dila pada Handa yang baru selesai memakai sepatunya.
“Sudah.” Handa tersenyum kecil pada Dila yang berada di sebelah kanannya.
“Ayo berangkat!” tambah Handa setelah ia menggandeng tangan sahabatnya tersebut.
Dila hanya membalasnya dengan senyum. Kemudian, mereka pun berjalan menuju ke sekolah dengan semangat baru di tahun pelajaran baru.

Selama perjalanan menuju sekolah, Handa tidak bisa fokus dengan jalan yang dilewatinya. Matanya dipenuhi oleh orang yang berlalu lalang melintas di depannya.
“Kamu kenapa sih Hand?” Tanya Dila saat ia mengetahui bahwa sahabatnya tersebut sedang bingung.
“Aku bingung Dil. Banyak orang.” Handa menunjukkan wajah bingungnya.
“Ya jelaslah. Sekarang kan hari pertama mereka mulai aktifitas setelah libur panjang. Jelaslah banyak orang yang berlalu lalang dari tadi.” Dila tersenyum kecil.
“Begitu ya?”
“Iya. Ayo jalan lagi.” Handa dan Dila kambali meneruskan langkahnya menuju sekolah.

Beberapa menit kemudian, langkah Handa kembali berhenti. Pandangannya tertuju pada Toko Buku Indah yang ada di seberang jalan yang dilaluinya.
“Kenapa lagi Hand?” nada Dila mulai kesal karena melihat tingkah Handa yang saat aneh pagi itu.
“Coba deh kamu lihat ke sana.? Handa mengarahkan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud. Dan mau tidak mau, Dila melihat ke arah yang ditunjuk oleh Handa.
“Dia siapa ya Dil?” tambah Handa.
“Ya mana aku tau Hand, aku kan nggak kenal sama dia.”
“Kamu Dil. Nggak seru achh.” Wajah Handa berubah menjadi kusut karena jawabn Dila yang sangat jutek padanya.
“Lagian ngapain sih ngurusin orang lain. Ayo kita jalan lagi, sudah siang nih.” Dila berjalan terleih dahulu meninggalkan Handa yang masih memandang seseorang berdiri di seberang jalan. Karena sadar dirinya ditinggalkan oleh Dila, Handa pun berlari kecil menyusul Dila.
“Jangan marah dong Dil. Maaf ya?”
“Iya-iya aku maafin.Tapi, lain kali tau sikon ya.”
“Siap.” Jawab Handa dengan posisi hormat pada Dila yang mulai menebarkan senyum di wajah imutnya.

Sesampainya di sekolah, Dila dan siswa yang lainnya mengikuti pelajaran sebagaimana biasa.
Seorang guru berjalan menuju kelas XI IPA 5 bersama seorang siswa baru yang akan belajar di kelas itu.
“Pagi anak-anak?”
“Pagi pak.” Semua siswa yang ada di dalam kelas mencoba menerka siapakah yang saat ini berdiri di depan bersama guru mereka. Wajahnya begitu asing dan belum pernah mereka kenali sebelumnya.
“Anak-anak, dihari pertama kita masuk sekolah ini. Kita kedatangan teman baru, namanya Haikal.”
Ketika Haikal memperkenalkan diri di depan kelas. Dila dan Handa bukannya mendengarkan, mereka malah asyik berbincang sendiri.
“Itu bukannya cowok yang tadi kita lihat Dil?”
“Kita? Kamu aja kali yang ngeliatin. Aku nggak.”
“Iiich, Dila. menyebalkan.”
“Memangnya kenapa kalau dia cowok yang tadi? Kamu suka sama dia?” Dila menggoda Handa yang mulai memerah pipinya.
“Apaan sih Dil. Ya nggaklah.” Jawab Handa malu-malu.
“Nggak salah ya.”
“Apaan sih Dil.” Handa mencubit lengan Dila.
“Aww.. sakit tau.”
“Dila, ada apa?” tanya Pak Wardi ketika beliau mendengar keributan kecil antara Dila dan Handa. Dan semua mata memandang ke arah Dila. Begitu pun dengan Haikal yang masih berdiri di depan. Dila mulai salah tingkah dengan kondisi kelasnya.
“Ng…nggak ada apa-apa kok Pak.” Dila menginjak kaki Handa dengan sengaja untuk membalasnya.
“Sakit Dila.”
“Biarin. Malu tau.” Dila melotot ke arah Handa.
“Kok malah ketawa sih?” tambah Dila.
“Kamu itu ya. Kalau nggak punya mata nggak usah sok-sokan melototi aku dech. Hehehe.” Dila mendegus kesal dibuat Handa.
“Haikal silahkan duduk di bangku yang kosong.”
“Jadinya hantu bangku kosong dong pak?” sahut Udin, salah satu teman Dila yang terkenal paling jahil dari bangkunya. Dan memecahkan tawa seluruh penghuni kelas.
“Diam! Udin, sekali lagi kamu kayak gitu. Bapak suruh kamu keluar kelas.”
“Ayo Haikal silahkan duduk di bangku kosong itu.” Tambah Pak Wardi.
“Terimakasih pak.” Haikal berjalan menuju bangku kosong yang berada di sebelah Dila.

“Haikal?” Haikal mengulurkan tangannya kepada Dila.
“Iya.” Dila mengabaikan uluran tangan Haikal yang kembali ia gulung secara perlahan.
“Jutek banget sih nih cewek. Tapi, aku suka” gumam Haikal.
Para siswa pun kembali memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh Pak Wardi.

Dua minggu sudah Haikal menjadi penghuni kelas XI IPA 5. Kedatangannya disambut dengan hangat semua temannya. Tapi, ada satu teman cewek yang belum berhasil ia dekati. Meskipun ia sudah mengetahui namanya, Dila. Iya dia adalah Dila yang sangat sulit untuk didekatinya.

Seluruh siswa SMA MERAH PUTIH tengah sibuk mempersiapkan lomba untuk memperingati hari pahlawan. Mereka saling membantu satu sama lain. Kekompakan dan kerjasama mereka sangat bagus. Semua kelas pun juga sibuk menentukan perwakilan mereka untuk mengikuti lomba yang telah ditentukan oleh panitia. Kelas XI IPA 5 pun tidak ketinggalan. Suasana mereka terlihat paling gaduh dan berisik.
“Sekarang siapa di antara kita yang akan mengikuti lomba pensi besok?” ucap Adam ditengah-tengah perdebatan teman-teman kelasnya.
“Ya terserah yang mau maju besok aja. Nyanyi juga bisa, nari, atau yang lain gitu tergantung yang maju aja deh.” Usul Dila yang tidak mau ribet.
“Sekarang siapa yang mau maju. Kamu mau Dil?” tambah Diyah menanggapi perkataan Dila.
“Haaa.. ya jelas nggak maulah akunya.” Jawab Dila dengan watados.
“Terus siapa?”
“Kan ada yang lain.”
“Kita maunya kamu Dil.” Ucap Handa penuh dengan semangat.
“Nggak-nggak aku nggak mau.” Dila menutup bukunya dan berdiri dari kursinya untuk melarikan diri dari desakan teman-temannya. Tapi, usahanya tidak berhasil karena teman-temannya menghalanginya keluar kelas.
“Ichh.. apaan sih.” Haikal tersenyum melihat tingkah laku Dila yang lucu. Bibirnya sesekali menebarkan senyum. Handa yang berdiri di depannya, membalas senyum yang terbit dari Haikal. Ia mengira senyuman itu adalah senyum untuknya.
“Ayolah Dil. Sekaliii saja.”
“Iya Dil. Please…” Dila menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat sikap teman-temannya. Dila terdiam sejenak dan satu per satu melihat wajah teman-temannya.
“Iya-iya aku mau. Tapi, aku nggak mu kalau Cuma sendiri.” Dila menjawab dengan raut muka penuh keibaan pada teman-temannya.
“Maksudnya?” Udin mulai kepo.
“Ya kalau Cuma nyanyi-nyanyi doang kan nggak seru. Pake iringan musik apa gitu. Gitarkah, pianokah, atau apa gitu terserah.”
“Haikal kamu bisa main gitar kan?.” Adam bertanya pada Haikal untuk memastikan.
“Bisa.” Ira mengambil gitar yang tersimpan rapi di lemari kelas.
“Nih Kal, dicoba dulu.” Haikal menerima giar yang diberikan Ira untuknya.
“Ayo Dil test vokal dulu.” Vian mendorong Dila mendekati Haikal.
“Kalian lebay banget sih.”

Haikal mulai memetik sinar gitarnya. Kelihaiannya memainkan gitar ia dapat dari ayahnya. Semua lagu yang Dila nyanyikan dengan mudah ia iringi. Semua yang mendengarnya ikut terhanyut dalam lagu yang dibawakan oleh Haikal dan Dila.
Haikal sesekali menatap Dila dengan mesra. Senyum Dila yang terbit dari bibirnya, menghipnotis Haikal. Sepertiya Haikal mempunyai hati untuk Dila tanpa sepengetahuan siapapun.

Sepulang sekolah, tanpa sengaja Handa memasukkan buku Haikal ke dalam tasnya. Dan akhirnya semua temannya menuduhnya memiliki hubungan spesial dengan Haikal. Dan teman-teman mereka menyebutnya dengan pasangan H2 (Haikal Handa).
Semenjak kejadian itu, mereka menjadi bulan-bulanan teman-temannya.
“Cie yang baru jadian.” Santri menggoda Handa yang hendak mengembalikan buku Haikal yang tidak sengaja dibawanya kemarin.
“Jadian? Siapa yang jadian? Nggak kok.”
“Alahh… nggak usah ditutup-tutupin kayak gitu. Anak kelas sudah tau kali.”
“Aku sama Haikal itu just berteman aja kali. Kalian salah paham.” Handa berusaha untuk menyakinkan Santi bahwa dirinya tidak jadian dengan Haikal. Meskipun sebenarnya ia mengharapkan itu semua terjadi.

Satu bulan sudah H2 menjadi bahan cibiran siswa kelas XI IPA 5.Dan hal tersebut ttidak membebaskan Haikal dan Handa untuk berkomunikasi secara langsung. Karena mereka takut digoda lagi oleh teman-temannya.

Suatu hari, guru Bahasa Indonesia mereka memberi tugas kelompok. Dan kebetulan Haikal dan Handa mendapat kelompok yang sama. Secara tidak langsung, hal tersebut memberatkan mereka berdua untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Matahari berada tepat di tengah garis katulistiwa. Sinarnya yang panas, membakar kulit siapa saja yang berani melawannya.
Handa dan kelompoknya berkumpul untuk membahas tugas yang sebentar lagi dikumpulkan. Semua tim di kelompoknya tengah berusaha membujuknya untuk berkomunikasi dengan Haikal. Karena selama mengerjakan tugas dari guru Bahasa Indonesia tersebut, Haikal tidak pernah hadir dan memberi usul. Karena ia malu jika dicibir dengan Handa yang bukan orang yang dicintainya.

“Ayolah Hand, kamu bisa kok. Kamu kenapa sih jadi kayak gini.” Dila mencoba merayu Handa.
Dila sendiri sudah pusing mengurusi kelompoknya yang sebentar-sebentar bertengkar.
“Kalau kamu terus-terusan begini, kapan tugas kita mau selesai. Kunci sukses tugas ini ada ditangan kamu Hand. Please jangan egois, kasihan Dila. kamu tau sendiri kan kalau Dila banyak pikiran jadinya seperti apa?” emosi Ahul meledak saat itu juga.
“Tapi Hul, aku sudah berusaha untuk mengajak Haikal komunikasi. Dianya aja yang nggak mau.”
Dila terdiam memikirkan cara untuk menyakinkan Handa dan Haikal bahwa tidak aka nada apa-apa. Sebagai ketua kelompok, Dila juga tidak mengecewkann anggotanya.

“Aku yang akan ngomong langsung sama Haikal.”
“Tapi Dil..”
Dila sama sekali tidak menggubris larangan teman-temannya. Ia begitu saja beranjak dari kursinya dan berjalan mencari keberadaan Haikal.
“Untung Dila orangnya pantang menyerah. Salut deh sama Kamu Dil.” ucap Ahul mengagumi semengat Dila yang begitu besar.

“Haikal aku mau ngomong sama kamu.” Langkah Dila berhenti tepat di depan Haikal yang tengah asyik menikmati pemandangan taman dengan iringan gitarnya.
“Eh kamu Dil. Mau ngomong apa. Duduk sini.” Haikal meletakkan gitarnya dan mempersilahkan Dila untuk duduk di sebelahnya.
“Kamu kenapa sih kok kya sebeeel banget sama Handa?.”
“Aku bukannya sebel sama Handa Dil. Aku Cuma malu sama kasihan aja sama Handa. Nanti takutnya aku dicibir lagi sama anak kelas.”
“Haikal, kalau kamu terus-terusan kayak gini, bagaimana kelompok kita bisa jalan. Please untuk kali ini saja aku mohon ke kamu. Jangan egois ok.”
“Tapi Dil..”
“Apalagi Kal. Oh, aku tau kamu suka ya sama Handa. Jadi, kamu malu sama dia. Iya kan?” Haikal terdiam beberapa detik lamanya. Hingga jawaban yang keluar dari bibirnya membuat Dila menjadi merinding dan baper.
“Tidak Dil. Aku tidak suka sama Handa.” Haikal berdiri dari kursi dan berjalan beberapa langkah kedepan. Disusul Dila berdiri dari kursinya.
“Ada seorang cewek yang sangat berbeda di mataku. Dia sudah mengobrak-abrik ruang hatiku. Setiap malam bayangannya selalu datang menghantuiku. Dia beda dengan yang cewek-cewek yang lain.” Haikal menerbitkan senyum tanpa diperlihatkannya pada Dila yang masih bingung mencerna ucpannya. Dila tetap berdiri di tempat semula.
“Siapa dia Kal, jadi penasaran?” siapa?”
Haikal kembali menghadap kearah Dila yang semula ia belakangi.
“Dia sekarang ada di sini. Tepat ada di depanku.” Dila menoleh kesana-kemari berniat mencari seseorang yang dimaksud oleh Haikal.
“Kamu kenapa bingung Dil. Orang itu adalah kamu.”
Mata Dila mebelalak lebar. Tidak disangkanya Haikal berkata seperti itu pada dirinya. Dila terdiam beberapa menit lamanya. Tubuhnya terpaku seakan tidak bisa berdiri lagi.
“kamu Kal kalau becanda suk kelewatan.” Suara Dila kembali pecah untuk mencairkan suasana.
“Aku tau kok kamu suka sama Handa iya kan.”
“Aku serius Dil.”
“Sudah-sudah, ayo ke kelas sudah ditunggu sama yang lain.” Dila membalikkan badan untuk menuju kelas. Dan ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba kakinya tersandung oleh batu kecil yang ada di depannya. Dila pun jatuh kepelukan Haikal yang ada di belakangnya. Suasana taman sesaat menjadi hening. Pandangan Haikal dan Dila saling bertemu. Seperti ada yang mengetuk hati Dila untuk dibukakan. Dila sendiri tidak tau apa maksud semua itu.
“Eh maaf Kal. Terimakasih ya sudah nolongin aku.” Ucap Dila ketika ia bangun dari pelukan Haikal.
“Iya sama-sama.”
“Kal, percaya deh sama aku. Kalau Handa itu juga sangat mencintai kamu. Kalian cocok kok.” Dila mencoba untuk menghibur Haikal yang sedang galau.
“Sudahlah DIl. Tidak usah dibahas lagi. Mending, kita bahas tugas kita aja biar cepat selesai.”
“Nah, gitu dong. Jadi kan enak kalau gini.” Haikal dan Dila berjalan menju kelas untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia mereka.

Di sepanjang jalan menuju kelas, Haikal hanya disibukkan melihat senyum manis yang Dila terbitkan. Tidak tau Dila membicarakan apa, yang Haikal tau hanyalah dia cinta dengan orang yang saat ini tengah berjalan dengannya.

Sepulang dari sekolah, Handa sering menceritakan semua tentang Haikal kepada Dila. Karena ia hanya mempercayai Dila yang bisa menjaga semua rahasianya. Dan hanya Dila yang selalu bijak menanggapi curhatan Handa. Meskipun Dila harus berbohong kepada Handa tentang semua yang selama ini Haikal katakan padanya.
“Memang kamu yang pantas mendapatkan cinta Haikal Han, bukan aku. Haikal tidak akan salah jika dia memilih kamu.” Dila dan HAnda saling menerbitkan senyum manisnya.

Karena tidak puas dengan jawaban yang Haikal berikan untuknya, Dila kembali menemui Haikal untuk menanyakan hal yang sama.
“Haikal, kamu lagi ngapain?” Dila mendekati Haikal yang tengah sibuk dengan beberapa bukunya di mejanya.
“Kamu Dil. Nggak ada.” Haikal meletakkan buku yang semula dibacanya.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?” ucap Dila lagi, setelah ia memosisikan diri di kursi hadapan Haikal.
“Mau ngomong apa baweel..?” balas Haikal manja.
“Terserah deh kamu mau panggil aku apa. Kal, aku mau kamu jujur sama aku ya.”
“Kamu nggak beneran suka sama aku kan?” suara Dila terdengar berat untuk mengucapkan pertanyaan yang mustahil untuk ia ucapkan.
Haikal menatap Dila yang juga menatapnya. Suasana kelas sesaat menjadi sunyi. Haikal menghela nafas panjang yang terdengar berat.
“Maksud kamu?” Haikal berpura-pura.
“Iya.. kemarin itu kamu bohong kan kalau kamu bilang suka sama aku. Ya bukan ada maksud apa-apa sih, aku cuma memastikan saja gitu.” Dila mulai salah tingkah karena ulahnya sendiri. Haikal yang melihat Dila salah tingkah hanya terdiam memandanginya.
“Sudah-sudah lupakan. Aku keluar dulu ya.” Dila berdiri dari kursinya berniat untuk pergi mencari angin segar.
“Tunggu Dil.” Haikal menahan tangan kanan Dila. Dan mau tidak mau Dila harus membalikkan badan dan menghentikan langkahnya.
“Kamu bisa rasain ini?” Haikal menempelkan tangan kanan Dila ke dadanya. Haikal berharap agar Dila bisa merasakan apa yang tengah ia rasakan untuknya. Dengan wajah tertunduk dan mata berkaca-kaca, Dila mengikuti semua yang Haikal ucapkan.
“Apa menurut kamu semua ini bohong Dil? Apa ini semua bohong Dil?” Haikal mempojokkan Dila dengan seribu pertanyaan yang membuat Dila membisu.
“Aku tidak tau apa maksudmu Kal. Aku nggak mau nyakitin perasaan sahabatku sendiri.” Dila melepaskan tangannya dari genggaman Haikal.
“Yang namanya perasaan tidak bisa kita bohongin Dil.”
“Ok, aku hargai kalau kamu suka sama aku. Tapi, please deketin Handa. Cintai handa seperti kamu cinta sama aku Kal. Aku mohon.”
“Untuk itu, maaf Dil. Aku nggak akan pernah bisa lakuin.”
Dengan penuh air mata yang menderai, Dila berlari keluar kelas meninggalkan Haikal seorang diri.
“Dila tungguu… aww..” Haikal mencoba untuk mencegah Dila agar tidak meninggalkannya. Tapi, tiba-tiba bagian ginjal kanannya terasa sakit dan membuatnya pingsan.

Cerpen Karangan: Dewi nur masitoh
Facebook: DewiiNm DewiiNm

Nama: Dewi nur masitoh
Ttl: Banyuwangi, 21 juli 1999
Hobi: menulis, membaca
Cita-cita: dosen bahasa inggris, penulis yang succes
Alamat: dsn. Pandanrejo, ds. Kendalrejo, kec. Tegaldlimo, kab. Bantuwangi
Pendidikan:
1. Tk khadijah 109
2. Mi tarbiyatul atfhal
3. Smp tri bhakti tegaldlimo
4. Sma al hikmah muncar (sekarang)
Fb: dewiinm dewiinm
Email: dewinurmasitoh[-at-]yahoo.Co.Id

Cerpen Maaf Aku Harus Meninggalkanmu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan

Oleh:
Pada hari ada wanita yang pendiam dan ekspresi wajah jutek. Saat suatu ketika dia main ke rumah teman SMPnya, di sana dia melihat temannya yang sedang kumpul dengan teman

Kau Yang Pertama dan Aku Yang Terakhir

Oleh:
Mungkin kebahagiaan hanyalah impian yang tak pernah terwujud, kebahagiaan mungkin hanyalah harapan palsu yang datang tiba-tiba dan menghilang saat itu juga. Aku merasa di hidupku hanya ada kesunyian, kesepian

Semu

Oleh:
Aku diam menatap wajah semu yang semakin hilang. Benakku mengingat jalan, sawah dan pohon-pohon yang setiap detailnya menceritakan sesuatu. Tak hilang wajah manis yang selalu kecut ketika menatap diriku,

24 Januari

Oleh:
Hai semua, kenalin nama ku amira ratu anandhita, biasa dipanggil amira. Sekarang aku sudah mempunyai seorang baby dan juga bekerja di salah satu perusahaan ternama di amerika. Kali ini

Hujan, Jangan Ambil Belahan Jiwaku

Oleh:
Tak ada seorang pun di sini. Tolong aku! Aku ingin pulang. Aku terjebak di tengah-tengah hujan yang lebat. Di mana semua orang? Guru-guru? Teman-teman? Dimana mereka? Tolong aku, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Maaf Aku Harus Meninggalkanmu (Part 1)”

  1. Artia ajhaa says:

    Cerpen nya sangat seru….!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *