Maaf Aku Harus Meninggalkanmu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 January 2017

Dila mencoba untuk melupakan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia harus rebut dengan Haikal. Hari ini ia sedang berkumpul dengan teman satu kelompoknya untuk menyelesaikan tugas yang beberapa hari lagi harus dikumpulkan.
“Haikal mana?” tanya Dila saat ia baru bergabung dengan teman-temannya.
“Cie nyariin aku. Kangen ya?” Dila menoleh kearah datangnya suara.
“Apaan sih Kal. Handa maaf ya Cuma becanda. Hehehe.” Sura tawa pun pecah di antara mereka.
“Sebentar lagi aku tidak bisa melihat senyum manismu itu Dil. Tapi, kenapa kamu masih tidak percaya kalau aku memang benar-benar cinta sama kamu.” Gumam Haikal dalam hati.
“Haikal, ini bagian kamu belum selesai nih.” Handa memberikan selembar kertas yang masih bersih kepada Haikal.
“Aduh.. apaan lagi sih.” Haikal memosisikan diri di antara Dila dan Handa. Dan terlihat sesekali ia mencuri pandang kepada Dila yang tengah sibuk menjelaskan materi kepada Udin.
“Aku nggak bisa Handa.”
“Haikal, kamu pasti bisa kok.” Haikal menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Uhuk… uhuk..” Haikal kembali batuk darah di hadapan teman-temannya. Dila yang semula fokus dengan Udin terpaksa harus menghentikan aktifitasnya.
“Kamu kenapa Kal?” tanya Dila lembut.
“Darah lagi.Dila tidak boleh tau semua ini.”
“Emm.. tidak apa-apa kok Dil.” Haikal mengusapkan tangannya yang terkena darah ke baju bagian belakangnya. Haikal tidak ingin Dila mengetahui semua tentang penyakitnya. Dia tidak ingin orang yang ia cintai selama ini akan menjadi sedih. Meskipun, Dila tidak pernah membalas cintanya.

“Ini Kal diminum dulu.” Udin memberikan segelas air putih untuk Haikal.
“Thanks sob.” Dengan hati-hati Haikal meneguk segelas air putih yang Udin bawakan untuknya.
“Kamu beneran tidak apa-apa Kal?” Udin berbisik di telinga kanan Haikal. Karena ia kawatir dengan kondisi Haikal. Bisa dibilang, Udin adalah satu satunya teman Haikal yang mengetahui tentang penyakitnya.
“Aku tidak apa–apa kok Din. Kamu tenang aja.” Balasnya.
“Kamu yakin?”
“Kamu tenang saja.” Haikal mencoba menyakinkan Udin.

Matahari kini berada di tengah garis katulistiwa. Dila menyandarkan kepalanya di atas meja. Ia terlihat lesu, pucat dan badannya terasa panas. Tubuhnya lemas dan malas untuk diajaknya beraktifitas.
“Kamu kenapa Dil?” Handa yang memperhatikan gerak-gerik Dila sedari tadi mencoba untuk mendekati Dila yang tak bersemangat.
“Aku tidak apa-apa kok Hand.” Dila berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tengah ia rasakan. Ia tidak ingin orang terdekatnya khawatir akan kondisinya yang saat ini tengah tidak fit.
“Sudahlah, kamu tidak usah bohong sama aku. Kamu sakit?”
“Ihh..aku tidak kenapa-kenapa Handa. Aku cuma capek aja kok.” Suara Dila meninggi dan tidak terasa, perkataannya tersebut membuat sakit hati Handa. Handa yang berhati lembut, tidak bisa menerima ucapan Dila yang begitu kasar didengarnya. Dan ia pun kembali ke tempat duduknya.

Beberapa saat kemudian, guru mata pelajaran pun masuk ke dalam kelas. Dila yang semula menahan rasa sakit, lama-kelamaan tidak bisa menahannya. Kepalanya terasa pusing dan berat. Ia menundukkan kepalanya untuk menahan rasa sakitnya.
“Darah..” lirihnya setelah ia melihat cairan merah kental keluar dari hidungnya. Dan apa daya, Dila pun tergeletak pingsan di bangkunya.

“Dila, jangan tidur di waktu jam pelajaran Bapak.” Tegur guru bidang ketik ia melihat Dila tergeletak.
“Dil, bangun Dil.” Adam teman sebangku Dila mencoba untuk membangunkan Dila.
“Ihh.. Dila.” Adam mengangkat tubuh Dila yang tersandar di mejanya. Dan ternyata.
“Dila… Dil bangun Dil.” Adam merangkul tubuh Dila yang lemah tak berdaya.
“Kenapa dengan Dila Dam?” tanya guru bidang khawatir.
“Dila.. bangun Dil” Haikal mengguncangkan pipi Dila yang masih pingsan.
Semua siswa yang ada di dalam kelas heboh sendiri-sendiri melihat kondisi Dila yang masih belum sadarkan diri.
“Tenang anak-anak, Adam, Udin, bantu bapak angkat Dila ke dalam mobil. Kita bawa Dila ke rumah sakit terdekat sekarang.”
“Baik pak.” Jawab Adam dan Udin hampir bersamaan.

Sesampainya di rumah sakit, Pak Sam, Adam dan Udin tengah gundah menunggu dokter yang memeriksa Dila keluar dari ruang ICU.
“Adm bagaimana dengan orangtua Dila?”
“Sebentar lagi Om Erwin sama Tante Erwin akan datang pak.” Jawab Adam santai.
“Baiklah.”

Ruang tunggu rumah sakit kembali menjadi hening. Hanya suara sepatu suster-suster rumah sakit yang terdengar. Rasa kawatir Adam, mungkin lebih besar dibanding rasa kawatir Pak Sam dan Udin. Karena Adam sendiri adalah kakak keponakan Dila yang telah dititipi Dila oleh kedua orangtua Dila.

“kilntinng,” handphone Udin berbunyi.
To : Udin
From : Haikal
Bagaimana kondisi Dila Din? Apa dia baik-baik saja?
Udin hanya membaca pesan yang ia terima dari Haikal. Ia memutuskan untuk membalasnya nanti setelah ia sudah mengetahui kondisi Dila sebenarnya.

Sudah satu jam lebih mereka berada di ruang tunggu rumah sakit. Tapi, dokter yang menangani Dila tak kunjung keluar dari ruang ICU. Tante Erwin yang sudah sampai di rumah sakit satu jam yang lalu bersama Om Erwin tidak bisa diam menunggu Dokter Andine keluar dari ICU. Ia melangkah kesana kemari seperti setrikaan baju kusut. Tidak ada hentinya ia memanjatkan doa untuk putri tercinta.

“Bisa saya bicara dengan orangtua mbak Dila?” seorang gadis cantik keluar dari balik pintu ruang ICU.
“Iya kami dok. Kami orangtua Dila.” Jawab Om Erwin.
“Bagaimana kondisi anak kami dok?” tambahnya.
“Putri Bapak dan Ibu mengidap penyakit kanker tulang belakang.”
“Kanker tulang belakang dok?” tanya Tante Erwin untuk memastikan.
“Iya Bu. Jadi, pasien jangan sampai kecapean, banyak fikiran, dan banyak beraktifitas berat yang dapat menguras energinya.” Jawab Dokter Andine dengan sabar.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu,”
“Terimakasih dok.” Ucap semua orang yang ada di ruang tunggu hampir bersamaan.
“Dila pak…” Tante Erwin meluapkan semua kesedihannya di pelukan Om Erwin suaminya.

Dua minggu sudah Dila terbaring lemah di rumah sakit. Satu per satu temannya bergantian untuk menjenguknya. Kelas terasa sepi dan sunyi tanpa hadirnya sosok Dila yang selalu ceria dan semangat. Kini suasana kelas menjad senyap. Tidak hanya Handa, Udin dan yang lain merasa kesepian tanpa hadirnya Dila. Sudah dua minggu ini juga Haikal sering murung dan termenung. Kerjaannya setiap hari hanya melamun dan melamun.
Haikal yang sedang memainkan balpoinnya di atas kertas putih bersih, seketika menghentikannya dan menatap ke arah luar melalui pintu kelas yang terbuka lebar. Matanya terpaku melihat bangku panjang bercat putih yang ada di taman. Sesekali ia terlhat senyum-senyum sendiri. Bayangan Dila seakan hadir di mata dan ingatannya. Ia teringat dengan ucapan Dila yang pernah Dila ucapkan untuknya.
“Haikal, kamu harus strong. Don’t give up okay. You are the best.”
Bayangan Dila pun satu per satu muncul dalam ingatannya.
“Tapi, sampai kapan aku harus menunggumu Dil. Sungguh aku sangat MENCINTAIMU.” Sebuah kalimat yang sangat singkat dan bermakna yang Haikal tuliskan di atas kertas putih yang indah.

“Kamu kenapa Kal?”
“Oh nggak apa-apa kok.” Haikal bertindak cepat untuk menyembunyikan apa yang ia tulis dan membuang jauh-jauh apa yang tengah ia khayalkan.
“Ada apa Dam?” ia kembali bertanya pada Adam.
“Kasihan tuh, Handa kamu cuekin dari tadi.”
Haikal sekilas memandang Handa yang sedari tadi duduk di sebelahnya tanpa ia sadari.
Saat Haikal hendak keluar dari kelas, tiba-tiba rasa sakitnya kembali datang. Adam dan Handa yang saat itu berada di kelas mencoba untuk membantunya.
“Haikal kamu kenapa?” tanya Handa penuh dengan kekawatiran.
“Sudah-sudah aku tidak apa-apa kok.” Lagi-lagi Haikal tidak mengaku semua rasa sakitnya. Ia tidak ingin dibilang lemah oleh teman-temannya.
Ia hanya berani menceritakan semua tentang penyakitnya kepada Udin dan Fian.

Keesokan paginya, kelas XI IPA D harus kembali merasakan kesedihan yang mendalam. Belum Dila sembuh dari sakitnya, kini giliran Haikal yang harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakitnya kembali kambuh. Penyakitnya kian hari semakin bertambah. Dan akhirnya semua temannya pun mengetahui semua tentag penyakitnya, tapi tidak dengan Dila.
Sesampainya di rumah sakit, Haikal langsung ditangani oleh dokter ahli di rumah sakit tersebut. Semua kabel medis menempel pada tubuhnya.Semua temnnya yang menjenguknya seakan tidak tega melihatnya dan meneteskan air mata.

“Fian, Udin, kalian berdua yang terlebih dulu tau semua tentang ini. Maaf jika selama ini aku merepotkan kalian. Mungkin umurku tidak akan lama lagi. Apakah aku boleh minta permintaan terakhirku pada kalian sebelum aku pergi untuk selamanya?” pinta Haikal yang masih terbaring lemah tak berdaya.
“Apapun itu, akan kami kabulkan Kal. Demi teman.” Haikal meneteskan air mata keharuannya mendengar jawaban kedua sahabtnya yang begitu tulus ingin mengabulkan permintaan terakhirnya.
“Tolong bantu aku bilang ke Dila kalau aku benar-benar mencintainya.”
Handa yang mendengarnya terasa tersambar petir. Tapi, apa boleh buat namanya cinta ya tidak bisa dipaksakan. Pikirnya.
“Kami akan lakukan itu untuk kamu Kal.”
“Terimakasih ya Din. Fi. Adam, aku titip Dila ya. Jagain Dila ya, jangan sampai dia sakit.”
“Pasti. Pasti aku jagain Dila buat kamu.”
“Terimakasih. Kalian memang sahabat yang paling baik. Handa, maafin aku ya. Memang ini kenyataannya.”
“Tenang saja Kal, aku sudah tau kok.”
“Sebentar lagi mungkin aku akan pergi.”
“Kamu harus terus berjuang Kal. Ingat, kata-kata Dila. kamu harus strong. Don’t give up okay. You are the best.” Handa mencoba memberi semangat untuk Haikal.
Suasana haru pun menyelimuti ruang dimana Haikal dirawat.

Sedangkan di tempat lain. Dalam mimpinya, Dila bertemu dengan Haikal yang mengenakan pakaian serba putih. Haikal selal menemani, menjaga dan menghiburnya. Dila merasa nyaman dengan kehadiran Haikal di dekatnya. Haikal tersenyum memandangi Dila.
Perlahan demi perlahan, Haikal melepaskan genggaman Dila. Dila mencoba untuk meraihnya kembali. Sudah sekuat tenaga Dila berusaha untuk menggapainya. Tapi, tetap saja tidak bisa.
“Haikal, aku juga cinta sama kamu.” Teriak Dila untuk menghentikan Haikal.
“Aku juga masih cinta dan sayang sama kamu sayang. Sampai kapan pun cintaku hanya untukmu.” Haikal membalas senyum Dila yang sangat manis dan kembali berjalan menghindari Dila.
“Haikal, kamu mau kemana, Haikaaaaalll.”
“Aku mau pergi jauh Dila. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan manja, tetap semangat, tetap jadi gadis manis yang baik hati dan ceria.”
“Aku mau ikut sama kamu Haikal.”
“Jangan Dila. Aku mau pergi jauh ke sana. Kamu di sini saja. Kamu yang kuat ya untuk melawan semua penyakit kamu. Aku yakin kamu pasti bisa.”
“Tapi Kal?”
“Maaf aku harus meninggalkanmu Dila.”
“Haikal, maafkan aku jika selama ini aku bohongi perasaanku sendiri. I love you so much.” Dila berlari mendekati Haikal dan memeluknya.
“I LOVE YOU SO MUCH DILA.” Haikal hilang dalam pelukan Dila.
“Haikaaalll… Haikaa…” dila terbangun dari tidurnya. Dan pada saat yang bersamaan Haikal menghembuskan nafas terakhirnya.
Semua teman yang menunggu Haikal merintihkan air mata mengiringi kepergian sahabatnya tersebut.
“Selamat jalan Haikal.” Ucap Udin sembari memeluk jasad Haikal.

Dengan duduk di kursi roda. Dila keluar dari kamar inapnya untuk mencari angina segar dan menenagkan fikirannya. Saat menelusuri lorong rumah sakit, tidak sengaja pandangan Dila tertuju pada kamar yang ditempati Haikal.
“Ma, bukannya itu Fian?.”
“Kita ke sana yuk ma.” Tambahnya.
Dila yang masih duduk di kursi roda didorong oleh Mamanya, berjalan mendekati teman-temannya.
“Ini ada apa? Kok kalian rame-rame datang ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
Semua teman Dila yang ada di tempat hanya menatap Dila dengan haru. Tidak ada satu pun orang yang menjawab pertanyaan Dila.
“Kalian pada kenapa sih? Aku bingung deh.”
“Kamu yang sabar ya Dil.”
“Iya, aku tau aku harus sabar. Tapi, kenapa kalian pada nangis Udin?.”
“Haikal Dil…”
“Haikal kenapa?” karena tidak sabar menunggu jawaban Udin yang terlalu lama. Dila memaksakan diri untuk berdiri dari kursi rodanya. Begitu terkejutnya Dila melihat Haikal yang sudah tidak bernyawa lagi. Air matanya kembali deras menetes.
“Ini tidak mngkin. Ini mimpikan Din? Ini Cuma mimpi kan Din?” Dila memukul dada Udin pelan.
“Dila-Dila kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus bisa terima kenyataan.”
“Tapi Kak?”
“Sudah-sudah, kamu yang sabar ya. Kita doakan saja Haikal tenang di sana.” Adam menenangkan Dila dalam dekapannya.

“Ayo Dil kita pulang.” Ajak Udin pada Dila yang maish duduk memeluk batu nisan Haikal.
“Ayolah Dil, kamu jangan sedih terus kayak gini. Nanti Haikal juga sedih lho kalau lihat kamu sedih.” Handa mendekati Dila dan membawanya menjuh dari pusaran makam Haikal.

Hari ini adalah hari pertama Dila masuk sekolah setelah ia beberapa minggu harus cuti karena sakit. Dan juga merupakan hari pertama kali ia memulai hari baru setelah ia kehilangan orang yang dicintainya.
Dila yang duduk di tempatnya, sesekali melihat bangku yang dulu ditempati oleh Haikal sebelum ia pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan dirinya.
Senyuman Haikal terkadang masih terbayang dalam ingatan Dila.Kehadirannya pun juga masih bisa Dila rasakan. Kenangan bersama Haikal, satu per satu melintas di ingatannya.

“Haikal, kenapa kamu harus pergi secepat ini. Saat aku ingin jujur sama kamu, kamu malah pergi jauh dari aku. Kenapa Kal? Kenapa?.” Air mata Dila kini tidak bisa bendung lagi.

Dila berjalan menuju tempat duduk Haikal dulu. Di laci meja, ia menemukan sebuah sobekan kertas yang dulu pernah Haikal tulis untuknya. Tapi, karena murid baru Haikal pun tidak berani untuk mengirimkannya.

To : My Girl
From : Your Boys?
Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh hati kepadamu. Tapi, betapa bodohnya aku, yang tidak berani mengungkap semua ini padamu. Ingin aku memilikimu, tapi pantaskah aku? Kamu berbeda dengan yang lain. Kamu baik, cantik, manis dan ramah. Sikap cuekmu itu pun aku suka. Aku benar-benar mencintai dan menyayangimu. Dila Azzahra.

Dila kembali meneteskan air mata. Ia memeluk sepucuk surat yang tidak pernah sampai ke tangannya tersebut.
Saat Dila menatap layar monitor yang ada di depan kelas. Ia dikejutkan oleh sebuah Video yang Haikal buat khusus untuknya sebagai tanda permintaan maafnya dan untuk kembali meyakinkan Dila bahwasanya ia benar-benar mencintai dan menyayanginya.

“Haikal yang nyuruh aku buat Video itu Dil. Sebelum dia operasi. Dia berharap dengan operasi dia akan sembuh. Tapi, hasilnya nihil.” Sahut Udin yang tiba-tiba muncul di hadapan dila yang masih menesteskan air mata.
“Ini ada titipan Haikal buat kamu.” Dila menerima sebuah bingkisan berbentuk hati yang Haikal titipkan untuknya kepada Udin.
Udin pun kembali keluar meninggalkan Dila seorang diri di dalam kelas.

Dila dengan lembut membuka bingkisan pemberian Haikal tersebut. Sebuah liontin yang sangat indah berbentuk hati yang sudah diisi foto Haikal dan DIla dengan ukiran nama mereka berdua di luarnya.
Dengan mata yang masih penuh dengan air mata, Dila memeluk liontin tersebut dan menciuminya.
“Maafkan aku Kal. Maafkan aku, jika aku menyia-nyiakan cinta yang telah kamu berikan. Tapi, sekarang aku tau. Kalau memang benar-benar tulu cinta dan sayang ke aku. I love you so much Haikal. I will remember you.”

THE END

Cerpen Karangan: Dewi nur masitoh
Facebook: DewiiNm DewiiNm

Nama: Dewi nur masitoh
Ttl: Banyuwangi, 21 juli 1999
Hobi: menulis, membaca
Cita-cita: dosen bahasa inggris, penulis yang succes
Alamat: dsn. Pandanrejo, ds. Kendalrejo, kec. Tegaldlimo, kab. Bantuwangi
Pendidikan:
1. Tk khadijah 109
2. Mi tarbiyatul atfhal
3. Smp tri bhakti tegaldlimo
4. Sma al hikmah muncar (sekarang)
Fb: dewiinm dewiinm
Email: dewinurmasitoh[-at-]yahoo.Co.Id

Cerpen Maaf Aku Harus Meninggalkanmu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Terlarang

Oleh:
Yogi tak menyadari ketika roh kekasihnya Dara yang baru saja meninggal karena sakit jantungnya masuk ke dalam jasad Dido, korban tabrak lari kemarin sore. Tidak masuk akal memang tapi

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

Aku Kehilanganmu

Oleh:
Jihan terlihat duduk dengan gusar sambil beberapa kali melihat jam putih yang melingkar di tangan kirinya, sebenarnya hari ini ia memiliki janji bertemu dengan Berry di taman tetapi mendadak

Memories

Oleh:
Dia yang menemaniku, menungguku bangun selama 100 hari. Dia yang setiap harinya merekam 99 catatan suara dengan mesin pendeteksi jantung sebagai backsound dari catatan suaranya. Gadis itu kini yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *