Makna Sebuah Perpisahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 January 2018

“Mungkin suatu saat tuhan akan mempertemukan kita kembali.” Ucap laki-laki itu, pipinya sudah basah dibanjiri air mata yang tidak bisa ditahannya. Tangannya masih menggenggam tangan wanita di hadapannya. Sebentar lagi perpisahan akan menghampirinya bak hantu di malam gulita, memang sesuatu yang dimulai dengan pertemuan pasti akan diakhiri dengan perpisahan, itu adalah takdir ilahi.
Wanita di hadapannnya masih terdiam tak mamapu mengeluarkan sepatah kata pun sebab tangisan yang meluap-luap. Terkadang tangannnya berusaha menyeka air mata yang mengalir di pipinya yang lembut.

“Berjanjilah lisa, kita tetap akan saling mencintai walau jarak menghalangi kita”. Lanjut laki-laki itu, lalu memeluk Lisa.
“Iya, aku berjanji akan selalu mencintaimu”. Terdengar ucapan yang dipaksa keluar dari bibir tipis Lisa, ia tak kuat untuk berkata-kata.

Sebentar lagi pesawat yang akan ditumpang Lisa akan berangkat. Para penumpang berjejeran saling berantrian untuk menunjukkan tiket pesawat pada petugas yang bertubuh tegap.
“Sudahlah san, aku tak bisa berlama-lama bersamamu di sini, ayahku sudah menungguku di dalam”. Lisa mulai merenggangkan pelukannnya.
“Jaga dirimu baik-baik”. Ucap Ihsan lantas tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi Lisa. Tak lama kemudian Lisa berjalan menuju ruang antri yang berada jauh dari posisi mereka tadi. Punggung Lisa telah hilang dari pandangan Ihsan, namun cintanya pada Lisa tak akan pernah hilang.

Sudah tiga tahun setelah kepergian Lisa kujalani hidup ini sendirian tanpa seorang kekasih, kini aku baru tahu rasanya ditinggal sang kekasih, sakitnya tak bisa diucapkan dengan kata-kata apapun.

Masih kuhisap rok*k yang kujepit dengan dua jariku, mungkin bisa menghilangkan rasa rindu ini. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, sudah saatnya aku memebeli makanan untuk sarapan pagi ini.
Saat aku akan menuruni anak tangga, kulihat wajahku di cermin, tampak kumis yang panjang dan rambut tak beraturan, mungkin setelah sarapan aku harus ke salon untuk merapikan rambut dan kumis ini.

Aku segera masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan apartemen tempatku tinggal, lantas dengan cepat mobil yang kukendarai melesat ke jalanan dan menjauh dari apartemen yang besar itu.
Setelah merasa kenyang, kupanggil pelayan rumah makan ini dan kubayar biyaya makanan yang telah kusantap. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju mobilku yang terparkir bebas di halaman.

“Ihsann…”. Panggil seorang dari belakang. Kubalikkan tubuhku. Seorang yang tak asing di pandanganku semangkin mendekat. Namanya Aldo, dia adalah teman sebangku waktu SMA, perawakannya tinggi agak kurus, wajahnya putih bersih dan hidungnya mancung melengkung, profesinya sebagai penulis di salah satu majalah.
“well, well… sejak kapan kau berada di sini?” tanyaku lantas bejabat tanagan.
“Barusan, hanya tak sengaja saja melihatmu lalu menghampiri”. Jawab Aldo.
“Apa kabarmu kawan?”
“Baik-baik saja, hanya saja sekarang akau mengalami kesulitan di percetakan”.
“Sabar sobat, semua pasti ada hikmhanya”. Ucapku memberikan menyemangatkannya.
“ah, iya, ada undanangan untukmu”. Aldo mengambil selembar undangan dari tasnya yang berwarna coklat, “ini undangan reuni SMA, kuharap kau berkenan untuk mengahadirinya”.
Kubaca sekialas isi undangan di tanganku, reuni yang akan diadakan di gedung SKODAM bertepatan pukul delapan malam.
“Sudahlah, aku terburu-buru, sampai jumpa nanti malam”. Aldo mulai bejalan menjauhiku, aku beranjak dari posisiku lalu masuk ke dalam mobil.

“Sial, lagi-lagi macet”. Ini adalah saat-saat yang paling menyebalkan dalam hidupku, berlama-lama menunggu mobil-mobil yang berderet panjang, hawa yang sangat panas membuatku semangkin jengkel. Kupencet berkali-kali klakson mobil namun takda perubahan, kendaraan yang sangat banyak berderetan panjang. Kusandarkan punggungku, aku sudah pasrah.

Sesuatu dari kejauhan mengganggu pandanganku, tampak seorang wanita yang tak asing lagi di pandanganku, dia berusaha menyeberang dari kendaraan-kendraan yang berderet, kubuka pintu mobil lantas beranjak cepat menghampiri wanita itu, kali ini aku tak mungkin salah itu pasti dia, aku bergegas menghampirinya lalu memegang tangannnya.
“Lisa”. Panggilku, dia menoleh kepadaku, ya ini dia yang kucari selama ini, yang menghantuiku setiap detik.
“Apa-apaan sih”. Ucap wanita itu, yang ternyata bukan Lisa.
Sial lagi-lagi aku salah orang, dia bukan yang kucari, memenang perawakannnya sama seperti Lisa jika terlihat dari belakang.
“Maaf, aku salah orang”. Ucapku, duh mengapa nasibku jadi begini. Cepat-cepat aku kembali ke dalam mobil sambil menahan rasa malu. Mungkin aku tak akan pernah berjumpa dengannya lagi, aku terlalu tinggi berhayal untuk bersamanya, namun aku tak bisa melupakannya, tuhan tolonglah aku yang sedang dihantui rasa rindu yang menakutkan ini.

Bintang-bintang bertebaran menghiasi malam, warnanya gemerlapan sangat indah sekali. Hawa dingin malam menghembus dan manerpa semua yang ada di hadapannya. Kini di gedung SKODAM yang sangat megah dan indah. Taman-temanku telah berkumpul di gedung ini menikmati kesenangn bersama, kecuali satu yang tak hadir dan mungkin tak akan hadir, wanita yang selalu tak pernah hadir dikala kubutuhkan, Lisa, dulu dia termasuk teman sekelasku sebelum aku menjalani kisah asmara dengannnya, dia sangat kalem dan manja, aku menyukainya, dulu kami selalu bersama, namun kini..

“Ihsann…” panggil seseoarang, membuyarkan lamunanku, Aldo, “kemarilah sobat, nikmati suasana ini” lanjutnya. Di sebelahnya seorang wanita yang berparas cantik.
Aku mengahampiri mereka, lantas dia menyodorkan kepadaku secangkir miniman bersoda.
“Tak kurasa, sudah tiga tahun berlalu, sedangkan kamu masih sendirian tanpa kekasih setelah kepergiannnya”.
“Entahlah, aku tak bisa melupakannya, padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya, namun aku tak bisa”. Ucapku, kuminum segelas air soda di tanganku.
“Cari yang baru sajalah”. Sambung wanita di samping Aldo, Violet, anak saudagar kaya raya dan dan dialah menjadi donator terbesar dalam pelaksanaan Reuni ini.
Aku hanya tersenyum membalas ucapannya, aku sudah malas untuk berbicara.

“Ihsan coba kau lihat itu”. Ucap Aldo mengarahakan pandanganku pada wanita yang mengenakkan gaun merah, tubuhnya langsing dan rambutnya panjang terurai, lagi-lagi bayangan itu bermunculan di benakku. Namun sekarang aku benar-benar yakin wanita itu pasti Lisa, cepat-cepat aku menghampirinya.
“Lisaaa…” panggilku, berharap wanita itu benar-benar Lisa, aku bertatapan dengannya dalam diam, tak ada sepatah katapu keluar dari lisan kami. Aku merasakan kesenangan yang sangat, hilang sudah rasa rindu ini, dialah obatnya yang kucari-cari selama ini, aku berusaha mendekatinya, namun, dia menjauh dariku, lalu menghilang digrombolan orang-orang, mengapa dia menjauh dariku?, padahal wanita itu memeng Lisa, aku tahu persis wajahnya. Aku mencarinya, namun apa daya dia telah menghilang,

“hei Nanda, apakah kau melihat wanita bergaun merah?” tanyaku terburu-buru pada Nanda.
“Tidak, aku tidak melihatnya sama sekali, mau ke mana kau ihsan, sepertinya sangat terburu-buru, kemarilah sobat bersenang-senang bersama kami”. Ucap Nanda.
“Tidak, terimakasih’. Saat ini aku lagi buru-buru mencari seseorang”. Ucapku lantas beranjak.

Aku tak tak tahu lagi harus mencari ke mana dia, sudah kukelilingi ruangan yang besar ini namun hasilnya nihil, perasaan yang tadinya senang berubah menjadi kekecewaan yang mendalam, jarum jam mengarah ke angka sepuluh, mungkin aku harus pulang, walau tak merasakan kenangan yang diinginkan.

Betapa kagetnya aku, ketika masuk ke dalam mobil, aku menemukan wanita bergaun merah yang kuyakini sebagai Lisa, kekasihku. Kuhampiri dia yang sedang duduk di kursi halaman, lalu aku duduk di sampingnya. Dia terdiam sudah tak bisa lari lagi.

“Kau tahu, jangka waktu tiga tahun ini bukanlah waktu yang sangat pendek, sehari bagai sebulan kurasa saat kau tinggal diriku, aku sudah lelah sekali dalam penantian, kau yang kuharapkan malah menjauh dariku”. Kutatap matanya, dia hanya membalas dengan pandangan dingin.
“Aku baru sadar, kita diciptakan tidak untuk bersama, biarkanlah masa lalu hilang dimakan waktu, aku tak bisa besamamu”. Ucapnya sungguh menusuk relung hatiku, kurasa dunia ini akan hancur.
“Apa yang telah terjadi sebenarnya selama ini?” tanyaku, masih kutatap matanya.
“Kau tak perlu tahu”. Ucapnya lantas memalingkan wajahnya, ada sesuatu yang disembinyikan dari pandangnnya.
“Kau adalah belahan jiwaku”.
“Itu dulu, mungkin sekarang tidak lagi”.

Sungguh kalian tidak akan bisa membayangkan hancurnya hatiku saat ini, sakitnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kini aku sudah tahu, aku tak akan bisa selamanya dengannnya walau dia sudah kutemukan. Aku beranjak menjauhinya walu hati ini selalu menolak gagasan ini, kukendarai mobilku, tampak linangan ari mata mengalir di pipi Lisa, namun semuanya sudah terlanjur, mungkin dia sedah mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku, kini aku tak ingin mengganggu hubungn orang lain.

Ruangan ini begitu sempit, apartemen yang kutempati setahun lebih, kulihat barang-barang yang berantakan tapi tak lebih berantakan hatiku ini. Sudah berpulu-puluh puting rok*k kuhisap, hanya teman kecil ini yang selalu menemaniku dikala sedih. Sudah tiga hari aku tak makan sama sekali, aku tak bisa melupakannya walau dia telah menusuk-nusuk hati ini. Aku sudah tak betah hidup di dunia ini, bagaikan hidup di neraka, mungkin lebih.

Aku berdiri dari tempat duduk menuju jendela yang terbuka lebar, tampak jelas dari jendelaku kedatangan mobil hitam lantas terparklir di halaman apartemen. Tak beberapa lama kemudian seorang membuka pintu kamarku.
“Ihsann…”. Panggil Lisa menghampiriku lalu memelukku dari belakang.
“Untuk apa kau datang kemari, mungkin kau senag ketika melihat hatiku hancur”.
“Tidak, mulai sekarang aku tak akan menyakiti hatimu. Aku sungguh menyesal atas kejadian kemarin. Aku tak bermaksud sama sekali, aku hanya terpaksa oleh ayahku yang ingin menjodohkanku dengan seorang bangsawan dan dia mengancamku akan membunuhmu kalau aku mejalin hubungan denganmu, maafkan aku, mulai sekarang kita akan selalu bersama dan aku takakan meninggalkanmu lagi, aku janji”. Pelukannnya semangkinerat, air mata lagi-lagi mengalir di pipinya yang lembut.
“Sudahlah Lisa, kembalilah ke rumahmu, kamu memang benar Lisa, kita tidak mungkin bisa bersama selamanya, ayahmu telah menjodokanmu dengan pria lain, aku juga tidak akan mengganggu perjodohan orang lain, kau tak perlu bersedih, aku sudah malas merasakan perihnya hati. Sekarang lepaskan aku dan pulanglah ke rumahmu”. Entahlah mengapa kata-kata itu keluar dari mulutku, aku sungguh munafik, padahal aku masih ingin berlama-lama bersamanya.
“Tidak, tidak akan kulepaskan pelukan ini ayolah ihsan, jangan kecewakan aku, bawa aku lari dari tempat ini lalu kita jalin hubungan dengan bahagia”. Aku masih tak menoleh padanya, pandanganku masih kutujukan ke halaman.
“Aku tak bisa bersamamu Lisa”. Ucapku lantas bersusaha melepaskan pelukannya dari tubuhku. Perlahan namun pasti Lisa melepaskan pelukannya lalu ia mundur beberapa langkah, air mata sedari tadi membasahi pipinya.
“Ihsan yang sekarang berbeda dengan ihsan yang kukenal dulu”. Hatinya hancur bak tertusuk seribu pedang. Dengan langkah yang dipaksa Lisa telah menjauh dari kamarku lantas melesat cepat manggunakan mobilnya.

Aku menangis dalam sepi, akhirnya aku tak bisa menahan luapan tangisan ini, kupukul tanganku pada kusen jendela. Bodohnya aku mengapa harus melepaskannya, aku sungguh munafik, tak tega aku melihatnya menangis. Namun keadaan yang telah memaksa.

Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja, aku harus mendapatkannya. Kucari kunci mobilku dengan terburu-buru hingga tak memperdulikan apa-apa, perabotan di kamarku berantakn namun biarkan saja. Setelah kutemukan kunci mobilku, tak menunggu lama, aku langsung melencur cepat mencari mobil yang berwarna Hitam.

Duh, mengapa saat-saat seperti ini, jalanan macet, seandainya aku bisa terbang, sudah dari tadi aku berangkat. Tapi tunggu dulu, tampak dari kejauhan gerombolan orang-orang, sepertinya telah terjadi sesuatu. Aku keluar dari mobilku untuk mrncari tahu, apa yang telah terjadi, kulihat mobil telah mengahantam pohon besar di pinggir jalan, hatiku semangkin penasaran rasa inin tahu ini telah menuntunku semangkin dekat pada pengendara mobil itu yang tegeletak lemas di kasur yang dibawa ambulan, sangat sulit sekali untuk mendekatinya sebab gerombolan orang-orang. Setelah berhasil melewati gerombolan dan mendekati pada orang itu. Sungguh hancur hatiku orang yang tergeletak lemas itu adalah orang yang telah menemuiku beberapa menit yang lalu. Kudekap tubuhnya yang lemas, darah bercucuran dari kepalanya.

“Lisa, komohon sadarlah, sayang”. Ucapku air mata sudah tak tertahankan.
Kelopak matanya perlahan terbuka, kupeganng tangannya yang lembut.
“Maafkan aku, Ihsan”. Ucapnya lirih.
“Iya, aku sudah memaafkanmu, kumohon bertahanlah, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku sekali lagi, aku mohon”. Kueratkan dekapanku padanya.
Senyumannya tersungging indah, tangannya menyentuh pipiku “Aku juga sangat mencintaimu, aku akan selalu bersamamu, percayalah”. Perlahan namun pasti kelopak matanya tertutup kembali, sentuhan tangannya di pipiku semangkin melemas
“Lisaaaaa…”. Teriakku menratapi nasibku ini.

Cerpen Karangan: Ihsan Umam
Facebook: ihsan al-mustofa
Seorang yang selalu mengharap Rahmat tuhannya, dia lahir di sui batang, desa terpencil namun sangat indah. sekarang lagi menyelasaikan masa SMA nya di pondok DALWA. hobinya pencak silat dan menulis yang pastinya.

Cerpen Makna Sebuah Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Brother My Lover (Part 1)

Oleh:
Kini semuanya menjadi sulit. Saat tanpa sengaja hati kami saling terpadu dan berpilin menjadi satu. Sebuah ikatan status yang membelenggu kami, membuat hubungan kami berlabuh pada satu jalan yaitu

Kebersamaan

Oleh:
Kring… kring… kring… bel istirahat berbunyi nyaring. Anne masih ragu untuk ke luar dari kelas dan pergi ke kantin. Anne tetap duduk di tempat duduknya sambil membaca novel. “nggak

Ketika Hujan Turun

Oleh:
Di pagi hari aku duduk di halaman rumah menatap sebuah pelangi yang baru datang ketika hujan turun. Entah mengapa setiap hujan turun aku selalu mengingat kenangan tentang kita, jujur

Stuck

Oleh:
“Huf….” Dengusku pelan. Aku sedikit bosan karena keempat temanku belum datang juga. Tapi ini kesalahanku, aku datang terlalu awal dari jam janjian kita. Kulirik arloji dipergelangan tangan, pukul 2

Dunia

Oleh:
Berapa banyak dunia itu? Ada yang bilang satu, mungkin iya untuk mereka yang hidupnya normal. Ada juga yang bilang dunianya dunia, dunia kerja dan dunia keluarga, ah itu berarti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Makna Sebuah Perpisahan”

  1. UGSH says:

    Kurang panjang ceritanya tapi cukup seru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *