Masih Di Sini Menunggumu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 5 May 2016

Malam ini, aku duduk di atas batu di depan rumahku sambil menatap bintang-bintang dan rembulan, mengharapkan kau berada di sini menemanikuaku begitu bodoh. Menunggu cinta yang tak pasti, cintanya membutakanku akan keindahan dunia, seperti suasana malam ini, betul-betulku merindukan dia. Hanya air mata yang berkaca, aku seperti bisu tak bisa berkata bila ku mengingatnya. Dulu aku dan dia pernah berjanji akan sebuah cinta yang abadi, di saat dia masih di sini dia berjanji padaku.

“Sayang aku harap jika aku pergi mencari kerja di jakarta, berharap jangan pernah melupakanku, aku akan kembali 2 tahun setelah kepergianku,”
Aku pun mengiyakanya, “Iya aku akan setia menunggumu kembali Riyan,”

Kini tepat 2 tahun kepergiannya, tapi mengapa dia tak kunjung datang menemuiku, setiap kali aku mengirimkan surat untuknya, dia tak pernah membalas suratku, apakah dia lupa akan janjinya? Sungguh aku dibutakan cinta, mungkin di sana kau sudah bersama pacar barumu, aku memaki diriku sendiri Rina.

“Apa yang kau dapatkan Rn? Selama kau menunggunya 2 tahun, kau hanya mendapatkan kesedihan yang mendalam. Sekarang aku mulai sadar ternyata cinta tak seindah yang aku pikirkan, di dalam hatiku belum bisa berpaling ke hati lain,” tiba-tiba ada surat datang padaku yang dibawah oleh pak pos.
“Permisi Dek,”
“Iya Pak ada apa?”
“Ada kiriman surat buat adek dari Riyan di jakarta, apakah kau mengenalnya?”
“Iya aku mengenalnya Pak, mana suratnya.”

Lalu aku mengambil suratnya dan membuka, ternyata aku salah paham, selama ini dia tak membalas suratku karena dia sedang sakit tuberkolosis atau tbc. Aku telah salah menilainya, lalu ia akan kembali besok aku harus menemuinya. Pagi ini aku harus datang ke rumahnya menemuinya. Biarkan aku menunggu ia di sana setelah dia sampai, ternyata dia lebih duluan sampai, dan dia menarikku ke luar rumah dan mengajakku bertemu di tempat biasa kami bertemu.
“Rina aku ingin kita bertemu sebentar malam jam 07.00 di dekat sungai di bawah pohon tempak biasa berduaan,”
“Baiklah aku akan menunggu di sana, kalau begitu aku pamit pergi sampai ketemu sebentar malam,”
“Iya.”

Sungguh persaanku begitu bahagia melihat senyumnya kembali, tapi? Dia sedang sakit, biar bagaimanapun aku tak mampu berpaling darinya karena dia mampu membuatku nyaman di dekatnya. Malam pun tiba dimana kita bertemu di tempat biasa kami berdua merasakan cinta dan disaksikan rembulan malam yang begitu bersinar hingga cahayanya memantul ke air sungai. “Tak terasa yah, Rin. Kita terpisah 2 tahun tapi kamu tetap bertahan menungguku kembali, apa kau masih sayang padaku setelah kau membaca surat yang aku kirim padamu. Maaf iya Rin, aku tak pernah membalas suratmu karena tak ada kesempatkanku. Aku terus berobat di sana sebenarnya aku ke sana hanya berobat bukan untuk bekerja. Penyakitku semakin parah Rin mungkinkah kau masih menerimaku dalam keadaanku sekarang?”

“Riyan aku tak ingin kau berbicara seperti itu,” sambil ku menyandarkan kepalaku di bahunya, dan ia mengelus kepalaku, “seandainya aku tak menerima kembali, mana mungkin aku menemuimu, Riyan asal kamu tahu setelah aku baca surat darimu dan ternyata kamu sakit tuberkulosis aku seperti merasakan kesakitan yang kau rasakan,” dia semakin memelukku kencang, ia pun berkata, “Apa kau tidak takut penyakitku menular pada dirimu, karena penyakitku semakin parah dan bisa cepat menular.” seketika ia melepaskan pelukannya dan matanya berkaca-kaca lalu tetap saja ia tersenyum tapi dia batuk terus mengeluarkan darah, secara aku tak sadar aku langsung memeluknya tak peduli akan menular atau tidak.

“Riyan bertahanlah kamu jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya aku benar-benar takut kehilanganmu,”
“Jangan menangis Rin, biar bagaimanapun sebentar lagi,” Rina langsung membentak perkataan Riyan.
“Sudah jangan berbicara seperti itu, aku tak mau mendengar kelanjutan pembicaraanmu, kau ingatkan besok hari jadian kita tanggal 13 bulan 05 kau harus bertahan,”
“Iya aku ingat Rin, tapi?”
“Tapi apa Riyan?”

Lalu Riyan terlihat kesakitan dan aku berusaha mengajak dan membawanya ke puskesmas terdekat, tapi dia sudah tak sadarkan diri, setelah kami sampai di puskesmas ia pun belum sadarkan diri. Tepat jam 09.23 dia sadar ia memegang tanganku di depan orangtuanya. “Rina jaga dirimu, aku berharap kau tak melupakanku meski aku pernah membuatmu merasakan kepedihan selama 2 tahun kau menungguku, dan hari ini hari jadian kita dan akan cinta kita akan bersatu di alam sana.”
“Jangan tinggalkan aku Riyan, aku berjanji akan terus setia kepadamu walau kita akan terpisahkan selamanya tunggu aku di sana biarkan kita saling menunggu,”

Aku pun membisikkan di telinga Riyan kalimat syahadat, dan ia mengikuti syahadat yang aku bisikkan dia pun pergi meninggalkanku lagi untuk selamanya. Semenjak kepergiannya, aku begitu tersiksa, sampai sekarang aku masih menunggu hal yang tak pasti untuk kembali. Hanya satu yang ingin ku pertanyakan apakah di sedang menungguku di sana. Kini ku tunggu ajalku untuk bisa bertemu denganmu kekasihku.

Cerpen Karangan: Ardi
Facebook: Ardi
Nama: Ardi
Kota kelahiran: Jeneponto
Status Pelajar.

Cerpen Masih Di Sini Menunggumu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Es Krim Kesedihan

Oleh:
Angin bertiup kencang malam ini. Dari kejauhan terlihat sosok gadis tengah terduduk di salah satu halte bus di Jakarta. Ia memandang kosong ke arah taman kota, dan sesekali ia

Menunggumu

Oleh:
Mataku menerawang entah ke mana. Pikiranku kosong, benar benar kosong. Aku melamun sangat lama. Aku penasaran dengan siswa baru yang akan mendatangi kelasku. Semoga laki laki. Yah, inilah aku,

Love is Honesty

Oleh:
Hari ini tepat dua tahun setelah kepergian Dava, lelaki yang kurang lebih 5 tahun telah menyempurnakan hari-hari Aya. Lelaki yang selalu dikagumi oleh Aya ini memang sudah menghembuskan nafas

Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Bukan Milikku

Oleh:
“Hai” Raya membalik tubuhnya menghadap orang yang baru saja menyapnya. Senyuman manis terukir di wajah gadis manis itu saat tahu siapa yang berdiri di belakangnya “Nata” Raya langsung memeluk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *