Mataku Telah Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 June 2013

Aku tak tau apakah hal ini hanya terjadi kepadaku saja. Di masa lalu aku bertemu dengannya, orang terkasihku yang tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Dan kini, bahkan diriku sendiripun sama. Ternyata begitu sulit untuk melihat kenyataan dan sebuah mimpi di waktu yang hampir bersamaan. Dimana perbedaanya.. sampai saat ini aku masih belum tau.

Sehari, sebulan, bahkan telah bertahun-tahun aku hidup dengannya. Orang terkasihku. Tak mudah untuk berjalan dalam dua jalur yang berlawanan. Dan bila cintaku berharap untuk gugur, maka sejatinya keguguran itu telah menyapaku terlebih dahulu. karena cinta, satu-satunya alasan terpenting untukku bertahan. Berjalan menyusuri dalam dan terjalnya kehidupan.

Semua itu berawal dari kesalahan kecil di masa lalu. Dua oktober. Hari jadiku. Hari dimana kami dipertemukan. Hari kami saling berikrar. Dan bisa jadi akan menjadi hari perpisahan bagi kami. Meski berawal dari suatu kesalahan, aku tak pernah menganggap mengenal dirinya sebagai suatu kesalahan. Bahkan mencintainya, meski terkadang begitu sulit aku tak kan pernah berhenti untuk bertahan.
“sayang, akankah kita tetap bersama?.” tanyaku padanya di malam hari jadi tahun ketiga kami.
“adakah suatu hal yang mengganggumu?, mengapa kau bertanya begitu.” timbalnya.
“entah, hanya saja tak pernahkah kau berpikir jika suatu saatpun kita bisa terpisahkan.” jawabku seraya berlalu untuk membereskan sisa-sisa pesta kecil perayaan kami.

Hari itu memang terasa begitu aneh. Cuaca yang begitu indah pun mendadak tak bersahabat, layaknya singa yang di ganggu tidurnya. Musim, yang di perkirakan akan panas hingga bulan depan entah apa yang terjadi. Hingga seharian ini, menjelang hari jadiku dan hari jadi ikrar kami, hujan begitu keukeh untuk bertahan. Tak mempedulikan betapa kerasnya usaha mentari untuk memamerkan sinar hangatnya.
“mana kado untukku, sayang..?” candaku ketika kami sedang menikmati serial drama favorit kami. Dia menatapku dengan keheranan.
“ada apa sayang, bukankah kau tak pernah meminta kado sebelumnya..?”
“memang, tapi kurasa akan menyenangkan jika mendapat kado dari orang terkasih.” jelasku.
“heh” Dia menghela napas yang rasanya begitu berat. Bola mata hitamnya berputar mengitari seluruh pojok ruangan dan akhirnya dihentikannya tepat di depan mataku. Mata itulah yang membuatku jatuh cinta. Sorot yang tajam, yang tak melupakan tatapan kasih sayangnya. Tanpa pikir panjang, tiba-tiba kedua bibirku berbisik di dekat telinganya.
“sayang, terima kasih atas kado terindah darimu. Bahkan jika besok aku mati, aku tak akan pernah menyesalinya. mmuach..” sebuah kecupan manis mendarat di dahinya.

Aku pikir perpisahan itu hanya ada dimimpi. Rupanya aku telah salah menafsirkan antara mimpi dan juga kenyataan dihadapanku. Pikiranku terus melayang, selalu melesat mencari tujuan-tujuan terindah dalam hidupku. Bola mataku terus berputar mencari sosok itu. Terus saja berharap tatapan tajam nan penuh kasih sayang itu akan menemukan mataku.
Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi, kelelahan mulai mengusikku, tapi mata itu tak kunjung menemukanku.
“nyonya, mari kita istirahat. Ini sudah larut malam.” sapa seorang wanita yang kurasakan mulai menarik kursi rodaku dan membawaku masuk ke dalam sebuah ruangan.
Ruangan yang aku benci. Ruangan yang sesak dan pengap. Dan juga ruangan yang tak pernah memberi kesempatan bagiku untuk menemukan mata indah itu.

Malam, dimana mata kami bertemu, akhirnya membawa kami larut dalam nyenyaknya tidur. Bukan karena lelah atau dingin yang menggoda, namun kebersamaan kami yang begitu menenangkan jiwa. Pelukannya begitu hangat. Hingga membuatku enggan untuk bangun sejenak, mendengarkan senandungnya. Aku tetap terpaku di dalam pelukannya. Sampai ketika tangan gagahnya membelai lembut rambutku. Dan lirih bibirnya berbisik ditelingaku.
“sayang, aku tak tau kenapa kamu menyadari hal itu. Meski semua tau, satu-satunya jalan pemisah itu adalah maut. Sayang, kenapa kamu tidak meminta hal indah di hari jadimu.? apakah mataku saja benar-benar sudah cukup untuk membahagiakanmu.” lalu dia terhenyak, ketika aku berpaling ke hadapannya. Aku tersenyum dan mengangguk.
“apa kau tak percaya padaku..?” tanyaku.
“hal terindah bagiku adalah melihat mata indahmu sayang. Mata yang membuatku jatuh cinta, dan juga mata yang memancarkan cinta saat aku masuk ke dalam tatapannya.” jelasku.
Dia menghela napas, dan perlahan melepas pelukannya.
“Lalu adakah hal lain yang kau inginkan, sayang..?”
“mengulang pertemuan pertama kita, kesalahan yang telah mempertemukan kita.” ujarku.
“kalau begitu, besok kita akan mengulangnya lagi, sayang..”
Mendengar janjinya aku begitu puas, entah rasa apa ini. Tapi aku benar-benar berharap esok akan segera tiba. Hari dengan tanggal yang sama. Hari dengan waktu yang sama. Kami akan mengulangnya kembali.
“taukah engkau, kenapa aku menyelamatkanmu, sayang.?” tanyanya di pagi itu.

Dua Oktober. Hari jadiku. Hari jadi ikrar kami. Dan hari dimana kami dipertemukan seperti yang hari ini akan kami ulangi.
“kenapa sayang.?” tanyaku sambil mencari bola mata hitam indah itu untuk menatapnya.
“karena aku telah jatuh cinta padamu.”
“bukankah sebelumnya kita belum pernah bertemu, bagaimana mungkin kau telah jatuh cinta kepadaku, sayang..” tanyaku keheranan.
“karena jauh sebelum kita bertemu di dunia nyata, terlebih dahulu kau selalu masuk kedalam mimpiku, sayang. Hari itu saat kita dipertemukan, aku hanya mengira kalau itu hanyalah mimpi. Dan ternyata aku salah menafsirkann kenyataan yang ada di depan mataku. Namun aku bersyukur, secepatnya aku menyadari jika aku harus segera menjemputmu, cinta yang telah nyata menungguku. Dan cinta sejati tidak akan membiarkan orang yang dicintai untuk terluka atau tersakiti, sayang.”
“aku juga tidak akan membiarkanmu tersakiti, meski hanya sedikit sayang.” sanggahku.
Kami saling menatap dan berpelukan. Hari itu aku benar-benar tak ingin melepas pelukannya. Entahlah, benar-benar hangat dan begitu nyaman.

Benar saja, di ruangan ini aku tak pernah merasa nyaman. Di tambah lagi kakiku yang lumpuh, benar-benar membatasi pergerakanku. Mataku bahkan tak pernah ingin melihat hal lain kecuali mata indah itu. Tak sedetikpun mata ini kurasakan memiliki hasrat untuk itu. Hanya air mata yang selalu menemaniku saat menantikan mata indah itu.
“nyonya harus makan. Jika tidak, nyonya bisa sakit.” bujuk wanita tua yang tak pernah lelah menemani hari-hariku. Hingga terkadang aku merasa bosan dengannya. Aku hanya terdiam. Aku tak pernah berhasrat untuk menjawab bujukan ataupun ajakannya. Kurasa harusnya dia juga akan mengerti akan hal itu. Namun untuk pertama kalinya, aku ingin bertanya satu hal padanya. Satu hal saja. Meski aku ragu, apakah dia akan menjawab pertanyaanku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap bertanya.
“ak.. bolehkah aku bertanya..” kataku ragu.
“nyonya bicara..? nyonya mau bertanya apa.. silahkan..” tidak tau pasti, karena aku hanya menebak, tapi suaranya terdengar senang ketika aku berbicara.
“kenapa mata indah itu tak pernah muncul..? tanyaku padanya. Kutunggu jawabnya. Namun hampir belasan menit aku menunggunya, ia tak bergeming sedikitpun. “pergilah.!” usirku. sempat kudengar ia terisak, tapi entahlah.

Pertama kali aku bertemu dengannya di stasiun kereta. Saat itu aku hendak pergi ke Bandung untuk berlibur. Namun di hari keberangkatanku, aku bangun kesiangan. Lima belas menit keterlambatanku di masa lalu telah mengubah semua masa depanku. mempertemukanku dengan cinta sejatiku.
karena tertinggal jadwal keberangkatan kereta, aku merasa sangat sedih, bahkan aku menangis. Liburan yang telah kurencanakan dua minggu sebelumnya telah sia-sia. “sial. padahal hari ini kan spesial, tapi kenapa malah jadi kacau seperti ini. huh..” gerutuku. Karena kesal, aku langsung mendengarkan musik melalui headset hp-ku dan berjalan di sepanjang rel kereta api.

Dan ketika aku berjalan, tiba-tiba syal pemberian ibuku terbang dihembuskan angin. Aku berusaha mengejarnya, namun aku kehilangan jejak. Setelah aku menyusuri rel kereta, aku melihat shalku tersangkut di tepi rel di dekat bangku istirahat para penumpang. Namun sialnya, dari arah berlawanan ada kereta yang membawa penumpang akan berhenti. Disisi lain aku harus tetap mengambil syalku. Karena benda itu satu-satunya kenangan dari ibu. Bagaimanapun caranya. Aku segera berlari menuju shalku. “tuuuut.. tuuuut” peluit kereta berbunyi sebagai tanda ia akan segera berhenti, atau tanda untuk mengusirku yang sedang berada di area berbahaya. Tiba-tiba saja seseorang menyambar tubuhku dan kemudian kami terlempar ke tepian rel.

Entah apa lagi yang terjadi, yang pasti ketika aku sadar, aku telah berada di rumah sakit. Orang itu, yang menyelamatkanku, sempat mengalami koma selama tiga hari. Aku merasa bersalah, namun aku tak bisa melakukan apapun selain berdo’a untuk kebaikannya. Selama tiga hari itu pun lebih dari cukup untuk menumbuhkan rasa cintaku padanya.

“ingatkah nyonya hari ini tanggal berapa?” Tanya wanita itu sembari meletakkan semungkuk bubur di atas meja, di samping ranjangku. Saat itu aku hanya terduduk diam membisu. Dan selalu, mataku mencari dimanakah mata indah itu berada.
“hari ini adalah hari ulang tahun nyonya. Apa nyonya lupa..?” lanjutnya.
Aku tersentak, rasanya sudah begitu lama aku tak mengingat hal itu. Bahkan selama ini tak pernah ada yang mengingatkanku akan hal itu. Karena yang ada di benak dan pikiranku hanyalah sepasang mata indah yang selalu kurindukan.
“adakah hal yang nyonya inginkan.?” tanyanya lagi sambil menyuapi bubur ke mulutku.
“mata itu, kemana perginya mata itu. Kenapa mata itu tak pernah menatapku lagi..?” gumamku.
Dan entah apa yang terjadi. Aku mulai meneteskan air mata, wanita itupun mulai terisak. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa tiba-tiba aku menangis dan dia, mengapa wanita itu juga ikut menangis.
“apa nyonya masih begitu sedih, bahkan setelah dua puluh tahun nyonya tak pernah mau mengingat hal itu.?” tanyanya
Aku merasa lemas, semua tulang-tulangku terasa rapuh, tak sanggup lagi menopang badanku. Kini, kelopak mataku benar-benar kalah, sudah tak mampu membendung derasnya airmataku. Perlahan namun pasti, memori buruk itu telah kembali. Bahkan setelah dua puluh tahun aku mencoba untuk tak mengingatnya. Dan kini justru terasa jauh lebih sakit saat aku kembali mengingatnya. Aku lelah, dengan tangisku. Bahkan airmataku terasa tak bisa mengalir lagi meski hatiku masih menangis.
“aku inginkan satu hal, tapi kau tak kan bisa memberinya. Apa kau tetap mau mendengarnya..” kataku lirih.
“apa hal itu, nyonya..?” dia berbalik bertanya.
“mataku, bisakah kau bawa kembali mataku…” tangis wanita itu semakin menjadi-jadi. Namun aku senang, aku bisa mengungkapkan keinginan terakhirku..

Cerpen Karangan: Nita Susanti
Facebook: Nita Susanti

Cerpen Mataku Telah Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Terindah

Oleh:
Taman bintang. Begitulah kami menyebutnya. Taman indah yang menjadi saksi setiap detik kebersamaanku bersama dia. Seperti melihat bintang di langit malam. Satu hal yang tak pernah bisa kami lupakan.

Kau Hancurkan Aku Berulang Kali

Oleh:
Ini salah, memang salah dari awal. Kenapa dulu aku izinkan kamu masuk ke dalam hidupku lagi. Padahal aku telah bersamanya, bersama dengan orang yang telah aku pilih. Tapi kamu,

One Day With You

Oleh:
Aku selalu ingin meninggalkanmu sendirian, tetapi aku tidak pernah mempunyai keberanian, ya mungkin aku memang penakut seperti yang biasa kau ucapkan. Ya mungkin begitulah aku. Mungkin pada akhirnya aku

Menangis Bersama Hujan

Oleh:
Sepintas Reihan melewati rumah pohon. Matanya berbinar ketika melihat sosok bidadari cantik di rumah pohon tersebut. Ternyata itu sahabat perempuannya yang disayanginya dan sekaligus pacarnya. Nama perempuan itu Reny.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *