Mawar itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Fajar Nugraha terlihat membawa sesuatu di tangan kanannya. Pria yang kerap disapa Fanu itu ada janji dengan pacarnya, Echy, di sebuah restoran. Fanu terlihat gagah dengan kaos putih dan celana hitam. Dia memang termasuk lelaki yang kurang memperhatikan gaya berpakaian. Tapi ia rela menghabiskan waktu berjam-jam cuma demi memoles rambutnya. Hal ini dia lakukan karena Echy menyukai gaya rambutnya. Dandanan yang sangat simple tapi tetap memberi kesan elegan dan charming.

“Ada cewek yang pesen meja dengan nama Echy?” tanya Fanu kepada seorang pelayan.
“Oh, itu sebelah sana. Udah nungguin dari tadi.” Pelayan itu menunjuk seorang gadis berkerudung merah.
“Oke, makasih.” Fanu berjalan menghampiri Echy yang duduk menghadap keluar membuat dirinya membelakangi pintu masuk.

“Hai cantik, udah lama nunggu ya?” Fanu memberi sapa hangat dengan harapan Echy tak marah karena lama menunggu.
“Nggak juga.” Echy menjawab dengan senyum manisnya. Senyum khas yang selalu jadi alasan Fanu tak pernah bosan menatap wajah Echy. Menenangkan.
“Aku beli ini dulu tadi di jalan buat kamu.” Fanu menyodorkan setangkai mawar putih, bunga favorit Echy.
“Duh… kenapa sih Nu pake beliin gue bunga segala? Bikin gue tambah gak tega.”
“Makasih.” Lirih Echy.

Fanu duduk di kursi berhadapan dengan Echy. Dua gelas minuman dingin datang sesuai dengan yang Echy pesan sebelum Fanu datang.
“Tumben kamu gak mau aku jemput? Tadi naik apa ke sini?” Tanya Fanu sambil mengaduk jus alpukat di hadapannya. Echy tak pernah salah memilihkan minuman favoritnya.
“Gak apa apa, tadi aku dianter Kiki.” Jawab Echy. Kiki adalah adik lelakinya.
Fanu dengan sedotan masih dimulutnya hanya mengangguk.

“Nu…?” suara Echy terdengar berat.
“Iya sayang?”
“Sebenernya aku ngajakin kamu ke sini karena ada hal yang mau aku sampaikan.”
“…”
Ada jeda yang cukup lama, hening mengudara. Sebelum akhirnya,
“Kita harus mengakhiri hubungan ini.”
“HAH???” Fanu hampir tersedak jus alpukat karena kaget dengan kalimat yang baru saja dia dengar.
Echy tak sanggup melihat Fanu. Dia sadar bahwa respons Fanu akan beragam. Dia hanya takut Fanu akan meledak.

“Boleh aku tahu alasannya?”
“Kamu tahu alasannya apa.”
“Kali ini tolong kasih aku penjelasan yang logis dan juga detail, kenapa kamu minta putus sekarang? Di saat hubungan kita berjalan tanpa masalah.”
“Alasannya karena Bapak.” Echy kembali menatap Fanu. Dia tahu bahwa untuk memberikan penekanan dan untuk meyakinkan lawan bicara, dia harus menatap mata lawannya tersebut. Meski itu sakit. Meski itu sangat berat bagi Echy. Tak dapat dipungkiri memang Echy sangat menyukai mata Fanu yang kuat. Mata yang tegas, seolah menunjukkan tak pernah ada kesedihan di diri sang pemiliknya. Mata yang memiliki sorotan tajam namun sangat menenangkan. Dan ini adalah saat terakhir Echy menatap mata itu.

Fanu tertunduk lesu. Kakinya lemas dan hatinya bergetar. Otaknya memberi sinyal kepada otot di bibir, sinyal berupa perintah untuk mengeluarkan amarah. Namun tingkat kesabaran Fanu jauh di atas rata-rata. Dia mampu menahan emosi. Dan ada wibawa yang harus dia jaga. Pria sejati tak akan pernah menyakiti wanita, bagaimanapun kondisinya.

“Aku kan udah bilang, kalau aku bisa meyakinkan Bapak untuk ngasih restunya kepada kita.” Fanu mencoba meyakinkan Echy.
“Kali ini bukan itu masalahnya.”
“Terus apa?”
“Aku dijodohkan oleh Bapak.”
Mata itu setengah melotot. Pemiliknya kaget bercampur sedih dan marah.
“Kemarin ada orang datang menemui Bapak, kata Mamah itu teman Bapak sewaktu SMP.” Tutur Echy.
“…”
“Mereka ngobrol panjang lebar yang intinya mau jodohin anaknya.”
“Terus kamu mau?”
“Aku gak bisa nolak, aku gak mau menyakiti hati orangtua.”
“Tapi kamu udah nyakitin aku.”
“Iya aku tau, maaf.”
“…”

“Anak temannya Bapak itu baru pulang kuliah S2 dari luar negeri…” Echy menghela nafas panjang. Dia tahu, pria di hadapannya bisa meledak kapan saja. Tapi dia juga tahu bahwa kenyataan harus tetap disampaikan meskipun menyakitkan. “… karenanya mulai sekarang kita gak bisa bersama lagi.”

Echy menghembuskan nafas panjang, ada perasaan lega keluar dari hatinya. Dia tahu ini semua menyakitkan, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang Fanu rasakan. Tapi setidaknya ini kenyataan yang harus diterima. Kenyataan yang akan jadi bom waktu jika terus menerus dipendam. Dan dia lega kenyataan itu baru saja selesai dia utarakan.
“Tapi kan kamu tahu kalau kita udah pacaran lebih dari 3 tahun.”
Echy mengangguk.
“Kamu juga tahu kalau aku sangat sayang kepadamu.”
Mata Echy mulai berkaca.
“Aku sayang kepadamu dan itu tidak main-main.”
Echy tahu itu dan setuju bahwa perasaan sayang Fanu melebihi segalanya.
“Kenapa kamu setega ini?” Fanu sudah berada di tingkat yang sama dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang baru saja di suruh merevisi skripsi yang diajukan kepada dosen pembimbingnya, padahal itu merupakan revisi ke-68 kalinya.
Echy tetap diam. Dia tak mau ada perkataan darinya yang menambah parah suasana.
“Berapa kali kamu menyakiti aku selama ini bisa aku terima meski tidak terhitung jumlahnya, tapi ini yang paling sakit. Ini lebih sakit daripada menggigit lengkuas yang mirip rendang”

“CUKUP!!!” Echy tak mampu menahan emosinya lagi. Bukan karena marah, tapi Echy berteriak karena semua yang dikatakan Fanu adalah kenyataan yang selama 3 tahun Echy rasakan. Dia tak pernah menyangkal semua itu. Echy tahu, Fanu adalah sosok lelaki idaman semua wanita. Banyak wanita yang rela botak demi mendapatkan Fanu. Tapi Echy harus menelan pahit kenyataan. Bahwa lelaki idaman itu harus dia relakan.
“Cukup, jangan diteruskan.” Air mata mengalir di pipi Echy.

Untuk sebuah resto, tempat itu cukup luas namun sepi pengunjung. Malam itu hanya ada tiga pasangan saja yang memenuhi ruangan ditambah satu pasangan yang berada di ujung jurang perpisahan. Teriakan Echy menarik perhatian ketiga pasangan lain. Enam pasang mata plus dua pasang mata pelayan resto memandangi Fanu dan Echy. Hal ini membuat Fanu tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk menerima semuanya, meski dengan terpaksa.
“Baiklah, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu dan semoga keputusan yang kamu ambil ini yang terbaik untuk kamu.” Fanu berusaha tenang. Jus alpukat yang tersisa berhasil mendinginkan suasana hatinya.

“Aku punya permintaan.” Lanjut Fanu.
“…”
“Jangan pernah menghubungi aku lagi apa pun alasannya. Aku menganggap dengan keputusan yang kamu ambil, itu berarti tak ada lagi hal yang menyangkut di antara kita. Kita anggap semua impas. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu.”
“Kok permintaannya gitu?”
“Aku sadar, tidak mudah dan mungkin aku tidak akan pernah berhasil menghapuskan rasa sayangku kepadamu. Aku takut jika nanti kamu menghubungiku lagi aku kembali luluh.”
“Tap…” kalimat Echy terpotong.
“Sudahlah! Tak ada kalimat apa-apa lagi.”
“…”

“Satu lagi, aku minta maaf jika nanti aku bertingkah seolah kita tidak mengenal saat berpapasan. Yang paling penting, aku minta maaf jika tidak hadir di hari bahagiamu.”
Echy mengangguk dengan air mata mengalir deras namun senyum itu masih berusaha dia berikan. “Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu.” Fanu berlalu, itu terakhir kali dia melihat senyuman itu.

Fanu memacu mobil hitamnya dengan kencang. Dia harap perasaannya tertinggal di belakang. Dari awal hubungan Fanu dan Echy memang tidak pernah mendapat restu dari Orangtua. Echy telah mengkhianati komitmen yang pernah mereka berdua buat.
“Bagaimanapun, dan apa pun keadaannya aku akan selalu bersama kamu. Tidak peduli Mamah sama Bapak melarang, aku akan terus perjuangkan hubungan kita.”
Kalimat itu Echy ucapkan setelah mengetahui bahwa Mamah dan Bapaknya tidak merestui hubungan dia dengan Fanu. Kalimat komitmen dari Echy itulah yang menjadi alasan sekaligus dorongan bagi Fanu untuk tidak menyerah. Dia juga berkomitmen.
“Bagaimanapun, dan apa pun yang terjadi atau yang menghalangi cintaku padamu, akan aku hadapi dan lawan meski harus berdarah.”
Tapi sekarang, itu semua hanya tinggal kenangan. Fanu kecewa wanita polos pemilik senyum menawan itu mampu mematahkan hatinya dan tega mengkhianatinya.

Tadi sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan Echy. Fanu melihat Echy mencium mawar putih yang ia beri. Mawar yang kini basah oleh air mata. Mawar yang menjadi saksi bahwa cinta itu tidak pernah bisa ditebak arah jalannya. Mawar itu tahu ada seorang lelaki yang patah hati. Mawar itu tahu bahwa esok akan ada luka yang harus diobati.

Cerpen Karangan: Cepi Fikriadi
Facebook: Bhapi Tsutejo
panggil saja bhapi.
baru suka menulis sejak setahun yang lalu tapi belum pernah ada karyanya yang dipublikasikan.

Cerpen Mawar itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Gadis Putih Abu-Abu

Oleh:
Di taman rumput yang hijau ini kubaringkan tubuhku seraya memandang cerahnya langit biru. Yang seakan menghipnotisku dan membuatku tak kuasa menahan kantuk. Sejuk berada di tempat ini, hingga tak

Ilusi Hati (Part 2)

Oleh:
Arza berbeda. Begitu yang Diandra tangkap sejak awal pertemuannya dengan cowok itu. Namun gadis itu tidak ingin jatuh kembali. Sudah cukup hatinya diremukkan oleh masa lalu. Semua cowok sama

Valentine Die

Oleh:
Di sore yang dingin ditemani derasnya hujan, aku melihat seorang gadis yang jaraknya tak jauh dariku. Aku memperhatikan gadis itu, Tiba-tiba ia menghampirku dengan berlari-lari kecil, lalu ia memberikan

Hiduplah di Hatiku Bidadariku

Oleh:
Hari demi hari terlewati… seminggu, sebulan dan kini tepat setahun cahaya itu pergi dan membuat segalanya berubah. Aku adalah seorang pria yang sangat beruntung karena sempat memiliki bidadari di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *