Mawar Kebahagiaan Yang Ku Rindukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 November 2015

Pagi yang cerah seperti biasa aku berangkat kerja mengenakan seragam dan mengendarai mobil kantor. Pagi ini udaranya cukup segar, jadi aku memutuskan untuk membuka kaca mobil, dan menyempatkan membeli koran di persimpangan jalan. Aku tinggal di sebuah kota kecil dengan keamanan kota yang masih banyak kekurangan. Kota yang kecil dengan penduduk yang tidak terlalu padat, tidak heran kota ini tinggi aksi kriminal dan menjadi tempat persembunyian aman untuk para penjahat.

Gerbang dari sebuah gedung sudah terlihat, suara sirine terdengar kencang, dua mobil polisi ke luar dari gerbang. Ya itu adalah gerbang kantorku, namaku Santos, dan aku bekerja di kepolisian. Aku sudah 7 tahun bekerja di kepolisian, posisiku berada di divisi II khusus kejahatan Organisasi. Pagi ini tidak ada panggilan tugas, aku hanya menyapa rekan-rekan kantor dan membaca koran. Tiba-tiba aku terbangun di siang hari, terlalu lama ku menunggu panggilan
tugas hingga tertidur. Tidak lama rekan kerjaku, Diana, memanggil.

“Santos!” panggil Diana.
“Ya? ada apa? apa panggilan tugas?” tanyaku.
“Bukan, istrimu datang ingin menemuimu,” jawab Diana.
“Ada apa ini?” dalam benakku, karena tidak pernah sebelumnya ia datang ke kantor. Ah sudahlah sebaiknya aku segera menemuinya di bawah.
“Baiklah, Diana aku segera ke bawah, terima kasih,” ujarku.

Seorang wanita dengan wajah yang memancarkan keindahan di bawah terpaan sinar matahari, dan mata yang berkilau, dia adalah istriku, Mia, datang membawa sebuah kotak yang sepertinya berisi makanan, hal yang belum pernah ia lakukan selama 2 tahun menikah.
“Ada apa sayang, tak biasanya kamu ke mari?” tanyaku.
“Aku membawakanmu makanan. Tak apa kan kalau sesekali kau makan masakan rumah,” jawabnya.
“Masuklah sayang, duduklah di sini,” ujarku mempersilahkannya untuk duduk. Sedikit heran, tapi aku bahagia bisa melihatnya lebih lama, setidaknya ada kejutan kecil di hari yang hampir membosankan ini.

“Kamu naik apa kemari?” tanyaku sembari membuka kotak yang ia bawa.
“Aku naik taksi,” jawab Mia.
“Apa ini buatan kamu? aromanya sedap sekali,” tanyaku dan mulai bersiap melahap nasi goreng buatan Mia, dia hanya mengangguk kecil sembari melihat kondisi ruangan kantorku. Saat aku tengah melahap makananku Mia berkata, “Aku mengkhawatirkanmu,” sontak aku menghentikan kegiatan makanku dan menatapnya.

“Ada apa sayang?” tanyaku.
“Entahlah, perasaanku tidak enak,” jawab Mia.
“Sudahlah, mungkin kamu hanya merindukanku,” ujarku menenangkan pikirannya. Setelah selesai makan aku menyuruh Mia pulang karena ia tidak boleh di sini selama jam kerja dan waktu istirahatku mulai habis.

“Aku akan pulang sore jika tidak ada panggilan tugas, kamu pulanglah aku akan minta tolong Joe untuk mengantarmu,” ujarku.
“Baiklah, tapi kamu hati-hati, aku merindukanmu, dan cepat pulang, dan Ummm…” Kata Mia berpesan.
“Ya ya ya baiklah, aku akan izin pulang cepat nanti,” aku memotong sambil membawanya ke luar ruangan.

“Joe! tolong antarkan istriku pulang,” aku memanggil rekanku yang berasal dari divisi I.
“Baiklah, ayo nona,” ujar Joe mempersilahkan Mia masuk mobil.
“Bye sayang, hati-hati,” ujar Mia.
“iya, kamu juga,” jawabku sambil tersenyum. Begitulah Mia, ia selalu mengkhawatirkanku, tapi dengan sikapnya itu malah membuatku semakin mencintainya.

Sore hari ketika aku bersiap untuk pulang, tiba-tiba panggilan datang. Rekanku dari divisi I melaporkan bahwa ia menemukan gudang tempat penyimpanan barang haram nark*ba. Dan aku bersama rekan-rekan divisi II segera menuju ke tempat tersebut. Mobil melaju kencang, sirine dimatikan karena ini adalah operasi penyergapan, jadi suasana harus tenang agar para penjahat itu tidak menyadari kedatangan kami.

Tidak lama mobil yang dikendarai Joe melambat, dan mobil ini mulai membawaku ke pelabuhan yang penuh dengan banker-banker dan gudang. Kami pun berhenti di sebuah gudang di mana teman-teman polisi yang lain sudah mengepung di sekeliling gudang tersebut siap untuk menyergap. Laporan mengatakan bahwa di dalamnya ada sembilan orang pengedar yang sedang melakukan kegiatan distribusi nark*ba. Sekilas terlintas di benakku, apakah kekhawatiran Mia ada benarnya? apakah akan terjadi sesuatu padaku? “DorrrDorr!!!” tembakan peringatan dilesatkan dan penyergapan pun dimulai. Seorang penjahat mencoba kabur dan, “Dorrrr!!!” polisi lain menembak kakinya, dan selesailah penyergapan yang hanya berlangsung 10 menit ini. Hanya ini? ada yang tidak beres, aku merasa ini terlalu mudah, tapi sudahlah yang penting aku selamat dan tidak terjadi apapun.

Aku pulang ke rumah dan menceritakan apa yang barusan terjadi pada Mia. Ia memelukku dan mengatakan betapa ia sangat mengkhawatirkanku, tapi ia senang aku baik-baik saja dan tahu bahwa kekhawatirannya salah. Kami pun tidur bersama, namun ia terlelap lebih dulu, hehe sepertinya mengkhawatirkan seseorang lebih melelahkan daripada dikhawatirkan. Aku menatap wajahnya dan mensyukuri wanita yang cantik ini adalah milikku, sekali aku meneteskan air mata, karena bahagia melihat keindahan wajahnya dalam tidurku, sesuatu yang belum tentu dirasakan kebanyakan orang.

Pagi hari aku dibangunkan dengan suara telepon yang berdering kencang. Mia masih berbaring di sebelahku dan aku mengangkat panggilan tersebut. Rupanya kantor polisi baru saja ditembaki segerombolan orang yang tidak dikenal. Komandan memerintahkanku untuk segera ke kantor secepatnya. Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan mulai mengenakan seragamku.

“Ada apa Santos?” tanya Mia.
“Ada panggilan mendadak!” jawabku terburu-buru.
“Apakah penting? apa yang terjadi?” Mia bertanya lagi.
“Aku lupa mengantarkan dokumen laporanku ke komandan,” jawabku berbohong. Aku tidak mau Mia tahu kalau di kantor sedang dalam kondisi berbahaya, karena aku tahu pasti ia akan sangat khawatir.

Sampai di kantor, tempatku bekerja sudah porak poranda. Belum ada mobil ambulans yang terlihat hanya para polisi yang berjaga di luar, aku menyegerakan diri masuk untuk melihat kondisi di dalam. Aku tercengang melihat tiga rekanku sudah terbaring kaku menjadi mayat, dan aku menghampiri Santi yang tangannya dibalut perban.
“Ada apa ini Santi?!” tanyaku geram.
“Ada segerombolan penjahat dengan tiga mobil menembaki kita pagi ini,” jawabnya.
“Sepertinya mereka ada hubungannya dengan jaringan nark*ba dalam penyergapan kemarin,” tambahnya.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku.
“Seorang penjahat berdiri di depan pintu dan berteriak menanyakan letak barang bukti nark*ba hasil dari penyergapan kemarin disimpan,” jelas Santi.
Tidak lama kemudian Komandan memanggilku dan rekan-rekan dari divisi II untuk rapat pembentukan tim guna menyelidiki kejadian ini, dan sisanya diminta untuk berbenah. Di dalam rapat ini ada sembilan polisi dari divisi II termasuk aku. rapat yang dipimpin komandan Alex ini berlangsung serius.

“Jadi bagaimana ini komandan?” tanya rekanku Boby.
“Kita harus bertindak cepat namun tidak gegabah, harus dipikirkan baik-baik,” jawab komandan tenang.
“Tidak salah lagi, gerombolan itu pasti ada hubungannya dengan jaringan pengedar nark*ba kemarin,” ujarku.
“Mungkin ini komplotan mafia,” tambah Boby.
“Baiklah kalau begitu kita segerakan pembentukan tim penyidik.” komandan Alex memberikan instruksi.

Tiba-tiba di tengah-tengah rapat seseorang mengetuk pintu. Itu Diana mengatakan bahwa istriku datang. Astaga aku lupa mengabari Mia, dan dia seharusnya tidak datang ke mari. Lalu segera aku menemuinya. Ketika aku melihatnya, wajahnya pucat dan matanya tercengang melihat kondisi kantor yang penuh lubang tembakan. Oh tidak ia pasti akan sangat marah, karena aku membuatnya sangat khawatir. Aku berjalan cepat menghampirinya, tiba-tiba mobil hitam datang masuk gerbang. Satu, dua, lima, enam mobilnya terus berdatangan dan tidak lama terdengar suara tembakan senjata dari dalam mobil. Ternyata segerombolan penjahat datang lagi dan kini lebih banyak. Mereka menembak membabi buta dan baku tembak pun tak terelakan. Sebuah granat melayang di sampingku dan ketika aku menyadarinya aku berlari menjauh, “Boom!!” granat meledak dan aku terpental hingga pingsan.

Ketika bangun kepalaku terasa sakit, tangan ku sobek, dan ku lihat sekeliling. Para penjahat telah menghilang, aku lihat kondisi kantor yang telah porak poranda. Rekan-rekanku ada yang mati dan yang lainnya menggeram kesakitan.
“Mia!” aku teringat nama itu dan segera mencarinya. Aku melihatnya terbaring di sudut ruangan.
“Mia! oh tidak, ku mohon jangan Tuhan,” aku berlari ke arahnya berharap tidak terjadi apa-apa. Aku memeluknya, tubuhnya dingin, napasnya tak lagi berhembus, dan di perutnya ada lubang bekas tembakan peluru. Aku terdiam dan menatapnya, disusul air mataku yang tak sanggup lagi ku bendung.

Aku tidak bisa menerima bila Mawar kebahagiaanku telah pergi, jadi aku memejamkan mataku dan berharap ini hanya sebuah mimpi, mimpi yang sangat buruk yang terjadi karena mungkin aku sangat kelelahan. Aku membuka mata, dan aku sedang terbaring di rumah sakit, Ibuku berada di hadapanku menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, tangannya menggengamku erat. Aku pun mulai menangis.

“Hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan nak,” Ibuku berkata sembari meneteskan air mata.
“Iya, aku mengerti bu. Aku bisa menerimanya,” jawabku yang aku sendiri tidak yakin dengan perkataanku. Beberapa hari kemudian aku memulai langkah berat menuju pemakaman Mia. Aku tidak menyangka dengan kepergiannya, sepuluh tahun bersama rasanya waktu yang sebentar, aku masih tidak merelakan kepergiannya. Aku sangat merindukannya, tiada lagi gairah hidup, ingin rasanya aku menyusulnya.

Ku tatap Ibu di sampingku dan terlintas di pikiranku bahwa masih ada orang-orang yang mencintaiku yang hidup di dunia ini. Mulai sekarang aku akan lebih mensyukuri orang-orang di sekitarku. Malam ini tidak seperti biasanya, sungguh aku hanya manusia biasa yang tak sanggup menahan derita kehilangan ini. Lalu aku berdoa kepada Tuhan sebelum tidurku, bahwa betapa berterima kasihnya diriku bila Engkau beri aku kesempatan untuk memeluknya lagi.

Keesokan paginya, aku langsung menerima panggilan tugas. Pengejaran orang yang diduga berhubungan dengan kasus kemarin. Aku bergegas berangkat dengan dipenuhi amarah bagai api yang berkobar. Sesampainya di sana aku melihat Joe duduk lemas memegang perutnya yang terus mengucurkan darah.
“Apa kau sudah memanggil bantuan?!” tanyaku.
“Sudah, kau bantu saja dua petugas di dalam. Aku baik-baik saja!” ujarnya. Aku langsung berlari menghampiri dua petugas yang sedang berdiri di depan pintu masuk gudang.

“Mereka berlima,” kata seorang petugas.
“Di dalam gelap, mereka bersenjata, sebaiknya kita menunggu bantuan!” tambah petugas lainnya.
“Tapi kita akan kehilangan mereka!” jawabku geram.

Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam gudang yang gelap tersebut. Pelan ku melangkah, semakin aku dalam melangkah “Dorrr!” suara tembakan terdengar, tapi aku tak goyah, aku melihat cahaya di ujung lorong dan menghampirinya dengan langkah perlahan. Ketika aku masuk, betapa terkejutnya aku melihat seorang wanita yang wajahnya bersinar, matanya menghangatkan hati, dan senyumnya membayarkan kerinduan. Aku mendekatinya dan memeluknya sembari berbisik di telinganya.

“Mia, aku sangat merindukanmu.”

Cerpen Karangan: Diaz Mahendra Sompie

Cerpen Mawar Kebahagiaan Yang Ku Rindukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Hermes

Oleh:
“Telah kupakai jubah kegelapan, dan telah kukubur nama kebaikan di dalam kerak bumi.” Wajah Arumi mengkerut heran ketika membaca tulisan ini yang ada dalam buku catatan harian kekasihnya, Hermes.

Tentang Sebuah Nama

Oleh:
Hujan selalu saja spesial, selalu dinanti. Tapi ini bukan tentang hujan, ini tentang sebuah nama. Sebuah nama yang selalu saja spesial, sebuah nama berhias sejuta kerinduan. Ini tentang sebuah

Dimana Letak Hatimu

Oleh:
Brugkk..! Kujatuhkan diriku di tempat tidur, diikuti dengan air mata yang dari tadi tidak mau berhenti. Galau rasanya kalau cuma dikasih harapan palsu sama orang yang kita sayang. PHP

Cinta Sejati

Oleh:
Aku terduduk melamun, menerawang jauh dan mengulang kembali kisah kebahagiaan ku disaat masih bersama dia. air mataku mulai berjatuhan. tak kuasa menahan kesedihan ini, perih rasanya. andai waktu bisa

My Brother My Lover (Part 1)

Oleh:
Kini semuanya menjadi sulit. Saat tanpa sengaja hati kami saling terpadu dan berpilin menjadi satu. Sebuah ikatan status yang membelenggu kami, membuat hubungan kami berlabuh pada satu jalan yaitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *