Melati Ku Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 23 December 2015

Kepulan asap ke luar dari mulut dan hidungku, hati ini terasa hampa sekarang, dan aku sekarang tak pedulikan keadaan fisikku saat ini. Ku cari tempat yang jauh dari keramaian dan hanya sedikit cahaya yang menerangi tempat itu. Tangan dekilku menyulutkan api pada ujung batang r*kok yang terakhir. Selama beberapa jam hanya berdiam diri di tempat ini, aku hanya melepaskan kepulan-kepulan asap dari mulutku. Aku tak mengerti mengapa memilih meneruskan hidup seperti ini. Ku jalani hari-hariku yang tak berarti ini dengan tembakau itu. Hanya karena kejadian itu, dan juga setelah kejadian itu.

“Sayang, antar aku ke kampus ya besok?”
“Iya sayang, besok aku antar kamu ke kampus.” Jawabku sambil tersenyum.

Esok hari, aku tak sadar bahwa matahari sudah muncul dari persembunyiannya. Ya Allah aku kesiangan. Aku langsung melompat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
“Tut, tut, tut, tut.”
“Halo, sayang sudah berangkat ke kampus ya? Maaf ya sayang aku kesiangan” Ucapku tergesa-gesa.
“Ya udah, cepat ke sini. Bentar lagi aku akan terlambat. Aku belum berangkat nih.”
“Oke, aku berangkat ke sana sayang.” Setelah aku bersiap-siap, ku hidupkan sepeda motorku dan melaju menuju tempat tujuanku.

“Maaf ya sayang, aku telat.” Ungkapku setelah menghampiri kekasihku yang sabar menunggu kedatanganku.
“Gak apa-apa kok. Ayo kita berangakt.” Aku pun melaju mengendarai sepeda motorku menuju kampus.
“Kamu kenapa sih, kok bisa kesiangan gini?” Tanyanya memecah deruan angin di perjalanan.
“Aku tadi malam bergadang. Biasa, nonton bola. Makanya bangun kesiangan.”
“Oh.. begitu.” Jawabnya sambil memperbaiki rambut panjangnya yang tertiup angin.
“Iya Shabyku sayang.” Jawabku dengan nada lembut.

Shaby, dialah orang yang berarti dalam hidupku. Aku tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan melati indahku ini. Karena bagiku, dia sempurna dan selalu memahami tentang keadaanku. Namun, aku sadar bahwa suatu saat melati itu pasti akan dipetik oleh orang lain.

Sampai di gerbang kampus, ku parkirkan sepeda motorku di pinggir sisi jalan. “Aku masuk duluan ya? Bentar doang kok cuma ngantar tugas aja. Sudah selesai aku langsung ke sini. Oke sayang?Gak apa-apa kan kamu menunggu di sini?” Ucapnya sambil menyentuh pipiku dengan tangannya yang lembut. Aku pun hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa. Selama beberapa jam aku menunggu, aku merasa sudah mulai bosan tapi tak mungkin harus meninggalkannya begitu saja. Sabar Ton, sabar. Tak lama kemudian Shaby pun muncul. Uh! lega rasanya hati ini melihat sosok melatiku akhirnya muncul di balik gerbang besi itu. Shaby datang menghampiriku dan mengajakku pergi jalan-jalan ke taman.

Sungguh bahagia hatiku di saat aku bersama Shaby. Menghabiskan waktu di taman bersamanya. Bersenda guran, tertawa ceria. Di situ ku lihat wajah manisnya yang dipenuhi dengan roman kebahagiaan dari dalam dirinya. Saat ini, aku hanya ingin selalu seperti ini. Tidak kekurangan suatu apapun dan akan terus seperti ini. Selau berada di samping Shaby, melati indahku. Keesokan harinya, aku kesiangan kembali. Tapi hari ini, aku memang tidak ada janji dengan Shaby. Jadi aku tak perlu terburu-buru untuk mandi dan berganti pakaian.

“Tut, tut, tut, tut” handphone-ku berbunyi. Ku lihat di layar kecil itu tertulis nama sayangku.
“Halo, ada apa sayang? Tumben nelepon sampai-sampai banyak panggilan tak terjawab dari kamu.”
“Tony, aku mau ketemu sama kamu di tempat biasa.” Kata Shaby dengan nada yang tidak biasa.
“Memangnya ada apa sayang? Kamu kangen ya sama aku?” Tanyaku tanpa pedulikan perubahan nada suara Shaby barusan.
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Cepat, datang ke sini. Aku gak bisa nunggu lama-lama.” Jawab Shaby dengan nada kasar.
“Oke sayang. Bentar lagi aku ke sana.”

Setelah bersiap-siap aku pun melaju dengan sepeda motorku menuju tempat Shaby. Ternyata selama dalam perjalanan, Shaby mencoba untuk menghubungi handphone-ku terus menerus. Namun aku tidak menggubris panggilan darinya. Di perjalanan aku melihat ada toko bunga, aku langsung berinisiatif untuk membeli bunga mawar khusus untuk Shaby. Setelah membeli bunga, aku pun melanjutkan perjalananku ke tempat Shaby. Setelah sampai aku berlari dari tempat parkir menuju tempat keberadaan Shaby. Ku percepat langkahku hingga tak sadar bajuku telah basah dibanjiri oleh keringatku. Tinggal beberapa meter lagi jarakku dengan tempat keberadaan Shaby. Aku melihat Shaby mulai beranjak dari tempat ia berdiri. Aku pun lebih mempercepat kembali langkahku.

“Shaby!” Tegurku sambil terengah-engah menarik napas yang masih berkejar-kejaran. Shaby pun berbalik dan melihat ke arahku. Shaby datang menghampiriku dengan langkah kaki yang gontai seakan ia tak ingin menghampiriku.

“Maaf ya sayang aku terlambat.” Ucapku tergopoh-gopoh.
“Gak apa-apa kok.” Jawab Shaby dan disusul dengan senyum yang pahit.
“Emangnya ada apa sih kok buru-buru gini ngajak ketemunya?”
“Aku mau ngomong sama kamu.”
“Mau ngomong apa Shabyku sayang. Bilang aja.”

“Aku mau minta putus. Aku mau mengakhiri hubungan kita.”
“Apa? Jangan bercanda deh sayang. Gak lucu tahu bercandanya.” Jawabku sambil tertawa.
“Tidak Ton, aku serius.” Jawab Shaby dengan wajah yang menunjukkan keseriusannya. Aku redakan tawaku, dan bibirku terunci sesaat. Aku bingung harus berkata apa.

“Aku tak bisa teruskan hubungan ini. Aku juga sudah dijodohkan orangtuaku dengan orang lain. Kamu tahu kan, orangtuaku gak suka kalau kita pacaran. Aku gak bisa melawan kehendak orangtuaku. Aku gak mau jadi anak durhaka.” Ucap Shaby dengan nada berat dan disusul dengan linangan air mata di pelupuk matanya.
“Tapi kamu sayang kan sama aku? Aku bisa kok merubah diriku. Aku akan cari pekerjaan yang tetap agar aku bisa diterima oleh orangtuamu. Jadi berikan aku kesempatan Shaby.” Ucapku sambil memelas memohon kesempatan dari Shaby.

“Maaf Ton, aku tak bisa berikan kamu kesempatan. Aku memang masih sayang sama kamu. Tapi pilihan orangtuaku menurutku baik untukku dan untuk masa depanku. Jadi ku mohon, lepaskan aku Ton. Relakan aku pergi dan biarkan aku jalani kehidupan baruku.”
“Baiklah, aku terima keputusanmu. Kita jalani kehidupan kita masing-masing. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihan orangtuamu.”Jawabku dengan pasrah.

Tangisan pun pecah setelah ucapan terakhirku itu. Tak terbayangkan olehku akan begini akhir ceritanya. Melepaskan orang yang selalu berada di sampingku bersama orang lain. Kakiku lemah tak sanggup menopang tubuhku yang begitu tersiksa dengan kejadian hari itu. Aku pun tak kuasa marah dengan keadaan ini. Sekarang aku hanya bisa pasrah dan merelakan segalanya terjadi.

Cerpen Karangan: Ervina Bungas Serelia
Facebook: Ervina Bungas Serelia

Cerpen Melati Ku Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan di Bulan Desember

Oleh:
‘Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam…’ — Sisi lembut menyerangku di saat aku sedang memikirkanmu. Cukup kusyukuri bahwa perasaan tak tegaku muncul terlambat. Jika sedari

Kamu dan Lorong Waktu Hujanku

Oleh:
Dengan langkah cepat kubelah tirai hujan yang cukup deras itu. Tak kupedulikan tentang pakaian yang basah kuyup ataupun isi tas yang kutahu sama basah kuyupnya, aku terus berlari. Entah

Kasih Sayangku Kasih Sayang Tuhan

Oleh:
Langit semakin menunjukkan warna keemasannya, dan burung-burung pun beterbangan kembali ke sarangnya masing-masing, angin lembut membelai helaian rambutku melalui jendela yang sengaja aku buka, mencoba menghilangkan bau obat-obatan dari

Menanti Karel

Oleh:
Weekend.. yeay! gak ada yang spesial juga sih buat gue, mau weekend, weekday sama aja. Sabtu ini bingung gue mau ngapain dan ke mana. Berhubung kemaren gue kesel sama

Kita dan Hujan

Oleh:
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku Hujan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *