Melawan Rasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Ketika takdir telah memainkan peranannya, kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Takdir telah tertulis sejak masih dalam kandungan seorang ibu. Takdir pula yang mempertemukanku dengan Hasan. Ketika aku bekerja di ibukota. Di sanalah kami bertemu, saling mengenal satu sama lain sampai ia meminangku pada suatu hari.

“Nek, aku telah menganggapmu seperti ibu kandungku sendiri. Bagaimana menurut Nenek tentang Hasan, temanku yang sering ke mari Nek?”
“Hm… Hasan ya, kenapa? Apa ia telah melamarmu Sumi?”
“Begitulah..”
“Apa engkau mencintainya?”
“Aku hanyalah gadis kampung, aku bahkan tidak mengerti apa itu cinta.”
“Cinta itu punya arti yang luas. Ketika engkau merasakan kenyamanan, ketenangan hingga rasa sedihmu hilang saat bersamanya. Itulah bagian dari rasa cinta itu sendiri. Bukankah engkau sudah lama melayaniku Sumi? Mungkin inilah waktunya untukmu berumah tangga.” Pernikahan pun dilangsungkan dengan sederhana beberapa bulan kemudian. Karena Hasan telah yatim piatu, hanya keluarga pamannya saja yang datang.

Menginjak tahun kedua pernikahan kami, demi mengubah nasib, ku relakan suamiku merantau di negeri orang. Dan ku putuskan untuk bekerja di rumah bibiku, sepanjang kepergiannya. Ku lalui hariku tanpa kehadirannya, hanya sepucuk suratlah sebagai pertanda kehadirannya. Bulan berikutnya ia pun menyelipkan beberapa lembar kertas uang dollar, sebagai nafkah untukku. Pada bulan ketiga, surat itu seakan menghilang, tak pernah sampai ke tanganku. Tapi ku tetap setia menunggu berharap kabar darinya walaupun hanya sepucuk surat.

Setahun berlalu, tetap tiada kabar apa pun darinya. Aku selalu berkilah memberikan puluhan alasan untuk meyakinkan kedua orangtuaku dan membenarkan semua penantianku. Tapi waktu selalu ada batasannya. Itulah yang membuat kedua orangtuaku mendatangiku dan membuat keputusan sepihak menerima pinangan seorang pemuda dengan alasan aku telah menjadi janda, jangankan nafkah, kabar pun tidak ada selama setahun. Tiada daya, hanya tertunduk lesu, tak sanggup berkata sepatah pun selain menyetujuinya. Walau dengan berat hati, ku tak sanggup lagi menganggung beban keluargaku menjadi bahan gunjingan para tetangga.

Setelah ijab qabul dilangsungkan, tiba-tiba berdirilah Hasan, mantan suamiku dengan muka memerah menahan marah, berdiri mematung dengan sorot mata tajam menyaksikanku bersanding dengan lelaki lain. Beruntunglah, ayahku berinisiatif segera membawa Hasan pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian aku pun menemuinya. Ku sapa dengan lembut, ada rindu yang menghimpit dada, tapi apa daya takdir telah berkata lain. Maka ku ceritakanlah apa yang telah terjadi dalam kebisuannya dengan berlinang air mata.

“Tahukah engkau, tiada bulan yang terlewat pun dari mengirimkan sepucuk surat dan nafkah untukmu. Walau tiada balasan, itulah sebabnya aku datang ke mari. Aku tak mengerti apa yang telah terjadi, kenapa surat itu tak sampai ke tanganmu. Engkau telah berkhianat, akan ku ikhlaskan kau bersamanya.”

Itulah ucapan terakhirnya yang mengalirkan air mataku dengan deras. Aku pun hanya bisa menatap kepergiannya dari jauh. “Berkhianat,” kata itulah yang telah menorehkan luka mendalam di hatiku. Andai kau tahu, aku selalu menantimu dengan setia tanpa ternoda sedikit pun, walau ku harus menahan rasa rindu.
“Mungkin, hanya sampai di sini jodoh kita, tanpa kau dan aku tahu ke mana semua surat itu menghilang.” Batinku menahan perih.

Cerpen Karangan: Dini Mardiani
Blog: www.sahabatdiaryqalbu.blogspot.com
Facebook: facebook.com/dmardiani

Cerpen Melawan Rasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


So Long

Oleh:
Ku lewati jalanan dengan langkah tertatih untuk menuju pulang ke rumah. Bulan-bulan dan para bintang yang terlihat menunduk sedih karena tertutup mendung. Hujan deras mengguyur seluruh tubuhku yang separuh

Aku dan Segala-Galanya di Hidupku

Oleh:
Perlahan aku berjalan menaiki jalan setapak menuju sebuah danau, bau tanah dari rintik hujan menemaniku menjelajahi petualangan tersebut.. Aku tersenyum melihat sesosok pria telah menungguku. Aku mempercepat langkahku, mencoba

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

Satu Februari

Oleh:
Gue adalah mahasiswi semester 3 jurusan pendidikan matematika di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Dara, itulah nama gue. Gue biasa di sapa dengan sebutan ara. Gue punya

Sunset in Love

Oleh:
Pagi yang cerah di kota sidney saat itu menemani Zidane dan Seika yang sedang sarapan di cafe dekat apartement mereka. Sarapan di luar sudah menjadi kegiatan rutin bagi kedua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *