Melupakan Sore, Jakarta dan Kenangannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 28 November 2017

Jadi dulu saat aku smp aku mempunyai teman wanita yang bernama sore. Sore itu senja, senja memberikan banyak makna bagiku. Singkat cerita aku jatuh cinta kepada sore dan berniat ingin menjadi teman hidupnya.

Saat pulang sekolah cuaca sangat mendung dan akhirnya hujan, disaat aku menaiki motorku dan memakai helm aku melihat sore sedang meneduh di halte depan sekolah dengan berlinangan air mata. Aku langsung mendatanginya.

“Ada apa sore.” aku bertanya ke sore
“Kamu siapa ya?” Sore bertanya kepadaku dengan wajah yang sedikit bingung.
“Aku galih aku di kelas 10 b.” aku menjawab sore dengan senyuman.
Aku pun memarkir motorku di sebelah halte dan duduk di sebelah sore.

“Jadi kamu kenapa di sini sore.” aku bertanya.
“Aku lagi nunggu hujan reda.”
“Kalo hujan udah reda kamu pulang naik apa?.” aku bertanya ke sore
“Jalan kaki.” sore menjawab dengan senyum.
“Boleh aku nganterin kamu sampe rumah, kebetulan aku ada motor.” aku bertanya ke sore dengan nada lembut.
“Beneran, rumahku jauh lo.” sore sedikit menantang dan ketawa.
“Memang sejauh apa sih?”
“Di kemang.” sore menjawab
“Itu si deket sore belum juga sampe bogor.” aku bercanda dengan sore.
“Emang kalo rumahku di bogor kamu mau nganterin aku.” sore sedikit mendorongku.
“Ya paling pulang aku ngesot si motorku mogok tengah jalan.”

Kita berdua tertawa dan akhirnya sore mau diantar olehku. Di jalan dia banyak bercerita tentang kepribadiannya yang unik sehingga membuat kita sering tertawa bersama.

Sampai di rumah dia, dia resmi menganggapku sebagai sahabat, walau terkadang sore suka menyendiri di suatu tempat aku tetap menganggapnya sebagai periang yang sangat langka di bumi ini dan sekali lagi, aku merasa beruntung mempunyai sahabat sepertimu sore.

Sampai suatu hari dimana aku dan sore harus berpisah karena lulus dan sore lebih memilih kuliah di inggris. Jujur disaat itu aku sempat kecewa tetapi mau bagimana lagi, toh nanti juga kita pasti bertemu lagi.

Niatku untuk jujur kepadanya kalau aku mencintainya mungkin adalah hal yang terbaik untuk dilakukan sebelum kita berpisah.

“Sore.” aku memanggilnya saat semua orang sudah pergi dari ruang ganti pakaian dan menuju pulang.
“Boleh aku bicara sebentar.” lalu langsung menyuruh sore duduk.
“Mau bicara apa galih.” sambil mencubit pipiku yang katanya menggemaskan.
“Aku I.. Ingin ju.. Jujur kepadamu.” aku berkeringat dan bergetar.
Sore langsung menatapku tajam dan matanya berlinangan air mata.

“Aku… Sudah mengetahuinya galih.”
Sore menangis dan memelukku.
“Kamu cinta padaku?” sore melihatku dengan berlinang air mata.
“Ya itu benar.”
“Aku tak bisa galih tak bisa.” sore menangis kencang.
“Aku hanya ingin jujur sore tak lebih dari itu.”
“Aku juga sebenarnya cinta kamu galih, tapi harapan itu tak akan pernah tercapai galih.” sore melihatku lalu menunduk.
Aku langsung merenung dan mulutku hanya bisa berkata “Mengapa?.”

“Ingat saat aku menangis di halte depan sekolah galih?, saat itu aku baru mendapat berita dari ibuku kalau aku menderita penyakit ganas yang akan membunuhku perlahan galih, namun saat aku bersedih kamulah yang datang, seakan kamu menghapus airmataku, menghiburku sampai aku merasa lupa dengan penyakitku, itu kamu galih, pahlawanku.” sore langsung berlari dan memelukku.

Aku diserang dari berbagai macam arah, terkejut, sedih dan juga kecewa. Jadi selama ini malaikatku, senjaku, soreku.. Dalam derita.

Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk berpisah, sore harus berangkat ke inggris, bukan untuk kuliah tetapi untuk berlibur, mungkin untuk terakhir kali dalam hidupnya.

Disaat aku menulis ini kemarin aku mendapat kabar kalau sore telah tiada, sampai aku menulis cerpen ini aku masih berlinangan air mata bila mengenang sore. Rencananya sore akan dikubur di sana di daerah newcastle. Sungguh gaji pertamaku bekerja kuhabiskan untuk membeli tiket single ke inggris. Disaat seminggu sebelum keberangkatan ibuku menawarkan liburan selama sebulan di inggris, jujur aku terkejut tetapi ibuku bilang kehilangan cinta pertama itu menyakitkan tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan cinta pertama dengan cerita yang kamu alami.

Aku pun menerima tawaran dari ibuku dan segera mempersiapkan diri. Sampai di bandara aku berpamitan dengan orangtuaku dan masuk ke boarding room. Disaat menunggu aku lebih memilih merenung apa yang sudah kulalui bersama sore, perjalanan hidup yang tak akan pernah kualami lagi, sebuah cerita cinta bagai galih dan ratna, dan harus berakhir kurang bahagia. Namun ku bisa ambil hikmah dari semua ini.

Nikmatilah momen yang ada
Resapilah suasananya
Jikalau sudah tiada
Akan menjadi kenangan berharga

Sesampainya di newcastle aku menyewa apartemen dan berkunjung ke kedai kopi saat tengah malam. Aku lebih bisa menikmati enaknya kopi di malam hari, lebih bisa merasa angin malam yang dicampur kopi hangat, dulu biasanya disambi dengan merok*k, lagi-lagi karena sore aku bisa menghentikan kebiasaan itu.

Lalu paginya aku membeli bunga dan menuju pemakaman sore. Di pemakaman aku bisa melihat namanya. Sore cantika senja. Nama yang membuatku teringat sampai sekarang.

Halo sore, apa kabarmu di sana
Semoga kamu senang ya
Aku kangen kamu nih sore
Kamu balik sebentar aja boleh gak
Aku pengen peluk kamu
Aku ingin cium kamu
Aku gak lepas lagi deh
Semoga kamu bahagia ya di sana
Aku di sini selalu mendoakanmu

Aku pun pergi dari pemakaman dan kembali ke apartemen. Kembali untuk menikmati sebentar suasananya. Melupakan sore, jakarta dan kenangannya.

Cerpen Karangan: Muhammad Raihan Renara
Facebook: Raihan Renara
halo semoga kamu suka cerpen saya ya dan maaf jika ada kesalahan tanda baca aku masih agak newbie wkwkwk

Cerpen Melupakan Sore, Jakarta dan Kenangannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Long Distance Relationship

Oleh:
Pagi itu aku benar-benar dikagetkan dengan nada dering spongebob ponselku. Itu alarmku yang telah aku setel ulang setelah subuh. Aku lirik jendelaku matahari menunjukkan sudut teriknya menyinariku. Tak terasa

Aku Benci Bulan

Oleh:
Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan

Hati yang Terluka

Oleh:
“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun.

Thank You For All

Oleh:
Ia menghela napas. Lagi-lagi Ia melihat ke ruangan yang tepat ada di hadapannya itu. Sudah beberapa menit Ia menunggu seseorang yang keluar dari ruangan itu. Namun sampai saat ini,

Pergi Untuk Selamanya

Oleh:
Tahun baru 2017, Jakarta Di sebuah rumah terlihat seorang cowok yang masih terlelap dalam tidurnya, sesaat kemudian dia dikejutkan dengan suara hpnya “Duh siapa sih pagi-pagi buta gini udah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *