Membuang Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 February 2021

Bisakah aku memohon kepada Tuhan agar kita bisa bersama?
Bisakah kita menjalani cinta ini tanpa adanya sebuah penghalang?
Bisakah kata ‘seandainya’ yang kini kita dambakan terwujud?
Tapi inilah takdir,
Sebuah alur cerita yang telah dirangkai rapih oleh sang maha kuasa. Yang hanya tinggal menjalani dan menerima apa yang telah digariskan. Termasuk jodoh.

Setiap menit yang berlalu seakan menekan dada yang sudah rapuh tertimbun beribu-ribu perasaan yang menyesakkan.
Setiap hembusan angin yang melewatinya malah seakan mengambil seluruh oksigen yang ada sampai ke paru-paru.

Tubuh itu terduduk gemetaran dengan penuh antisipasi, ia harus mengakhirinya sekarang sebelum dia sendiri yang tenggelam di bawah jurang yang ia buat dan perasaan yang menggila yang akan mengambil alih seluruh akal sehatnya.

Hari sudah mulai senja, tapi perempuan itu enggan untuk meninggalkan tempatnya. Menunggu, untuk mengakhiri. Menunggu, untuk membuat luka akhir yang akan lebih lebar lagi. Menunggu, untuk membuat sinar baru untuk kedepannya.

Perempuan itu menggigit bibir bawahnya, keringat dingin mengalir di dahi, ini adalah hal terakhir yang diinginkannya, ini keputusannya dan ini adalah penyelesaian atas masalah yang ia buat sendiri.

Penyesalan tidak ada gunanya untuk saat ini. Terlambat jatuh cinta, ya… mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan saat ini. Kesalahan yang begitu fatal karena telah mencintai saudara laki-laki —dari suaminya, Reza yang sudah sah sejak kemarin— saat menjelang hari pernikahannya.

Caranya tertawa, setiap tingkah lakunya telah membuat Selly jatuh cinta dan rupanya sang lelaki pun merasakan hal yang sama, tapi terlambat bagi mereka berdua untuk menjalaninya. Seandainya Selly telah lebih dulu menemukan Aldi, mungkin sekarang Aldi lah yang menjadi suaminya. Tapi takdir sudah menggariskan yang lain.
Dia harus mengakhiri perasaan terlarang mereka berdua.

“Selly…”
Panggilan itu menyentakkannya dari lamunannya, ketika matanya beradu pandang dengan mata Aldi tiba-tiba tidak bisa menahan rasa perih yang masih menekan di hatinya. Selly melihat mata itu penuh dengan sorot luka, sama sepertinya. Tapi sekarang sudah bukan waktunya untuk bersedih-sedih lagi, dia harus tegar kali ini.

“Hai Aldi, apa kabar? Kemarin aku tidak melihatmu datang ke acara pernikahanku, kenapa?” Selly mencoba berbasa-basi untuk sedikit memecahkan rasa canggung yang besar ini, dia menampilkan senyum tegarnya untuk menutupi perasaan sebenarnya, perasaan rindu yang meluap.

Aldi masih menatap mata Selly dalam, dia sangat merindukan gadis ini, ingin rasanya dia memeluk Selly tapi segera ia membuang pandangannya kearah lain. Ia tidak sanggup melihat Selly.
“Kau tahu bagaimana keadaanku, kemarin aku tidak datang takut akan merusak hari bahagiamu,” katanya dengan pandangan lurus kearah kolam yang ada di taman itu.

Selly yang melihat Aldy enggan menatapnya, lekas menarik lengan pria itu agar duduk di sampingnya. Perempuan itu menghela napas. “Disini bukan kau saja yang merasakan sakitnya, tapi kita berdua. Kau tahu perasaanku yang sebenarnya, aku mencintaimu. Sangat. Tapi aku sudah menikah sekarang, perasaan ini terlarang. Kuharap kau mengerti…”

“Kalau begitu kau ikut aku saja! Kita kawin lari!” Aldi segera memotong perkataan Selly, mendengar hal itu membuat Selly membelalakkan matanya tidak menyangka.
“Apa kau sudah gila? Kau pikir aku wanita apa? Aku memang mencintaimu, tapi akal-ku masih waras dan aku mempunyai harga diri. Itu sama saja kau merendahkan aku!” Selly marah, dia benar-benar marah, selain karena itu menjatuhkan harga dirinya, dia tidak menyangka bahwa Aldi memiliki pikiran sekonyol itu.

Aldi yang mengetahui bahwa Selly marah karena ucapannya segera mengelak. “Maafkan aku, bukan itu maksudku… aku hampir gila bahwa aku terlambat untukmu dan kau yang menikah dengan saudaraku. Kau tahu, akan sangat sulit melepaskanmu, bahkan tidak bisa… aku… aku sangat mencintaimu, Selly.” Sebulir air mata mengalir di pipinya. Melihat itu hati Selly semakin teriris. Sangat perih. Pertahanannya hampir runtuh, dinding ini akan hancur sama seperti hatinya, tapi Selly mengulas senyum menenangkan dan berkata,
“Kau tahu Aldy, sejak aku mengenalmu, dekat denganmu, dan kemudian jatuh cinta kepadamu kata ‘seandainya’ yang dulu tidak pernah aku bayangkan kini aku mengharapkannya.”

Ia menghela napas sesak, “Sendainya aku menemukanmu lebih dulu. Seandainya kamu yang mengisi hatiku yang pertama. Seandainya aku belum terlambat. Seandainya kamulah sosok yang pertamakali aku tatap kala aku menutup dan membuka mata, seandainya dan seandainya. Tapi kata ‘seandainya’ sudah tidak berlaku lagi Aldy, kita sudah punya jalan yang berbeda yang telah ditetapkan Tuhan. Kita… harus mengakhirinya.” Selly menangkup wajah basah Aldy karna air mata dengan sebelah tangannya, ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata dari pipi lelaki itu dan ia membiarkan air matanya sendiri berjatuhan, biarlah hari ini menjadi air mata terakhirnya.

Selly memandangi Aldy lekat merekam seluruh wajahnya untuk terakhir kalinya dan ia sedikit memajukan dirinya dan mengecup kening Aldy lembut. Biarkan ini semua menjadi yang terakhir. “Selamat tinggal, sayang.”

Selly mendirikan tubuhnya dan mulai melangkah, tapi baru beberapa langkah ia berbalik dengan sebelah tangan mendekap dada dan membuat gerakan seolah-olah mengambil hatinya dari dalam tubuhnya dan membuangnya ke tanah. Hatinya untuk Aldy. Selly lalu berbalik lagi dan mulai melangkah menjauh dari taman itu, dengan air mata berurai dan menahan isakan.

Akhirnya semua berakhir.

Cerpen Karangan: Trianaura
Blog / Facebook: Trianaura

Cerpen Membuang Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Tidak Mungkin Kembali

Oleh:
Tuhan, jika aku hanya berkhayal bahwa seseorang yang sangat aku sayangi terlahir kembali, dalam sosok orang dengan nama yang hampir mirip, tolong bangun dan sadarkan aku Tuhan. Aku harus

He or Him?

Oleh:
Entah mengapa, saat kutatap lekat-lekat kedua bola mata coklat pria itu rasanya ada perasaan aneh yang menyelimuti perasaanku. Jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya dan mukaku tak henti-hentinya memancarkan

Luka

Oleh:
Menatap langit-langit atap kamarku membayangkan semua peristiwa yang terjadi, kenangan yang kau tinggalkan dan luka yang kau goreskan dalam hatiku. Masih sampai terasa perih sampai detik ini. Flashback. 19

Penyesalan Ku

Oleh:
Nama ku indah, aku sekarang duduk di kelas VIII l di smp negeri 01 kauman tulungagung. Aku pernah beberapa kali menjalin hubungan alias pacaran sama teman satu sekolah. Dan

Sebuah Kalimat Untukmu

Oleh:
Aku menyukaimu. Walau kau tak pernah tau… Dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Tak pernah ada keberanian pada diri ini untuk mengatakannya. Seperti saat ini. Aku kembali menaruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *