Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Dia yang menemaniku, menungguku bangun selama 100 hari. Dia yang setiap harinya merekam 99 catatan suara dengan mesin pendeteksi jantung sebagai backsound dari catatan suaranya. Gadis itu kini yang aku rindukan. Gadis yang meninggalkanku selama tiga bulan ini dan seterusnya. Dia adalah kekasihku. Gadisku yang selalu mendukungku, suka duka bersamaku. Gadis yang aku kagumi setelah ibuku. Gadisku yang cerewet. Menasihatiku saat aku salah. Membantuku berdiri saat aku terjatuh. Mengajakku untuk berjalan-jalan di taman. Memintaku untuk menemaninya ke toko buku dan toko bunga.

Menemaniku saat mengerjakan tugas. Malu-malu saat aku ajak ke rumah bertemu dengan ibu. Makan es krim berdua di taman. Bersepeda setiap pagi dan sore saat hari libur. Bermain di bukit. Dan semua kenangan dengannya. Tapi kejadian tiga bulan lalu itu membuat ku frustasi karena kehilangannya dan belum hilang dari pikiranku, seakan akan terus mengajakku untuk bermain dengannya pada masa lalu. Andai saja saat itu aku yang meninggal atau kami berdua mati bersama. Bahagia berdua di sana. Tapi takdir berkata lain, Tuhan menyayanginya, Tuhan tidak mau dia tersakiti lagi, jadi Tuhan mengambilnya lebih dulu daripada aku. Aku benar-benar merindukan gadis pemilik suara lembut dan senyum yang indah.

Aku kembali pada tempat ini, pemakaman kekasihku. Aku berjongkok lalu meletakkan sebuket mawar merah favoritnya, menggenggam nisannya yang agak berdiri tegak itu dan membacakan doa untuknya.

“Hai kau apa kabar? Kau bahagia di sana?” tanyaku. “Masih ingatkah kau dengan semua kenangan kita? Apa kau di sana masih memantauku dengan mengoceh panjang lebar? Apa kau tahu kalau sekarang aku belajar menghargai waktuku seperti yang pernah kau katakan padaku saat itu?” tanyaku lagi.

Hanya semilir angin yang menjawab semua pertanyaanku, yang aku rasakan saat ini, dia ada di sekitarku. Lalu aku mengambil ponselnya yang masih aku simpan sampai ini, aku membuka berkas berisi 99 catatan suaranya dan 2 videonya. Aku menekan tombol play pada voice notenya yang pertama, lalu rekaman itu berputar. “Selamat pagi, ini catatan suaraku yang pertama untukmu. Aku berjanji akan selalu merekam semua ceritaku pada catatan suara ini sampai kau siuman dari komamu itu.” suara lembut itu kini ku dengar lagi di sini. Aku merindukan suara lembutnya itu. Lalu, aku menekan tombol play pada voice notenya yang ke-95.

“Selamat sore. Kau masih belum bangun juga sampai sekarang. Apa kamu masih ingat dengan tanggal berapa, bulan apa, hari apa sekarang? Ini adalah hari anniversary kita yang kesatu tahun lima bulan. Selamat untuk kita berdua, semoga hubungan ini tetap langgeng.” Aku mengingatnya itu, tanggal 2 bulan Juni 2015. Ya, tepat saat kita anniv dan aku masih dalam keadaan koma. Aku kembali memutar catatan suaranya yang ke-98. Hari dimana aku harus melakukan perayaan ulang tahunku yang ke-17 bersama keluarga dan dengannya. Padahal saat itu aku berniat untuk mengajak keluarganya juga.

“Selamat malam, hari ini aku datang telat ya? Tidak apa-apa kan? Aku ingin mengucapkan Happy sweet seventeen! Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, wish you all the best and God bless you! Kau tahu? Tadi keluargamu merayakan ulang tahunmu di sini, tapi kau masih betah dengan tidur panjangmu itu. Akh hanya memberikan sebuket mawar putih yang hampir tiap aku berikan kepadamu, tidak apa kan?” kali ini, suara gadis itu terdengar lirih, berbeda dengan catatan suaranya yang lain. Aku memutar catatan suaranya yang ke-99. Tempat di mana ia ulang tahun tepat setelahku.

“Selamat pagi! Aku bahagia saat ini, sangat bahagia walaupun sekarang kau tidak ikut merayakan ulang tahunku yang ketujuh belas tepat setelahmu kemarin, tapi aku mengerti dengan kondisimu sekarang, semoga kamu bisa ikut merayakan ulang tahunku di tahun depan ya? Aku merindukanmu.” Ah, aku menyesal tidak ikut merayakan anniv kita, ulang tahunku, dan ulang tahunnya. Itu salahku. Aku menghela napas, lalu tersenyum. “Aku pulang, minggu depan aku akan ke sini lagi, aku merindukanmu.” pamitku dan mendorong tubuhku untuk pergi dari sini.

“Lihatlah! Luka di wajahmu semakin banyak, memangnya kau tidak bosan dengan tawuran tidak jelas itu?”
“Duduklah, aku yang akan bersihkan luka-lukamu,”
“Kapan kau mau mengajakku jalan ke taman dan memakan es krim lagi?”
“Hati-hati, jangan ceroboh, kalau itu terjadi lagi lebih parah itu akan fatal.”
“Mau menemaniku ke toko buku lagi? Ada novel-novel terbaru di sana.”

“Kau sudah makan siang? Kalau belum ayo kita makan, jangan sampai perutmu itu kosong.”
Aku tertawa sumbang, “Apa di sana kau masih marah padaku saat aku melakukan tawuran lagi?”
Aku mengingat rentetan kalimat yang ia lontarkan untukku, dari membentak, menasihati, mengajakku untuk menghabiskan waktu dengannya, dan lainnya yang masih tergambar jelas di otakku. Yang kini sudah tidak pernah lagi aku dengar langsung dari mulutnya untukku, bukan sekedar bayangan yang hanya lewat sementara kemudian pergi lagi. “Ver aku merindukanmu.” kataku padanya seperti mengadu.

Aku duduk di bawah pohon rindang yang ada di tengah bukit tempatku bermain dengannya. Dia yang suka tidur terlentang dengan kedua tangannya yang ia jadikan sebagai bantal, kedua bola matanya yang menatap lurus ke atas melihat awan dan langit yang membuatnya berkhayal. Dia yang tiba-tiba memelukku dengan manjanya dari belakang. Dan senyumnya yang terus ia tujukan untukku dan semua orang. Aku melakukan hal yang sama dengannya, tidur terlentang dengan melihat ke awan dan langit yang tersenyum ke arahku, seperti senyumannya.

“Awan itu putih seperti kapas, langit itu berwarna biru cerah. Tapi semua itu akan menjadi abu-abu saat mendung datang dan air hujan turun, menetaskan semua perasaannya. Seperti semua orang, mereka yang tersenyum akan menangis juga seperti hujan.”
“Aku ingin menjadi hujan, dia terus terjatuh walaupun sakit. Aku juga ingin menjadi matahari, dia sendiri tapi masih memancarkan sinarnya. Dan aku ingin seperti bintang, walaupun terlihat kecil tapi ia bisa memancarkan sinarnya yang berwarna-warni itu.”

Ah aku masih ingat dengan kalimat itu. Aku tersenyum dan memejamkan mata merasakan angin sore di sini membuatku nyaman. Aku membuka mata saat ada benda tipis jatuh di dahiku lalu aku meniup daun kering yang jatuh di dahiku. Tapi daun kering itu tidak bergerak tidak ingin berpindah dari dahiku. Aku mengambilnya dan meletakkannya bersama dengan daun-daun keringnya. “Hai, masih suka ke sini sendirian?” suara itu kembali setelah tiga hari aku tidak mendengarnya. Aku menoleh dan mendapati dirinya yang melakukan hal sama denganku. “Iya.” balasku singkat.

“Kenapa? Masih belum bisa melupakannya?” tanyanya lagi yang sering ia lontarkan untuk ku saat aku datang ke bukit.
“Seperti yang kau lihat sekarang. Aku masih suka melakukan hal sering ia lakukan dulu, mengingat ucapannya dulu, dan semua tentangnya,”
“Kau bisa melihat ke depan, ada seseorang yang menunggumu. Lihatlah dia, jangan terus melihat ke belakang,” aku tahu siapa yang dia maksud.
“Dan dia yang menungguku adalah kamu. Aku tahu itu Bel, tapi aku belum bisa menemukan seperti dia. Aku belum bisa menggantikan posisinya. Aku harap kau tahu maksudku,”
“Ya aku tahu itu.” balasnya. Aku tidak menggubris yang ada malah terus menyambung tidak selesai.

Hari-hari yang aku lewati sekarang, besok, dan seterusnya akan sama. Sama karena tanpa kehadirannya. Oh aku merindukannya Tuhan. Aku katakan lagi bahwa aku sangat merindukannya, merindukan semua hal yang ia lakukan. Susah untuk melupakan gadis yang aku sayang itu. Tidak ada pengganti pemilik senyum manis dan suara lembut seperti dia. Kalian tahu? Kamarku penuh dengan fotonya yang sengaja aku pajang di dalam kamar, barang-barangnya yang masih aku simpan di dalam lemari khusus. Aku katakan lagi. Aku merindukannya. Dia adalah milikku dan aku adalah miliknya. Semuanya tercatat dalam buku memories ini. Semua tentang gadisku. Savera Putri Anggara. Perpisahan yang mengerikan dalam hidupku adalah kematian, kita tidak bisa bertemu lagi dengannya karena jarak yang sangat jauh dan berbeda alam. Tapi yakinlah semua kenangan itu sudah tertulis pada lembaran buku memoriesku -Fadli Putra Ryansah.

Cerpen Karangan: Nabilaaff
Facebook: Nabila Afief

Cerpen Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When You’re Gone

Oleh:
Lantunan Musik sedari tadi terdengar mengiringi air mataku yang sedari tadi menetes secara perlahan, dan akhirnya keluar dengan derasnya seperti hujan. Kurebahkan tubuhku keranjang empuk sembari mendengarkan penghayatan yang

Gadis

Oleh:
“telah kugenapkan hari dengan menyisir sepi disini masih saja kubingkai bulan untukmu” Jemari tangannya masih saja memetik mahkota bunga mawar dari kelopaknya, disampingnya ada toples kecil berisi kertas kecil

Malaikat Tak Bersayap

Oleh:
Ketika kau datang dengan membawa beribu warna, dan pergi meninggalkanku dengan jutaan luka. Sore itu, langit sudah mulai gelap. Tapi, seorang gadis berambut hitam legam tersebut masih duduk dengan

Aku Atau Sahabaku

Oleh:
Kadang kita sering terbengkalai atau termenung mendengar kata CINTA, Apa itu Cinta?, mungkin semua orang mengetahui apa arti Cinta. Cinta memang harus dimiliki oleh semua makhluk tuhan di dunia,

Maafkan Aku (Part 2)

Oleh:
Dan kini, tepat satu minggu sejak aku mengerjakan cerpenku. Malam ini adalah malam minggu, saat yang tepat bagiku untuk melanjutkan cerita pendek tentang kisah seorang jomblo tersebut. Belum terlalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *