Mengertilah Cinta Lebih Cepat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 November 2015

Hampir 3 jam sudah Sina duduk di bangku taman yang sedikit basah oleh rintik hujan, Sina tak kunjung pergi meninggalkan bangku taman tersebut untuk sekedar mencari tempat teduh. Sina tetap duduk diam menunggu sosok yang sedari tadi ditunggunya. Reka sama sekali belum nampak dalam pandangan Sina, walau rambut dan baju Sina kini hampir basah karena rintik hujan yang membasahinya namun, Sina sama sekali tak meninggalkan tempat itu. Reka adalah napas untuk Sina, sahabat dan teman satu-satunya untuk Sina.

Sina tak pandai untuk bergaul, Sina anak yang terlalu pasif dan lebih memilih untuk menyendiri dibanding berbaur dengan teman lainnya. Dulu Sina adalah anak yang sangat ceria namun setelah konflik perceraian orangtuanya, Sina yang ceria berubah menjadi Sina yang sangat diam bahkan sangat pendiam dan Rekalah yang selalu menemaninya di tengah konflik perceraian orangtuanya, hanya saat dengan Reka senyuman Sina terpancar maka dari itu Reka dianggap napas untuknya.

Kini hampir setengah hari Sina menunggu namun Reka tak kunjung datang, Reka memang meminta Sina untuk menunggunya di taman kota. Sina pun tak mengerti untuk apa Reka menyuruhnya menunggu, Sina yang tak banyak bicara hanya mengiyakan ajakan Reka. Jam demi jam berlalu hingga langit malam hadir Reka pun tak kunjung datang, Sina masih terduduk di bangku taman dengan baju dan rambut yang hampir kering tersapu angin. Suara getaran ponselnya mengagetkannya, membuatnya merogoh-rogoh ponsel di tasnya. Di layar ponselnya tertulis nama Reka memanggil, dengan senyum penuh harapan dan dengan cepat Sina memencet tombol hijau ponselnya.

“halo Kak… kamu ke mana aja? katanya nyuruh aku nunggu di taman” tanya Sina dari ponsel.
“mending Sina pulang aja yaa”
Suara wanita yang menjawab, dan suara wanita yang cukup tak asing untuk Sina.
“loh kok Tante, Rekanya mana tan?”

Belum sempat Sina mendengar jawaban dari pertanyaan keduaanya, tiba-tiba telepon terputus lalu Sina mencoba menghubungi nomor Reka kembali namun hasilnya nihil nomor Reka tidak aktif. Wajah Sina sangat pucat, kepalanya sedikit pusing. Dengan perlahan Sina melangkahkan kakinya berniat menuju rumah Reka. Namun baru beberapa langkah berjalan tubuh Sina tumbang, gadis itu pingsan lalu ramai orang berbondong-bondong menolong Sina. Secepatnya orang yang menemukan ponsel Sina langsung menhubungi keluarga Sina, tak lama Ibu Sina datang dan membawa Sina pulang.

Dua jam Sina pingsan, perlahan Sina membuka matanya dan terlihat Mama, Papa, dan Neneknya berada di sampingnya kecuali Reka.
“ma, Reka mana?” tanya Sina pada Mamanya.
“emm, sudah gak usah mikirin Reka dulu. Sina sehatin diri dulu yaa, Sina mau makan apa sayang?”
Perlahan dengan elusan lembut Mamanya mengelus rambut anaknya yang terbaring lemah di tempat tidur.
“Sina gak mau makan ma”
“ya sudah kamu istirahat lagi yaa sayang”
Orang-orang di samping Sina pun meninggalkan Sina di kamar.

Hari demi hari berlalu, hampir seminggu Sina sakit namun tanda-tanda kehadiran Reka sama sekali tak nampak. Dan kini Sina yang sudah kembali sehat, dengan sepeda motornya Sina melaju menuju rumah Reka. Terlihat rumah dengan cat dinding putih itu sangat sunyi. Sina memarkirkan motornya lalu perlahan mengetok pintu rumah Reka tersebut. Terlihat ibu paruh baya membukakan pintu untuk Sina.
“Tante Rek nya mana?” tanya Sina dengan antusias pada Mama Reka.
“eh Sina, masuk dulu ada yang harus Tante bicarakan sama kamu”

Kini Sina dan Ibu Reka sudah berada di dalam rumah dengan sofa ukiran kayu yang sangat elegan dan suasana rumah yang sangat sepi. Mama Reka kini duduk tepat di samping Sina dan mulai berbicara.
“Sina, sebenarnya 1 minggu yang lalu Reka pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study-nya. Dan 1 minggu yang lalu juga dia mengajak kamu bertemu untuk berbicara tentang ini, tapi dia bilang sama Tante kalau dia gak sanggup buat ketemu kamu, dia gak mau kamu sedih jadi dia menyuruh Tante menelepon kamu waktu itu untuk menyuruhmu pulang. Tante gak bisa berbicara banyak sama kamu waktu itu karena akan mengantar Reka ke bandara. Maafkan tante Sina kalau baru sekarang Tante menceritakannya sama kamu”

Sina hanya diam membisu, jantungnya seperti berhenti berdetak. Napasnya pergi, Reka pergi meninggalkannya. Tanpa aba-aba air mata Sina menetes membasahi pipinya, lalu dengan lembut Mama Reka memeluknya dan mengelus lembut rambut Sina.
“Sina sabar yaa, Reka pasti kembali kok. Oh iya tunggu sebentar Reka ada menitipkan sesuatu pada Tante”
Ibu Reka berlalu meninggalkan Sina menuju kamarnya dan kembali datang dengam secarcik kertas di tangannya.
“ini dari Reka buat kamu”

Perlahan Sina membuka lipatan demi lipatan kertas di tangannya, dan dengan menghela napasnya perlahan Sina membaca kertas tersebut.

“Sina sahabatku, mungkin ini terlalu mengejutkan buatmu. Bahwa aku akan melanjutkan study-ku di L.A, bukan maksudku untuk meninggalkanmu tapi aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku menjadi dokter bedah. Semoga kamu mengerti tentang keputusanku, aku pasti akan kembali untukmu Sina, tetap tersenyum walau tak ada lagi aku menemanimu. Ku mohon tersenyumlah untuk orang lain, 3 tahun lagi aku pasti kembali untuk kamu. Jemput aku di bandara yaa 3 tahun lagi setelah ku e-mail. Semoga kamu tak melupakanku.
Reka.”
Sina hanya diam membisu setelah membaca surat dari Reka, 3 tahun bukan waktu yang sebentar untuk Sina yang tak mempunyai teman selain Reka.

Hari-hari Sina benar-benar berubah drastis, dia hanya sedih dan sedih. Sina sudah mencoba untuk terus tersenyum namun bayangan Reka membuat air matanya kembali menetes.
Reka memang selalu mengirimkan E-mail untuknya walau hanya 1 minggu sekali, karena kesibukan kuliahnya di L.A namun kehadiran Rekalah yang dibutuhkan oleh Sina. Hanya air mata yang selalu mengisi hari-harinya tanpa Reka.

Tiga tahun berlalu, dengan cepat Sina membuka Email-nya untuk mengecek apa Reka mengirim Email untuknya. hampir 1 bulan Sina hanya berkutat di depan laptop nya memastikan apa ada Email yang masuk untuknya. Dan tiba-tiba ada inbox di E-mailnya dengan cepat Sina membukanya dan betul saja E-mail tersebut dari Reka.
“Sina, jemput aku yaa di bandara. Aku bakal ke indonesia kemungkinan pesawatku nyampe besok jam 8 pagi Oke. Miss you Sina”
“oke Reka, aku pasti bakal jemput kamu. Miss you too Reka”
Senyum Sina kini kembali lagi setelah membaca Email dari Reka, Sina sudah tak sabar menantikan besok.

Keesokan harinya pukul 06:00 Sina sudah berdandan sangat rapi. Dengan sepeda motornya Sina melaju menuju bandara, pukul 06:30 Sina sudah tiba di bandara dengan senyum sumringah menanti kedatangan napasnya, Reka. Kini jam sudah menunjukkan pukul 10:00 namun pesawat Reka belum juga tiba, dari TV yang berada di bandara Sina melihat pesawat dari L.A menuju indonesia jatuh dan diberitakan tak ada yang selamat dalam kecelakaan tersebut dan para tim pencari masih mencari jasad-jasad korban.

Air mata Sina tak terbendung lagi, Sina menangis sejadi-jadinya. Namun ia tak mampu berkata apa-apa bibirnya membeku, hanya menangis yang dapat dilakukannya. Dua hari setelah kejadian itu, Reka tiba. Tiba hanya dengan jasadnya, Reka meninggal karena kecelakaan pesawat tersebut. Ibu dan Ayah Reka menangis sejadi-jadinya melihat Reka kini terbalut kain kafan, dan tak kalah Sina yang menangis tanpa henti dan benar saja Reka kini kembali untuknya namun kini hanya berupa jasad. Dan di depan makam Reka, Sina berjanji untuk terus tersenyum pada semua orang, dan baru disadarinya bahwa arti Reka sebagai napasnya bukan hanya sebagai sahabat tapi lebih dari itu, kini Sina mengerti bahwa cinta dimengerti setelah cinta itu telah tiada.

Cerpen Karangan: Atika Pancasari
Facebook: www.facebook.com/toc.wijay

Cerpen Mengertilah Cinta Lebih Cepat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Rasa (Just a Story)

Oleh:
Desember hampir berakhir. Tapi hujan masih sangat betah untuk membasahi muka bumi. Rintik air yang jatuh, membuat tanah basah. Menjadikan suasana sangat teduh. “Ini untukmu”. Di atas pembaringan, seorang

Tepat di Depan Mata

Oleh:
Langit pagi ini sedikit mendung. Sinar mentari yang biasanya hangat, kini sedikit dingin tertutup oleh awan yang berwarna abu-abu. Kicauan burung-burung yang biasanya bersautan di pohon samping kamarku, hanya

Reuni Angkatan ‘8

Oleh:
Sinar mentari menerobos masuk lewat dinding-dinding kaca di ketinggian 50 lantai. Di kantorku hampir seluruh bangunan terbuat dari kaca, dari sinilah aku bisa menikmati hangatnya sang mentari yang beranjak

Ketulusan

Oleh:
Pagi ini cerah, indah dan berwarna. Ya hari ini hari libur. Seperti biasa aku melakukan serangkaian aktifitasku. Tak ada yang istimewa, hanya saja entah mengapa aku sangat bahagia hari

Semua Berakhir Bersama Senja

Oleh:
Kriingg… kriiingg… kriiinggg… jam weker di kamar Clarissa berbunyi. “huaaahhmm… pagi yang cerah.” ucap Clarissa yang masih setengah mengantuk. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap pergi sekolah. Setelah bersiap-siap,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *