Menuju Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

Matahari senja terlihat begitu jingga di ufuk barat, indah. Suara gemuruh ombak kian terdengar, seolah menjadi nyanyian damaiku di senja kala ini. Aku masih termangu, menunggu lelakiku yang tak kunjung kembali. Katanya aku harus menunggunya di sini, di lepas pantai ini, di atas pasir putih ini. Kala senja seperti ini dia akan menemuiku. Seperti yang dia bilang aku harus terus menunggunya sampai dia kembali. Senja ini adalah senja kelima ku, aku masih setia menunggu lelakiku hingga kini. Hingga senja hari ini, dia belum juga datang. Dia belum menepati janjinya untuk menemuiku kembali. Entah apa yang ada di otakku, dengan sabar aku masih berada di tempat ini untuk sekedar menunggu senja hingga hadirmu kembali.

“Elsa ayo kembali ke hotel.” sebuah tepukan di bahuku membuyarkan fantasiku bersama lelakiku dan senja.
“Duluan saja, nanti aku menyusul.” jawabku tanpa menoleh, sepertinya pantai di hadapanku lebih menarik dilihat daripada wajah orang yang mengajakku bicara ini.
“Oke, jangan terlalu larut ya Sa. Aku takut nanti kamu..”
“Stop it!” bentakku sembari membalikkan badan menatap marah ke arah lawan bicaraku itu.
“Sorry, I’m just worried.”
Enggan menjawab, ku putar lagi tubuhku kembali memandang pantai lepas.
“Ya udah aku duluan ya.” katanya seraya mengelus kepalaku sambil lalu.

Tak bergeming, seolah aku tak pernah bicara dengan siapa-siapa senja ini. Kembali ku pandang ombak kian besar, kembali dalam rutinitas senjaku, kembali dalam fantasi bertemu lelakiku. Semua temanku bilang kalau lelakiku tak akan pernah kembali, dia hanya memberi harapan kosong kepadaku. Janru salah satunya, laki-laki yang baru saja bicara kepadaku itu selalu bersikeras menjelaskan kalau lelakiku tak akan pernah datang lagi. Entah apa alasan dia mengatakan itu, aku tahu kalau dia lama menyimpan rasa padaku, tapi aku tak bisa membalasnya dan tak akan pernah bisa. Hingga dia selalu mengatakan kalau lelakiku tak akan pernah kembali, sampai jenuh aku mendengarnya. Dan ku putuskan tak akan pernah menghiraukannya lagi.

Senja 2 tahun lalu, hari dimana aku merasa dunia ini tidak adil. Hari dimana lelakiku pergi dan hingga kini belum juga kembali. Hari dimana dia mengucap janji akan menemuiku lagi, di lepas pantai ini, di senja hari seperti ini. Aku percaya dia akan datang entah itu kapan, aku percaya dia tipikal laki-laki penepat janji. Aku percaya dengannya, sama seperti percaya kalau dia mencintaiku. Hingga larut aku masih termangu di tepi pantai ini, pantai yang sudah sepekan ku kunjungi setiap hari. Dering ponselku berkali-kali membuatku ingin segera beranjak dari sini, tapi hatiku masih enggan menjauh. Aku rindu padamu, mas.

“Sa, udah makan?” tanya Sofi begitu melihatku di ambang pintu kamar hotel yang ku tumpangi.
Aku hanya menggeleng lemah.
“Ya udah kita ke bawah ya makan, atau mau aku pesenin aja?” tawarnya.
Sekali lagi aku hanya menggeleng, sambil merebahkan tubuh mungilku ke kasur.
“Jangan kayak gini terus dong, Sa. Kita semua khawatir sama kesehatan kamu.” kata Sofi mulai menasihatiku.
“Kamu boleh nunggu Zafran setiap hari, setiap sore, tapi kamu juga harus jaga kesehatan dong. Nanti kalau kamu sakit yang sedih siapa? Zafran juga kan?” lanjutnya.

“Aku kangen Zafran, udan 2 tahun aku nunggu dia. Aku sungguh kangen Zafran.” bahuku bergetar, Sofi pasti tahu kalau kini aku sedang menangis.
“Apa benar kata mereka, kalau Zafran gak akan pernah kembali? Lalu apa maksud dia suruh aku nunggu sampai dia kembali, kalau pada nyatanya dia gak akan pernah kembali?” tangisku pecah, Sofi merengkuh aku ke dalam pelukannya.
“Sabar Sa, kalau dia jodoh kamu pasti dia kembali kok. Mungkin Tuhan lagi nyiapin waktu yang tepat buat kamu ketemu lagi sama Zafran. Kamu yang sabar ya, sayang sama Zafran kan? Harus semangat dong, yang kuat ya!” tangan Sofi kini membelai rambut panjangku, berusaha menenangkanku.
“Aku yakin dia pasti kembali.” jawabku pasti. Ya, hingga kini aku menangis untuk kesekian kalinya, aku masih percaya bahwa Zafran akan kembali.

Sepeninggal Zafran, hari-hariku terasa gelap. Semua kelabu, malamku tak lagi berbintang seperti saat bersamanya. Siangku tak seterik saat bersama Zafran. Aku seperti malas berada di sini tanpanya, kalau bisa ku katakan waktu itu, aku tak akan pernah mau kau tinggalkan. Kalau bisa aku ingin ikut bersamamu, ke mana pun dan hanya bersama kamu. Sekarang aku hanya bisa melihatmu dari layar ponselku, hanya mampu mendengar suara dan tawa indahmu dari video yang sering kita buat dulu.

“Aku pasti kembali, Sa. Tunggu aku di pantai ini, saat senja seperti ini. Aku pasti kembali buat kamu. Aku sayang kamu, Sa.” ungkap Zafran sambil mendekapku erat.
“Kamu janji bakal kembali ke sini? Kenapa kamu mau pergi? Aku takut kamu gak kembali, Mas.” sambil melepas dekapannya, mataku panas seakan tak mampu lagi menahan luapan kesedihan. Zafran memandangku nanar, kedua telapak tangannya ditangkupkan ke wajahku.
“Kamu percaya aku? Waktu aku gak banyak, Sa. Aku harus segera pergi.” katanya dengan nada menyesal, sesekali dia mendaratkan kecupan ringan ke dahi dan mataku. Air mataku tak dapat lagi ku tahan, semua ke luar seiring waktu yang semakin mempercepat kepergian Zafran. Aku menangis sesenggukan, Zafran kembali mendekapku, tangannya membelai lembut rambut panjangku yang ikut lusuh.

“Tunggu aku di sini, ingat. Di lepas pantai ini, aku pasti kembali ke sini untuk kamu. Jangan sedih lagi ya.” Zafran melepas dekapannya, seperti hendak segera pergi. Tak kuasa aku melepas kepergian laki-laki yang begitu aku cintai. Air mataku semakin menjadi, sambil terisak ku tarik pergelangan tangan Zafran. Mencoba untuk menahannya, berharap waktu berjalan lambat. “Aku harus pergi, Sa.” katanya sambil melepas pegangan tanganku.
“Selamat tinggal.” lambaian tangan terakhir Zafran membuatku spontan berteriak.
“Jangan pergi, Mas!” teriakku tapi tak ada jawaban, Zafran sudah pergi meninggalkanku. Aku sendirian.

Keringat mengalir deras di sekujur tubuhku, aku mimpi buruk lagi. Mimpi Zafran pergi lagi, padahal memang dia belum kembali. Air mataku menetes, deras dan semakin deras. Ku buka ponselku, Nampak foto kenangan aku dan Zafran di sana. Terlihat Zafran begitu bahagia dan aku pun sebaliknya. Nampak dia sosok lelaki yang penuh tanggung jawab, aku selalu merasa terlindungi setiap kali berada dekatnya. “Kapan kita seperti ini lagi, Mas?” Tanyaku sambil mengusap foto Zafran di balik layar ponsel.

Ini adalah senja keenamku, aku hanya mengambil cuti kuliah satu minggu. Itu artinya besok adalah hari terakhirku berada di sini, di tempat Zafran pergi ini. Entah kapan aku akan kembali, meskipun bukan di pantai ini aku selalu menunggunya. Di mana pun aku berada, aku selalu menanti hadirmu kembali. Larut dalam lamunan, sampai pada mataku memandang satu titik yang begitu menarik untuk dilihat. Nampak seorang laki-laki dewasa tengah bermain bersama seorang gadis kecil, keakraban mereka yang membuatku ingin menyaksikan lebih dekat setiap adegan yang mereka lakukan. Gadis kecil itu kelihatan bahagia sekali, saat Laki-laki dewasa itu mengayunkan tubuhnya ke udara. Aku seperti pernah melihat sosok laki-laki semenyenangkan itu. Ah, Zafran, laki-laki itu mirip sekali dengannya. Sungguh, sama sapertinya, laki-laki itu juga memiliki tatapan indah mempesona seperti milik Zafran.

Tanpa sadar kakiku melangkah mendekat ke arah gadis kecil dan laki-laki dewasa itu. Semakin dekat, bibirku menyunggingkan senyum ikhlas melihat kebahagiaan mereka. Seperti terhipnotis, aku ikut tertawa saat si gadis kecil terbahak mendengar lelucon yang dilontarkan oleh laki-laki dewasa itu. Mereka menoleh serempak, bingung. Seolah sadar, segera saja ku pasang tampang konyolku. Sambil menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal, aku tertawa dan mengatakan maksud kalau aku tidak sengaja mendengar mereka bergurau. Laki-laki itu tersenyum tulus, dan si gadis kecil menarik lenganku seketika.

“Kakak ikut main sama kita, ya?” Ajaknya manis sekali, sambil tak melepas tanganku.
“Eh nggak, aku..itu..mau..” jawabku terbata, seakan tak bisa menolak ajakan gadis kecil itu.
“Gak apa-apa Kakak kita main aja, yuk!” masih terus menarik tanganku, seakan memaksa aku harus bermain dengannya.
“Alea, jangan gitu Dek. Kakak ini mungkin punya urusan yang lain, jadi gak bisa main sama kita sekarang.” kata laki-laki itu berusaha membujuk Alea yang sekarang tengah merajuk minta bermain denganku.
“Tapi, tapi aku mau main sama Kakak ini.” rajuk Alea sambil menarik-narik kaus yang ku pakai.
“Maaf ya aku gak bisa nemenin kamu main sekarang, mungkin besok kita bisa main sama-sama di sini, ya?” tawarku seraya berjongkok ke arah Alea.

“Besok, ya? Kakak janji mau main sama kita besok, ingat itu Kak Wira.” jawab Alea sumbringah sambil berlari kecil ke arah laki-laki itu, minta digendong.
“Iya sayang, siapa namamu tadi? Oh Alea, ya?” tanyaku sambil mengelus lembut pipi mungil Alea.
“Maafkan sikap Alea ya, Mbak. Memang seperti ini namanya juga anak-anak. Oh iya nama Mbak siapa?” begitu tanya si laki-laki dewasa sambil mengajukan permohonan maaf atas sikap Alea kepadaku
“Ah gak apa-apa kok, saya suka anak-anak. Apalagi gadis cantik seperti Alea. Nama saya Elsa.” jawabku sambil tertawa melihat Alea yang kini tengah mengacak-acak pasir putih yang diinjaknya. “Oh iya saya masih ada urusan, kalau begitu besok kita bertemu di sini lagi ya, Alea?” lanjutku menanyakan pada Alea,
Alea mengangguk. “Sampai jumpa besok.” begitu sapa si laki-laki dewasa, sambil menyunggingkan senyum lebar kepadaku. Tampan sekali, pikirku.

Selepas pergi dari Alea dan laki-laki dewasanya, aku kembali terhanyut dalam fantasiku berangan-angan seandainya Zafran masih di sini bersamaku. Tiba-tiba laki-laki dewasa tadi muncul dalam khayalanku. Mengapa bisa? Aku baru ingat, tatapan mata mereka sama persis. Aku hampir tidak bisa membedakan, aku merasakan kalau yang menatapku tadi adalah Zafran. Tatapan indah itu milik Zafran, tatapan mata yang teduh. Bagaimana bisa aku menemukan tatapan mata indah kedua seperti milik Zafran? Ah mungkin semua ini terjadi karena aku begitu merindukan Zafran.

Senja ini terasa berbeda, ada kehangatan di setiap hembusan angin yang menerpaku. Nyanyian ombak kali ini lebih indah, dan matahari berwarna jingga sempurna. Aku ingat, dulu sebelum kamu pergi aku pernah merasakan senja sehangat ini. Kita bermain air bersama kala senja itu, membuat janji keterikatan kita di atas sebuah kertas dan dimasukkan ke dalam botol. Mengirim surat kepada Dewa Neptunus, begitu katamu. Aku ingin mengulangnya lagi, kali ini sendiri. Aku ingin beritahu Neptunus kalau aku sangat merindukan lelakiku. Lelaki yang dulu pernah mengirim surat juga kepada Dewa Laut itu. Aku mengambil secarik kertas dari dalam tas tanganku, dan mulai menulis.

“Hai Neptunus, aku pernah sebelumnya menulis untukmu. 2 tahun yang lalu, aku menulis untukmu bersama lelakiku, menulis janji kebersamaan kami. Dia bilang bahwa kami akan selalu bersama, dia bilang bahwa dia akan terus berada di sini bersamaku. Ternyata dia pergi meninggalkan aku sendirian di sini kala senja, dan mengatakan bahwa dia akan kembali menemuiku lagi kala senja juga. Neptunus, aku begitu kehilangan dia. Aku sungguh merindukannya, ketiadaannya menyiksaku di sini sendirian. Hanya aku yang meratapi kepergiannya, aku bahkan tidak tahu kapan dia akan menepati janjinya untuk kembali.”

“Hingga lelah aku masih menantinya di sini, aku masih menunggunya kembali datang dan kembali nyata untukku. Neptunus, terima kasih untuk laut indahmu. Lautmu sungguh menyimpan kenangan manis tentang kami. Ombakmu telah lama menjadi nyanyian damaiku setiap senja. Semoga dia segera kembali bersamaku, semoga Tuhan mendengarku, semoga waktu mempertemukan kami lagi. Sampai jumpa kembali, di ceritaku yang mungkin lebih bahagia. Kalau lelakiku sudah kembali, aku janji akan menulis lagi untukmu. From, Elsa Alexandra.”

Seolah sudah ku persiapkan, seseorang memberiku sebuah botol. Begitu menoleh aku kaget setelah tahu siapa seseorang itu. “Aku rasa kamu membutuhkan ini?” tanya laki-laki dewasa yang tadi bersamaku dan gadis kecilnya, Alea.
“Oh maaf bukan maksud aku..” kata-katanya terhenti, gugup begitu melihat ekspresi wajahku yang kelihatan antara bingung dan tidak suka. Aku tersenyum, mengambil botol yang ditawarkannya tadi.

“Terima kasih.” ucapku seraya memasukkan kertas yang sudah ku gulung ke dalam botol pemberiannya.
“Untuk lautkah?” tanyanya sambil mengikutiku berjalan mendekati air.
“For Neptune,”
“Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Wira.” katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku.
Ku jabat tangannya dan tersenyum. “Elsa.” jawabku masih tersenyum.

Ada rasa hangat ketika aku menjabat tangan nya, laki-laki ini sungguh mirip sekali dengan Zafran. Bukan mirip wajahnya, tapi aku merasakan kalau Zafranlah yang ada di dalam tubuh si laki-laki ini. Lama kami berbincang, aku merasa terlindungi saat bersama Wira seperti saat bersama Zafran. Semua memang masih tentang Zafran. Hari sudah mulai gelap, Wira menawarkan jasa mengantarku ke hotel. Tidak ku tolak, barangkali bisa menjadi teman bicara atau sekedar mengikat janji untuk bertemu kembali. Ternyata Wira menyenangkan, dia mampu membuatku sejenak melupakan rutinitas setiap senjaku.

“Terima kasih Wira.” ucapku begitu sampai di lobby hotel.
“It’s oke.” jawabnya sambil tersenyum lebar menatapku yang juga tersenyum padanya.
Aku berbalik, bergegas masuk lift sampai pada tangan Wira menghentikan kakiku yang hendak melangkah.
“Jangan lupa, besok kamu ada janji sama aku dan Alea.” katanya tanpa melepaskan pegangan pada tanganku.
Mataku membulat, pipiku merona merah. Perlahan dengan malu-malu ku tarik tanganku dari genggamannya.
“Oh sorry.” kata Wira sama tersipunya denganku.
“Jangan lupa ya, bye Elsa!” lanjutnya sambil melambai ke arahku yang masih berdiri mematung. Rasa hangat menjalari seluruh tubuhku.

Mataku panas, semakin panas seiring jejalan-jejalan air mata yang memaksa ke luar. Seketika ponselku jatuh berbarengan dengan tubuhku yang tersungkur ke lantai. Aku menangis sejadi-jadinya, terus menangis dan meronta. “Gak, ini gak mungkin.” teriakku untuk yang kesekian kalinya. Sofi memeluk erat tubuhku dan ikut menangis, aku terus meronta tanpa henti. Berharap semua ini hanya mimpi. Zafran, aku baru tahu ternyata Zafran mengalami kecelakaan 2 pekan lalu ketika hendak menyusulku ke sini. Dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Aku kesal, marah sekali. Kenapa aku baru tahu sekarang, kenapa keluarga Zafran dan keluargaku menutupi ini semua dariku? Aku tak habis pikir.

“Kamu harus ikhlasin Zafran, Sa.” kata Sofi sambil memelukku dan sesekali mengusap air mata yang jatuh ke pipiku.
Aku masih menangis, aku marah sekali pada diriku saat ini. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui semua ini.
“Elsa harus ikhlas ya, harus kuat dan tabah. Masih banyak yang sayang sama Elsa, kita sayang kamu kok, Sa.” gantian Janru yang angkat bicara.
“Move Sa, oke!” lanjutnya sambil memapah tubuhku berdiri.
Aku lemas sekali, pandanganku kabur dan seketika semua menjadi putih.

Hari terakhirku berada di sini, dan bisa ku pastikan ini adalah terakhir kalinya aku ke sini. Bersama senja aku meratapi ketiadaanmu untuk yang terakhir kali, aku sudah janji pada diriku bahwa setelah ini aku akan sungguh melupakanmu. Pantai ini menjadi saksi bisu perjuanganku menunggumu. Hatiku masih teriris, belum mampu menerima takdir Tuhan ini. Ternyata semesta tidak menginginkan kita bersama. Semoga Tuhan kelak mempertemukan kita di tempat yang abadi nanti. Aku selalu menunggu saat kita akan bersama kembali. Aku akan merindukanmu, Zafran-ku. Semoga waktu berjalan lambat, aku masih ingin menikmati damai senja terakhirku ini. Senja pertama aku mengikhlaskanmu pergi. Deru ombak seakan merdu sekali terdengar telingaku, air mataku menetes lagi. Ini tangisan terakhirku untukmu, semoga Tuhan menempatkanmu di tempat yang paling indah di sana. Tunggu aku sampai pada waktunya tiba, aku akan menyusulmu ke sana. Dan kita akan bersama lagi. Secarik kertas ku keluarkan dari dalam tas, aku akan menulis surat terakhirku pada Neptunus.

“Hai Neptunus, pernah ku katakan sebelumnya bahwa aku akan menulis lagi untukmu. Aku belum pernah merasa sedamai ini di kala senja, baru kali ini hatiku seakan tenang karena aku telah mengikhlaskan lelakiku pergi. Memang benar, perpisahan yang paling menyakitkan adalah berpisah karena kematian. Seberapa pun aku merindukannya, dia tak akan pernah kembali ke dunia. Aku hanya bisa meratapi takdir Tuhan, tapi sekarang aku sudah ikhlas sungguh. Neptunus, biarlah lautmu menjadi saksi bisu betapa aku memperjuangkan pertemuan dengan lelakiku kembali, sampai pada hari ini aku akan pergi. Memulai dunia baruku tanpa dia, berusaha melupakan semua kenangan saat bersamanya. Betapa aku terpukul saat tahu bahwa dia sudah pergi, aku marah pada diriku sendiri. Saat itu aku benci semuanya, aku benci semesta yang selalu memisahkan kami.”

“Neptunus, ini adalah surat terakhirku untukmu. Seperti tempat ini dan lautmu, ini akan menjadi terakhir kali aku menunggu senja di sini. Bersama pantai ini, aku hanyutkan segala hasrat dan kerinduanku padanya. Selamat jalan Zafran-ku, selamat memulai dunia barumu yang kekal. Semoga Tuhan mencintaimu dan menempatkanmu di sisi-Nya. Tunggu aku di sana, tunggu aku seperti aku yang selalu menunggumu. Selamanya rasa ini akan tetap ada untukmu, jauh di lubuk hatiku betapa aku sangat menyayangimu. Dunia kita sudah berbeda, dan aku akan selalu mendoakanmu dari sini. Selamat jalan, sayang. I’m gonna miss you. From, Elsa Alexandra.”

Sebuah tangan kekar menyodorkan saputangan merah maroon kepadaku, aku menoleh dan menatap si pemberi saputangan itu sambil terharu. “Usap tuh air mata kamu, cewek cantik gak boleh nangis.” ujar Wira tersenyum seraya membantuku mengusap sisa-sisa air mataku. Aku tersenyum, terharu. Sungguh kejutan Tuhan kepadaku.
“Oh iya kita kan ada janji sama Alea, yuk!” ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku menurutinya, ku biarkan saja tangan kekar itu menggenggam jemariku. Selamat tinggal Zafran, aku akan memulai hidup baruku.

Tamat

Cerpen Karangan: Chintya W Damsuri
Blog: chintyawulandari.tumblr.com
Nama: Chintya Wulandari Damsuri
Umur: 19 Tahun
TTL: Jakarta, 13 September 1996
Alamat: Jl.Cipinang Pulo Rt.002/012 No 1 Jatinegara Jakarta Timur
Twitter/Instagram: @Cwdmsr
Facebook: https://www.facebook.com/chintyaa.wulandari
Look and join my sosmed guys!

Cerpen Menuju Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


If I Can Say “I Love You”

Oleh:
Keiko memandang langit musim panas yang bertaburan bintang. Tapi perlahan air matanya mengalir, seakan-akan langit yang cantik menunjukkan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Ya, kenangan manis yang berakhir dengan

Elegi Kehidupan

Oleh:
Ini lebih mujarab dari alarm. Itulah kalimat pertama yang ku pikirkan di suatu pagi. A!Aa!.. Bangun! Sudah azan subuh. Lantunan suara merdu dede membangunkanku. Ku pandang wajahnya yang menyihirku

Tears, Pains, Him

Oleh:
Orang bilang kalau kita pacaran dan jatuh cinta itu rasanya bahagia. Sampai hari ini aku 3 tahunan sama dia, aku masih belum ngerasain bahagianya pacaran atau jatuh cinta. Pernah

Rindu Pelangi

Oleh:
Sore ini tampaknya kota Jogja kurang bersahabat dengan banyak orang. Di luar tampak suasana kota yang mendung berselimutkan rintik-rintik hujan yang turun. Tapi tidak untukku, aku terlebih menyukai keadaan

Terlambatkah

Oleh:
“Tunggu kalian jangan pergi dulu, sebentar lagi pasti dia bakalan datang. Please, jangan pergi ya.” Dengan wajah yang agak cemas, seorang cewek berusaha menahan teman-temannya. “Oke deh pril, kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *