Mimpi dan Firasat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Selamat pagi Sang Surya, sinarmu hangat menembus sela kamar tidurku, entah kenapa mataku masih enggan untuk terbuka, Aku masih larut dalam mimpiku yang samar.

Alarmku pun berbunyi menunjukkan sudah pukul 7.00 pagi, untungnya saat itu aku libur Sholat. Tanpa kusadari tanganku mencoba menyapu mataku, aku merasakan ada air mata yang keluar, aku masih tidak percaya dan bertanya pada diriku sendiri “Ah… apa iya aku menangis?”.

Aku mencoba mengingat mimpiku lagi, memory pun pelan-pelan mulai terbuka, aku mulai mengingatnya. Aku ingat kenapa aku menitikan air mata.

Sepulang kerja, aku bercerita tentang semua keluhan, kekesalanku entah itu tentang pekerjaan, masalah hidup, atau apapun kepada laki-laki yang bernama Nawaf. Walau sudah bertahun-tahun lamanya jarak memisahkan kita, dialah satu-satunya sahabatku yang care betul denganku. Segala uneg-uneg aku ceritakan kepadanya, tak jarang dia kesal dengan sikapku yang terlalu kekanak-kanakan, dan aku pun kesal dengan sikapnya yang terkadang benar-benar dingin, seringkali kata-katanya sulit dimengerti, harus berpikir tingkat tinggi agar aku bisa paham maksud dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Nawaf sudah seperti kakakku sendiri, dia sering menasehatiku tentang banyak hal mulai dari cinta, perbedaan pemikiran, sifat dan karakter seseorang. Nawaf adalah laki-laki yang dewasa, mapan, tegas, bijaksana, pandai dalam urusan agama, Dia tidak pernah lelah menasehatiku lewat SMS ataupun chatting. Entah kenapa akhir-akhir ini aku mulai senang sekali mengganggunya dengan chat… mungkin karena rasa nyaman, aku tidak sadar jika aku mulai jatuh hati kepadanya.

Disaat aku mulai menyadari perasaanku, Aku merasa Nawaf mulai berusaha menjauh dariku. Dulu kita pernah satu kos, ketika perusahaan tempatku bekerja ada pekerjaan di sana. Sejak aku pindah ke luar kota, Nawaf ternyata pamit meninggalkan Kos, dia memilih untuk bekerja dan juga menuntut ilmu di Pondok Hafidz Qur’an. Entah bagaimana caranya mengatur waktu untuk menghafal dan bekerja.

Semangatnya menuntut ilmu Agama sangatlah besar, apalagi dia sosok laki-laki yang sudah mapan. Seluruh warga pondok sangat menyayanginya, karena sosoknya yang murah senyum, penyayang dengan anak kecil, ramah, dan juga peduli dengan teman-temannya di pondok yang kurang beruntung.

Nawaf mengambil uang tabunggannya dan membelikan hewan ternak untuk teman-temannya di pondok yang tidak bekerja. Dia tidak peduli Modal yang dia keluarkan, yang terpenting baginya adalah manfaat yang bisa dirasakan oleh orang di sekitarnya.

Pak Kyai sempat beberapa kali memperkenalkan keponakan keponakan Beliau kepada Nawaf, dengan harapan ada yang bisa menarik hati Nawaf. Agar terjalin ikatan yang lebih erat antara Nawaf dengan keluarga Pesantren.

Beberapa Keponakan Pak Kyai jatuh hati kepada sosok Nawaf, mereka berbisik satu sama lain “Dialah Nawaf, yang jadi imam sholat tarawih kita malam ini, suaranya sungguh merdu”. Mereka terpesona dengan sosoknya. Ketika mereka berkomunikasi dengan Nawaf dan ingin tahu banyak tentangnya, Nawaf mengatakan kepada keponakan keponakan Pak Kyai dengan caranya yang unik, dia mengatakan jika dia sudah dijodohkan oleh ibunya.

Apa yang dicari seorang Nawaf? Nawaf masih berusaha menyembuhkan luka hatinya dari ejekan salah seorang keluarga yang mana, ketika Nawaf dulu masih berada di kos, Bapak kos mengenalkannya dengan seorang gadis bernama Anida.

Anida adalah sepupu Bapak Kos yang usianya sepantaran denganku dan juga Nawaf. Dulu, sebelum aku tinggal di kos dan mengenal sosok Nawaf, ada sebuah cerita tentang Nawaf, Nawaf berkeinginan mengkhitbah Anida, namun tidak disetujui oleh kakak Anida, yang melatarbelakangi alasan itu adalah, pendidikan Nawaf yang masih dibawah Anida, Anida seorang Sarjana, sedangkan Nawaf, Pegawai dari salah satu BUMN terkenal di Indonesia yang hanya berijazah SMK. Kebetulan kakak Anida kenal dengan Nawaf, dia satu Perusahaan dengan Nawaf, namun Kakak Anida diterima di Perusahaan itu dengan status Sarjana, dan pada kenyataannya memang terdapat selisih gaji antara lulusan SMK dan juga Sarjana.

Nawaf sering bercerita dengan Ibu Kos, mencurahkan isi hatinya tentang Anida. Namun Ibu kos sering menyampaikan cerita Nawaf kepadaku. Siapa aku? kenapa diceritakan padaku? padahal saat itu aku sama sekali tidak peduli dengan Nawaf.

Menurut Nawaf, ada banyak persamaan antara Aku dan Anida. Tanggal lahir, bulan, dan tahun dimana Anida lahir sama persis denganku. Wajah Anida, semuanya hampir mirip denganku. Aku sering melihat Nawaf melemparkan pandangannya ke arahku, senyum-senyum sendiri ketika aku mulai melihatnya dengan tatapan sinis.

Nawaf sering membantuku dalam berbagai urusan, Dia selalu berusaha membantu ketika aku mengalami kesulitan. Nawaf tidak pernah menyentuh lawan jenis, bahkan sekedar boncengan naik motor, dia tidak mau.

Malam itu aku bermimpi, aku dibonceng naik motor oleh seseorang, dan dia adalah Nawaf. Dalam hati aku bertanya “kenapa? bukannya dia tidak pernah sekalipun boncengan dengan yang bukan mahramnya?”.

Dia mengajakku berhenti di suatu tempat seperti pondok pesantren yang letaknya di daerah pegunungan. Dia memakai baju serba putih, dia berjalan ke arah timur dan aku berusaha mengejarnya, aku berteriak memanggilnya, langkah kakiku tak sanggup untuk mengejar langkah kakinya.

Aku sedih dan menangis, “dia yang mengajakku ke tempat ini, tapi dia malah meninggalkanku di sini, bagaimana caranya aku bisa pulang?” dia mulai menghilang di antara wanita wanita sholeha dengan jubah berwarna-warni dengan warna-warna yang soft.

Setelah aku memutuskan ingin berbalik arah, dia muncul di antara wanita-wanita sholeha itu, dan tersenyum, dia mengulurkan tangannya kepadaku, saat itu aku segera terbangun dari mimpiku.

Sebulan kemudian, pas ditanggal dimana aku bermimpi bertemu dengannya, aku mendapatkan kabar bahwa dia mengalami kecelakaan, Nawaf meninggal di tempat kejadian.

Tubuhku rasanya seperti lemas tanpa tenaga, air mata keluar, dan menangis sejadi-jadinya, aku masih tidak percaya.
kemudian aku ke Rumah Sakit untuk melihatnya pertama dan terakhir kalinya setelah 3 tahun aku beranjak dari Kos dan pindah ke luar Kota. Kulihat jasadnya masih utuh, dan itulah janji Allah kepada Hafidz Qur’an.

Aku mendapatkan banyak firasat sebelum kepergiannya, namun aku selalu mengabaikan hal itu. Ada perasaan bahagia, marah, kesal dengan kata-katanya di chat. Aku sangat membencinya, tapi pada kenyataannya aku sangat bahagia karena Dia selalu ada ketika aku membutuhkan nasehatnya, aku sering menumpahkan semua emosi kepadanya, meskipun bukan dia yang salah, namun dia masih selalu peduli denganku, walaupun aku sering memarahinya.

Selamat Jalan Nawaf, bahkan perasanku ini hanya aku sendiri yang menyimpannya, tidak pernah kuberitahukan kepada siapapun keculi kepadaNya di sepertiga malamku, aku berharap Kamulah yang kelak bisa menjadi imamku, namun takdir berkata lain. Mungkin dulu aku pernah salah, karena aku merasa aku adalah bayangan Anida, itulah yang selama ini membuatku takut, aku takut karena aku masih belum bisa berpikir dewasa layaknya kamu dan Anida.

Meskipun dulu kamu pernah berusaha mengungkapkan isi hatimu di chat dan mengaku sebagai orang lain yang menggunakan akunmu, firasatku mengatakan itu kamu, dari setiap kata yang ditulis, sama persis denganmu, maafkan aku yang pernah menolakmu, maafkan aku yang sering mengabaikanmu, maafkan aku yang sering memarahimu.

Semoga kau tenang di surgaNya karena amalan baikmu. Dan perasaanku ini akan aku simpan selamanya di dalam hati.

Cerpen Karangan: Novi
Blog: noviabadhiyatinmaulidhi.blogspot.com

Cerpen Mimpi dan Firasat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadirnya Rindu Dalam Cinta

Oleh:
“Dia.. Apakah benar itu dia?” aku bertanya pada diri sendiri. “Iya itu dia. Kenapa dia tidak menyapaku? Kenapa hanya menatapku dengan hampa?” pikirku terus bergumam. Aku dekati dia. Ku

Sang Sutera Pupus

Oleh:
Seorang gadis mungil sedang duduk di ayunan yang diam, di telinganya tersemat earphone putih. Di kejauhan terlihat seorang lelaki berseragam mendekati taman kecil di tengah lapangan, ia menenteng gitar

Semua Tinggal Kenangan

Oleh:
Aku tidak pernah menginginkan semuanya terjadi seperti ini. Walau terkadang kau buatku menangis dan jengkel. Ternyata yang terjadi hanya kepalsuan yang kau berikan padaku. Dan sekarang kau tinggalkan aku,

Tentang Hermes

Oleh:
“Telah kupakai jubah kegelapan, dan telah kukubur nama kebaikan di dalam kerak bumi.” Wajah Arumi mengkerut heran ketika membaca tulisan ini yang ada dalam buku catatan harian kekasihnya, Hermes.

Dulu

Oleh:
Ini tanggal dua puluh dua di bulan september, tahun dua ribu tiga belas pastinya… Dulu, dalam ruang lingkup waktu yang telah berlalu, kita pernah bersama.. Walau tidak pernah berdua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *