My Autumn Boy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Hari itu aku bertemu dengannya, saat bunga sakura telah gugur dari pohonnya. Laki laki tinggi yang sedang bermain basket di lapangan. Aku menyukai sosoknya, aku menyukai senyumnya saat berhasil memasukan bola ke dalam ring. Bau keringat dari tubuhnya, wajahnya yang basah. Aku benar benar telah terpesona padanya, pada sosok istimewa yang telah memenuhi hatiku. Matsuyama Riku, nama laki laki itu. Siswa SMA kelas 2 Hakdo. Sang kapten tim basket, dan pacarku.
Aku menunggunya lagi di lapangan basket hari ini. Sudah 2 jam, namun ia belum selesai juga latihan basketnya.

“Hey, maaf sudah lama ya?” Laki laki itu menepuk bahuku. Aku menoleh menatap wajahnya yang basah. Aku tersenyum, tak bisa marah.
“Sudah lama sih, tapi tidak masalah”
“Hari ini mau ke mana? Ketaman kota? atau ke ginza, kudengar ada acara meriah di sana? Bagaimana?”
“Aku ke mana saja, asal denganmu”
Riku menatapku sambil tersenyum, menggandeng tanganku dan kami berjalan beriringan.

“Aku mau berdua terus denganmu hari ini ayane” Aku menoleh, dia menatap jalanan yang kami lewati. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Baiklah! aku juga ingin berdua saja denganmu”
Kami melewati hari ini dengan indah dan hanya berdua, aku senang Riku tertawa lepas saat bersamaku. Aku jadi sangat bahagia.

Pukul 04.20 hujan turun. Kami berlari untuk berteduh. Tapi hujan sangat deras, tidak bisa menghindar, seragam sekolah kami tetap basah. Kami berteduh di depan sebuah toko yang sudah tutup. Huhh, ini dingin. Aku menggigil.
Riku menatapku, ada yang aneh. sepertinya dia ingin mengatakaan sesuatu. wajahnya tampak murung.
“Ada apa?”
“Sepertinya kita harus putus” Riku membuang muka ke arah lain. rahangnya kaku. Aku lemas, rasanya semakin dingin.
“K… kenapa? Bukannya tadi kau tampak bahagia bersamaku? bukannya kau yang minta untuk berkencan hari ini dan hanya berdua saja?” Kalimatku bergetar, aku berusaha menahan tangisku sekuat mungkin.
“A… aku bosan, dan aku menyukai perempuan lain” Katanya tanpa melihat kearahku
Tangisku pecah, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku yang gemetar. Kakiku lemas. Rasanya aku akan jatuh. Aku sungguh suka Riku, sangat, sangat suka. Bahkan mengucapkannya berkali kali juga masih tidak bisa tersampaikan rasa sukaku.
“Aku sungguh menyukai perempuan itu, dia berbeda dengan ayane, dia perempuan yang manis, dan mulai hari ini aku ingin kita putus”
Aku bersandar di pintu toko. Hatiku begitu sakit, seperti ada sebuah lubang di dalamnya. Air mataku tak mau berhenti.
“Hujan sudah berhenti, sebaiknya kau pulang! tapi aku tidak bisa mengantarmu, kita berpisah di sini dan aku harap kalau kita bertemu di sekolah anggaplah seperti tidak mengenal satu sama lain” Lagi lagi dia tidak menatapku, dan pergi begitu saja.
Aku terduduk di situ, menangis sejadi jadinya seperti orang gila. Rasanya aku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa kami benar benar sudah berpisah karena dia menyukai perempuan lain. Seperti akan gila, hatiku benar benar terasa perih.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan berkecamuk, ibu yang melihat tampangku langsung khawatir, aku bilang aku hanya lelah dan kehujanan, jadi aku ingin istirahat saja. Saat pintu kamarku tertutup tangisku pecah kembali.

Bulan juni telah tiba, kejadian semalam membuatku benar benar terpuruk. Aku flu, tubuhku lemas, tapi hatiku berkali kali lipat lebih sakit dari pada tubuhku. Aku memaksanya bangkit, memaksanya berjalan ke sekolah. Lemas sekali rasanya. Di pintu gerbang aku melihat Riku berjalan sendirian, wajahnya menatap ke arah sepatunya. Seorang gadis berambut pirang menghampirinya, mereka mengobrol santai. Aku tidak mengenal gadis itu, tapi dia memakai seragam yang sama, mungkin dia siswa baru.

Riku tertawa lebar, gadis itu menggandeng lengan Riku. mereka tertawa bersama, Riku terlihat amat bahagia. Apa gadis itu incarannya. Sepertinya mereka saling menyukai dan memang gadis itu sangat manis. Aku sangat jauh darinya. Aku menangis lagi, air mata bodoh ini terus menetes tanpa henti.

Jarak kami semakin dekat, Riku menoleh ke arahku dengan tatapan yang sama sekali tak kumengerti, kemudian membuang muka ke arah lainnya. Kau ingin melihat wajah hancurku, kau ingin melihat wajah kalahku, yaa kau menang Riku. Aku memang telah hancur dan aku kalah. Hati bodoh ini sama sekali tak bisa membencimu.
“Oh hay ayane, selamat pagi” Gadis itu menyapaku, tersenyum lebar ke arahku. Riku sama sekali tak menoleh.
“Hay, selamat pagi, kau kenal aku?” Aku tersenyum, tepatnya memaksa tersenyum. Tapi aku heran kenapa dia bisa mengenalku.
“Aku Shingetsu Miwa, siswa baru di sini” Lagi lagi dia tersenyum. Ahh aku muak denganmu.
“Oh ya salam kenal, aku duluan ada urusan” Aku berlalu tanpa meminta persetujuan darinya. Aku tak sanggup terus berada di antara mereka, bisa2 aku menjerit seperti orang gila.

Hari ini kulalui dengan lemas, aku tidak bersemangat melakukan apapun. Dan teman teman juga mulai bergosip tentang Riku yang menggandeng perempuan lain saat ke kantin.
“Simizu ayane, ada apa? seharian kau murung? apa terjadi sesuatu denganmu dan Matsuyama?” Anatsu Yui, sahabat sekaligus teman semejaku.
“Kami putus” Ucapku, Yui tampak terkejut.
“K… kenapa? Bukannya Matsuyama sangat menyukaimu? kalian kan selalu tampak rukun? dan ini kan sudah tahun ke 4 untuk hubungan kalian?”
Aku menggeleng, sungguh Yui aku sedang tidak ingin membahasnya, karena itu hanya akan membuatku hancur lagi. Yui menggenggam tanganku, dia tersenyum.
“Tidak apa apa kalau kau belum mau cerita denganku”
Terimakasih Yui.

Sudah sebulan sejak hari kami berpisah, aku masih terluka. Hatiku masih sakit, hari hariku suram, apa lagi sudah dua minggu tidak melihat Riku bermain basket di lapangan. Mungkin dia sibuk dengan pacarnya. Aku berjalan di koridor dengan lemas. Di depan pintu kelas aku melihat gadis itu, gadis rambut pirang, sedang apa dia apa mungkin dia menungguku. Aku langsung merasa pusing melihatnya, hatiku berkecamuk. Yaa, aku membenci dia yang merebut kekasihku.
“Simizu Ayane” Dia memanggilku. jadi dia menungguku, tapi untuk apa.
“Ada apa?” Aku sinis.
“Bisa bicara sebentar?” Dia kelihatan bingung, tapi kurasa ini bukan urusanku dan aku sama sekali tidak peduli.
“Tentang apa? Aku sedang sibuk hari ini, jadi…”
“Riku sedang sakit” Aku menoleh, hatiku terenyuh. Riku sedang sakit, sakit apa dia. Oh sadarlah ayane, bukan urusanmu. Lagian gadis ini pacarnya sekarang, dan ingatlah apa yang si bodoh Riku itu ucapkan, dia tidak ingin kita saling mengenal lagi bukan.
“A… aku tidak peduli dan Riku bukan urusanku lagi!” Aku melangkah, tapi gadis ini memegang lenganku. Aku menatapnya, matanya berkaca kaca, wajahnya sendu. Apa dia akan menangis.
“Riku sangat menyayangimu Ayane” Suara gadis itu bergetar. Aku tertawa.
“Jadi dia masih menyayangiku? Hahaha, lucu sekali. Oke sekarang cukup, lepaskan aku, aku banyak pekerjaan” Aku menghentakan tangannya.
“Riku menderita, dia sedang di rumah sakit, d… dia sudah dua minggu tidak sadarkan diri, sakitnya semakin parah, aku mohon ikutlah denganku menjenguknya Ayane, hanya kau yang dia butuhkan” Gadis itu menangis. Aku terdiam, tubuhku serasa kaku. Rasa benci dihatiku tiba tiba menghilang, aku menoleh menatap gadis itu.
“D… dia sakit apa?”
“Leukimia stadium IV”

Ini hari tersedihku, bahkan hatiku lebih sakit dari pada saat kami berpisah waktu itu. Dia, si Riku bodoh itu kenapa tidak cerita. Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit, air mataku terus saja mengalir tanpa henti.
Ruang berpintu kaca itu menghentikanku, aku melihatnya terbaring lemah, dengan selang infus dan oksigen yang menempel di tubuh yang semakin kurus dan tidak berdaya itu. Kakiku bergetar, aku terjatuh di depan pintu. Menutup wajahku yang entah bagaimana rupanya sekarang.
“Ayane, jangan menangis lagi, wajahmu sudah pucat” Miwa mengelus bahuku.
“Kenapa dia tidak cerita, aku seperti tidak berguna saja huuuu” Aku menangis lagi, aku sudah tidak peduli pada tatapan pengunjung rumah sakit.
“Riku tidak ingin kau sedih, dia bilang tidak bisa meninggalkanmu, jadi dia membuatmu benci padanya dan kau meninggalkannya”
“Bodoh! Padahal aku tidak pernah bisa membencinya”
“Iya, aku tau itu. Makanya dia membuat seolah olah kami berpacaran, padahal aku adik sepupunya, ayahnya dan ibuku kakak beradik, dia bilang padaku Ayane adalah gadis yang paling manis yang pernah dia kenal, R… Riku sangat mencintaimu Ayane” Aku menangis lagi. Riku kumohon sadarlah, buka matamu, aku di sini.

Sudah seminggu ini aku terus menjenguknya, bergantian dengan Ayah dan Ibunya. Aku menatap wajahnya yang tidur terlelap. Dia sangat kurus, pipinya cekung.
“Riku, bangun! Kau sudah tidur sangat lama, kau sangat kurus karena kau tidak makan dan hanya tidur terus, di sekolah sepi tidak ada yang bermain basket lagi, kata mereka tidak seru tidak ada Riku, dan gadis gadis yang bersorak menyebut namamu juga jadi tidak pernah berkumpul di lapangan basket lagi, dan a… apa kau tidak rindu padaku? kalau aku sangat rindu, jadi kumohon bangunlah” Aku menangis lagi.
“Kau tidak kasihan padaku, kata Yui kantong mataku menghitam karena terlalu sering menangis, jadi kumohon sadarlah Riku”
Aku menangis seharian, sampai kelelahan dan tertidur di sebelah Riku. Samar samar aku merasakan sebuah tangan mengusap kepalaku lembut, aku mengangkat kepalaku dengan cepat.
“R…Riku kau sadar? Sebentar aku panggilkan dokter” Aku sangat gembira, aku sampai berlari lari dan berteriak memanggil dokter.

Hari ini kami semua berkumpul. Ayah Riku dan ibunya sudah datang, Riku tersenyum. Badannya semakin kurus, pipinya semakin mencekung, sorot matanya seolah olah mati. Dan aku terus menggenggam tangannya. Kata dokter dia sedikit membaik dan kami semua bersyukur.
“Ibu, aku ingin pergi jalan jalan dengan Ayane” Ucapnya pelan.
“Boleh, tapi jangan terlalu lama dan kau harus naik kursi roda ya” Riku mengangguk.

Kami berkeliling taman rumah sakit, Riku banyak tersenyum hari ini. Aku juga, karena kata dokter kondisi Riku mengalami kemajuan.
“Pemandangan musim semi indah ya?”
“Iya, bunganya juga sangat cantik”
Riku menatapku, dia menggenggam tanganku erat sekali.
“Kenapa kau jelek sekali, matamu itu seperti mata panda, dan kenapa tanganmu jadi kecil seperti ini, apa kau tidak makan hah?”
“Ini karenamu aku menjadi jelek, kau membuatku khawatir, kau membuatku sakit, hatiku ini terasa sesak tau” Aku kembali menangis, Riku mengusap rambutku.
“Maafkan aku”
“Sembuhlah! maka aku akan memaafkanmu” Riku mengangguk, aku memeluknya dan menangis di dadanya. Masih sama, dada ini masih hangat seperti dulu.
Aku kembali bersemangat untuk ke sekolah, Riku sudah benar benar membaik sekarang, bahkan dia sudah mulai menyalin catatan dari sekolah yang kubuatkan untuknya.

Musim gugur kesekian kalinya yang aku lewati dengannya, Hari ini pulang sekolah aku akan menjenguknya. Aku sudah membawakan bento buatanku sendiri, Riku sangat menyukai bento. Saat jam pelajaran terakhir, Miwa kekelasku.
“Ada apa?”
“R… Riku, dia sudah meninggal” Miwa menangis, Aku terdiam, seluruh saraf di tubuhku mati, aku tak mampu bergerak ataupun menangis. Seperti tersambar petir, hatiku terluka lagi, dadaku sesak. Mataku gelap lalu aku tak ingat apapun.
Aku membuka mataku, ruangan bercat putih, entah di mana ini. Tapi tubuhku berat sekali, ada infus di tanganku, ada apa ini. Riku mana. Miwa di mana.
“R…Riku” Aku berusaha bangkit.
“Sayang kau sudah sadar?”
“Ibu, aku di mana? Riku ada di mana?” Aku melihat mendung di wajah ibuku, dia menangis memeluk ayahku. Ada apa ini, Riku di mana.
“Ibu jawab, Riku ada di mana?” Kalimatku bergetar, aku menahan tangisku.
“Riku sudah meninggal sayang” Aku menangis sejadi jadinya, aku memukuli dadaku sendiri, rasanya sesak. Riku tolong aku, aku mohon, rasanya sakit sekali.

Aku berjalan sendirian, bunga sakura berguguran diterpa angin musim ini. Aku sangat suka aroma musim gugur, mengingatkanku padanya. Aku menemukan makamnya, tanahnya belum sepenuhnya kering. Aku duduk di samping tumpukan tanah merah itu.
“Hay, aku datang. apa kabar? kau senang di sana? aku merindukanmu, sekarang sedang musim gugur, kau sangat menyukainya kan. Oh iya, tim basket minggu depan akan bertanding dengan SMU di Osaka, sekarang aku menejer mereka, aku senang loh, mereka semua memanggilku menejer ay–chan. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak menangis lagi, aku harap kau juga jangan menangis di sana, kalau rindu datanglah ke mimpiku, Riku, aku sangat sangat sangat suka padamu, kau tahu kan di sekolah kita tidak ada yang sekeren Riku, jadi aku tidak ingin cepat cepat dapat pacar baru, dan kau juga jangan terlalu cepat naksir perempuan lain di sana ya, hehe. Baiklah kapten aku pulang dulu, besok aku datang lagi, dahhhh jaga dirimu yaa!!!”

Aku melangkah dengan ringan meninggalkan makam itu, bunga sakura terus terbang di atas kepalaku, haha aku tau itu dari mu Riku. Aku bahagia sekarang, jadi berbahagialah.

Cerpen Karangan: Mella Dwi Kartika
Facebook: Mella Dwi Kartika

Cerpen My Autumn Boy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inarticulate, Love Ends In Spring

Oleh:
Kenapa perasaan itu harus hadir dan menyapa kehidupanku jika pada akhirnya hanya membuat rapuh, dan lelah hati kini sudah mulai berujung pada kesiksaan yang hanya meninggalkan luka di dalam

Air Mata untuk Fernando

Oleh:
Newcastle Senior High School. Ya, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi Carole karena hari ini adalah hari pertama ia membuka lembaran hidupnya di masa terindah para insan

1 Missed Call

Oleh:
Hari ini adalah tepat dua tahun meninggalnya ayahku. Aku dan ibuku pergi ke makam ayah. Sebenarnya aku dan ayah tidak dekat, karena ayah dan ibu sudah berpisah sejak aku

Semua Tinggal Kenangan

Oleh:
Aku tidak pernah menginginkan semuanya terjadi seperti ini. Walau terkadang kau buatku menangis dan jengkel. Ternyata yang terjadi hanya kepalsuan yang kau berikan padaku. Dan sekarang kau tinggalkan aku,

Perbedaan

Oleh:
“Fen, kita enggak bisa lanjutin hubungan ini. Sorry.” ujar Sheril ke dapan Fendi ketika mereka sedang berdua di suatu restoran pinggir pantai. Serasa jantung Fendi berhenti berdetak dan darahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *