My Heart

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Rinai tersenyum saat mendapati Ray yang sedang duduk di taman kampus. Gadis ini langsung menghampiri Ray dan duduk di sampingnya. Ray sedang bersandar pada sandaran bangku sambil memejamkan matanya. “kalau masih sakit kenapa udah masuk?” Rinai menempelkan telapak tangannya pada kening Ray, wajahnya masih pucat. Sudah satu minggu ini Ray sakit. Sudah 4 hari di rumah sakit. Yang Rinai tahu Ray hanya sakit karena kelelahan terlalu sibuk mengurus pameran. Ray membuka matanya lalu memalingkan mukanya pada Rinai.

“Udah baikan.”
“Muka kamu masih pucet, badan kamu juga masih anget.” Ucap Rinai.
“Udah gak apa-apa. Yuk!!” Dengan lembut Ray menarik bangun Rinai. Menggandengnya menuju parkiran.

“Mau makan dulu?” Tanya Ray saat sudah di dalam mobil.
Rinai menghentikan kesibukannya menyusun laporan lalu menatap jam di pergelangan tangannya.
“Iya. Tadi gak sempet makan pas istirahat.” Jawab Rinai sambil meneruskan kembali laporannya. Ray tersenyum, mengacak poni Rinai.

“Besok boleh minta waktu lo gak? Gue mau besok seharian sama lo. Lo bisa kan izin satu hari?” Ray menatap Rinai lalu menggenggam satu tangannya yang sedang sibuk menekan-nekan keyboard laptop. “Besok? Emm… emang kenapa?” Ganti Rinai menatap Ray, agak bingung. Yang dilihat sudah mengalihkan pandangannya ke jalan.
“gak apa-apa mau jalan-jalan aja sama lo seharian.” Ray menatap Rinai tersenyum.
“Emm… oke deh,”
“Jam setengah 7 gue jemput” Ray tersenyum, lagi.

Jam 6:25, Ray sudah sampai di depan rumah Rinai. Dia sedang menunggu Rinai di teras. Menunggu Rinai menyelesaikan dandannya. Setelah 10 menit menunggu Rinai ke luar lalu menghampiri Ray. Dia sedang duduk menyandarkan tubuhnya sambil terpejam. Raut wajah pucatnya masih terlihat. Perlahan Rinai menempelkan telapak tangannya di dahi Ray, ada cemas saat melihat Ray masih tampak pucat. Apalagi kemarin saat makan Ray sempat mimisan. Rinai panik bukan main. Namun, Ray hanya menanggapi tenang sambil meyakinkan Rinai bahwa dia tidak apa-apa. Kemarin juga Rinai sudah ingin membatalkan acara mereka hari ini. Namun, Ray tidak ingin dan keras kepala ingin hari ini mereka pergi berdua.

Ray membuka matanya saat dirasakan ada yang menyentuh dahinya. Dia menatap Rinai sesaat lalu tersenyum. Rinai menurunkan tangannya, lalu dia duduk di bangku sebelah Ray.
“Gak usah ya. Kamu masih sakit. Aku takut kamu kenapa-kenapa. kalau kayak kemarin gimana?” Ucap Rinai cemas.
“Gue gak apa-apa. Yuk!!” Ray bangkit berdiri, menarik lembut Rinai bangkit. Lalu menggandeng Rinai menuju mobil.
“Emm.. mau ke mana nih?” Tanya Rinai saat mobil Ray mulai memasuki kawasan hutan di pinggir kota.
“Ke tempat yang pasti lo suka. Yuk!! Udah gak muat untuk jalan mobil.” Ray tersenyum menunjuk jalan di depannya yang kini sudah menjadi jalan setapak kecil, lalu turun dari mobil.

Rinai ikut turun dari mobil lalu mengikuti Ray yang sudah jalan terlebih dahulu mengikuti jalan setapak. Jalan itu berakhir dengan sungai kecil di depannya. Ray membantu Rinai melewati bebatuan sungai sambil terus memperingati Rinai untuk berhati-hati. Setelah melewati sungai suara gemericik air masih terus terdengar. Ray menggandeng Rinai menuntunnya memasuki hutan lebih dalam lagi.

Suara gemericik air semakin kencang, saat Ray menyibak ranting dan semak di depannya yang menutupi jalan tampak sebuah air terjun yang indah, ada sebuah pohon besar tak jauh dari pinggir sungai. Tampak sebuah pelangi yang melengkapi indahnya air terjun. Rinai tertegum. Menatap pemandangan di depannya terkesima. Rinai pecinta air terjun. Ray tersenyum menatap Rinai.

“Gimana?” Tanyanya sambil berjalan menuju pohon besar di tepi sungai. Rinai tersadar lalu menatap Ray yang sudah duduk bersandar pada batang pohon. Membuka tas kameranya. Rinai tak menjawab pertanyaan Ray. Gadis ini masih memerhatikan dengan terkesima pemandangan di sekelilingnya. Ray mengarahkan kameranya pada Rinai. Dia tersenyum saat melihat hasil fotonya. Rinai tanpak tersenyum melihat air terjun di depannya terkesima. “Cantik.” Gumam Ray.

Rinai berjalan mendekati tepi sungai air terjun. Dia tersenyum senang lalu membuka sepatu yang ia kenakan. Dengan perlahan dia memasuki kolam di bawah air terjun. Dingin saat telapak kakinya menyentuh air tak ia hiraukan. Ray tersenyum saat melihat Rinai sedang mendekati air terjun. Dia kembali mengarahkan kameranya pada Rinai.

“Nay, lo gak bawa baju ganti!!” Ray berseru saat melihat Rinai berjalan semakin mendekat pada air terjun. Dia tahu pasti Rinai akan berdiri di bawah air terjun.
Rinai menoleh tersenyum. “Tadi sebelum masuk area hutan kan ada toko baju.” Jawab Rinai, dia tersenyum senang masih terus berjalan mendekat. “Kita bisa beli baju ganti di sana.”
Ray menggeleng tersenyum geli. Rinai sudah basah kuyup di bawah air terjun. Dia mendekati batu yang ada di bawah air terjun lalu duduk di atasnya. Ray menggeleng lagi melihat tingkah Rinai. Dia melihat-lihat lagi hasil fotonya. Tersenyum geli saat melihat foto Rinai yang sedang duduk di atas batu merentangkan tangannya.

Ray memegangi kepalanya saat tiba-tiba dia merasakan sakit di kepalanya. “Kenapa?” Rinai tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. “Ah! Nggak. Gak apa-apa. Cuman pusing dikit.” Ray terkejut saat mendapati Rinai di hadapannya.
“Bener?” Tanya Rinai cemas. Dia meletakkan telapak tangannya di kening Ray.
“Ais!! Basah itu netes-netes.” Ray menyingkirkan tangan Rinai dari dahinya.
Rinai menjauhkan tangannya lalu duduk di samping Ray. Dia menatap Ray lekat. “Gue gak apa-apa.” Ray tersenyum mengacak poni Rinai saat gadis ini menatapnya cemas.

“Kenapa udahan?” Tanya Ray mengalihkan. Berhasil. Rinai memegangi perutnya. Dia lapar. Tadi pagi Dia tidak sempat sarapan karena Ray datang terlalu pagi.
“Belum makan udah main air. Entar masuk angin aja.” Ucap Ray kesal. Dia membuka tas ranselnya. Mengeluarkan kotak makanan. Dia memang sengaja membawa bekal karena tidak mungkin ada tukang makanan yang berjualan di tengah hutan. Dan dia pun yakin Rinai tidak ingin beranjak dari tempat ini hanya untuk mencari makanan.

“Udah yuk. Lo udah menggigil tuh” Ray berjalan menuju tepi kolam.
Tadi setelah beristirahat sebentar setelah makan Rinai menarik paksa Ray untuk ikut bermain air di bawah air terjun. Ray menolak permintaan Rinai. Namun Rinai terus memaksa. Dengan berat hati dia menuruti keinginan kekasihnya ini. “Nay, ayo! Udah sore nih.” Ray berteriak saat melihat Rinai tak beranjak menepi.

Rinai berseru kecewa lalu berjalan ke tepi kolam. Dia merengek ingin tetap di sini. Namun, dengan tegas Ray menolak. “Ini udah sore. Entar kita telat.” Ray merapihkan kameranya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Telat?” Ulang Rinai bingung.
“Ada satu hal lagi yang mau gue lihat bareng lo” ucap Ray tersenyum.
Rinai hanya menatapnya bingung. Ray memakaikan jaketnya pada Rinai saat melihat gadis ini terus mengusap-usap kedua telapak tangannya.

Ray memegangi kepalanya saat merasakan sakit di kepalanya. Dia memegang batang pohon saat terhuyung ingin jatuh. Ray menekan kepalanya kuat. Rinai sudah berjalan di depannya dari tadi. Jadi dia tidak menyadari Ray sedang menahan rasa sakit, bersandar pada batang pohon. Ray mengerahkan kekuatannya untuk bangkit. Sakit di kepalanya belum hilang. Rinai menoleh ke belakang saat dirasanya Ray tak berjalan bersamanya.

Dia terperangah saat melihat Ray sedang bersandar pada batang pohon sambil mengerang menahan sakit memegangi kepalanya. Dia segera berlari menghampiri Ray. Bertanya dengan cemas. Ray hanya menggeleng mengatakan tidak apa-apa. Rinai membuka tas Ray saat Ray menyuruhnya mencari obat di sana. Dia segera menyerahkan obat itu pada Ray lalu menyerahkan botol air minum pada Ray.

“Nanti gue tunjukin jalannya.” Ucap Ray serak saat mereka sudah di mobil. Rinai sudah memohon agar mereka pulang. Namun, Ray menolak. Dia bilang ini permintaan terakhirnya. Setelah ini dia akan menuruti apa pun yang Rinai inginkan. Pulang atau tetap tinggal, akan dituruti. Rinai hanya menatap Ray cemas lalu menghidupkan mobil. Dia memang meminta agar dia yang membawa mobilnya.

Ray terus mengarahkan jalan. Mereka berhenti di pinggir sebuah jurang. Dingin terasa saat mereka ke luar mobil. Mereka sedang ada di sebuah bukit. Di depan tampak matahari yang perlahan turun. Ray pecinta sunset. Inilah permintaan terakhirnya, sekaligus sebagai penutup hari ini. Melihat sunset bersama Rinai dari ketinggian. Mereka mengobrol ringan sambil melihat matahari yang terus merendah. Rinai menyinggung sedikit tentang kondisi Ray. Dan lagi, Ray menjawab kalau dia tidak apa-apa.

Ray memberitahu kenapa dia hari ini ingin hanya bersama gadisnya. Dia ingin membuat kenangan indah bersama Rinai agar Rinai tidak akan melupakannya. Ray terus tersenyum, sampai langit gelap dan matahari pun sudah menghilang. Dia merangkul Rinai lalu membawa gadis ini untuk memeluknya. Lalu berbisik. “Jangan lupain aku ya. Aku sayang sama kamu. Kemarin, hari ini, besok, dan selamanya.” Rinai tertegun.

Ray melepaskan pelukannya. Dia tersenyum. Mengelus lembut pipi Rinai lalu mencium kening Rinai. Rinai hanya tersenyum menanggapi perlakuan Ray hari ini. Ini pertama kalinya Ray bersikap lembut dan romantis pada Rinai. Dan ini pertama kalinya Ray menggunakan bahasa ‘aku kamu’. Rinai mengajak Ray pulang. Rinai tersenyum saat mendapati Ray tertidur. Raut pucatnya masih ada. Tanpak tenang. Rinai mengusap lembut rambut Ray, lalu kembali fokus pada jalan.

Rinai menoleh saat dari tadi Ray terbatuk, Ray masih terpejam. Gusar, sedari tadi dia terus mengubah posisi tidurnya. “Nggghhh… sssssttt…” Ray tersadar memegangi kepalanya. Ray merasakan sakit di kepalanya semakin menjadi. Rinai menepikan mobilnya saat melihat Ray tampak kesakitan memegangi kepalanya. “Ray kamu kenapa?” Rinai bertanya panik. “Ray! Aduh kamu kenapa sih?” Rinai makin panik saat Ray semakin mengerang merasakan sakit. “Kita ke rumah sakit ya.”

Rinai segera menghidupkan mobil dan melaju cepat menuju rumah sakit. Dengan panik dan cemas Rinai sesekali menatap Ray. Dia masih terus memegangi kepalanya kesakitan. Satu meter menuju rumah sakit tiba-tiba Ray mimisan. Rinai semakin panik dan melajukan mobil semakin cepat.

Ray kritis. Dia masih ditangani dokter. Tadi dokter sudah selesai, memang belum ada yang boleh melihat. Namun, 15 menit kemudian suster ke luar mencari dokter. Kondisi Ray menurun. Rinai dari tadi duduk di bangku tunggu di depan ruang ICU terisak di pelukan Winda, Mama Ray.

Sudah 2 tahun terakhir Ray mengidap kanker otak. Dia sempat terpuruk. Dia tidak ingin dekat dengan siapa pun. karena itu dia menjadi pendiam dan dingin. Karena dia tidak mau menambah kesedihan orang saat nanti dia meninggal. Namun, tiba-tiba saja dia tertarik dengan gadis dari fakultas hukum. Iya, dia menyukai Rinai. Dia sebenarnya sudah akan menjauhi Rinai. Namun, entah memang mereka jodoh atau hanya kebetulan, mereka dipertemukan di puncak saat siswa dari fakultas hukum dan fakultas fotografer sedang melakukan kemah.

Mereka menjadi dekat. Dan setelah 6 bulan mereka dekat Ray memberanikan diri dan menembak Rinai. Dia enyahkan semua pikiran buruknya dan dia semakin semangat untuk berobat. Tapi Tuhan punya rencana lain. Sebulan lalu kanker otaknya sudah memasuki stadium akhir. Itu yang membuat Ray menjadi terpuruk kembali. Dia memikirkan bagaimana kalau nanti dia meninggal. Gimana sama Rinai. Dia takut Rinai akan sedih.

“Permisi. Pasien ingin bertemu dengan Rinai.” Dokter ke luar menghampiri Winda dan Rinai.
“Ah! Iya dok.” Rinai bangkit.

Menyeka sisa-sisa air matanya lalu masuk ke ruang ICU. Dia menutup pintu ruangan dengan perlahan. Ray terbaring di ranjang Rumah Sakit dengan selang oksigen, infus, dan dengan beberapa alat lain yang Rinai tidak tahu namanya. Tapi dia tahu. Itu yang membantu Ray tetap ‘tinggal’. Lolos. Air matanya silih berganti berjatuhan. Dia tidak bisa menahannya lagi. Ray mengerang pelan lalu memegangi kepalanya.

Dia membuka matanya lalu memalingkan pandangan ke pintu saat dia merasakan ada yang sedang berdiri tak jauh dari pintu. Ray tersenyum, senyumnya pun tak bisa menghilangkan raut pucat dari wajahnya. Dia menunjuk bangku di sebelah ranjangnya dengan dagu, bermaksud menyuruh Rinai untuk duduk. Dengan perlahan Rinai mendekati ranjang Ray. Gadis ini masih berusaha menahan tangisnya. Ray menyeka air mata Rinai saat dia sudah duduk.

“Gue.. minta lo.. masuk.. bukan.. buat lihat.. lo nangis..” Ray mengusap pipi Rinai lalu mengacak poninya.
Rinai menggenggam tangan Ray. “Bertahan buat aku..” Rinai mulai terisak lagi. Dia menundukkan wajahnya dalam. Ray menggenggam tangan Rinai yang sedang menggenggam tangan kanannya.

“Gue.. terus berusaha.. tapi.. gue gak.. bisa janji..” Ray menarik napasnya. Dia memejamkan matanya sebentar, meredam rasa sakit. “Umur.. udah diatur.. sama Tuhan.. Gue.. gak tahu.. bakal bertahan.. sampai kapan..” Tangan kirinya mengangkat dagu Rinai. Dia ingin menatap wajah kekasihnya ini. “Gue.. boleh minta.. satu hal..”
Rinai menatap Ray. Matanya kini sudah agak bengkak. “lo.. sekarang boleh.. nangis sepuas.. lo.. Tapi tolong.. setelah itu.. jangan nangis lagi.. karena gue..” Rinai menggeleng.

Air matanya semakin deras. Dia bangkit, lalu memeluk Ray. Menangis di bahu Ray. Ray tersenyum. Satu air matanya lolos tak bisa dia tahan. Dia mengusap-usap rambut Rinai perlahan. ‘Please, Tuhan. Gue mohon. Jangan biarin orang-orang yang gue sayang sakit karena kondisi gue. Gue gak bisa ngelihat mereka sedih.’ Ray memohon dalam hatinya.

“AAARRRRGGGGHHHH…. AARRGGHH… AAARRRRGGGHHHH….” Ray mengerang kesakitan saat Rinai mengurai pelukannya. Dia menekan kepalanya kuat. Berusaha meredam rasa sakit.
“Ray!! Ray!! Ray kenapa? Ray!!” Rinai segera berlari ke luar. “Dokter!!! Dokter Tolong, Dok!!” Rinai berteriak panik memanggil dokter. Winda menghampiri Rinai bertanya ada apa. Rinai hanya menangis sambil mengucapkan ‘tolong Ray’ Tak lama satu orang dokter dan dua suster menghampiri Rinai. Dokter itu langsung masuk ke dalam. Satu orang suster menahan Rinai. Memintanya untuk menunggu di luar.

Rinai terus menyeka air matanya sebelun turun membuat aliran kecil di pipinya. Gadis ini terus mengusap-usap batu nisan Ray. Dua orang teman Ray yang masih duduk di samping makam Ray akhirnya bangkit. Mereka pamit undur diri kepada orangtua Ray dan menepuk pelan bahu Rinai sambil pamit dan mengucapkan turut berduka. Setelah dua teman Ray pergi, Winda menghampiri Rinai. Rama, Ayah Ray ikut menghampiri Rinai. Dia mengusap kepala Rinai lembut. Rinai menoleh, lalu tersenyum tipis.

“Kita pulang yuk.” Ajak Winda. Rinai mengangguk lemah. Dia mengusap kembali batu nisan Ray lalu beranjak bangkit di bantu Winda. Rinai berjalan di antara Rama dan Winda. Dia terus mengusap matanya yang ingin menjatuhkan bulir air mata. “Ke rumah dulu ya, sayang” Winda meminta saat sudah di dalam mobil. Lagi, Rinai hanya mengangguk.

Winda membawa air putih ke kamar Ray. Dia menaruh gelasnya di meja. Mengusap lembut rambut Rinai. “Ray nyuruh kamu buka lemari itu.” Winda menunjuk lemari sedang di sebelah meja belajar Ray. “Makasih Tante.” Suaranya serak sambil mengangguk lemah.
“Tante tinggal dulu ya” Winda menepuk pelan bahu Rinai lalu beranjak bangun saat Rinai mengangguk. Winda berhenti sejenak di ambang pintu. Dia menyeka air matanya yang turun perlahan. Dia menoleh menatap Rinai yang mulai berjalan mendekati lemari yang ia tunjuk tadi.

Lagi, Rinai menyeka air matanya sebelum turun. Lalu beranjak bangun menuju meja belajar Ray. Rinai duduk di bangku meja belajar Ray. Foto-foto mereka berdua ditempel Ray di meja belajarnya. Dia lapisi kaca agar tidak mudah rusak dan hilang. Rinai mengambil album foto bermotif polkadot warna biru langit dan merah. Warna kesukaan mereka berdua. Dengan perlahan Rinai membuka album foto itu. Di halaman pertama hanya ada kertas berwarna biru kalem. Bertulisan tinta merah pudar. Air matanya mulai menetes saat membaca tulisan itu.

Kali ini dia biarkan mereka turun. Biarlah. Biar Ray pun tahu, kalau gadis ini sangat mencintainya. Dia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia membuka lembar berikutnya. Di setiap foto ada sebuah memo kecil di bawahnya. Berisikan tempat, tanggal, waktu dan kejadia apa yang sedang terjadi. Rinai menyeka air matanya. Dia mengambil sebuah bingkai foto yang ada di meja belajar Ray. Foto dirinya dan Ray saat Ray menembak Rinai. Air matanya kembali turun satu persatu. Dengan sigap dia menghapusnya.

Dia menaruh kembali bingkai tersebut lalu segera beranjak bangun dan membuka lemari yang tadi Winda tunjuk. Lagi, entah untuk keberapa kalinya air mata Rinai turun. Kali ini dengan suara tangisan kecil. Lemari itu berisi barang-barang yang Rinai kasih untuk Ray. Dan barang-barang kenangan mereka selama satu tahun lima bulan ini. Rinai menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Dia menangis sambil terisak. Bahunya berguncang.

Di luar Winda yang dirangkul oleh Rama sudah menangis dari tadi. Mereka terus memerhatikan Rinai saat dia sedang melihat album foto. Rama terus mengusap-usap bahu Winda mencoba menenangkan. “Kenapa kayak gini? Kenapa harus kayak gini? Kamu jahat Ray!! Kamu jahat! Kenapa kamu giniin aku? Kenapa?” Rinai terus bergumam sambil memukul kakinya. Menahan kesal dan sesak yang ada di hatinya.

Cerpen Karangan: Nadhiroh
Facebook: Nadhiroh ReflectionNizer

Cerpen My Heart merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putri Minaus

Oleh:
Ini kisah masa lampau, dari seorang tuan putri. Ia tinggal di sebuah kerajaan besar yang terbuat dari berkilo-kilo ton keju, tuan putri itu bernama putri minaus(putri tikus). Nan jauh

Bukan Untukku (Part 1)

Oleh:
Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya.

I’m Here For You

Oleh:
Sudah lama memang, tapi aku belum bisa melupakanmu. Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Tapi, mungkin jika saja aku menahanmu dulu, mungkin kamu tidak akan pergi. Aku meletakkan mawar

A Road To The Endless Love

Oleh:
Malam itu terasa sangat dingin menusuk hati, membalut jiwa-jiwa yang sedang perih hatinya. Meskipun musim dingin telah berakhir di Vancouver, namun malam ini terasa sangat dingin dari hari-hari biasanya.

Cinta Di Ujung Perpisahan

Oleh:
Sudah beberapa hari ini aku merasakan hal yang berbeda dari dia. Dia adalah Septian David Maulana, David biasa ia disapa. Sekarang ini dia begitu perhatian denganku. Awalnya ku resah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “My Heart”

  1. wanda geo p says:

    Ya tuhaan cerita nya nyentuh banget :'( netes juga gw nge.baca nya :'(

  2. ayu yuniar says:

    ahh..,smpe nangis,nyentuh bngt ceritanya:'(,kerennn sumpah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *