Nayla dan Naya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 December 2016

Semua ini berawal dari pertemuan singkatku dengan Arya. Arya adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi, putih, mancung, pokoknya perfect.
Waktu itu Arya tak sengaja menyenggol belanjaanku saat aku sedang asik-asiknya belanja di mini market dekat kompleksku.

“Ah. Maaf aku tak sengaja” Ucapnya minta maaf
“Oh. Tak apa. Aku juga tadi jalan tidak lihat-lihat” Ucapku.
“Ya ya.. Kalau begitu saya duluan yah.” Pamitnya
“Iya. Silahkan.”

Lalu aku melanjutkan belanjaanku dan bergegas pulang.. Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya pada adik kembarku.

“Trus kakak tertarik gitu ama tuh cowok?” Tanya adikku menahan tawa
“Yah nggak lah dek.. Orang juga baru kenal” Kataku cuek “Tapi btw, aku kok baru lihat dia yah?”
“Mungkin dia gak sengaja lewat lalu singgah cari apa gitu?” Kata adikku
“Owh. Iya juga yah?” Kataku

Owh iya. Namaku Nayla. Aku bisa dibilang cantik. Karena postur tubuh yang ideal dan memiliki kulit putih mulus dan mancung. Aku punya adik kembar. Namanya Naya. Dia dan aku hampir sulit dibedakan. Hanya saja, aku mempunyai tahi lalat di leherku.

Hari ini aku buru-buru ke kampus, berlari sekencang-kencangnya karena takut terlambat, sebab hari ini ada jam pak kiler di kelasku.

“Huh, huhh… Cha, pak Wisnu belum masuk kan?” Tanyaku ngos-ngosan karena habis lari karena takut telat.
“Ya ampun Nay, Nay. Duduk dulu sono. Hari ini pak Wisnu gak masuk. Katanya ada keperluan keluarga gitu” Jelas temanku, Icha.
“Udah capek-capek juga lari, ternyata dosennya juga gak masuk. Haduh.” Ketusku.
“Haha.. Sabar yah Nay.” Ucap icha.

Sepulang dari kampus, aku menunggu taksi. Karena hari ini mobilku dipakai sama Naya..
“Hei” Sapa seseorang dari belakang
“Oh. Hei. Kamu kan yang kemarin nabrak belanjaan aku?” Tanyaku pada pemuda yang menabrak belanjaanku kemarin
“Oh, iya. Kamu kok jalan sendirian? Hmm.. Namaku Arya. Kamu?” Tanyanya
“Namaku Nayla. Mobil aku dipakai”
“Owh. Kalau gitu. Bareng aku aja. Mobil aku ada di depan. Biar sekalian bisa tau runah kamu juga” Ajaknya
“Hmm. Boleh.” Jawabku setuju

Semenjak hari itu aku sering jalan bareng sama Arya. Banyak yang mengira kalau kami pacaran. Mungkin dari kebersamaan itu. Mulai tumbuh perasaan suka pada Arya. Entah kenapa, aku sangat nyaman berada di sampingnya. Aku tidak tau, apakah Arya merasakan yang sama atau tidak. Dan juga, sampai sekarang Arya belum tahu kalau aku punya saudara kembar. Aku sengaja gak memperkenalkan Arya dengan Naya, sebab aku dan Naya udah punya kesepakatan, kalau kami tidak boleh memberitahu dan memperkenalkan gebetan atau pacar salah satu di antara kami. Entah kenapa, aku setuju saja sama kesepakatan Naya.

Malam ini malam minggu. Arya mengajakku ke taman favorit kami. Katanya ada yang mau dia bicarain. Aku mengiyakan saja. Tapi entah kenapa, dadaku berdegup kencang, rasanya aku deg-degan banget. Apa jangan-jangan Arya akan menembakku. Ahh. Sudahlah.. Aku pun berangkat menggunakan mobilku sendiri.

Di taman
“Udah lama nunggunya?”
“Nggak kok. Aku juga baru sampai”
“Kita kesana yuk” Ajaknya menunjuk sebuah tempat
Aku berjalan di sampingnya. Aku kaget saat melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Taman itu dipenuhi lilin berbentuk LOVE
“Nayla. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku nyaman banget saat berada di samping kamu.” Ungkapnya
“Aku juga cinta kamu Arya”
“Kamu mau kan jadi pacar aku?” Katanya sambil menyerahkan sebuah bunga mawar
“Iya. Aku mau” Jawabku agak malu.
Setelah itu, kami makan malam bersama, kemudian jalan-jalan sampai ia mengantarku pulang.

“Makasih yah Arya. Kamu nggak masuk dulu?” Kataku saat sampai di depan rumah.
“Makasih. Tapi udah larut. Aku pulang duluan yah sayang. Good night” Katanya
“Oke. Good night too sayang. Hati-hati di jalan.”
“Oke” Lalu ia pun pulang.

Aku menceritakan yang terjadi malam ini pada Naya. Naya hanya kebanyakan menertawaiku saat aku menceritakan betapa bahagianya aku malam ini.
“Cie kakak. Udah jadian nih ye. PJ donk”
“Wee. Sejak kapan kamu kasih kakak PJ kalau kamu jadian?”
“Yah elah. Aku kan cuma bercanda” kata adikku cengingisan.
“Tidur yuk. Udah larut” Kataku
“Yuk”

Keesokan harinya aku menghabiskan waktu bersama Arya sepanjang hari. Rasanya aku bahagia banget. Arya orangnya perhatian banget. Humoris. Pokoknya tipe aku banget lah.

Tak terasa sudah 7 bulan aku pacaran dengan Arya. Arya gak berubah. Tetap seperti Arya yang dulu. Yang selalu perhatian. Tapi saat memasuki bulan ke-8 kami pacaran. Arya harus ke Amerika untuk menyelesaikan studynya.

“Sayang. Maaf. Aku harus ke Amerika. Aku ingin melanjutkan studyku disana. Gak lama kok sayang. Cuma 2 tahun lebih. Kamu mau kan menunggu aku disini? Demi cinta kita.” Katanya.
“Iya sayang. Pasti. Aku bakal setia sama kamu. Kamu juga yah, tetap setia sama aku?!.” Kataku berlinang air mata.
“Iya sayang. Aku janji. Setelah sampai ke sini, aku bakal melamar kamu. Janji. Udah, jangan nangis lagi dong sayang.” Katanya sembari menghapus air mataku.
“Iya. Kamu jaga diri baik-baik. Kabari aku kalau sudah sampai” Kataku
“Pasti sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik” Lalu ia mencium keningku. Lalu naik ke pesawat. Itulah pertemuan terakhirku dengannya.

Dia selalu mencoba mengabariku. Namun selalu adikku yang mengangkat telepon dan membalas chat dan bbm dari dia. Karena sebenarnya aku mengidap penyakit kanker tulang dan saraf. Namun aku tak pernah memberi tahu Arya. Aku takut Arya akan sedih.
Dan setiap kali dia menghubungiku, aku selalu menyuruh adikku yang meresponnya sebab aku sudah tidak berdaya lagi. Aku tinggal menunggu waktuku.

Pada tahun Ke-2 Arya di Amerika. Aku menghembuskan nafas terakhirku. Tapi sebelumnya, aku berpesan pada Naya, agar jika Arya kembali ke Indo, naya mau menemuinya dan menjelaskan semuanya. Dan selama Arya masih di Amerika, aku menyuruh adikku agar tetap meresponnya. Itulah permintaan terakhirku. Lalu kutitipkan surat untuk Arya yang masih sempat aku tulis dan kutitipkan pada Naya.. Lalu aku menghembuskan napas terakhirku dengan tenang.

Setelah Arya kembali ke Indo, Naya menjemputnya di Bandara. Arya langsung memeluk Naya, namun Naya langsung melepaskan pelukan itu.
“Ada apa? Apa kau tak merindukan aku?” Tanya Arya
“Ng. Ng. Ayolah kita langsung pulang saja. Ada yang ingin kubicarakan padamu” ucap Naya berusaha menahan tangisnya
“Hmm. Yah sudahlah.” Kata Arya masih heran.

Setelah sampai di sebuah taman. Naya mulai menceritakan apa yang terjadi.
“Maaf sebelumnya. Tapi aku bukan Nayla. Tapi aku Naya. Saudara kembar Nayla.” Kata Naya
“Apa maksudnya? Lalu kenapa Nayla tidak pernah menceritakan bahwa ia punya saudara kembar?” Tanya Arya kebingungan.
“Dulu aku dan kak Nayla pernah melakukan kesepakatan agar kami tidak aalimg memperkenalkan pacar kami satu sama lain. Itu sebabnya Kak Nayla tidak memberitahumu.” Jelas Naya
“Lalu, kemana Nayla? Kenapa kau yang menjemputku, bukan dia??” Tanya Arya
“Maaf. Sebenarnya dua tahun terakhir ini, yang sering merespun telepon dan chatmu adalah aku. Bukan Kak Nayla. Kak Nayla mengidap penyakit Kanker Tulang dan Saraf yang menyebabkan ia harus lumpuh. Tapi kak Nayla berpesan agar aku selalu meresponmu dan menjemputmu saat tiba di Indonesia” jelas Naya panjang lebar. Naya kemudian meneteskan air mata di depan Arya. Ini semakin membuat Arya bingung.
“Sekarang Nayla dimana? Bagaimana kabar dia? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Arya berlinang air mata.
“Ayo ikut aku” Ajak Naya menuju ke suatu makam yang bertulis

NAYLA BINTI LATIF
WAFAT TGL 13 JANUARI 2015

Melihat nama itu, nama orang yang disayanginya, ia tak kuasa menahan tangisnya. Ia mencium batu nisan Nayla.
“Nayla, kenapa kamu gak nepatin janji kamu? Katanya kamu bakal selalu ada di samping aku. Kamu akan menunggu aku sampai aku kembali. Tapi mana? Kamu pergi begitu aja? Kamu jahat Nayla. Hiks hiks. Aku sayang sama kamu. Aku kangen. Aku pengen meluk kamu sekali lagi. Aku pengen ngelus pipi kamu lagi.” Kata Arya disela tangisnya.
“Arya. Kak nayla senpat menulis surat untukmu. Ini” Naya menyerahkan surat itu pada Arya

DEAR, ARYA
Arya. Maafin aku. Aku tidak bisa menepati janji aku. Aku sayang sama kamu. Aku cinta, aku kangen sama kamu, tapi apa boleh buat? Tuhan sudah lebih dulu memanggilku. Maafin aku. Aku sebenarnya mengidap penyakit Kanker tulang dan saraf. Aku sudah tidak bisa apa-apa selain pasrah. Dan maaf. Selama ini yang meresponmu adalah adikku. Mungkin Naya sudah menjelaskan mengapa aku tak memberitahumu kalau aku punya saudara kembar. Aku menyembunyikan penyakitku dari kamu, karena aku gak mau, kamu sedih gara gara aku. Maafkan aku. Aku berharap kamu gak bakal nangis. Aku di sini udah bahagia. Penyakit aku udah hilang, jadi tak ada alasan lagi mengapa kau harus bersedih.
Aku titip Naya padamu. Menikahlah dengan dia. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu yang bisa aku harapkan menjaga adik aku. Aku mencintaimu selalu. Salam. Nayla.

Arya tak kuasa menahan tangisnya. Lalu ia bangkit dan memeluk Naya sembari berkata “Aku akan menjaga adikmu.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Aisyah Maya Putry
Facebook: Aisyah Maya Putry Aisyah

Cerpen Nayla dan Naya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telepon

Oleh:
Panggilan pertama tidak diangkatnya. Begitu juga dengan panggilan yang kedua, hingga panggilan yang ketiga… “Asslmualaikum” suaranya terdengar. “Waalaiksalam, apa Riri mengganggu waktu mu” tanya ku “tidak!” sahut Bima. “Riri

My Destiny

Oleh:
09.00 am. Wanita itu membuka pintu dan berjalan menuju meja nomor sembilan seperti biasa. Aku juga tahu bahwa sekitar lima menit lagi ia akan memesan coklat panas dan menghabiskannya

Lukisan Oleh Langit

Oleh:
“Kau boleh pergi jika tidak sanggup menerima kenanganku.” Di bawah terik yang menyapu mendung sedari pagi. Di atas lantai dingin campuran semen, air, dan pasir. Bayangan ring basket tertoreh

Saat ini

Oleh:
Hari ini aku bermimpi, mimpi yang sama seperti hari-hari kemarin. Mimpi yang mengingatkanku pada dirimu 12 tahun yang lalu. Awalnya kuanggap seperti bunga tidur saja, tapi setelah kupikir-pikir aku

Hubungan Tanpa Restu

Oleh:
Kring.. Kring.. Kring.. Dering ponsel terdengar keras “halo.. Ini siapa?” “iya, ini Rangga” “Rangga siapa?” Tutt.. Tutt Terdengar sambungan telepon yang putus Ya, dia ayahku yang sengaja mematikan panggilan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *