Nona Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 29 June 2014

Ketika cinta, masih terasa, walaupun sudah jauh.

Hari sudah semakin sore, malam sudah ingin menyambut, hujan pun tetap setia menemani Nona yang sedang menunggu. Bell sekolah sudah lama sekali berbunyi, tapi kaki Nona tetap enggan untuk tidak berdiri menunggu seseorang menjemputnya.
“Nona… bapak sudah mau pulang, gerbang akan bapak kunci. Kamu masih mau menunggu?” tanya pak Nurdin –satpam sekolah- untuk yang ke sekian kalinya.
“Bentar lagi deh pak…” pinta Nona untuk yang kesekian kalinya pula.
Lalu tak lama kemudian, suara derungan motor yang sudah tidak asing di telinga Nona terdengar semakin dekat. Hati Nona berdebar hebat, seseorang yang ia tunggu kedatangannya kini sampai juga. Nona semakin tidak sabar untuk menanti motor itu tepat hadir di hadapannya, dan benar saja, tak lama kemudian, motor Nicko benar-benar muncul di hadapannya.

Tin… tin…
Suara klakson motor Nicko mengisyaratkan agar Nona segera menghampirinya. Buru-buru Nona mendekati motor Nicko.
“maaf aku telat lagi”
“gak papa Nic, kamu pasti kedinginan ya? liat nih baju kamu, basah semua”
“ini sih gak seberapa sama perjuangan kamu nunggu aku sampe larut malam begini” balas Nicko sambil mengisyaratkan Nona agar naik ke motor.
“aku seneng nungguin kamu, soalnya aku banyak belajar dari semua itu”
“maksudnya?” tanya Nicko sambil menyalakan mesin motor.
“aku belajar untuk yakin! yakin kalo kamu pasti bakalan dateng, dan benar saja, harapan aku nunggu kamu itu, gak pernah gak jadi kenyataan” Nona berbicara sambil senyum-senyum sendiri.
Nicko pun begitu, mendengar Nona bicara seperti itu, rasanya sangat disayangkan kalau gadis sebaik Nona dikecewakan.

Ketika motor mulai berjalan, Nona berteriak pada pak Nurdin, “terimakasih banyak ya pak! hati-hati di jalan” Nona memang salah satu anak yang selalu membuat repot pak Nurdin, bagaimana tidak? hampir setiap hari, pak Nurdin harus pulang malam demi menunggu siswa yang satu ini benar-benar pulang.
Mendengar ucapan Nona tadi, pak Nurdin hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Di tengah perjalanan Nicko baru tersadar akan sesuatu, “kamu gak bawa jaket?”
“enggak Nic”
“ini dingin Non”
“enggak, ini gak dingin!”
“kamu bohong! ini dingin!”
“kalo ada di deket kamu, ini gak dingin!”
“kalo gitu, aku minta kamu peluk aku!”
Nona tersenyum malu, dengan segera ia pun memeluk pinggang Nicko dari belakang dan menyandarkan kepalanya tepat di pundak Nicko.
“makasih” ucap Nona pelan
“untuk apa?”
“semuanya”
“aku gangelakuin apa-apa Non”
Nona tidak menjawab, ia sedang merasakan bagaimana angin malam, dan hujan rintik-rintik membawanya ke alam lain. Alam dimana dia bisa membayangkan apapun yang ia mau. Nona tidak ingin cepat-cepat tersadar dari alam ini. nona menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan.
Memiliki seseorang yang sangat-sangat ia cintai adalah sesuatu yang tidak bisa diganti oleh apapun. Mungkin berharga adalah kata yang tepat. Nicko adalah salah satunya, sudah 1 tahun Nicko dan Nona menjalin hubungan, rasa memiliki dan mencintailah yang selama ini menguatkan hubungan mereka berdua.
Nicko menghentikan motornya, lalu pelan-pelan melepaskan tangan Nona yang melingkari pinggangnya. “sudah sampai sayang”
Nona pun tersadar, lalu turun dari motornya, lalu berkata pada Nicko, “dengan kamu gak ngelakuin apa-apa pun, itu udah membuat aku ngerasa ‘cukup’, asalkan tiap hari, aku harus ketemu kamu”
“Nona gombal terus deh” Ujar Nicko sambil mencubit hidung Nona.

Nicko turun dari motornya dan melepas helm, lalu berdiri tepat di hadapan Nona, menatap kedua bola matanya, lalu berkata, “aku akan berusaha untuk jadi orang yang selalu kamu sayangi. Aku sayang sama kamu… mudah-mudahan kamu pun sama” lalu Nicko menarik tubuh Nona ke dalam pelukannya, serta memberikan kecupan hangat di keningnya.
“di mata aku, kamu adalah wanita biasa! tapi berkat kata hati ini yang menyatakan bahwa kamu itu luar biasa, aku yakin, kamu adalah beda”
Kontan Nona meneteskan air mata, terharu dengan apa yang diucapkan oleh Nicko. Bukan sekedar ucapan, tapi ketulusan pun terpancar dari matanya.
“I love you” ucap Nona yakin.
“kok kamu malah nangis?”
“aku gak tau apa artinya aku kalau nggak ada kamu”
“kamu itu orang yang paling berarti buat hidup aku, kalo aku gak ada lagi buat kamu, kamu harus tetap berarti buat orang lain”
Nona tersenyum, mendengar perkataan itu, Nona merasa bahwa ia adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Nicko melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul 8. Nicko pun pamit pulang pada Nona.

Pukul 6 sore, seperti biasa Nona masih setia menunggu Nicko menjemputnya. Dan seperti biasanya pula, ia ditemani oleh pak Nurdin. Lagi-lagi hujan mengguyur Jakarta sore ini. tapi Nona tidak mengeluh akan hal itu, Nona justru merasa senang karena ada yang menemaninya.

Satu jam sudah lewat, tapi Nicko belum juga datang menjemput. Hampir pupus sudah semangat Nona untuk menunggu sang kekasih. Tapi Nona teringat kata-katanya sendiri yang yakin bahwa Nicko pasti akan menjemputnya.

Nona sudah mulai berusaha rasa menahan kantuk di pos satpam. Kini jarum jam menunjukkan pukul 8, tapi Nicko belum juga menampakan batang hidungnya. Nona menatap gerbang dengan putus asa, lalu melirik pak Nurdin yang sedang memperbaiki motornya yang rusak.

Lagi-lagi, Nona berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap bersabar menunggu Nicko menjemputnya. Ketika Nona hendak mendekati pak Nurdin untuk sekedar berbasa-basi membantunya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ah ini pasti Nicko.
“ya halo?”
“kamu pulang sendiri, aku gak bisa jemput kamu” tiba-tiba terdengar suara datar dari sebrang, ia mengenali betul suara itu, tapi ia sendiri tidak percaya bahwa itu Nicko.
“tapi Nick…”
Tut… tut… tut…
Seketika hilang sudah harapan itu. Nona hampir menangis ketika mendengar semuanya Dia sudah menunggu berjam-jam, tapi ternyata… Nicko benar-benar tidak menjemputnya. Nona sempat berfikir bahwa Nicko tidak sesempurna yang ia bayangkan kemarin-kemarin, tapi pikiran itu ditepisnya, mungkin saja Nicko sedang banyak tugas kuliah atau mungkin dia sedang tidak enak badan. Ya benar, Nona harus bisa memahaminya.
“pak… saya pulang duluan ya, terimakasih” ucapnya lesu.
“loh, tapi pacar Nona belum datang kan”
Nona menggeleng, “dia gak akan datang pak”
“oh begitu, ya sudah Nona sama bapak saja, bagaimana?”
Sejenak Nona melirik motor tua yang sudah selesai diperbaiki pak Nurdin. Tidak tega rasanya jika harus menaiki motor itu dan dibonceng oleh pak Nurdin.
“gak usah pak, terimakasih, tadi saya sudah memesan taksi”

Ketika sampai di rumah, pertanyaan yang sama tetap bercokol di pikirannya. Kalau memang Nicko tidak bisa jemput, kenapa dia ngebiarin aku nunggu sampai malam?
Nona meraih ponselnya, lalu menekan angka-angka yang sudah ia hafal di luar kepala.
“hallo? Nicko?” tanya Nona langsung
“ya?”
Ya?
“kalo kamu emang gak mau jemput aku, kenapa kamu biarin aku nunggu sampai malam begini sih?” Nona bertanya dengan nada sedikit tinggi.
“bukannya kamu seneng nungguin aku?” Nicko malah menjawabnya dengan pertanyaan.
Deg, betapa kata-kata itu sangat menyakitkan bagi Nona. Selama ini, Nona memang selalu setia menunggu Nicko menjemputnya, tapi bukan itu yang ia harapkan. Nona memang pernah berkata seperti itu, tapi betapa menyakitkannya kata-kata itu ketika dijadikannya sebuah permainan. Air mata pun mulai membasahi pipinya.
“kamu tega ya…”
“aku cape, aku mau tidur” Nicko pun mematikan ponselnya.

Semalaman sudah ia tidak bisa tidur, memikirkan mengapa Nicko bisa setega itu padanya. Berusaha meyakinkan hatinya, bahwa tadi Nicko memang benar-benar sedang lelah.

Pagi-pagi sekali Nona sudah siap berangkat ke sekolah. Ia yakin sekali Nicko pasti akan menjemputnya untuk berangkat ke sekolah. Di meja makan, Nona tidak melepaskan pandangan dari ponselnya sendiri, berharap akan ada telephone masuk dari Nicko.
Tapi ternyata tidak, ponselnya tetap bergeming tidak memberi tanda-tanda apapun. Dengan lesu, ia pun berdiri dan ke luar dari rumahnya. Nona pun meminta pak Suryo untuk mengantarnya ke sekolah.

Selama jam pelajaran berlangsung, Nona tidak henti-hentinya memikirkan Nicko. Nicko benar-benar sudah melumpuhkan harinya. Sepulang sekolah ia bertekad untuk mendatangi Nicko dan meminta penjelasannya.

Bell pulang sekolah pun berbunyi. Waktu yang Nona tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Dengan cepat Nona membereskan semua alat tulisnya dan segera keluar dari sekolah. Ketika sampai di depan gerbang, Nona melihat motor yang selalu dipakai Nicko. tanpa basa-basi, Nona pun langsung mendekatinya.
“Nic, kamu ngapain jemput aku lagi? aku kira kamu udah cape jemput aku terus”
Seseorang yang duduk di motor Nicko pun langsung membuka helm dan pelan-pelan melihat ke arah Nona.
“loh? kamu siapa? ini kan motor Nicko”
“saya kakaknya Nicko, Ricko”
“Nicko mana? aku harus ngomong banyak sama dia! dia udah keterlaluan banget”
“maafin Nicko ya…”
“maaf? Nicko udah buat aku nunggu lama banget kak, seharusnya dia yang bilang maaf”
“kamu ikut aku ya”

Ricko membawa Nona ke sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Perasaan tidak enak langsung menyelimuti. Nona heran, untuk apa Ricko membawanya kemari?
“katanya kita mau ketemu Nicko?”
Ricko tidak menjawab. Nona hanya mengikuti kemana kaki Ricko melangkah. Dan langkah Ricko terhenti pada sebuah kamar inap. “siapa yang sakit?”. lagi-lagi Ricko tidak menjawab.
Pelan-pelan Ricko pun membuka pintu lalu masuk, dan disusul oleh Nona. Nona benar-benar tidak percaya pada apa yang dilihatnya, seseorang yang begitu kuat tengah terbaring tidak berdaya. Dengan selang dan alat bantu dimana-mana, seseorang yang biasa terlihat begitu semangat kini terlihat begitu sengsara dan menderita.
“Nicko mana kak?” tanya Nona penuh dengan air mata. Ricko tetap tidak menjawab, ia hanya memandangi seseorang yang terbaring di ranjang sambil meneteskan air mata.
“bilang ke aku kalo itu bukan Nicko! bilang kak! bilang!”
“Nicko… Nicko… sakit Non”
“enggak kak… itu bukan Nicko… bukan”
Nona pun mendekati ranjang Nicko pelan-pelan. Lalu memandangi wajah Nicko yang sangat pucat. Ia tidak percaya, Nicko benar-benar pintar menyembunyikan semuanya.
“I Love You” ucap Nona sambil mengecup kening Nicko.
Pelan-pelan Nicko membuka matanya. “ka-mu nga-pa-in, di- si-ni?” ucap Nicko terbata-bata.
“harusnya aku yang nanya, kamu ngapain disini? harusnya kan kamu jemput aku!”
“ka-mu u-dah ta-u?”
“aku gatau apa-apa, aku gak mau tau apa-apa!”
“a-ku ga-a-kan bi-sa jem-put ka-mu la-gi”
“kamu harus tetep jemput aku tiap hari!”
“I Love You” ucap Nicko lancar, lalu yang terjadi hanyalah tarikan nafas Nicko yang tidak beraturan dan matanya yang perlahan menutup.
“I Love you too Nick… kamu kenapa?”
Ricko panik, buru-buru ia memanggil dokter. Dengan cepat dokter pun menghampiri dan memeriksa keadaan Nicko.
Nona benar-benar tidak percaya, ia melihat betul bagaimana orang yang sangat ia cintai meregang nyawa. Nona menyesal, kalau saja ia lebih peka dan mengerti bagaimana keadaan Nicko dan tahu lebih lama penyakitnya, mungkin saja ia akan lebih memanfaatkan waktunya bersama Nicko. Tapi waktu berkata lain, Nona yang dekat dengan Nicko malah tahu semua ini belakangan

Ketika proses pemakaman berakhir, Ricko mendekati Nona dan memberikannya setangkai bunga mawar merah yang di dalamnya terselip sebuah surat.

Aku mencintaimu melebihi apapun yang kamu tahu. Aku selalu ingin berusaha menjadi orang yang berguna untuk kamu. Selalu berusaha jadi orang yang selalu kamu banggakan. Walaupun kita sudah jauh, tapi aku tetap bisa merasakan cinta kamu. semoga, kamu tetap menungguku menjemputmu ya.
NICKO

Sudah pukul 6 sore, Nona tidak kunjung pulang. Pak Nurdin memperhatikan Nona dengan prihatin. Mungkin Nona masih yakin bahwa Nicko akan menjemputnya.
“Nona, belum mau pulang?”
Nona tidak menjawab, ia hanya memandangi hujan dari bawah payungnya. ia sadar, seberapa lama pun ia menunggu, Nicko pasti tidak akan datang. Meskipun belum rela, tapi Nona berusaha mencoba ikhlas.

Nona menarik nafas panjang, dan meneteskan air matanya. Lalu berkata pada hujan, walaupun kamu jauh, aku masih bisa merasakan cinta kamu. Karena cinta kamu itu, masih terasa walaupun sudah jauh.

Cerpen Karangan: Dita Merdekawati
Blog: ditamerdeka.blogspot.com

Cerpen Nona Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Life of Chery

Oleh:
Suara gemuruh mulai terdengar. Awan hitam telah menutupi langit yang tampak indah beberapa saat lalu. Hawa dingin mulai terasa menembus kulit hingga menusuk ke tulang-tulang. Beberapa orang mulai berlari

Tarisya Izzahirah Permana

Oleh:
Setiap hari kulihat wajah polosnya di pagi hari berjalan melewati koridor sekolah dengan langkah anggunya. Kukagumi setiap sisi tubuh indahnya. Setiap hari terlintas di pikiranku karna aku tau dia

Last Romeo

Oleh:
Bel sekolah berbunyi tanda akan dimulainya kegiatan belajar mengajar. Di satu kelas, tampak siswa-siswi yang penuh keramaian dengan apa yang mereka lakukan hingga mereka terdiam saat seorang Guru datang.

Lembaran Kertas Hijau

Oleh:
Namaku rara aku sekarang bekerja di suatu perusahaan di kota surabaya, dulu aku mempunyai seseorang kekasih yang namanya fadli, iya.. fadli merupakan sosok yang sangat aku sayangi. Setelah hubungan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *