Not For Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Aku terdiam dalam pikiranku yang sepi, dalam jiwaku yang sunyi. Aku tak dapat menyatukan kembali kepingan hatiku yang telah lama hancur. Memejamkan kedua kelopak mataku yang berair, menghayati suara debur ombak yang bergemuruh kencang bersahutan dengan suara burung yang berterbangan tinggi di atas cakrawala. Matahari nampak bulat sempurna memancarkan cahaya terang di tengah langit biru yang bersih, memantulkan cahaya sebening kristal di atas air laut yang bersemu kebiruan.

Butir demi butir air mataku jatuh di atas pasir putih yang sedang ku duduki. Sungguh, keramaian di sekitar tak mampu meramaikan hatiku yang telah lama kosong. Debur ombak tak dapat membasuh lukaku yang semakin parah. Bahkan matahari pun tak sanggup untuk menerangi hatiku yang kelam. Hanya air mata yang bicara, hanya hati yang menjerit, namun tiada yang mendengar apalagi sudi untuk peduli.

“Ku mohon kembalilah…”

Desahku dengan suara bergetar. Hatiku terasa disayat. Air mata pun jatuh semakin deras. Hanya hembusan angin laut yang menjawab pertanyaan bodohku.

Duduk memeluk lutut di atas pasir putih dengannya, memandang lagit yang sama. Langit senja yang bersemburat kemerahan memantulkan cahaya sebening kristal merah di atas riak tenang air laut yang gelap, dan menunggu momen yang sama. Sunset. Perlahan ku toleh ke samping. Wajah tampan itu nampak semu ditelan kegelapan. Syal merah yang melingkar di lehernya melambai-lambai dipermainkan angin. Di bola matanya yang hitam pekat terpantul gelombang air laut yang indah, membuatnya semakin nampak mempesona.

“Kenapa? Aku tampan ya?” Celetuknya tiba-tiba yang membuat lamunanku buyar, seolah ia menyadari aku memperhatikannya. Aku menundukkan kepala. Wajahku terasa panas.
Perlahan ia menoleh ke arahku. “Puaskanlah memandangku hari ini.” ucapnya lembut. Spontan wajahku terangkat. “Karena belum tentu kau akan melihatku lagi.” lanjutnya dengan senyuman yang berat dan mata yang berkaca-kaca.

Mendadak seluruh tubuhku seperti tak bertulang. “K..k..kau…” jantungku berdegup cepat. Ia hanya menatapku dengan tatapan penuh arti. Aku tak sanggup melihat sorot matanya, dan aku belum siap mendengar kalimat yang selanjutnya. Aku hanya pasrah dalam diam.
“Kau takut kehilanganku, Mei?” Tanya pemuda berhidung mancung itu mendekatkan wajahnya ke arahku.
Aku mengembangkan dadaku. Terasa sesak. “Kau tak perlu bertanya seperti itu, Grayson” ucapku bersamaan dengan tetesan air mata pertamaku.

Hening. “Pergilah, Grayson! Aku rela…” ucapku membohongi hati sendiri. “Semoga kau kembali dengan keadaan sudah sehat. Operasimu pasti lancar…”

Mengapa kau yang harus menanggung penyakit itu, Grayson? Mengapa? Jeritku dalam hati. Aku tak sanggup. Dia yang menderita dengan penyakitnya, namun mengapa seolah hatiku yang lebih menderita? Seandainya ia tak pernah menyembunyikan penyakitnya itu, mungkin hatiku tak akan sesakit ini. Jujur aku merasa sangat kecewa dengan perbuatannya yang selalu menutup-nutupi penyakitnya di kala kambuh dengan berkata bahwa, “Aku baik-baik saja.” Dan bodohnya aku selalu percaya.

Selama 5 tahun mengenalnya, aku baru tahu ia mengidap penyakit jantung seminggu sebelum ia berpamitan akan dioperasi ke Amerika. Betapa remuknya hatiku. Mengapa ia tak memberitahuku dari dulu? Aku pikir kami sudah sedemikian dekat, sehingga semua tentangnya aku tahu. Tapi ternyata aku salah. Mendadak aku membencinya. Namun entah mengapa ada sebuah perasaan yang mengalahkan kebencianku tersebut. Ya, aku mencintainya. Dan aku pun baru menyadarinya kali ini.

“Grayson, aku kecewa padamu!” Ucapku dengan penuh perasaan.
“Aku tahu!” Jawabnya santai.
Aku tergagap. “K..ka..kau tak peduli dengan perasaanku” entah mengapa aku mengucapkan kalimat itu.
Spontan ia menoleh dengan kedua alis hampir bertemu. “Kau salah! Justru aku menyembunyikan semua ini karena aku tak mau kau khawatir…”
Aku terhenyak mendengar pernyataannya. Betapa luka di hatiku terasa seperti disiram air garam.

Hening.

Grayson tersenyum kecut. “Untuk apa aku dioperasi? Percuma! Sebentar lagi aku mati! Hahaha…”
“Grayson!!” Bentakku dengan mata melotot.
“Orangtuaku egois… membuang-buang biaya. Padahal aku tak akan sembuh”
“Grayson!!” Bentakku semakin meninggi. Namun ia tetap santai.
“Hidupku sudah tak berarti, Mei. Bahkan aku tak berani menyatakan perasaanku pada wanita yang aku suka karena itu percuma. Aku sebentar lagi mati!”

Deg.

Mendadak hatiku bergemuruh. Wanita yang dia suka?
“Siapa?” Bisikku dengan napas tertahan.
Ia hanya tersenyum. Namun kali ini senyumannya begitu tulus. “Jika aku kembali ke Cina dengan selamat, aku berjanji akan mengatakan padamu siapa wanita itu” jawabnya sambil menengadah ke langit.

Entah mengapa kata-kata itu membuat perasaanku berbeda. Tak dapat ku cerna apa yang sedang ku rasakan saat ini. Namun entah mengapa harapanku semakin besar agar ia bisa kembali bersamaku. Selamanya. “Jika aku selamat, aku berjanji akan kembali ke sini. Lagi pula kuliahku di sini belum selesai. Aku tidak mau nanti anak-anakku kelaparan hanya karena aku gagal menjadi ayah yang sukses” ia tersenyum geli. “Tapi….” suaranya mulai teduh. “Jika aku tak kembali, berarti aku sudah dikuburkan di tanah kelahiranku di sana…”

Aku tak dapat berkata-kata lagi. Hanya air mata yang jatuh deras di pipiku. Napasku terasa sesak sekali.
“Jangan menangis lagi, Mei! Aku ingin kau menjadi orang yang kuat” ucapnya penuh harap sambil menyeka air mataku dengan kedua telapak tangannya yang halus.
Tiba-tiba sebuah perasaan damai menyelinap mengisi relung jiwaku.

“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku!” Ucapku manja.
“Apa itu?”
“Kau tidak boleh menyerah dan berkata bahwa kau akan mati!”
Ia tersenyum lebar. “Semua orang akan mati….”
Aku cemberut. “Grayson, aku serius!” nada bicaraku meninggi.
Ia manggut-manggut. “Ya. Aku janji, Mei” ucapnya serius. Aku tersenyum haru.
“Besok aku berangkat. Doakan aku ya…” ucapnya sambil memandangku.
“Pasti!”

Senja semakin menua. Matahari sudah nampak seolah tepat berada di atas air laut. Bentuknya yang bulat dan warnanya yang merah nampak begitu indah. Kemudian perlahan tenggelam ke dasar laut.

Tak ku sadari, siang telah berganti senja. Betapa lamanya aku terjaga di tempat ini. Tak ku hiraukan kulitku yang gosong kemerahan disengat matahari. Langit yang biru perlahan berubah jingga. Sinar matahari yang semula terang perlahan meredup. Ku toleh jam tangan emasku, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Sesaat lagi matahari tenggelam. Tiba-tiba telingaku tertuju kepada suara tawa renyah di sampingku. Refleks ku menoleh ke arah datangnya suara. Tak jauh dari tempatku duduk, nampak seorang gadis Cina berusia belasan tahun duduk sambil menyenderkan kepalanya di bahu seorang pemuda yang nampak seusia dengannya. Keduanya nampak ceria penuh bahagia. Terlihat dari senyuman lebar yang terukir indah di bibir keduanya.

“Kau tahu apa yang lebih indah dari sunset?” Tanya pemuda berambut pirang kecokelatan itu sambil menunjuk ke arah matahari yang hampir tenggelam.
“Hmmm… aku?” Jawab gadis bermata sipit itu sedikit malu-malu.
“Bukan!” Spontan si gadis cemberut.
“Tapi… kebersamaan kita…” ucap si pemuda dengan antusias menanti respon histeris dari si gadis.

Hening.

Si gadis tak berubah ekspresi. Perlahan si pemuda mengendurkan senyumannya. Kecewa.
“Huh! Ku pikir romantis!” Gerutu si gadis dengan bibir yang maju, kemudian membelakangi kekasihnya itu.
“Ahh… aku kan sudah berusaha…” sangkal si pemuda sambil garuk-garuk kepala.

Ku alihkan kembali pandanganku ke depan. Kata-kata konyol dari anak remaja itu mengingatkanku kepada Grayson.
“Benar. Yang lebih indah itu kebersamaan kita…” bisikku pada diri sendiri. “Kebersamaan yang telah 6 tahun ini hilang.. kebersamaan yang ku rindukan, dan ku nantikan sampai sekarang. Di mana kau Grayson? Mengapa kau tak kembali?”

Dadaku mendadak sesak. Aku yakin kau masih hidup. Kau bilang kau akan menyelesaikan kuliahmu. Kau bilang kau akan memberitahuku tentang wanita yang kau suka? Aku yakin wanita itu aku. Aku menangis sambil memandang matahari yang semakin tenggelam dan kemudian tak terlihat lagi. Malam telah sempurna. Bintang pun menyapa. Aku menarik napas berat. Perlahan aku bangkit. Dan untuk yang terakhir kalinya aku memandang langit sebelum akhirnya berbalik badan dan mengucapkan selamat tinggal pada pantai. Mungkin kau bukan untukku, Grayson.

The End

Cerpen Karangan: Dedeh Kurnia
Facebook: Dechan Kazumi

Cerpen Not For Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyummu Untuk Tuhan

Oleh:
Bel sekolah pun mulai berbunyi menandakan saatnya untuk pulang. Aku adalah seorang pelajar di salah satu SMKN Surabaya, aku mengambil jurusan pariwisata. Sekolah ini sangat nyaman untukku. Apalagi didukung

Cara Kita Berpisah

Oleh:
Awal mula bertemu Awal mula baikan Awal mula komitmen Awal mula kehilangan Awal mula melepaskan Akhirnya meninggalkanmu sendirian “apa kau akan datang” tanyamu padaku “tentu aku akan datang, kau

Kiara

Oleh:
Melihat senyumnya, sebuah kebahagiaan untukku. Menatap binar matanya, kesejukan tersendiri buatku. Berada di sampingnya, kenyamanan yang tak pernah ku harap berakhir, hari itu, dan sampai kapan pun. Mencintainya, anugerah

Sad Song

Oleh:
Kutelusuri lorong sekolah yang mulai sepi, suara sepatuku terdengar keras memecah keheningan ini. Tak ada seorang pun yang berada di sini, hanya aku. Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah,

Cintakah Dia? Mustahil

Oleh:
Secangkir kopi mulai hadir di meja kami, menemani begadang hari ini, hari ini sesi curhat tentang mantan. Jengah rasanya, karena tidak ada hal manis yang bisa aku ceritakan. “Sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Not For Me”

  1. Miley says:

    Yaah, kan jd penasaran sama keadaan grayson trus siapa wanita yg dia suka??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *