Nugi dan Tita (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Burung-Burung berkicau menebarkan keelokannya. Embun di pagi itu membasahi daun-daun dan ranting di pekarangan rumah. Rumput hijau terhampar luas di sana! Pagi yang menyejukkan. Kuhirup udara di sekitar rumah. Jiwa ini seakan berada di tempat yang indah, Bunga-bunga bertebaran di sana. “Bunga Dandelion” Aku menyukainya. Dandelion terbang ke arahku. Kutangkap bunga itu “Seperti lembaran kapas putih”. “Heuuummzzz” Semerbak wanginya kucium dengan lembut.

Pagi ini nugi berkunjung ke rumah menggunakan scoter tuanya. “Mmmmmbbbreeemmm” Bunyi derunya sudah sampai di gendang telingaku. Dengan langkah gontai, Kutelusuri ruangan itu. Mencari kamar mandi yang jaraknya hanya tiga langkah di depanku. Kutempuh jarak itu seperti beberapa abad lamanya. Meskipun aku seorang perempuan, Merapihkan tempat tidur adalah hal yang sulit bagiku. Sepertinya setan malas itu telah merasuki tubuhku! Benda-benda itu berserakan di sana. “Asallamualaikum” Nugi mengetok pintu rumahku. Papih dan mamih tak pernah merestui hubungan kami. Papih selalu berkata “Dia hanya orang miskin yang tak pantas bersanding dengan kita, Papih tak akan pernah merestui kalian” Perbedaan status sepertinya menjadi penghalang suatu hubungan. Kata-kata papih menjadi dongeng paling indah di telingaku.

Aku tak pernah mencintai nugi! Tapi kutahan semua itu demi menghancurkannya. “Ya sebentar” Kujawab salamnya dari dalam, Kebetulan papih dan mamih sedang pergi ke luar kota. Aku hanya sendiri di rumah, Kuajak nugi masuk ke dalam. Kupersilahkan ia duduk di atas sofa. Kunaikkan sedikit rokku ke atas memamerkan bagian paha. Dengan pakaian terbuka, Kupamerkan bentuk tubuhku di hadapannya. Nugi sepertinya gugup dan terus menunduk. Kubelai rambutnya dengan lembut, Kutarik kepalanya sedikit maju. Kukecup bibir itu, Tapi nugi berpaling dan menjauh dariku. Aku mendekatinya. Kubuka penutup tubuhku, Yang terlihat hanya pakaian dalamnya saja. “Kumohon jangan lakukan itu tita, Aku mencintaimu karena Allah”. Nugi terus mengelak. Alibi itu membuatku muak. “Jangan bersikap tak adil padaku. Kau munafik, Aku tahu kau mau. Mendekatlah sayang. Kita akan bersenang-senang” Kuraih tangan itu dan menggenggamnya. Nugi melepasnya dan berlalu begitu saja. “Aku akan berkunjung ke rumahmu lain kali, Disaat ada kedua orangtuamu”. Aku sungguh membencinya!

“Untuk apa kau ke sini? Aku ingin sendiri. Pergilah” Sambil duduk di taman dekat rumah. Menghadap kolam ikan dengan hiasan air mancur di atasnya. Aku menyukai tempat ini. “Maafkan aku tita, Nanti itu akan kulakukan disaat kita sudah menghalalkannya”. “Kau selalu saja munafik, Laki-laki memang seperti itu”. Aku pergi meninggalkannya sendiri.

“Tita, inget ya. Lo sama dia cuma main-main. Jangan dibawa perasaan. Ngerti lo!” Kata seseorang itu. Aku mengerti dan paham. Mana mungkin aku mencintainya? Dia hanya orang bodoh yang tak mengerti arti kehidupan. Dia pikir sesuatu yang membuat bahagia itu berasal dari ketulusan. Sungguh aku tak mempedulikan itu.

“Kau bilang mau jemput aku pakai mobil yang mewah. Aku tak mau pergi denganmu menggunakan scoter jelek ini” Sambil menendang motor yang sudah tak layak pakai itu. Aku menggerutu sendiri. Aku tak pernah terbiasa menggunakan barang-barang murahan. Aku sudah bosan dengan semua ini. “Nanti sayang, Sementara kita pakai ini dulu. Aku janji, Nanti aku jemput kamu dengan mobil mewah” Katanya sambil menggenggam tanganku. “Kau selalu bilang begitu, Tapi mana buktinya?”. “Sabar tita sayang, Allah akan merencanakan sesuatu”. “Arghhh sudahlah, Kau jangan berdakwah di sini. Aku akan pulang dengan taxi”. Kutinggalkan ia di sana. Aku sedikit mengasihani dia. Tapi aku harus melakukannya. Itu semua demi kebaikanku.

Keesokan paginya, Nugi menjemputku dengan menggunakan mobil Avanza silver. Aku ragu, Bagaimana jika mobil itu adalah hasil curian. “Dari mana kau mendapatkan ini” Tanyaku padanya. “Aku menyewanya, Apapun akan kulakukan untukmu”. “Ah sudahlah, Aku tak peduli kau mendapatkannya dari mana!” Nugi melajukan mobilnya menuju “Karawang Central Plaza”. Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya. Kami masuk ke lantai dasar. Mencari toko pakaian dan masuk ke dalamnya. Kupilih baju yang paling mahal, Aku ingin mempermalukannya. Saat pembayaran, “Berapa mba?”. “Totalnya menjadi Rp.5.000.000” Aku tersenyum sinis. Nugi mengeluarkan dompetnya dan membayar semua itu. Aku hanya diam terpaku, Entah angin apa yang masuk ke tenggorokanku. Aku tak dapat berkata apapun. Seperti dendam, Aku belum puas dengan itu. Kuajak nugi ke sebuah Restaurant di dekat Galuhmas. Kupesan ini dan itu! Nugi mengiyakan. Aku harap kali ini dia tak bisa membayarnya! Setelah selesai, Nugi mengeluarkan uang 3 lembar seratus ribuan dan 2 lembar limapuluh ribuan. Aku tertegun dengan itu, Biasanya nugi akan mengernyitkan dahinya dan berkata. “Maaf sayang, Aku tak mempunyai uang sebanyak itu”. Aku memintanya untuk mengantarku pulang. Dengan perasaan yang heran. Kupikirkan semua itu! “Dari mana nugi mendapatkan uang sebanyak itu?” Batinku.

(Tita, Aku begitu sangat mencintaimu. Aku rela menaruhkan nyawaku di sana. Kau injak semua itu! Perasaanku, Hatiku, Kutaruhkan semua itu demi menjagamu)

“Kapan lo mau bayar semuanya, Kehancuran dia. Itu yang gua mau ta”. “Sabar dong, Ini juga udah gua usahain”.

Malam itu, Kuhabiskan dengan meminum b*r bersama teman-teman. Main di clubing dan mabuk sampai pagi. Semua itu begitu indah. Di club malam itu aku merasa bahagia. Kuhirup lintingan itu, Tubuhku terasa terbang. Kulihat tempat itu “Itu surga”. Kuambil sebatang rok*k dan menghisapnya. Batang demi batang hingga habis kutelan. Malam itu terasa dingin, Seperti ada yang menggotong tubuhku ke atas sofa. Dia melajukan kendaraannya dan mengantarku pulang. Aku tak sadar dengan itu, Tapi aku merasakannya. “Kau apakan anakku, Dasar laki-laki brengsek. Jangan dekati anakku lagi. Sudah miskin, tak tahu diri pula” Kata seorang laki-laki paruh baya itu. “Tapi saya mencintai tita pak, Bukan saya yang melakukan ini. Saya ingin tita berada di jalan yang benar. Saya akan membahagiakannya”. “Dengan apa tita akan bahagia, Mengurus hidupmu saja kau tidak bisa. Jangan ganggu anakku. Dia sudah bertunangan” Katanya. “Dengan ridha Allah, Siapa itu? Tunangan? Tita tak pernah bicara tentang itu”. “Tak pernah katamu, Kau memang tak tahu diri” Laki-laki paruh baya itu membanting pintu rumahnya.

(Hati ini hancur, Aku sungguh inginkan kau menjadi pendamping hidupku. Tapi kau bohongi hati ini. Mengkhianatinya! Untuk apa? Tita aku mencintaimu)

“Nugi, Kemana saja kau? Aku membutuhkan kamu”. “Maafkan aku sayang, Aku butuh kejujuranmu”. “Maksud kamu apa?” Tanyaku padanya. “Kau sudah bertunangan?”. “Dari mana kau tahu, Itu semua bohong”. “Sebaiknya kita menjaga jarak tita, Aku tak ingin menjadi fitnah”. Nugi meninggalkanku di sana. Tak biasanya ia seperti itu. Meninggalkan aku sendiri tanpa pengawalan.

Sudah sebulan ini nugi tak pernah menemuiku, Hari-hariku sepi tanpanya. Dia telah meninggalkanku. Seperti yang sebelumnya. Aku menghancurkan diriku sendiri. Semua itu kulakukan demi sebuah persahabatan. Aku muak dengan ini. Aku mencari nugi, Di manapun dia berada. Kukunjungi setiap tempat yang nugi sukai. Tapi semua itu kudapatkan hasil yang nihil. Nugi tak berada di manapun.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Nugi dan Tita (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Tanda Cinta Yang Tergeletak di Lantai

Oleh:
Seorang pria muda tampak berdiri termanggu di hadapan cermin yang menempel di dinding tembok kamar. Triad, demikan nama pemuda itu. Dia tampak rapih sekali dengan celana jeans kecoklatan dan

Kata Terakhir Yang Indah Dari Mu

Oleh:
Pertemuan kami sesuatu yang tidak disengaja, walawpun kami satu kampus tapi berbeda jurusan dan kami pun tidak saling mengenal, awal perkenalan kami pada acara pentas seni di kampus yang

Ann

Oleh:
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nugi dan Tita (Part 1)”

  1. Gylan says:

    Top banget cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *