One Day

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

18 APRIL 2013
karena aku jauh, aku memberikan perhatian kepadamu lewat setiap kata kataku. ya, walaupun kadang tidak terdengar seperti perhatian.
Kamu bosan atau ada orang lain yang menarik perhatianmu? Bohong besar kalau kamu bilang aku kurang perhatian. Aku tidak mau mengungkit semuanya, atau kata-kataku ini akan terdengar tidak tulus. Dulu bahkan aku harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan 12 digit nomor handphonemu. Nah, lihatkan langsung terdengar tidak tulus.

Aku sebenarnya bisa tertawa mengingat hal ini, saat itu aku sampai harus menghafal nomormu dalam ingatanku karena aku melihatnya secara diam diam di handphone Jeffrey, dan aku sendiri tidak membawa handphone atau bolpen.
Aku percaya aku mencintai kamu apa adanya, bukan karena kamu cantik, bahkan saat aku masih anak laki laki dengan emosi tidak stabil dulu.

(malam hari di kamar)
Aku duduk sendiri di temani ‘Ndut’, kucingku yang gembul. Sesekali dia menggosokkan tubuhnya di punggung kakiku. Tanganku asyik mengetik kata demi kata di handphoneku. Mulai sedih dengan 1 kata yang akhir akhir ini kamu ucapkan “udahan”.
Seperti halnya UN yang kejam bagi mayoritas siswa (masa 3 tahun sekolah di tentukan dalam 4 hari, lulus atau tidaknya) kamu juga sedikit kejam jika mengakhiri 3 tahun masa perjuanganku dengan beberapa kata dalam pesan singkatmu.
Berkali kali kukatakan pada diriku “jika ini yang bisa membuatmu bahagia, maka inilah yang akan aku lakukan.”
Nay..
Ini memori kita

Tiga tahun yang lalu, 25 September 2009
Hari itu aku duduk di bawah sebuah pohon rindang di depan kelas Jeffrey — sepupuku — menunggunya pulang sekolah. Aku duduk dengan perasaan tidak tenang, jantungku juga berdentum tak karuan. Siang ini ada mahluk paling cantik yang pernah ku lihat, duduk di bawah pohon yang sama denganku. Astaga.. kamu bahkan lebih cantik di banding semua anggota JKT48 di jadikan satu.

Seperti biasanya, aku hanya menundukan kepalaku sedikit. Walaupun tidak sanggup membuka percakapan, setidaknya aku harus bisa menatap wajahnya. Apakah ini bisa di sebut cinta pertama? Diam diam aku sudah pernah menyukai banyak gadis sebelumnya, tapi dia berbeda, dia cinta pertamaku.

Naya. Nama gadis manis itu. Dia juga sedang menunggu Jeffrey, Dania, dan Marsha. Dia sahabat sepupuku. Sudah beberapa bulan sejak kami pulang sekolah bersama, sejak aku resmi menjadi salah satu murid di sekolah ini. Sudah beberapa bulan tapi tak satu kalipun aku bisa menyapanya.

Oktober 2009
Pagi, siang, sore dan malam. Beberapa hari ini aku rajin mengirim SMS ke nomor handphone Naya. Tapi tak ada satupun yang ia balas kecuali 1 SMS dari berpuluh puluh SMS lainnya. Aku mengetiknya setelah hampir putus asa. “assalamualaikum…”. ya, Naya hanya membalas salamku, bukan sapaan lain seperti “pagi..” atau “sore..”
Gadis ini benar benar sudah membuatku tergila gila.

November 2009
Semakin hari kami semakin dekat, setidaknya menurutku. Walaupun ia selalu membalas SMSku dengan kata kata singkat. Jika ku Tanya “sedang apa..” dia hanya menjawab dengan satu atau dua kata seperti “duduk” atau “tiduran” tanpa emoticon apapun.
Tidak pernah terlalu spesifik.

Januari 2010
Dia tidak membalas SMSku dengan kalimat singkat lagi. Sepertinya kata kata Marsha berhasil merubah sikapnya kepadaku.

Juli 2010
Kelas kami sekarang bertetangga setelah aku naik kelas. Aku jadi lebih sering lewat di depan kelasnya, mengambil jalan memutar untuk ke ruang guru demi melihatnya dari kaca jendela. Padahal ruang Guru yang ada di belakang kelas ku itu lebih cepat di jangkau dengan berjalan ke arah kiri, tapi aku malah memutar dengan mengambil jalan ke kanan. Satu pembuktian bahwa kanan memang selalu baik.
Kami masih saling mengirim SMS walaupun masih juga belum berani bercakap cakap secara langsung.
Aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku malam ini.

September 2010
tanggal 18 bulan 10 tahun 2010. Tanggal ini akan ku catat sebagai hari paling bersejarah dalam hidupku, berdampingan dengan hari kemerdekaan Indonesia dan hari ulang tahunku. Setelah lama menunggu, Naya memutuskan untuk menerimaku. Bukan dengan status pacaran, kami menyebut ini perjanjian, suatu komitmen yang kami buat untuk saling menjaga perasaan.

Maret 2011
Naya berulang tahun. Aku memberinya hadiah sebuah cincin dengan mata biru yang indah. Ia bilang “cincin adalah benda yang paling mengikat”. Aku harap cincin itu pas di jarinya dan ternyata memang berdaya magis atau apapun yang mengikat kami untuk tetap bersama.

Januari 2011
Ini adalah hari perpisahan sekolah. Naya adalah bagian dari mereka yang lulus tahun ini. bersama Jeffrey, Dania dan Marsha, Naya akan lebih dulu pergi ke SMA dan meninggalkanku disini. Umurku memang 1 tahun lebih muda dari mereka.
Naya menari bersama Jeffrey di atas panggung, diiringi lagu lagu daerah. Aku hanya menatapnya dari kaca jendela di luar aula gedung.
Perlahan kulihat rintik rintik hujan mulai turun.

Januari 2012
Aku takut. Saat Naya pergi ke SMA meninggalkanku yang masih berjuang di SMP. Aku takut ia lebih memilih cowok SMA itu ketimbang aku yang masih ingusan ini. Bukan Cuma satu tapi dua, dua orang sahabat yang menyukai Naya dan bersaing untuk mendapatkannya tanpa tahu bahwa ada aku masih disini.
Masih memegang janji, yang aku harap ia tepati.

Maret 2012
Penantian ini masih panjang. Naya tidak menginginkan kado apapun tahun ini di hari ulangtahunnya.

APRIL 2012
Marsya bilang Naya menangis saat mendengar kabar bahwa aku berpacaran dengan Vina, teman sekelasku. Dia tidak percaya saat aku bilang aku hanya membantu Vina yang sekarang statusnya adalah pacarku untuk menjauhi cowok maniak yang setengah mati mengejarnya.
Aku menyesal karena baru menyadari bahwa ini adalah suatu kebodohan, dan terlanjur membuat Naya sedih.
Aku harap aku ada di sana untuk menghapus air matanya. Dan hari ini juga aku akan memutuskan hubunganku dengan pacar palsuku.

Keraguan demi keraguan datang setelah hari itu. Mimpiku tentang pesta pra-wedding dengan Naya sebagai pengantinku, panggilan mama papa, dan Azura pun mulai kabur. Azura. Nama yang kami pilih untuk anak perempuan pertama kami nanti.
Kucingku si ndut masih mengeong dan menggosokan tubuhnya ke punggung kakiku. Aku tidak tau harus berkata apa pada Naya saat kata “udahan” itu datang lagi malam ini.
Naya.
“aku tau kamu jodohku, kamu tidak akan kemanapun selama aku masih disini. Karena kamu adalah satu satunya pasangan bagiku, aku tidak mau siapapun kalau bukan kamu. Aku hanya mau, tulang rusukku kembali”
Naya..
Yang perlu kamu butuhkan hanya aku, kapanpun
Aku siap menyumbangkan bahuku untuk kau pinjam
Saat kamu menangis, aku harap itu bukan karena aku
Dan bila kita berpisah, semoga itu bukan karena ada orang lain di antara kita.

Cerpen Karangan: Indah Dewi Saputri
Facebook: indahdewi197[-at-]ymail.com

Cerpen One Day merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


That Rainy Day

Oleh:
6 Mei 2013 Lagi-lagi hujan.. Perempuan itu menatap langit berselimut hitam. Cuaca terlihat kurang baik. Aku benci hujan. Ia langsung berlari menerobos hujan yang masih rintik-rintik menuju halte yang

Kerinduan Seorang Sahabat

Oleh:
Namaku Shelin. Aku mahasiswi di Universitas Pelangi Nusantara. Sepertinya sebutan mahasiswi untukku tidak patut, karena aku seorang anak tomboi. Walau aku anak tomboi, tetapi aku selalu menjaga perilakuku agar

The Bad Girl Is The Beauty Girl

Oleh:
Pemenang Lomba Melukis & Cerpen Fuzi Azoya Hadiah: Uang sebesar 3 jt + Laptop & HP Pengumuman itu dipasang di mading sekolah. Ini sangat menarik bagi semua siswa-siswi. Gimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *