Pangeran Kesiangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 June 2014

Hari ini Lia memasuki sekolah baru, kelas baru dan teman-teman baru. Teman yang belum dikenalnya sama sekali.

Tik tok tik tok.. Lia melirik jam tangannya, pukul 06.50.
“huh udah jam segini, mana masuk jam 7 pas lagi, angkot penuh semua rrrgh” Lia mengomel-ngomel sendiri.
Tiba-tiba ada motor yang hampir menyerempetnya.
“woy liat-liat dong! Mau bunuh gue lo ya?” ucap Lia sewot.
“eh sorry-sorry, gue gak liat lo” ucap cowok itu yang bernama Aldi.
“buset dah lo, badan gue segede gini apa gak keliatan”
“kok lo jadi nyolot, kan gue udah minta maaf kali, lagian gue lagi buru-buru nih”
“emang lo doang? Gue juga udah hampir telat nih!”
“ya udah lo berangkat bareng aja sama gue, lagian pasti angkotnya penuh semua, bentar deh.. lo anak SMA Satu Hati kan?”
“idih ogah dah gue, mending gue jalan kaki. Eh tau dari mana lo?”
“yakin lo mau jalan kaki? Gempor-gempor dah lo, gue liat dari bet baju lo lah, lo mau ikut bareng gue gak?”
“gak!” ucap Lia dengan singkatnya.
“yakin nih? Ya udah bye, 7 menit lagi gerbang sekolah bakalan ditutup, dan lo gak bakal boleh masuk”
“eeehh tunggu gue ikut sama lo aja deh”
“cepetan naik tuan putri”
“nama gue Lia bukan Putri”
“ooh nama gue Aldi”
“bodo gak nanya”

Mereka pun berangkat, Aldi membonceng Lia, Aldi membawa motornya sedikit ngebut karena mereka sudah hampir terlambat
Selama di perjalan mereka tidak ngobrol sedikitpun, Lia bisa mencium wangi Aldi yang terhembus angin pagi..

“hmm wangi banget ini cowok” ucapnya dalam hati
Lia tengah menikmati harumnya badan Aldi, tiba-tiba.

Cekiiittt.. Aldi rem mendadak
“ada apaan sih? Kok berhenti?”

Aldi pun langsung turun dari motornya, tanpa menjawab pertanyaan Lia.
Lia melihat Aldi menyebrang jalan, dan menghampiri seorang ibu yang membawa banyak belanjaan. Ternyata Aldi ingin membantu ibu itu menyebrang jalan. Aldi membawa belanjaan ibu itu dan memegang tangannya.
“wow gila nih cowok baik banget, padahal udah mau telat nih, tapi masih sempetnya nolongin ibu-ibu itu, gue jadi terharu hm..” gumam Lia dalam hati.

Aldi pun kembali menaiki motornya, dan kini mereka pun telah sampai di sekolah.
“hey makasih ya lo udah mau kasih tumpangan buat gue, kalau gak diserempet sama lo mungkin sekarang gue udah kesiangan hehe”
“haha iya sama-sama, anggap aja itu rasa minta maaf gue karena hampir nyerempet lo”
“okey gue ke duluan ke kelas dulu ya.. bye”
“kamu kelas mana li…? Oh bye…” Ucap Aldi yang tak sempat terbalas oleh Lia, karena Lia telah berlari untuk pergi ke kelasnya.

Saat tiba di Lobby sekolah, Lia menghentikan langkahnya. Dia kebingungan mencari kelas barunya.
Matanya terus mencari nama “Lia Miftahul Fernanda” di tiap kertas yang menempel di sebuah papan, untuk mencari tau dimana kelas yang akan ia tempati.
“No: 22. Lia Miftahul Fernanda 10 IPA 2”
“nah ini dia, gue ternyata kelas 10 IPA 2, hufft akhirnyaaa…”

Lia pun bergegas menaiki tangga yang berada di dekat lobby, karena disitulah kelasnya berada.
Lia memsuki kelasnya dengan sedikit canggung, nampaknya bangku kelas sudah terisi penuh. Bola matanya terus mencari dimanakah tempat agar ia bisa duduk.
“HEY LIA!!!”
Saat tengah mencari bangku, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang memanggil namanya begitu nyaring. Ia pun menoleh pada arah suara tersebut.
“Elo? Aldi?” ucap Lia kaget.
“Lo ngapain bengong disitu, lagi nyari bangku? Sini duduk sebelah gue. Kosong kok.”

Lia pun duduk di sebelah Aldi, hari demi hari mereka lalui bersama sehingga mereka pun semakin akrab. Sepertinya Lia mulai menyimpan rasa pada Aldi.

Tak terasa 5 bulan telah berlalu, sebentar lagi mereka akan menghadapi Ujian Kenaikan Kelas, dimana saat mereka memasuki kelas 11, mereka akan dipisah lagi dari teman-teman kelasnya.
Oleh karena itu Aldi dan Lia pun tak menyia-nyiakan waktu mereka untuk bersama, berangkat sekolah bareng, pulang bareng, dan belajar bareng pun mereka lakukan.
Hari itu Lia sudah sangat terlambat datang ke sekolah, karena biasanya Aldi selalu menjemputnya ke rumah untuk berangkat sekolah bareng. Mau tidak mau kali ini Lia harus berangkat sekolah sendiri
Setibanya di sekolah Lia pun langsung memasuki kelasnya, tetapi ia tidak melihat Aldi.

“Ah mungkin Aldi belum datang” ucapnya dalam hati.
Lia pun duduk di bangkunya dan menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.

“Teeeett… teeeettt… teeett”
Bel sekolah tanda pelajaran akan dimulai sudah berbunyi, tetapi Aldi belum juga datang.
“Aldi kok belum datang sih? Kemana ya dia? Apa mungkin dia sakit? Atau izin? Tapi kok dia gak bilang sih? Kan bisa kirim SMS atau telepon kek..” pertanyaan demi pertanyaan penuh dalam pikiran Lia.

3 hari kemudian, Aldi masih tidak masuk ke sekolah. Rencananya sepulang sekolah Lia akan pergi ke rumah Aldi untuk mengetahui alasannya tidak masuk sekolah selama 3 hari ini, dan alasannya tidak membalas pesan singkat yang dikirim Lia kepadanya.
Setibanya Lia di rumah Aldi, keadaan rumahnya sepi seperti tak berpenghuni, gerbangnya dikunci rapat. Usaha Lia untuk menemui Aldi pun sia-sia.
Di sepanjang jalan pulang Lia terus memikirkan bagaimana keadaan Aldi dan dimana Dia sekarang? Hanya itu yang sekarang berkecamuk di dalam pikirannya.
Sudah hampir sebulan Aldi tidak masuk sekolah, padahal ini sudah sangat mendekati Ujian Kenaikan Kelas yang minggu depan akan berlangsung.
Lia terus belajar sendiri dengan rajin, meskipun biasanya ia belajar bersama dengan Aldi, cowok yang periang dan menyebalkan menurutnya.
Besok Ujian Kenaikan Kelas akan berlangsung, malam ini Lia benar-benar serius membaca setumpuk buku di meja belajarnya. Tiba tiba handphonenya bergetar tanda SMS masuk.

“drrrttt. drrrttt” Lia sengaja memasang hpnya mode getar agar tidak mengganggu belajarnya.

— 1 pesan masuk (Alddeh) — HAH? A… ALL… DIII…? Ucap Lia kaget.
Lia pun segera membaca pesan singkat yang diterimanya bercampur rasa senang, kaget dan deg degan.

“Hai Lia apa kabar kamu? Udah lama banget ya kita gak ketemu, maaf aku gak ngabarin kamu. Aku tau kamu pasti khawatir kan sama aku, kamu pasti nyariin aku kan.. hahaha”

“ini Aldi ngesms gue kan? Tapi dia beda, biasanya dia kalau ngomong pake kata LO-GUE, tapi sekarang AKU-KAMU. Tapi enggak… dia tetep nyebelinnnn kaya dulu.” Ucap Lia dalam hati.

Lia pun membalas SMS dari Aldi.
“aaalllddeehhh kemana aja lo? Lo jahat gak ngabarin gue… lo jahat. Lo harusnya masuk sekolah. Lo tau kan besok ujian kenaikan kelas?”
— Pesan terkirim —

Lia terus memandangi hpnya, berharap hpnya bergetar dan berharap Aldi segera membalas pesannya.
5 menit… 10 menit… 15 menit kemudian..
“drrttt… drttt…”

— 1 pesan masuk (Alddeh) —
“aku gak kemana mana kok, aku kan selalu ada di hati kamu, besok semangat ya ujiannya, semoga nilai kamu bagus.. mungkin ini sms terakhir dari aku, maaf kalau aku buat kamu kecewa. Aku mau pergi. kalau kamu kangen besok ke rumah aja ya.. Pokonya AKU SAYANG KAMU LI, KAMU ITU PRINCESSNYA AKU ”

Lia terharu membaca pesan dari Aldi, ia pun membalasnya lagi.
“emang lo mau pergi kemana Al? gue kok gak diajak sih? makasih ya semangatnya. Okey besok pulang sekolah gue ke rumah lo. Ah dasar gombal lo hahaha”
— Pesan terkirim —

Keesokan harinya Lia kelihatan semangat sekali, ya dia sudah siap bertempur dengan soal-soal ujian yang akan dihadapinya.

“teeettt… teeettt…” akhirnya bel tanda selesai ujian pun berbunyi, Lia segera membereskan alat tulisnya. Dia ingat sekarang ia harus pergi ke rumah Aldi.

Saat beberapa langkah lagi tiba di depan rumah Aldi, nampaknya ramai sekali orang yang berkunjung ke rumahnya. Tapi… tunggu dulu mereka serba memakai baju hitam. Lia pun melihat bendera kuning yang berkibar di pagar rumah Aldi. Jantungnya berdebar. Lia mempercepat langkah kakinya.
“siapa yang meninggal? Jangan-jangan Aldi? ah gak gak mungkin!!!” Lia berlari, matanya mulai berkaca-kaca.
Di depan pagar ia melihat Ayahnya Aldi.
“Om, maaf yang meninggal itu siapa om?”
“Kamu temennya Aldi kan? Aldi sudah pergi nak.”
“A… alll.. diiii…? Gak om gak mungkin Aldi meninggal, kemarin dia sempat sms saya om.”
“Iya nak Aldi punya penyakit kanker otak stadium 4. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit yang ada di Jakarta, tapi dokternya bilang lebih baik Aldi dibawa ke Rumah Sakit yang ada di Singapur, kemarin dia minta hpnya yang om simpan, dia bilang dia mau sms kamu buat terakhir kalinya. Oh iya silahkan masuk dulu nak”

Lia ditemani Ayahnya Aldi pun masuk untuk melihat jenazah Aldi yang sedang dibacakan Surat Yasin.
“Alll.. kenapa lo gak bilang sama gue kalau lo sakit? Kenapa pertemuan terakhir kita dalam keadaan lo kayak gini Al? gue inget waktu pertama kali gue ketemu lo, lo nyerempet gue waktu gue lagi nungguin angkot, terus lo ngajak gue berangkat bareng soalnya gue udah hampir telat. Terus di jalan lo nolongin ibu-ibu yang belanjaannya banyak banget buat nyebrang jalan. Ah lo emang cowok baik Al… GUE JUGA SAYANG LO. LO ITU PANGERAN KESIANGAN GUE”

Sudah 7 hari atas kepergian Aldi, kini Lia pun harus berangkat sekolah sendiri tanpa ditemani oleh Aldi.
Seperti biasa Lia selalu saja hampir kesiangan, karena angkot yang ditunggunya selalu penuh.
tiba-tiba…
‘cekiiitt’ ada cowok yang hampir menyerempetnya (lagi) tapi sayang itu bukan Aldi Sang Pangeran Kesiangannya

-TAMAT-

Cerpen Karangan: Wafa Fortuna Lia
Blog: waforlii.blogspot.com
Seorang cewek biasa yang sedang menikmati manis, pahit, asem & asinnya masa REMAJA 😉
follow on twitter @waforleey

Cerpen Pangeran Kesiangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


CYS (Clean Your Self)

Oleh:
“Dia aneh” desis Anna dengan mengkerutkan alis matanya. Sudah beberapa jam ia mengamati lelaki yang selama ini ia kenal tetapi tak pernah ia dengar sepetah katapun suaranya. “Tak ada

Diary of Love

Oleh:
Tibalah saat dimana gue sekarang jadi murid smp. Hari senin mungkin menjadi hari yang paling melelahkan bagi beberapa orang, yah karena selain gue harus bangun lebih pagi dari biasanya

Nostalgia

Oleh:
“Jika memang rasaku ini semu, maka ia akan hilang seiring dengan berjalannya waktu” Kataku terkias di atas secarik kertas, kutulis dengan pena kesayanganku. Dengan pena itu kucoba rapal bayangnya

Desperate Like This (Part 2)

Oleh:
Layaknya keajaiban, memilikimu sebagai malaikatku adalah sebuah anugerah. — “Lit, kamu belum tidur?” Ucap Ratna memasuki bilik kamar Lita. Lita hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang langit malam. Ia

Rapuh

Oleh:
“Wina!!” Sebuah suara mengagetkan lamunanku siang itu. Tak sadar seorang gadis dengan rambut hitam tebal yang tergerai sudah duduk tepat di samping kiriku. Rupanya Puri, sahabatku. “Ngelamun aja..” Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *