Payung Untuk Lael

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 December 2016

Aku berdiri di depan jendela kaca. Pandanganku menerabas ke luar. Terdampar pada pinus-pinus di pucuk bukit yang perlahan ditelan kabut. Bintik air bertebaran seperti serbuk. Apa mungkin akan hujan? Ini bisa menghambat. Tidak! Hujan, badai, gemuruh dan angin mereka tidak akan bisa menahanku untuk mengunjungi Lael. Gadis itu tidak akan pernah sendiri lagi. Aku akan datang lagi hari ini. Seperti kemarin. Kemarin-kemarin-kemarin dan kemarinnya lagi. Aku akan datang sampai ia mau keluar dari persembunyiannya. Ini salahku yang tak seharusnya meninggalkan dia. Aku akan membuatnya mau berbicara lagi padaku.

Ahh. Sial! Kenapa hujan turun. Aku benci angin yang ikut-ikutan. Tidakkah dia memiliki urusan sendiri? Tiuplah bukit atau berhembus ke negeri yang sedang musim semi. Banyak bunga yang perlu bantuan angin untuk penyerbukan.

“Nan. Antar aku sekarang. Lael sendirian! Aku khawatir dia terguyur hujan sialan. Jantungku sakit sekali hanya dengan membayangkannya.” Pintaku pada Nando. Aku tidak tahu kenapa sudah seminggu ini Dia tidak beranjak dari kamarku. Kamar miliknya bahkan jauh lebih mewah dari kamarku. Tapi malah di kamarku setiap hari! Sialan. Apa dia ingin menghinaku dengan cara ini. Dia selalu ada di setiap aku tertidur di lantai. Lalu samar seperti memapahku ke tempat tidur. Aku benci sikapnya yang sok menolong. Tapi kini aku memohon.

“Nan aku mohon. Hujan sialan itu semakin deras.” Pintaku sekali lagi. Wajah Nando bengong seperti orang bego. Aku benci wajah itu. Kenapa wajah tolol itu selalu ia tampakkan setiap aku meminta untuk melihat Lael.

“Qi. Tidak bisa. Hujan deras. Ini bisa memperburuk keadaanmu.” Kata Nan yang membuatku ingin meremas mulutnya.

“Dengar. Ahh sial. Pakai otakmu. Di luar hujan. Aku akan sangat baik kalau sudah memastikan Lael baik-baik saja. Hujan sialan itu hanya air. Jika kau takut air. Ambilah payung untukmu. Aku tidak perlu itu. Jika Lael kehujanan maka haram bagiku untuk berteduh.”

Aku mengenakan jaket. Berlalu meninggalkan Nan. Dia bergegas mengejarku dengan payung. Aku tahu dia akan kalah. Jika dia masih ingin di sekitarku seharusnya dia mudah saja dengan apa yang aku katakan.

Dua langkah dari pintu. Suara petir keras memecut langit. Menjadi pengantar hujan yang menderas. Nan sudah di belakangku dengan dua payung. Anak itu tidak mendengar. Aku tidak butuh payung! Aku harus menyingkirkannya. Tidak. Itu untuk Lael saja.

Aku berjalan cepat ke arah mobil di pelataran menerabas hujan. Nan kewalahan mengejarku. Meneriaki namaku dengan payung sialannya. Tidak peduli. Aku masih bisa sampai di dalam mobil tanpa sebuah payung.

“Cepat nyalakan mobilnya.” Kataku membentak. Belakangan semua orang bergerak sangat lambat.

Nan tidak menggubrisku dengan jawaban yang menjengkelkan. Aku tidak peduli. Yang penting ia harus cepat membawaku pada Lael.

Tanpa menunggu Nan keluar dari mobil. Aku segera melesat mencari tempat dimana Lael bersembunyi. Pandanganku tak jelas. Kabut sialan bekerjasama dengan hujan untuk menghalangiku.
Tapi butuh dari sekedar kabut dan hujan untuk menghalangiku dari Lael. Aku sudah hafal dimana tempat persembunyian kekasihku itu.

Itu tandanya. Dua papan putih yang menancap di gundukan tanah bertuliskan nama Lael. Aku segera berlari ke sana.

“Hujan!! Kau lihat! Bahkan kau tidak akan bisa menghalangi aku dari kekasihku.” Kataku dengan wajah menghadap langit. Aku ingin tertawa keras padanya. Tapi tidak akan. Lael membenci orang yang tertawa keras.

Kaki sialanku mendadak lemas. Padahal beberap meter lagi sampai pada Lael. Keadaan itu membuat aku terjatuh di dekatnya. Aku malu.

“Lael aku tidak apa-apa. Aku hanya terpeleset.” Aku tidak ingin Lael melihat aku lemah.

“Tenang kekasihku. Ini hanya hujan sialan. Kau tak perlu takut padanya. Petir. Oh ya Petir. Jika kau takut dengan geretakan petir aku akan menelannya untukmu. Sayangku. Tidak apa-apa. Aku di sini.” Kataku dengan senyum. Lalu mengecup papan nama milik Lael. Kesayanganku ini sungguh lucu. Dia ingin aku mencarinya. Tapi dipasangnya papan nama. Aku tahu dia ingin mempermudahku.

Sekarang papan ini terasa dingin sekali.

“Hujan sialan! Apa kau belum puas. Lihat! Kekasihku kedinginan.”

Aku melepas jaketku lalu kuletakan di atas papan milik Nan. Aku lupa bahwa ada dua papan. Dengan cepat aku beralih ke papan yang lain untuk memeluknya.

Aku Nando. Panggil saja Nan. Kau sudah melihatnya? Begitulah sahabatku kini. Aku pernah mendengar kehilangan seseorang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan. Tapi aku tidak pernah mengira pengaruhnya semengenaskan itu.

Dia tidak akan menyadari kalau kini aku sedang menaunginya dengan payung dari sisi belakang. Membiarkan tubuhku basah kuyup tanpa naungan. Aku meninggalkan payung yang satu lagi di mobil.

Bagi Aqie Lael adalah segalanya. Lael gagal dalam operasi Breast cancer dan tak terselamatkan. Sedang Aqie tak pernah tahu bahwa Lael seorang pesakitan.

Selama seminggu keluarga Aqie memintaku untuk selalu di dekat Aqie. Karena keadaannya yang sewaktu-waktu ingin ke pemakaman dengan alasan yang tak jelas.

Bahkan meski sekarang ia sedang berbicara sambil menangis sesenggukan. Memeluk nisan. Membelai gundukan. Berbicara dengan bahasa manis entah siapa yang akan mendengar itu. Dia tidak pernah merasakan air matanya.

“Lael kekasihku. Keluarlah. Jangan terus bersembunyi. Aku berhutang sebuah kecup padamu. Keluar dan ajak aku bicara. Kau ingin aku menunaikannya kan? Aku juga membawa payung untukmu. Agar jika suatu saat hujan turun dan aku belum datang dengan payung kau bisa membukanya untuk berteduh. Tapi jangan khawatir. Aku pasti datang.” Itu kata Aqie.

THE END

Cerpen Karangan: Sahlil Ge
Facebook: M Sahal Mahfudz

Cerpen Payung Untuk Lael merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Yang Bernalar Di Hatinya

Oleh:
Ini adalah kisah sahabatku… “Jeng, aku cinta padamu.” Cewek bernama Ajeng itu pun hanya tersenyum. “Mmm, oke. Lalu, apa yang kamu cintai dari diriku? Kecantikanku? Prestasiku? Tubuhku? Kemampuan dan

Terima Kasih, Luna

Oleh:
“Makasih banget udah nganterin aku ke sini.” Ucapku yang baru sampai di bandara. “Hahaha.. Nyantai aja kali..” Jawabnya sambil tertawa manis. “Aku janji kalau aku balik nanti, aku bakal

Let’s Break Up

Oleh:
Gadis itu terus menundukkan kepalanya dan berulang kali meremas tangannya yang ia tautkan. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya lalu mendongakkan kepalanya dan memandang pria yang kini sedang asyik memotret

Because I Love You (Part 3)

Oleh:
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Terkadang, waktu itu tak bersahabat. Tak cukup sehari saja untuk menghapus air mata setelah kejadian kemarin. Aku, tak mungkin melupakan Irfan hanya dalam waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *