Pelabuhan Lain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 8 February 2016

Pernah ku sangat yakin dengan kata-katamu, “Kita memang ditakdirkan untuk menaiki kapal yang berbeda tapi menuju pelabuhan yang sama, hanya keyakinan yang akan melawan terjangan ombak laut yang menghadang laju kapal kita masing-masing, agar bisa sampai pada tujuan yang sama.” Kini kata-kata ini tinggalah angan, kenyataannya kapalmu kini berlabuh di pelabuhan lain.

Siang itu sinar mentari begitu terik, dan mungkin panasnya bisa membuat seekor ayam hidup menjadi ayam panggang yang siap saji, tapi panas mentari siang itu tak terasa oleh kulit-kulit kami, mungkin karena saking senangnya kami hari itu. Hari itu adalah hari kelulusan kami, hari dimana hasil dari belajar kami selama tiga tahun di SMA terbayar lunas dengan predikat lulus, perasaan sedih akan berpisah dengan kawan-kawan, dan berpisah dengan guru-guru kesayangan, semuanya tertutupi oleh kegembiraan. Seperti pada umumnya, kami merayakan hari itu dengan bersuka-ria, coret-coret baju, saling tukar barang untuk kenang-kenangan, dan lainnya. Ketika aku sedang coret-coret baju teman tiba-tiba…

“Po.” Terdengar suara Ida memanggilku dari belakang. Dia adalah kekasihku kami berpacaran sejak kelas XI, “Popo” adalah panggilan sayangnya untukku, dia wanita yang anggun, berparas cantik, berkulit putih, tingginya 167 cm, badannya tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus (ideal), tapi yang membuatku tertarik padanya bukan itu, melainkan kepribadiannya yang baik.
“Iya pi (panggilan sayangku untuknya).” Jawabku dengan membalikkan badan. “Ikut aku sebentar yuk, aku mau ngomong sesuatu, penting!!” Katanya sambil menarik tanganku.
“Mau ngomong apa sih? serius amat.” tanyaku dengan santai sembari mengikuti tarikan tangannya yang membawaku ke belakang gedung sekolah.

“Po, orangtuaku ingin aku ngelanjutin kuliah di Belanda.” Suaranya terdengar cemas. Dia anak yang cerdas, juga berasal dari keluarga yang terpandang, tak ayal kalau keluarganya ingin yang terbaik untuknya. “Bagus kan, kamu bisa menggapai cita-cita kamu di sana.” Jawabku dengan santai. “Kamu kok santai gitu sih, emang kamu udah nggak sayang lagi sama aku?” Suaranya sekarang terdengar sedikit emosi.
“Bukan begitu Pi, aku sayang banget sama kamu, tapi ini kan kemauan orangtuamu, mereka pasti ingin yang terbaik buat kamu, mana ada sih orangtua yang nggak ingin melihat anaknya bahagia.” Jelasku padanya agar ia tak lagi cemas.

“Aku nggak mau jauh dari kamu Po, aku ingin selalu bersamamu, karena cuma kamu yang bisa membuatku bahagia.” Suaranya terdengar lirih dengan diiringi matanya yang mulai lembab.
“Pi dengarkan aku! turuti saja apa kemauan orangtuamu, gapailah apa yang telah kamu inginkan selama ini, yakinlah kalau aku di sini akan selalu setia menunggumu.” Tegasku untuk meyakinkannya.

“Tapi po?”
“Nggak ada tapi-tapi.”
“Baiklah Po, aku akan turuti kemauan orangtuaku, tapi kamu janji harus setia, jaga hati, jaga diri, juga jaga cintaku!” Katanya padaku.
“Iya iya, percaya deh sama aku! tapi kamu juga harus ngelakuin hal yang sama di sana!” pintaku padanya.
“Oke Popoku sayang.”

Satu bulan, empat minggu, enam hari, dua puluh tiga jam setelah kelulusan kami, Ida terbang ke Belanda, sebelum ia berangkat kami tak sempat untuk bertemu dan mengucapkan kata-kata perpisahan, karena aku telah memulai perjuangan untuk menggapai cita-citaku di salah satu perguruan tinggi Surakarta, hanya pesan singkat darinya yang mengiringi keberangkatannya, “Kita memang ditakdirkan untuk menaiki kapal yang berbeda tapi menuju pelabuhan yang sama, hanya keyakinan yang akan melawan terjangan ombak laut yang menghadang laju kapal kita masing-masing, agar bisa sampai pada tujuan yang sama.” Kata-kata itu memberikan motivasi kepadaku untuk lebih giat dalam belajar, agar aku bisa mencapai cita-citaku dan pantas untuk berlabuh di pelabuhan yang sama dengannya.

Hari demi hari pun berlalu, bulan pun telah berganti bulan, sampai akhirnya menjadi tahun-tahun yang sunyi tanpa kehadirannya. Kuliahku telah memasuki semester akhir, Ida pun juga sama, dari facebooklah kami saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, katanya dia juga sedang menyelesaikan skripsinya, dan pada saat itu, dia bilang kalau dia butuh konsentrasi penuh untuk menyelesaikan skripsinya, dia minta padaku agar aku tak lagi menghubunginya untuk sementara waktu, setidaknya sampai skripsinya selesai.

Aku pun mencoba berpikir positif, toh aku juga dalam keadaan yang sama, dan itu menjadi pembicaraan kami yang terakhir. Selama masa sekripsi aku bisa sedikit berkonsentrasi, aku bisa menahan diri untuk tidak menghubunginya, karena aku takut mengganggunya, tapi aku tak bisa menepis bayang wajahnya yang selalu hadir dalam lamunanku juga dalam mimpiku, dan menghantui setiap langkahku.

Sering aku teringat masa dimana kami pertama kali bertemu, di bangku taman sekolah aku pertama kali mengenalnya, waktu itu dia sedang membaca buku sendirian, aku menghampirinya, mengulurkan tanganku dan menyebutkan namku. “Namaku Bimo, boleh ku tahu namamu?” Itulah kalimat pertama yang ku ucapkan. Dia membalas uluran tanganku dan menyebutkan namanya. “Nama saya Ida.”

Dari pertemuan itu kami jadi sering ngobrol berdua, aku pun jadi tahu kalau kami mempunyai banyak kesamaan, dia juga anak yang asyik, dewasa, dan selalu berpikiran positif, dari situlah mulai tumbuh rasa cinta dalam hatiku, karena di mataku dia seseorang yang bisa memahamiku. Suatu saat waktu jam istirahat, aku mencoba memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku padanya. Ku ajak dia ke taman sekolah, kami duduk berdua di bangku taman, ku tatap kedua bola matanya yang indah. Dia menatapku dengan heran, dan dengan penuh keyakinan aku mengungkapkan perasaanku padanya, dan ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Kami akhirnya berpacaran. Bangku taman sekolah menjadi saksi pertemuan kami, juga saksi bersatunya cinta kami.

Ketika sebuah angan-angan telah tercapai, rasa bahagia di dalam hati sungguh tak terkira, mungkin kalau divisualkan seperti saat seorang anak kecil yang sedang bermain hujan-hujanan dan berlari-lari kecil mengelilingi taman dengan senyum yang tak akan pernah luntur dari wajahnya, meskipun telah disiram air hujan. Seperti itulah yang aku rasakan saat perjuanganku untuk menggapai cita-citaku telah sukses. Aku lulus dengan nilai yang memuaskan, dan aku juga diterima bekerja di salah satu perusahaan industri besar di Surabaya.

Sekarang aku merasa bahwa aku telah cukup pantas untuk berlabuh bersama Ida, berlabuh di sebuah ikatan yang disebut pernikahan. Tapi sayangnya, setelah pembicaraan terakhir kami di facebook, tak pernah lagi ada kabar darinya, pikiranku terus beradu antara tetap positif dan kadang terselebat pikiran negatif, sampai suatu ketika ku melihat status baru di akun facebook miliknya yang berisi, “15th mey, I will come back Indonesia.” Melihat status tersebut aku langsung berinisiatif untuk menjemputnya di bandara.

Hiruk pikuk orang yang hilir mudik di bandara membuat pusing kepalaku. Tiga jam, dua puluh menit, lima puluh tujuh detik aku duduk di lobi bandara menanti datangnya Ida, dengan penuh kesabaran aku terus menanti kedatangannya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara seorang wanita dari mikrofon yang menggema mengisi seluruh ruangan di bandara, wanita tersebut berbicara dengan bahasa inggris kemudian ditranslate ke bahasa indonesia, dia berkata jika pesawat dari Belanda akan segera mendarat, hatiku merasa seperti taman bunga yang dipenuhi kupu-kupu ketika mendengar kata-kata itu.

Ketika taman bunga yang indah didatangi sekelompok domba yang kelaparan, pasti taman tersebut akan menjadi sebuah tanah lapang yang hanya tinggal batang-batang bunga yang kehilangan mahkotaya. Itulah rasa hati saat aku melihat Ida berjalan dengan seorang laki-laki, laki-laki itu tampak seperti orang Asia, mereka berjalan ke luar dari bandara dengan bergandengan tangan, aku mengikuti mereka sampai halaman bandara, ku hampiri mereka.

“Da.” Ku panggil Ida, dia hanya menoleh saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku, terlihat dari tatapannya dia kaget waktu melihatku.
“Dia siapa?” tanyaku padanya, tapi dia tetap diam saja.
“Jawab pertanyaanku Da!” Akhirnya ku bentak dia dengan suara yang lumayan keras, mungkin seperti suara petir yang menyambar sebuah pohon di ujung bukit.
“Maaf, Mo aku sudah menemukan yang terbaik untukku, kita sampai sini saja.” Suaranya terdengar sedih, tapi kata-katanya terlihat seperti tak ada sebuah penyesalan.

Kemudian mereka pergi. Tak ku sangka beginilah akhir dari semuanya, selama enam tahun ku menjaga hati ini hanya berakhir dengan sia-sia, kata-katanya yang indah ternyata hanyalah sebuah kata-kata manis yang tak berarti apa-apa, juga sekian lama ku menunggu dan berusaha membuat diriku layak untuk menjadi pelabuhannya, tak ada gunanya, kenyataannya dia malah berlabuh di pelabuhan lain.

Cerpen Karangan: Safrizal Annur Huda
Blog: randigeong.blogspot.com

Cerpen Pelabuhan Lain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Kalimat Untukmu

Oleh:
Aku menyukaimu. Walau kau tak pernah tau… Dan aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Tak pernah ada keberanian pada diri ini untuk mengatakannya. Seperti saat ini. Aku kembali menaruh

Karma

Oleh:
Di sebuah malam yang indah. Pantulan sinar rembulan dapat dilihat dari permukaan danau Tjaviir di Delhi. Di tepi danau terlihat seorang pria dan wanita yang sedang memandangi sinar rembulan.

Secret of Love

Oleh:
Masa SMA memang dapat di katakan masa indah, ya di katakan seperti itu karena banyak cerita yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata terutama dengan “cinta”. Banyak sekali cerita

Episode Cinta di Atas Dermaga

Oleh:
“Kita telah salah.” Binar memulai percakapan antara kami. “Kau tahu ini seharusnya tidak terjadi?” lanjut Binar yang sedang duduk di sampingku. Aku hanya bisa menatap debur ombak air laut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *