Pelukan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 July 2013

Sudah lama kita saling suka tapi kita tak bisa bersama, karena kita sahabat dan mantanku dekat dengannya terlebih mantanku tak bisa menerima bahwa hubungan kita telah berakhir dan aku tidak boleh memiliki pasangan sebelum dia bisa melupakan aku.
Aku tak tau kapan rasa suka itu mulai ada, seiring berjalan waktu rasa sayang mulai tumbuh terlebih kita berdua sangat dekat, bayak orang yang menyangka kalau kita pacaran. aku tau semua tentang dia dan mungkin diapun tau semua tentang aku, karena saking dekatnya akupun tak tau kalau dia suka aku.
Banyak kejadian yang kita lewatin, entah berdua atau bersama teman-teman yang lain. kita pernah saling cuek sering ketemu dikampus tapi kita yang orang lain yang engga kenal. karena suatu kejadian yang buat aku nyesel sampai sekarang.
Suatu hari kita liburan ke pantai bersama adikku dan pacarnya, senangnya saat kita bisa meluangkan waktu bersama apalagi seperti ini pergi kepantai. kita hanya duduk disebuah saung menatap indahnya pantai tanpa banyak bicara.
“makasih..” ucapku
“makasih buat?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku
“buat hari ini, aku seneng bisa pergi bareng kamu, bareng mereka juga” melihat sepasang kekasih asik tiduran diatas pasir.
“sama-sama. emm ding?”
“iya,”
“kita bikin perjanjian yu?” usulnya
“perjanjian? perjanjain apa?” tanyaku
“aku tau kita enggak mungkin bareng-bareng buat saat ini, dan aku tau dia masih ngarepin kamu, dan aku enggak mungkin kaya gini terus, masih banyak waktu buat kita jalanin semuanya, aku enggak mau kalau kamu terus menderita untuk semua ini. Aku harap kita temukan yang lain, jika aku merasa cukup untuk mencari dan masih tidak menemukannya, aku yakin kamu adalah orang terahir untukku. Janji?” jelasnya
“aku memang lagi deket sih, tapi aku belum yakin sama dia. Aku tau ini akan menjadi berat, tapi aku janji sama kamu, karena aku ingin selalu bersama ” sambil tersenyum

Dari kejadian hari itu aku selalu ingat janji kita. tapi masalah mulai datang saat mantanku tau soal kita! dan akhirnya sahabat dan teman dekatku tau soal ini. seperti petir di siang hari semua terasa perih dan menyakitkan. aku tak bisa jalani ini tanpa dukungan dari dia.

Hari terasa berjalan sangat sangat lambat, kita masih komunikasi meski jarang tapi ini semua sudah biasa, aku selalu takut di saat dia bareng anak-anak terutama bareng mantanku, aku takut dia ceroboh dan membuat masalah itu muncul lagi. Beberapa bulan kemudian dia datang ke rumah dan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda.
“aku mau bisikin sesuatu sama aku?”
“bisikin apa? engga mau ah,” candaku
“sini aku bisikin bentar,”
“engga mau, kamu pasti becanda”
“engga, sini deh!”
“kamu mau engga nikah sama aku?”
“hah? serius?” dengan nada terkejut dan sedikit meledek
“serius, aku mau kita nikah aja, biar aku bisa bareng kamu terus” sambil tertawa malu
“hehe, engga mau ah. kamu engga serius?”
“serius tau ih, tapi sekarang aku belum punya apa-apa, nanti aku bakalan sukses kok apalagi ada kamu” dengan senyumnya yang buat mata dia berbentuk huruf N he
“amien,” seneng banget dia bilang gitu, aku pengen jawab mau bangeettt?
“engga ada cincin yah?” dia senyum sambil pegang tangan aku, dan aku balas senyum dia.
Tiba-tiba dia nyuruh aku balik badan, dia lepasin kalung yang dia pake dan dia pakaikan di leherku. Aku deg-degan banget aku kira dia mau ngapain, seneng banget saat dia pakaikan kalung itu, aku Tanya kalau ibu nanyain kalung ini dia jawab apa? dia bilang tenang aja semua bisa diatur dan kembali tersenyum. pengen rasanya loncat-loncat dan teriak saking senengnya? Dia bilang cuma ini yang dia punya dan ini harus selalu aku pakai! pastinya aku akan selalu pakai kalung ini

Suatu hari, kampus ngadain turnamen futsal antar angkatan, waktu itu pertandingan antara angkatan ku lawan angkatan bawah. aku turun tangga mau ke lapang aku lihat dia lagi maen sama anak kecil, aku kira anak kecil itu anaknya bang riky alumni (dengan nama samara), tenyata anak kecil itu keponakan mantannya. kalau lihat dia bareng mantannya yang itu aku engga suka, aku pengen banget pulang tapi aku bertahan sampai ahir dan sebisa mungkin engga memperlihatkan kalau aku marah dengan main bareng keponakannya itu.

Pertandingan usai dan angkatan kitapun menang dengan skor yang memuaskan, tapi tidak dengan hati aku semakin menyayat dan semakin sesak saat lihat mereka bersama seperti keluarga ayah, ibu dan anak! rasanya ingin lari berteriak dan menangis!

Dari kejadian itu aku sakit, aku engga ngampus dan dia baru sadar kalau aku sakit malem-malem dia ke rumah buat mastiin aku engga apa-apa karena sms dari dia aku engga bales dan sms semua orangpun aku engga bales. pengen banget bilang ke dia kalau aku engga suka lihat dia kaya kemaren dan aku kecewa banget! tapi ada mamah aku malu..

Dia jelasin semua soal kemarin dia bareng mantannya. semua kembali seperti semula meski kita engga banyak bareng-bareng tapi dia masih suka maen ke rumah. hari itu aku kangen dia pake banget malahan, dan tiba-tiba dia datang ke rumah tanpa bilang dulu awalnya, penampilannya berbeda dari biasa dia terlihat rapih sangat-sangat rapih dan terlihat lebih bercahaya?

Kita ngobrol, bercanda seperti biasa, dan menghabiskan malam bersama, rasanya enggak pengen dia pulang, sebelum dia pulang tiba-tiba dia peluk aku erat banget, aku becandain dia aja.
“ding, aku sayang banget sama kamu. Maaf dan makasih” ucapnya
“ngomong apa sih? aku juga sayang kamu anyunn.”
Dia peluk aku lagi, aku hanya diam dan tak merasa ada yang aneh dengan sikap dan kata-katanya. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam dia pamit pulang, cara dia jalan tuh beda tapi dia tetap ceria dan sempat becanda sebelum pulang. Dia parkirin motor sebelum pulang dia cium kening dan peluk aku lagi, pelukan itu terasa sangat hagat dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya, ini yang buat aku aneh karena dia engga pernah lakuin ini sebelumnya.

Diapun pergi… Pintu gerbang belum aku gembok terdengar suara benturan benda yang sangat keras, aku langsung ingat dia dan berlari menuju jalan raya. Aku jalan perlahan memastikan bahwa itu bukan dia, saat melihat motor yang diparkir oleh bapak-bapak dan itu ternyata motor dia mulailah air mata keluar.
Perlahan aku dekati kerumunan itu dan aku terhentak saat melihat tubuhnya tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. tidak banyak berkata aku hanya terdiam dan menangis?

Sudah tiga hari dia dirawat dan masih belum sadar juga, aku terus temenin dia tapi saat anak-anak besuk aku sembunyi, aku engga mau mereka liat aku dan berpikiran yang aneh-aneh soal kita.
Mamah engga marah soal ini, mamah tau dan ngertiin perasaan aku gimana, hapir semua waktuku aku habiskan menemaninya di rumah sakit, keluarganya ada disana, aku malu tapi rasa malu itu hilang karena kekhawatiranku lebih besar.

Akhirnya dia sadar semua menangis bahagia terutama ibu, dia tidak banyak bicara hanya melihat sekeliling. tak lama dia menanyakan surat yang ada di saku jaket yang dulu dipakai dan memberikannya kepadaku.
“ini surat buat kamu, maafin aku yah aku engga bisa tepatin janji aku, aku sering buat kamu marah, buat kamu sakit hati sering juga buat kamu nangis. Aku sayang kamu ding”
“kamu enggak boleh bilang gitu, kamu udah janjikan! aku tau kamu pasti bisa nepatin janji kamu.”
“ibu, kaka minta maaf selama ini kaka sering buat ibu kesel, nyusahin ibu, selalu buat ibu khawatir. kaka sayang banget sama ibu.”
“kamu jangan banyak bicara dulu kamu baru sadar harus banyak istirahat, ibu juga sayang kamu nak.!” Mengusap dan mencium kening
“iya bu, kaka juga mau istirahat ko.” memejamkan mata, dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terahir, semua menangis haru terlebih aku dan ibu, aku mencoba tegar dan kuat menerima semua ini.

Setahun berlalu setelah kepergian dia, enggak ada lagi yang bangunin tiap pagi dan nyuruh solat “bagun, solat cantik”, pangilang sayang dia “oding” dan enggak ada lagi yang ngucapin kata sebelum aku tidur “Gnight oding, nice dreams” dan enggak ada lagi yang nyanyiin lagu, ceritain cerita kalau aku susah tidur? aku selalu mengunjungi makamnya tiap kali aku ingat dan aku kangen dia.

Kita enggak tau apa yang akan terjadi pada kita saat ini atau nanti. Semua sudah Tuhan atur, dan ini jalan yang Tuhan kasih buat kita. Cinta memang tak selama harus memiliki dan tak selamanya harus bersama. Tapi aku cinta kamu selamanya, kita pasti akan bertemu di kemudian hari.
Idam aku kangen kamu, kangen becandaan kamu, aku kangen semua yang sering kita lakukan? Saranghae Idam :*

Cerpen Karangan: Agistyaneu P Oskar
Blog: handinioskar.blogspot.com

Cerpen Pelukan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Your Lie

Oleh:
Kebohonganmu. Ini semua tentang bagaimana kau merayuku dengan semua kata kata manismu. Janji palsumu. Janji yang kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi. Sudahlah. Sungguh aku tak bermaksud menjelekkanmu.

Come Back

Oleh:
“Kak mot kenapa kau pergi di mana kau?”. Ucap seorang gadis menangis di depan rumah seseorang, lalu ada seorang wanita yang cukup tua melihat dan memanggilnya “Lyn pulang nak

Sahabat Kecilku (Part 2)

Oleh:
Besok adalah hari yang paling mendebarkan di seluruh sekolah, ya benar, besok memang hari pengumuman kelulusan. Tuhan, ini penentuan masa depanku, jadi tolong berikanlah aku nilai yang baik begitulah

Penyesalan

Oleh:
“Pernahkah dokter selingkuh?” Reyhan berhenti mengamati infus dan berbalik menatap Reva dengan tatapan bingung, “Kenapa kamu menanyakan itu?” Reva menatap Reyhan dengan pandangan menerawang,” aku tak pernah melihat dokter

Senja

Oleh:
Kecewa, mungkin hanya kata itu yang dapat mewakili apa yang sekarang Senja rasakan. Seketika air matanya pun jatuh berguguran membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Air mata Senja yang kini berguguran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pelukan Terakhir”

  1. hariyanto londo godhong says:

    cerita yang mengharukan….kayaknya ini pengalaman pribadi yaa….menyentuh… kritiku cuman pemeran ngak begitu jelas, watak, karakter awal belum terungkap, keromantisannya kurang….jadi waktu kehilangan juga kurang mengigit..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *