Penantian Di Ayunan Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

“Ciee.. Hari ini ada yang mau ketemu sama pangerannya nih,” Raeka hanya tersenyum. Naina, terus saja menggodanya hari ini. Lagi pula, Naina berkata benar.
Raeka lagi-lagi tersenyum mengingatnya. “Kamu udah godain aku sebanyak 20 kali. Udah ah, nanti aku terlambat.” Raeka bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ke luar rumah. Sementara Naina berteriak memanggil namanya dan mengejar Raeka.

“Raeka, tunggu dong.. Aku kan juga mau ikut, huh..” Keluh Naina. Raeka menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap Naina.
“Naina, jangan bikin kacau hari ini yah.. Kamu tahu kan kalau aku udah lama nunggu momen ini?” Kata Raeka.
“Aku tahu. Kamu udah menanti dari tahun 1999 sampai tahun 2005. Jadi, kamu udah nunggu sampai…” Naina mengangkat jarinya, menghitung untuk melanjutkan pernyataannya. Raeka tertawa kecil, “Dasar kamu ini!” Raeka berjalan lagi, menuju tempat tujuannya. Meninggalkan Naina yang masih berusaha menghitung.
“6 tahun!! Raeka? Mana Raeka?” Naina menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan sahabatnya itu. “RAEKA! Dasar tukang tinggalin orang!”

Raeka tersenyum melihat sekelilingnya. Taman ini, sudah banyak berubah sejak 6 tahun yang lalu. Dan hari ini, bunga mawar yang ada di taman ini mekar. Bunga mawar adalah bunga kesukaannya dan juga kesukaan pangerannya, Rehan.

“Aku.. aku akan pergi ke Aussie hari ini, tepatnya 2 jam lagi.”

Dug! Raeka merasa jantungnya mulai berdegup kencang. “Pergi? Kenapa mendadak?” Raeka mulai merasa pandangannya kabur dan pipinya mulai terasa basah.
“Nggak, ini nggak mendadak. Sebenarnya, Ayah sama Bunda udah bilang ke aku tentang kepergian ini sejak sebulan yang lalu. Tapi,..”
“Kapan kamu kembali?” Rehan belum selesai bicara, tapi Raeka memotongnya. Tidak penting baginya apa pun alasan Rehan. Ia hanya akan mendengarkan sesuatu yang penting saja.

“6 tahun. 6 tahun lagi aku akan jemput kamu di tempat ini dan pada waktu yang sama. Disaat umur aku 25 tahun dan kamu 24 tahun.” Raeka melempar tubuhnya ke dekapan Rehan. Air matanya mulai mengalir deras, kemudian elusan halus terasa di kepalanya.

Raeka tersenyum saat mengingat itu semua. Air matanya turun secara bersamaan dengan merekahnya senyumnya. Ini bukan air mata kesedihan, namun kebahagiaan. Raeka melangkah menuju kursi panjang yang ada di taman itu. Kursinya menghadap ke sebuah danau kecil. Raeka duduk di sana. Kemudian..
“Raeka!!” Raeka terkejut. Ia segera mencari sumber suara tersebut. Kemudian ia mendapati Naina yang sedang berlari mendekati dirinya. “Huh.. cape banget!” Naina duduk di samping Raeka. Napasnya masih terengah-engah. “Kamu tuh ya! Aku cape tahu ngejar kamu!” Omel Naina. Raeka hanya tersenyum lebar sambil mengucapkan kata maaf.

1 jam..

4 jam..

7 jam..

“Raeka.. Kita pulang aja yuk, kayaknya juga mau hujan.” Naina berusaha berbicara selembut mungkin agar Raeka mau menurutinya.
“Tapi Rehan..”
“Kita pulang aja, yah? Mungkin dia besok baru datang.. Besok kita ke sini lagi, oke?” Naina menatap wajah Raeka yang terlihat kecewa.
“1 jam lagi, yah? Kalau dia nggak datang, baru kita pulang..” Naina menghela napasnya. Mustahil jika ia terus membujuk Raeka, dia keras kepala.

Tik, tik, tik..

Air hujan mulai turun. Semakin lama, semakin deras. Naina khawatir jika penyakit Raeka akan kambuh.

“Raeka, ayo kita pulang!” Naina berdiri kemudian menarik pelan tangan Raeka. “Kalau kamu mau pulang duluan, silahkan. Aku masih mau di sini.” Raeka menarik lengannya. Bibirnya bergetar, dan Naina tahu kalau sahabatnya ini kedinginan dan.. menangis. Naina segera mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melindungi sahabatnya. Naina sadar, tak ada yang dapat melindungi Raeka selain dirinya. Naina segera membuka jaketnya dan meletakannya di atas kepala Raeka.

“Raeka! Ayo kita pulang! Ayo!” Naina menarik tangan Raeka agak keras. Air mata Naina mulai meluncur saat melihat darah mulai menetes dari hidung Raeka. Raeka menarik tangannya dan memegang hidungnya. Raeka termenung. “Aku gak apa-apa, kok.. Tenang aja.” Raeka tersenyum untuk menenangkan Naina. Kepalanya mulai terasa pusing. Naina menarik tangan Raeka dan menopangnya. “Bertahan.. Kita akan pulang..” Naina merasa beban tubuh Raeka semakin berat. Naina dan Raeka terjatuh, tangis Naina pecah saat Raeka tak sadarkan diri.

Hari ini pemakaman Raeka. Ia meninggal karena kankernya. Ia sempat sadar di rumah sakit, tapi pada saat ia mengetahui bahwa Rehan telah tewas, ia meninggal. Perasaan Naina semakin hancur saat mengetahui bahwa pesawat yang Rehan naiki pada sehari sebelum hari penantian itu berakhir mengalami kecelakaan dan Rehan menjadi korban tewas. Makam Raeka tepat bersebelahan dengan makam Rehan, sesuai dengan permintaan terakhir Raeka.

“Raeka.. Rehan.. Semoga kalian dapat bersatu dan bahagia bersama di sana..”
Naina melangkahkan kakinya pergi. Ia menoleh ke belakang sejenak, kemudian tersenyum dan menepis air matanya.

Cerpen Karangan: Dila Yolianisa
Facebook: Dila Yolianisa

Cerpen Penantian Di Ayunan Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertamaku

Oleh:
Ketika hujan turun, angin dingin sepoi-sepoi yang perlahan membelai helai demi helai rambut gadis itu, yang diperhatikan Vino, yang sedang duduk sendiri menunggu hujan reda. Cuaca saat ini memang

Bukan Salah Bintang Jatuh

Oleh:
Tepat satu tahun yang lalu aku bersama Bagas, sahabatku di sini. Di atas bukit kecil di tengah taman kota. Aku membaringkan tubuhku di rerumputan hijau halus yang memenuhi taman

Atas Nama Cinta

Oleh:
Bunyi alarm membangunkanku dari lelapnya jiwa. Kubuka mataku perlahan, mengumpulkan nyawa yang masih tersisa. Hujan semalam meninggalkan hawa dingin yang begitu menyengat. Membuat enggan keluar dari balik selimut tebal

Terimakasih

Oleh:
Kisah fiksi dari buku kusam yang berdebu Aldo dan Dini adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia, hubungan mereka dimulai sejak mereka kelas 2 SMA, Dini jatuh cinta kepada Aldo

Wait For Me In Heaven

Oleh:
‘Tunggu aku yah di surga. Aku sayang banget sama kamu. Maafkan aku, aku pernah membentakmu. Dan sempat tidak percaya denganmu. Aku lebih percaya dengan lelaki b*rengsek itu daripada kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *