Penantian Najmi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 11 March 2021

Jika cinta adalah suara, gendang telingamu akan pecah.
Jika cinta adalah anestesi, detak jantungmu seketika terhenti.
Jika cinta adalah plasma, kubiarkan darahku mengalir di tubuhmu.
Darahku, darahmu. Mengalir menjadi satu padu, mengental hingga masanya tiba merubah sosok yang selama ini kau idamkan, Bayi…

Kakiku menancap di beranda rumah. Kepalaku mendongak menatap langit membiru yang nampak kosong. Sesekali aku tersenyum kecil dan air mataku mengalir di lesung. Saat teringat tentang kisah 1 tahun silam.

Namaku Najmi Ulya. Setiap malam aku terduduk di teras rumah sambil menunggu kedatangannya pulang. Seorang ibu rumah tangga yang hanya rindu akan sosok seorang lelaki yang sangat menghargai wanita seperti diriku.

Tak akan kutemukan lagi belahan jiwa seperti dirinya. Semilir angin malam membawa rintik hujan serupa salju menampis di wajahku. Rasanya sejuk seperti tutur katanya yang tak pernah membuatku memberenggut hati. Malam dan rintik hujan memang mempunyai caranya sendiri membawa ingatanku pada saat bersamanya. Terlalu indah untuk kulupakan, terlalu lirih saat aku ingat. Jemariku yang rindu dengan genggammu dan sekarang aku gunakan untuk menutup pintu rapat-rapat.

Kakiku berayun menuju ruang tengah untuk singgah, nuansa hening merasuki jiwaku. kesedihan beranak pinak seperti gendang bertalu-talu memecahkan dada.

Aku menarik kursi kayu yang terhimpit di kolong meja, hingga mengeluarkan bunyi derit dan, kujatuhkan bokongku yang telah berisi lemak. Maklum aku sudah memiliki anak satu. Dan, kini tubuhku tidak ideal lagi seperti jaman putih, abu-abu.

Di meja itu, jemariku sibuk mencari diary yang terselip di antara buku-buku berdebu. Tak lama kemudian, diary pun tersembul di pertengahan buku-buku yang lain. Lalu, kuletakkan di atas meja.
Mataku tertumbuk pada sampul diary yang tertulis: “Apapun yang bersamamu pasti berpisah” dan, di sisi kirinya ada tanggal 13 Febuari. Itulah hari di mana pernikahanku berlangsung. Sebuah ikrar janji yang saling terikat.

Air mataku mengembang. Sungguh, liuk kalimat yang tertera di sampul itu merubah bak belati menyayat selaput hati.

Aku membuka halaman pertama. Cerita usang bagai cahaya lilin. Tak sebenderang neon memang tapi, tetap menyala di ingatanku. Dadaku terasa berat seperti ada benda yang menggantung di dada. Benda yang kusebut luka.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu, kuhembuskan rasa perih ke langit kelam. Agar rasa perih mengudara, membeku, bersama gigilnya malam.
Dengan mata berkaca-kaca, dengan bibir yang bergetar. Aku membaca cerita yang masih tetap utuh. Dan, membawaku terbang pada cerita masa lalu.

Alkisah…
Di pertengahan hari, matahari bulat, matang. Bertengger di langit lepas, ponselku berdering. Mataku tertumbuk pada layar ponsel berukuran 4 cm. Dan, jemariku memoles tanda hijau, sebuah arti tanda jawab dariku.

“Najmi, aku dalam perjalan pulang. Aku janji tidak akan telat, tunggu aku ya.” ucapnya dari balik telepon, sebuah janji yang tak pernah ia ingkar. Semenjak dalam pernikahan kami. Ditambah lagi dia tidak lupa kalau sekarang, tepat di mana hari yang patut dirayakan. Meski hanya aku dan dia yang merayakannya sudah cukup bagiku. Di mana hari sebuah tanggungjawab memiliki arti bagimu, kau mengingatku dengan akad nikah.

“Aku sudah memasak kesukaanmu, sayur bayam dan ikan le…”
“Ikan lele.” sambungnya setelah dia membelah ucapku.
“Aku tunggu kedatanganmu.” Kataku. Sambil menyunggingkan senyum. Dan, berakhirlah sepenggal percakapan. Kalau boleh jujur. Sungguh, perasaanku terasa tidak enak. Apa karena bawaan bayi yang sedang kukandung?! Entahlah, aku hanya menunggu kedatangannya setelah itu, semua akan baik-baik saja.

Kususun dua piring bening untuknya dan untukku. tertata di meja berbentuk segi empat. Serta tak lupa menyiapkan lauk favoritnya yang kumasak tadi. Aku menggambil sikap duduk berhadapan dengan bangku yang masih kosong, bangku itu, milikmu. Pun, bayi yang berada di dalam perutku berulangkali bergerak seolah merespon menunggu kedatangannya pulang. Waktu berlarian tanpa jeda. 5.30 PM. Tampak di layar ponsel yang tak jauh letaknya dariku.

Satu jam terlewat begitu pesat. Tanpa sebuah kabar yang mampu menenangkan perasaanku.
Dua jam terlewat begitu cepat
Tanpa dia yang tak hadir menyemarakkan suasana hening. Pandanganku nanar menerobos jendela kaca. Menatap guratan cahaya senja yang perlahan luntur. Siluet hitam menyelimuti pagu.

“Tidak seperti biasanya. Dia telat pulang ke rumah.” gumamku dalam batin menjerit lirih.

Pikiran alam bawah sadarku mulai terbentuk sugesti tragis menghantam jiwanya hingga masa merenggut nyawanya. Sebab, penyakit kardiovaskular, bersemayam di dalam dirinya. Sugesti negatifku, bagai kobar api melahap selembar kertas kebahagiaan. Aku hanya menunggu sebuah kabar bukan kedatangannya. Sugesti positif yang kubangun seolah runtuh berkeping-keping.

Pandanganku beralih ke bangku kosong satu. Sebiasanya dirimu terduduk di sana. Menyebarkan senyuman yang membendung rasa lelahku ketika istilah ibu rumah tangga kusandang.
Di bangku kosong itu, kamu menyandarkan keluh-kesah. Manis dan pahit saat mengais rezeki yang Tuhan, berikan untuk hari ini. Namun, dipertengahan kecemasan.

Mataku membeliak, di bangku kosong itu telah diisi dengan sosok dirimu yang sedari kutunggu. Sesekali dia menarik bibirnya yang pucat itu, dari sorot ekor matanya memuat kesedihan. Membentur mataku menyulut hatiku.

Ponselku berdering sebuah kabar yang kunanti telah datang. Aku mencengkeram badan ponsel kuat-kuat. Lalu terdengar suara pria paruh baya, menyampaikan sebuah kabar duka cita. Tanganku bergetar, jiwaku bergejolak hebat dan alat yang aku genggam terbanting telak.

Cerpen Karangan: Faisal Fajri
Blog: Xfaisalfajrix.wordpress.com
Faisal Fajri seorang yang belom bisa mendefinisikan diri sendiri.

Cerpen Penantian Najmi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jackpot

Oleh:
Tak terasa sudah 3 tahun setelah kepergiannya. Sudah 3 tahun pula aku menyimpan kesedihan ini. Sebuah kesedihan yang mempengaruhi hidupku. Kalau kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ya,

Rapuh (Part 1)

Oleh:
“Hilda tunggu…” Andre mengejar Hilda yang terus berlari menghindar dari Andre. Pada saat yang bersamaan Hujan turun mengguyur kota itu dengan derasnya. Diselingi gemuruh petir yang nyaring dan menggelegar

Surat Kecil Untuk Morgan

Oleh:
Gadis cantik ini tengah berkutat dengan ponselnya, menekan huruf demi huruf yang ada pada layar handphonenya menjadi kebiasaannya sebelum tidur “good night and sweet dream. I’ll always love you”

Cinta dan Penantian

Oleh:
Cinta. Aku tidak pernah tahu apa makna dari satu kata sederhana itu. Tapi yang aku tahu bahwa kita tidak bisa memilih dengan siapa hati kita akan berlabuh. Dengan Pria

Kata Terakhir Yang Indah Dari Mu

Oleh:
Pertemuan kami sesuatu yang tidak disengaja, walawpun kami satu kampus tapi berbeda jurusan dan kami pun tidak saling mengenal, awal perkenalan kami pada acara pentas seni di kampus yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *