Penantian Tak Berujung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 10 October 2017

Semilir angin malam dan taburan cahaya lampu perkotaan menyita perhatian Nafisa. Kerlap-kerlip lampu rumah perkotaan, kendaraan yang silih berganti, dan gemerlap cahaya bintang-bintang angkasa mengingatkan Nafisa pada masa lalu. Di tempat ini, di Bukit Bintang tepatnya sekitar 2 tahun lalu seorang laki-laki membuat Nafisa merasakan kebahagaiaan dan kesedihan dalam satu waktu. Kebahagiaan tentang perasaan laki-laki itu terhadapnya. Dan kesedihan tentang kepergian laki-laki itu beribu-ribu mil jauhnya. Hari itu tidak akan pernah Nafisa lupakan. Hari dimana dia merasa diterbangkan ke angkasa namun kemudian dijatuhkan bebas dalam sekejap. Entah kenangan indah atau pahitkah yang harus dikatakan.

“Kamu masih mengingatnya?” suara seorang perempuan yang duduk tepat di samping Nafisa mengejutkannya.
“Semakin aku mencoba untuk melupakan, bayangannya semakin nyata” jawabnya dengan suara yang parau. Dirinya masih pada posisi yang sama, duduk di tanah dan menatap jauh pada indahnya gemerlap cahaya perkotaan.
Nafisa menghela napas. “Entahlah mbak, aku bahkan hampir tidak bisa membedakan antara rasa bahagia dan sedih saat ini”.
“Lepaskan. Bukalah lembaran baru di hatimu” jelas mbak Asa pada Nafisa.

Perempuan berusia 27 tahun itu memang selalu berusaha untuk menghibur adik perempuannya, Nafisa. Adik perempuan yang beda 3 tahun darinya itu memang sedang membutuhkan support darinya. Bahkan mbak Asa, sebutan kakak perempuan Nafisa ini, tidak tega melihat adik perempuannya seperti itu. Wajah Nafisa terlihat pucat dan lesu setiap kali mereka mendatangi tempat ini, Bukit Bintang.
“Ayo pulang, ini sudah malam. Mbak gak mau kalau kamu sampai sakit karena kedinginan di sini” ucap mbak Asa pada Nafisa. Dia pun berdiri dan menarik lengan Nafisa. Mereka pun beranjak pergi meninggalkan tempat indah yang penuh kenangan itu.

Matahari pun tak malu untuk tersenyum terang di pagi itu.
“Anak perawan jam segini kok masih molor” Mbak Asa menghampiri Nafisa. Dia melihat wajah adiknya yang tertidur pulas. Dia pun berjalan mendekati jendela kamar. Membuka jendela kayu yang hampir rapuh karena usia.
Cahaya matahari menyilaukan mata Nafisa. Memaksanya untuk membuka mata dan memeriksa siapa yang telah berani mengganggu paginya.
“Ahh, mbak 5 menit lagi oke” Nafisa hanya membuka sedikit kelopak matanya kemudian menjatuhkan diri dan memeluk gulingnya kembali.
“Kata ayah akan ada tamu hari ini. Ayah mau ngenalin kamu sama temen anaknya,” jelas kakak perempuannya itu yang berdiri tepat di belakangnya.
Nafisa tetap diam tak bergeming sedikitpun.

Mbak Asa berjalan mendekati Nafisa dan duduk di tepi tempat tidurnya. Menarik lengan Nafisa dan membenarkan posisi duduknya. “Ayolah, kamu harus bersiap Nafisa. Bangun dan mandilah!” pinta mbak Asa pada Nafisa.
“Iya iya mbak, ishh”, Nafisa pun segera beranjak dari tempat tidurnya, menyabet sebuah handuk di tangannya dan berjalan ke luar kamar dengan lunglai.
“Dasar! Pantes laki-laki pada takut deketin dia”, ucap mbak Asa pada diri sendiri yang sedikit terkejut dengan sikap adiknya yang seperti itu.

Mbak Asa pun berjalan ke luar kamar menuju dapur. Membantu ibu untuk menyiapkan menu hidangan untuk teman ayahnya yang akan datang siang nanti. Teringat dahulu bagaimana Nafisa yang membantu ibu memasak hidangan untuk para tamu yang datang berkunjung saat dirinya belum bisa memasak. Namun kini, menjadi seorang istri telah menuntutnya untuk dapat menciptakan menu-menu yang dapat mengenyangkan perut orang lain.
“Hmm, enak nih kayanya”, sesekali Nafisa mencomot makanan yang ada di hadapannya itu. Entah dari kapan gadis itu telah keluar dari kamar mandi dan berdiri di samping kakaknya.
“Ishhh… ganti baju dulu, baru makan. Udah sana!!” mbak Asa pun mendorong adiknya menjauh dari meja makan untuk masuk ke kamarnya. Dia tidak habis pikir bahwa adiknya itu masih saja kekanak-kanakan di usianya yang hampir menginjak 25 tahun.
Ahh depresi karena cinta itu memang lebih menakutkan. Lebih baik adikku itu tidak pernah mengenalmu, Alex. Katanya dalam hati.
Perempuan, 26 tahun itu, ingat betul bagaimana adik perempuannya itu datang kepadanya dengan mata sembab 2 tahun lalu. Menceritakan sosok laki-laki yang tidak pernah dia tahu bagaimana rupanya. Nafisa yang datang kepadanya dan memeluknya dengan pipi yang basah dipenuhi air mata.
“Aku telah salah menempatkan cinta mbak”, ucap Nafisa dengan suara parau karena isakan tangisnya dalam pelukan mbak Asa.

“Ada apa? Siapa?” tanya mbak Asa kebingungan dengan keadaan adik perempuannya itu.
“Dia. Dia laki-laki yang dulu pernah datang padaku, juga pernah pergi dariku. Dan dia datang kembali, lalu kini dia pergi lagi, mbak”, jelas Nafisa yang masih menangis dalam pelukan kakaknya.
“Siapa? Siapa laki-laki yang berani mempermainkanmu seperti itu huh?” tanya mbak Asa pada Nafisa yang menangis dalam pelukannya.
“Dia… Alex… Anderson”, ucap Nafisa terbata karena tangisnya. Terasa berat saat dirinya menyebut nama itu.
Alex Anderson? Entah siapa dirinya, tapi dia adalah alasan kenapa adikku menolak semua laki-laki yang ingin mendekatinya. Pikir mbak Asa dalam lamunannya.

“Mbak? Ngelamun aja. Nanti kesambet setan lo”, ucap Nafisa dengan jail yang mengejutkan lamunan kakaknya.
“Siapa yang ngelamun. Mbak itu ngebayangin kira-kira anak temen ayah yang mau dikenalin sama kamu itu ganteng nggak ya”, celoteh mbak Asa jail pada Nafisa.
“Ishh apaan sih mbak. Aku aja nggak tertarik sama sekali”, jawab Nafisa sedikit cemberut.
“Kalian itu ngomongin apa sih”, suara seorang wanita yang muncul dengan sepiring pisang goreng hangat di tangannya. “Eh kok belum ganti baju?” tanya wanita separuh baya yang dipanggil ibu itu pada anak gadisnya, Nafisa.
“Iya bu. Ini juga mau ganti baju”, jawab Nafisa yang segera masuk ke kamarnya.

10 menit, 20 menit, 30 menit pun berlalu. Detik jarum jam di kamarnya dapat Nafisa dengar dengan jelas. Namun dia tidak melakukan apapun. Jangankan berganti pakaian, memilihnya saja dia enggan. Nafisa hanya berbaring diam di tempat tidurnya. Memandangi langit-langit kamarnya. Memikirkan suatu hal yang sebenarnya tidak harus dia pikirkan.

Tok tok tok. “Naf, are you okay?” tanya kakak perempuannya yang mengetuk pintu kamar Nafisa. Memastikan keadaan adiknya yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Tok tok tok. Tetap tak ada jawaban dari adiknya.
“Naf?”, panggil mbak Asa sekali lagi sedikit khawatir.
Huff… Nafisa menghembus kesal. ”Iya mbak ini juga sebentar lagi keluar kok”, jawabnya.
“Okee ditunggu Ayah soalnya, cepetan yaa”, pinta mbak Asa padanya.

Mbak Asa pun kemali ke ruang tamu untuk menemui Ayahnya.
“Gimana?”, tanya Ayah pada mbak Asa.
“Sebentar lagi katanya”, jawab mbak Asa pada Ayah. Dan Ayah pun hanya mengangguk mengerti.
“Ohh iya Pak Bu silahkan dinikmati hidangannya. Ini semua buatan sendiri. Ayo nak Arfan dicicipi”, celoteh Ibu yang memecah keheningan.
Arfan? Itukah nama laki-laki yang akan dikenalkan Ayah padaku? Batin Nafisa. Langkahnya terhenti setelah dia mendengar nama itu. Kemudian Nafisa pun melangkah lagi.

“Ayah, Ibu”, ucap Nafisa yang datang tiba-tiba. Semuanya terdiam. Dan semua pasang mata yang ada di ruang tamu saat itu melihat ke arah Nafisa. Bingung. Lantaran Nafisa mengenakan jaket, dan tas ransel di punggungnya, serta sebuah kunci kendaraan dimainkannya di tangannya.
Ayah pun juga ikut bingung. “Nafisa kamu…”
“Ahh Ayah, aku lupa kalau hari ini aku udah punya janji sama temen” potong Nafisa saat Ayah hendak mengatakan sesuatu.
Nafisa pun mendatangi Ayah. Meraih tangannya. Dan mencium punggung tangan Ayahnya. Dia pun melakukan hal yang sama pada Ibu, bahkan pada laki-laki dan perempuan paruh baya yang belum sempat memperkenalkan diri padanya atau begitu juga sebaliknya. Setelah itu Nafisa memberi salam, menyunggingkan senyum terbaiknya, dan melangkah ke luar.

Saat Nafisa hendak meyalakan motornya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dan Nafisa menoleh padanya.
“Ayah, Nafisa minta maaf tapi Nafisa harus pergi, ada pekerjaan lebih penting di kantor”, ucap Nafisa sebelum Ayahnya sempat mengatakan sepatah kata pun. Karena Nafisa tahu apa yang akan Ayahnya tanyakan.
“Assalamualaikum”, ucapnya lagi sesaat sebelum Nafisa melajukan motornya.

Sebenarnya Nafisa enggan melakukan ini. Pergi tanpa arah dan tujuan. Benar, kepergiannya kali ini hanyalah sebuah alasan agar dia tidak bertemu dengan laki-laki itu. Tidak ingin tepatnya. Karena sejak 2 tahun lalu, Nafisa telah mengunci hatinya untuk satu laki-laki.

Aku tidak pernah meminta akan cinta ini. Dan aku juga tidak bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta. Tapi setidaknya aku bisa memilih dengan siapa hatiku bertahan. Dan aku telah memilih untuk menantinya. Entah sampai kapan. Alex Anderson. Batin Nafisa. Dan pikirannya pun melayang. Mengingat kenangan 2 tahun lalu. Hingga membuat pikiran Nafisa tidak fokus pada jalan raya.
Dan tiba-tiba. Brakkk!! Suara benturan keras terdengar siang itu. Membuat semua orang berlarian ke arah suara itu. Seseorang telah terjerungup di aspal. Membuat aspal siang itu dihiasi cairan warna merah pekat. Dan orang itu, perempuan itu tepatnya, terbaring lemah di aspal sambil menyebutkan satu nama berulang kali. Alex Anderson…

Cerpen Karangan: Seila Nafisa Nastiti
Facebook: Seila Nafisa Nastiti
visit instagram saya: seinaf 🙂

Cerpen Penantian Tak Berujung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Growing Pains

Oleh:
Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut

Lebih Berharga Dari Cinta

Oleh:
“Diandra!” panggil Sofie sambil melambaikan tangannya. Dari kejauhan, nampak seorang gadis remaja seumurannya menoleh. Matanya tampak berbinar diterpa cahaya mentari pagi. “Sofie! Bentar, ya!” jawabnya sambil berlari mendekat. Jarak

I Want To Sing A Loud

Oleh:
Aku rasa kopi ini sama sekali tidak membantuku. Aku menyingkirkan secangkir kopi yang mulai mendingin, demikian juga dengan gitar yang sejak tadi ku peluk. Akhirnya aku hanya menekuk lutut,

Bukan Untukku (Part 2)

Oleh:
Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *