Penantian Tiada Akhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 August 2015

Gadis cantik berambut panjang duduk termenung menatap danau yang sepi dan tenang, angin berhembus menerpa tubuhnya yang masih mematung di sisi danau. Ia memutar otaknya dan membayangkan kembali 3 tahun yang lalu, hari perpisahan dengan kekasihnya.

“Aku janji 3 atau 4 tahun lagi aku akan kembali ke Indonesia dan menemuimu lagi.” Ucap seorang pria kepada kekasihnya. Ia Ali.
“Kamu janji? Janji jangan tinggalin aku ya!” Balasnya penuh harap menatap kedua bola mata Ali, Lista namanya.
“Iya, aku janji setelah lulus SMA aku akan datang lagi, temuiku di danau ini. Aku pergi Bye! Aku akan selalu sayang kamu.” Pria itu berjalan perlahan ke tepi jalan dan memasuki mobilnya, kemudian menancapkan gas mobilnya dan berlalu meninggalkan kekasihnya.

Air bening satu persatu keluar dari pelupuk mata Lista, ia tak bisa menghentikannya. Lista mencoba menenangkan diri, ia memejamkan matanya sejenak lalu menghapus butiran bening yang membasahi kedua pipinya. “Hmm, Ali nggak mungkin ngingkarin janjinya, lagian hari ini baru 3 tahun, masih ada satu tahun lagi. Ya! Aku akan ke sini satu tahun lagi,” Batin Lista tersenyum.

“Lista!!” Ucap seseorang dari kejauhan, dia berlari mendekati Lista yang masih diam duduk di sisi danau.
“Gue cari ke mana-mana ternyata lo nyangkut di sini.” Sambungnya lalu duduk di samping Lista.
“Reno! Ngagetin aku aja!” Lista menatap wajah Reno sekejap dan kembali menatap lurus danau di depannya.
“Lagi nunggu Ali ya? Ciaah, setia banget lo sama dia.” Namun Lista tak menghiraukan Reno, suasana hening beberapa saat.
“Emangnya lo yakin Ali di sana setia sama lo?” Reno menatap perempuan di sampingnya, pertanyaannya membuat Lista menoleh dan bertanya tanya.
“Maksud kamu?” Gadis ini mengerutkan keningnya. Reno kembali menatap ke depan, sambil melempar satu persatu kerikil kecil ke danau.
“Yaa, mungkin aja di sana dia punya pacar baru, dan udah ngelupain lo di sini.” Pernyataan Reno tadi membuat Lista membulatkan matanya dan tercengang, ia beranjak dari posisi duduknya.
“Ali gak mungkin ninggalin aku Ren! Dia sayang sama aku! Jadi nggak mungkin Ali ngingkarin janji janjinya.” Lista berlari meninggalkan Reno yang masih duduk di sisi danau. Sepertinya ia sedikit kesal dengan sahabatnya itu.

Lista duduk di balkon kamarnya, sambil membuka hanphone dan memainkan sesuka hati, kadang ia membuka fotonya di saat bersama Ali. “Apa mungkin perkataan Reno itu benar?” Handphone-nya berdering tanda ada telepon masuk. “Halo? Pake video call ya?” Ucap seseorang dari balik telepon. Lista mengangkat kedua bahunya dan menuruti apa yang tadi dikatakan seseoang itu, walaupun ia tak tahu apa maksudnya?

“Hallo Apa kabar? Kamu makin cantik aja.” Dari seberang telepon, terlihat jelas wajah pria tampan yang familiar bagi Lista.
“Ali? Haha ya ampun kamu ke mana aja? Gak ngabarin aku sama sekali, terus kenapa kamu nggak ada di danau tadi? Bukannya kamu udah janji ya,” Pertanyaan Lista bertubi-tubi kepada Ali. Ali, ya seseorang yang selama ini dinanti Lista, mengapa baru sekarang dia baru mengabari Lista? Kemana aja dia? Pertanyaan itu muncul di benak Lista.

“Maaf ya aku baru bisa ngabarin kamu. Cuaca di sini sangat buruk, dan aku tahun ini gak bisa pulang ke Indonesia, pesawat-pesawat diberhentikan untuk terbang, tapi 1 tahun lagi aku akan menemuimu. Tunggu aku ya. Jaga hatimu. Pegang janjiku,”
“Iya aku pegang janjimu Li. Aku mau mandi dulu yaa, hehe”
“Iya, iyaa bye”

Senyum sumringah terpancar dari wajah Lista, ia tak sabar untuk menunggu kekasihnya itu. Satu Bulan, dua bulan, sampai dua belas bulan telah Lista lalui dan hari ini. Tentu saja ia akan pergi ke danau menemui sesosok orang yang dirindukannya. Dengan penampilan yang tidak biasa seperti hari-harinya, hari ini ia tampil cantik, ya? Untuk menyambut kedatangan Ali.

“Ali di mana ya? Hmm.. mungkin dia masih di perjalanan, Sabar Lista, sebentar lagi kamu pasti bakal ketemu Ali kok” Lista meyakinkan hatinya. Satu jam, dua jam, hingga tiga jam, sosok yang ditunggunya tak kunjung datang, hingga ia mulai sedikit kecewa.

“Ali kemana sih? Aku tunggu 15 menit lagi deh, kalau belum dateng juga aku pulang!” Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, ia bersenandung, dari kejauhan nampak sesosok wanita paruh baya sambil membawa tas kecil di tangan kirinya, tas itu mirip persis seperti tas milik Ali.

“Bunda? Kenapa Bunda di sini? Dan bukankah ini tas milik Ali? Kok bisa ada sama Bunda” Lista menatap wanita di depannya, dia Bunda Lista. Tetapi Bundanya diam, dan perlahan air bening keluar dari kelopak matanya.
“Kok Bunda nangis? Ali mana? Ali pasti ada di rumah ya?” Lista makin heran dengan perilaku Bundanya ini. Bunda Lista menggeleng, “Pesawat yang ditumpangi Ali tadi pagi kecelakaan, semua korban tewas dan tadi Bunda hanya mendapatkan tasnya yang hampir gosong.” bagai disambar petir di sore hari, Lista tak percaya dengan penjelasan dari Bundanya itu.

“Bunda Pasti bohong kan sama Lista? Ali masih hidup kan bun? Ali udah janji sama Lista gak akan ninggalin Lista lagi, Bunda tolong jujur sama Lista!” Ucap Lista, Air matanya keluar membasahi kedua pipinya, senyumnya seketika musnah hancur mendengar berita tadi.
“aku mau ketemu sama Ali, Ali pasti ada di rumah kan?” Lista berlari menuju rumahnya, namun ia tak sanggup bergerak. Bundanya mendekap erat tubuhnya.
“Lista! Ali tidak ada! Kamu harus terima kenyataannya!” Bunda tak melepaskan pelukannya.
“Ali nggak mungkin ninggalin aku bun,” Lista terduduk di rerumputan hijau, badannya sangat lemah, ia seperti tak sanggup untuk berdiri. Akhirnya Bunda lista menuntunnya untuk pulang ke rumah.

“Hallo Lista sayang. Hari ini aku akan terbang ke Indonesia, sesuai janjiku. Yaa, walaupun Ayahku sempat melarang dengan alasan cuaca yang sedang buruk. Tunggu aku ya. Sengaja aku buat video ini karena feelingku berkata lain, entah apa yang akan terjadi, dan kalau memang aku nggak sampai di Indonesia dan akan ada apa-apa denganku, kamu jangan sedih, kalau kamu sedih aku juga sedih..”

Belum sempat selesai diputar, Lista mematikan videonya. Air bening kembali berhamburan keluar dari matanya, ia mengambil tas kecil miliknya dan berlari keluar.

“Ali? kamu jangan bohong! Kamu pasti ada di sini kan? Ali ayo keluar!” Lista berlari mengelilingi seisi danau, namun tetap saja nihil.
“Ali..” Suaranya mulai melemah, ia duduk di sisi danau sambil menatap danau yang sepi dengan tatapan hampa. Ia tak bisa menahan air matanya yang terus mengalir, hatinya seakan akan hancur berkeping-keping.
“Ali kamu tega sama aku! Kamu gak sayang sama aku!” hatinya terus menangis, mungkin luka di hatinya sudah cukup dalam. “Aku akan ke tempat ini setiap hari Li! Aku akan nunggu kamu di sini sampai kamu datang menemuiku!” Lista berjalan gontai pulang ke rumahnya.

Hari demi hari telah dilaluinya, setiap hari ia pergi ke danau sendiri, setiap kali ia pergi ke danau, ia melimpahkan semua kesedihan dan kerinduan yang sangat mendalam. Hingga sampai suatu hari, Lista mengalami kecelakaan yang sangat tragis, ia tertabrak truk saat ia hendak pulang ke rumahnya, sampai Lista pun tak dapat tertolongkan.

Mungkin kini ia telah bersama Ali di kehidupan kekal dan indah di sana.

TAMAT

Cerpen Karangan: Cici Liawati
Facebook: Cici Liawati CL
Hai 🙂 namaku Cici Liawati, umurku 13th.. kalau ingin lebih tahu profilku kunjungi aja:
twitter: @_Ciciliaaa
blog: Cici Liawati CL
Ask.fm : @Ciciliaaa

Cerpen Penantian Tiada Akhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Harry

Oleh:
Aku menulis surat ini untukmu Harry, aku tahu kamu tak membuka dan membacanya tapi aku percaya kau melihat dari sana aku sedang menulis surat ini dengan tawa dan senyumku

Cinta Putih Abu Abu

Oleh:
Masa SMP telah usai, lanjutlah kami mencari sekolah SMA. Aku Santi yang selalu takut jika didekati lelaki. Maklum pemalu, masih kurang pergaulan. Santi mencoba mendaftar di sekolah yang lumayan

Penantian Tak Berujung

Oleh:
Semilir angin malam dan taburan cahaya lampu perkotaan menyita perhatian Nafisa. Kerlap-kerlip lampu rumah perkotaan, kendaraan yang silih berganti, dan gemerlap cahaya bintang-bintang angkasa mengingatkan Nafisa pada masa lalu.

Aku Terlalu Kuat Untuk Kau Sakiti

Oleh:
Ada seseorang yang menyentuh pundaknya Karin, dia membalikkan badannya. Dan bertapa terkejutnya dia setelah mengetahui siapa yang menyentuh pundaknya. Seseorang yang dulu pernah menghiasi harinya, Rama. “Hay, apa kabar?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Penantian Tiada Akhir”

  1. christi_frigria says:

    ceritanya sangat bermanfaat untuk buat tugas jurnalistik, thank’s ya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *