Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 15 August 2014

“Pernahkah dokter selingkuh?” Reyhan berhenti mengamati infus dan berbalik menatap Reva dengan tatapan bingung, “Kenapa kamu menanyakan itu?”

Reva menatap Reyhan dengan pandangan menerawang,” aku tak pernah melihat dokter dengan seorang gadis pun. Berbeda sekali dengan kak Aldo yang setiap kali kemari selalu membawa wanita yang berbeda.” Dokter Reyhan membuka mulutnya untuk menjawab tetapi sudah didahului oleh Reva, “aku tau dokter pasti akan menjawab bahwa kak Aldo belum pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan cinta sejati makanya kakak berbuat seperti itu.”

Dengan gemas dokter Reyhan mengacak-ngacak rambut Reva, “Nah itu tau kenapa masih bertanya?” Dokter Reyhan kembali menatap buku yang dibawanya sambil menuliskan sesuatu dalam buku tersebut. “keadaan kamu sudah lebih baik. Jangan main game terus. Banyak-banyaklah istirahat Reva.” Dokter Reyhan membalikkan badan menuju pintu keluar kamar rumah sakit tersebut. Tetapi belum sempat menjauh, Reva sudah mencekal tangan dokter Reyhan.
Reva menatap dokter Reyhan dengan pandangan memohon, “Kenapa dokter selalu mengatakan hal yang sama, belahan jiwa adalah obat dikala kita sedang sakit. Apapun penyakitnya, orang yang kita sayangi akan selalu menjadi obat kita. Kalaupun kita sedang mengalami kebangkrutan bisnis, belahan jiwa juga akan menjadikan kabangkrutan bisnis kita sebagai batu loncatan untuk kesuksesan yang akan kita dapatkan. Tetapi jika belahan jiwa kita yang pergi dan kita menyadari bahwa belahan jiwa kita tak akan pernah bisa bersama kita apapun alasannya, bahkan 100 tahun pun tak akan bisa membangkitkan kita dari rasa sakit tersebut. Apakah dokter pernah mengalaminya?”
Tatapan Reyhan berubah menjadi sendu. Tatapan seorang yang penuh dengan luka. Reva tidak tega melihat tatapan yang seperti itu dari Dokter Reyhan. Tapi Reva menguatkan hatinya untuk mengetahui alasan dibalik kata-kata dokter Reyhan selama ini. Dokter Reyhan mencoba melepaskan diri dari Reva, “kenapa dokter selalu menghindar jika aku menanyakannya? Tak bisakah dokter menceritakannya padaku?” Dokter Reyhan menghela nafas dan mengambil posisi duduk di kursi penunggu pasien “Oke, asal kau berjanji setelah ini kau akan beristirahat”.

Reyhan sedang duduk di kantin bersama Mayda. Ketika tiba tiba teleponnya berbunyi
Kring… kring… kring…

Reyhan menatap hpnya dengan heran.
“siapa yang telepon yank?” Mayda memandang wajah kekasihnya dengan penuh tanya. “Mama, nggak biasanya mama siang-siang begini telepon”.
“Halo, ada apa ma?” Reyhan mengangkat telepon dan lagsung to the point dengan mamanya. “kok malah tanya ada apa. Kamu ini gimana sih. 1 bulan lagi kamu dan Shena akan menikah tetapi sampai saat ini kamu belum juga beli cincin. Hubungin shena sekarang dan cepat beli cincin. Mama nggak mau tau, pokoknya hari ini cincinnya harus sudah ada. Titik” Reyhan mendengus pelan memandang teleponnya yang sudah tertutup sebelum Reyhan mejawab kata kata mamanya.

Di sisi lain tempat itu Shena bersama dengan temannya sedang berjalan menuju ruang rektor untuk membicarakan kerjasama antara sekolahnya dengan kampus tersebut untuk mengadakan BAKSOS. Ketika berjalan melewati kantin kampus, Sheena berhenti dan tertegun memandang pemandangan yang ada di depannya. Reyhan yang 1 bulan lagi akan menjadi suaminya berangkulan begitu erat dan saling memeluk dengan seorang gadis di dalam kantin tersebut. Sheena mengetahui siapa gadis itu. Dia adalah Mayda cinta pertama sekaligus mantan pacar Reyhan yang telah Reyhan putuskan ketika orangtua Reyhan mengatakan bahwa dia dijodohkan dengan Sheena.
Tapi, “kenapa sekarang mereka berdua bermesraan disini, sebenarnya apa yang terjadi” tanpa sadar Sheena menggumamkan pertanyaan yang ada di dalam hatinya.

“Oh itu Kak Mayda dan Kak Reyhan, mereka adalah pasangan yang paling romantis di kampus ini” tanpa temannya sadari bahwa jawaban itu adalah kenyataan yang amat sangat menyakitkan bagi Sheena.

Hati Sheena seakan dihancurkan dengan penghianatan yang begitu menyakitkan. Bukan hanya karena penghianatan Reyhan dengan gadis tersebut tetapi Reyhan juga telah megitu saja meruntuhkan keyakinannya tentang lelaki jujur.

Reyhan yang kaget melihat tunangannya berada di tempat tersebut segera melepaskan Mayda dan mendatangi Sheena dengan pandangan penuh dengan penyesalan.

“Shena? Aku bisa jelaskan semuanya.” Reyhan berusaha memegang tangan Shena tetapi dengan tegas Shena menepis tangan Reyhan.
“jangan sentuh aku!! Apa yang Kakak ingin jelaskan kepadaku? Semuanya sudah jelas. Teganya Kakak melakukan ini padaku! Jika kakak memang tidak setuju dengan perjodohan ini dari awal. Kakak bisa menolak perjodohan ini. Bukan malah menyetujuinya.”
Reihan memijat keningnya tampak kesakitan.
“Maafkan aku Shena… Aku khilaf… Aku tidak pernah menginginkan untuk berselingkuh dari kamu. Tapi ketika aku bertemu dengannya lagi, dan mengingat masa-masa indah kami. Kami…”
“Cukup!!! Aku tidak mau mendenger penjelasan Kak Reyhan lagi.” Sheena menyeka air matanya dengan punggung tangan, semua kesedihannya berubah menjadi kemarahan,
“Pernikahan kita batal, silahkan kakak lanjutkan hubungan kakak dengan kekasih kakak. Aku tak akan hadir di hadapan kakak dan mengganggu hubungan kakak selamanya. Selamat Tinggal kak.”

Sheena berlari keluar dari kampus tersebut. Tidak peduli dengan Reyhan yang mengejar Sheena dari belakang. Tidak peduli dengan teriakan Reyhan yang meminta maaf dan mengatakan bahwa Reyhan mencintainya. tidak peduli dengan hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya bersama air matanya yang semakin deras pula. Sheena terus berlari dan berlari secepat yang dia bisa untuk segera keluar dari kampus tersebut dan segera menghentikan kendaraan umum yang lewat di depannya.

Di dalam bis tersebut Sheena melepaskan cincin pertunangan mereka. Cincin yang diberikan Reyhan kepada Shena dengan hasil jerih payah Reyhan tanpa uang dari orangtuanya. Shena menatap cincin pertunangan itu sambil mengingat kembali ketika Reyhan member kejutan itu.

Sebulan tanpa kabar dari Reyhan. Sheena sempat berfikir bahwa Reyhan ingin memutuskan hubungan pertunangan mereka dan kembali dengan cinta pertamanya. Tapi ternyata prasangka Sheena salah. Setelah 1 bulan lebih Reyhan menghilang dari hidup Sheena, malam itu Reyhan datang menjemput Sheena untuk makan malam merayakan ulang tahun Sheena. Reyhan melamar Sheena dengan cincin yang dia beli sendiri dari jerih payah nya bukan dari uang orangtuanya. Cincin pembuktian bahwa Reyhan tulus mencintainya walaupun pernikahan mereka dijodohkan. Tak hanya itu Reyhan juga memberi Sheena sebuah kalung liontin 2 hati yang disatukan bengan papan ukiran nama Sheena Cakradinata. Sheena selalu mengingat semua kata-kata Reyhan, “liontin 2 hati menandakan hati kita berdua. Dan ukiran Sheena Cakradinata adalah lambang kepemilikan Reyhan akan Sheena. Lambang bahwa sebentar lagi Sheena akan menjadi nyonya Sheena Purwadinata.” Reyhan mengucapkan kata-kata itu dengan tegas, membuat air mata kebagahiaan mengalir di pipi Shena.

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan buat Sheena. Kejutan ulang tahun yang paling indah yang pernah dia alami seumur hidupnya. Tapi kini semua itu bukanlah menjadi kenangan terindah buat Sheena. Justru kenangan tersebut akan menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya.

Tiba- tiba saja bis yang ditumpanginya bergoyang-goyang dan cincin yang dipegangnya jatuh ke lantai bis. Tanpa peduli dengan goncangan-goncangan dan teriakan yang berada dalam bis itu Sheena menunduk untuk mencari cincin yang telah menggelinding jauh dari lantai tempatnya duduk.

Reihan yang terlambat mengejar Shena karena sudah terlanjur memasuki bis umum kembali ke kampusnya menuju tempat parkir, mengambil mobil dan mengejar bis yang ditumpangi Sheena. Setelah kurang lebih setengah jam memacu mobilnya mengikuti jalur bis yang ditumpangi Sheena, Reyhan melihat banyak orang berkerumun melihat ke bawah jurang. Reyhan yang penasaran dengan apa yang terjadi, menghentikan mobilnya dan membuka jendela bertanya pada salah orang yang berkerumun.

”Ada apa Pak? Kok ramai sekali”, ucap Reyhan sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berkerumun.

“Anu Mas. Ada bis masuk jurang, bisnya meledak. Kasihan sekali sepertinya penumpangnya tidak ada yang selamat. Semua penumpangnya meninggal dengan luka bakar bahkan ada sebagian yang tubuhnya terpisah pisah.” di tengah-tengah percakapannya dengan lelaki tersebut. Ada 2 polisi yang membawa tandu seorang jenazah dan meletakkan di dekat Reyhan berdiri. Ketika Reyhan melihat tandu tersebut ada sebuah tangan yang jatuh terkulai ke samping tandu.

Reyhan mendekati mayat tersebut. Semua tubuhnya penuh luka bakar, ada bau gosong seperti daging matang, darah ada dimana-mana, tubuhnya tak bisa dikenali kecuali benda itu, “Sheena!!” Reyhan berteriak histeris memandang tubuh tersebut. Dunianya seakan runtuh seketika, air matanya jatuh berlinang penuh dengan penyesalan. Penyesalan yang tak akan bisa dia tebus. Penyesalan yang seumur hidup tak akan pernah bisa terlupakan.

Setelah kejadian hari itu Reyhan selalu datang ke tempat ini. Tempat dimana Reyhan terakhir melihat Sheena. Sheena yang ia sangat cintai. Terbaring lemas tak bernyawa, dengan tubuh dengan penuh luka bakar yang membuat siapapun merana jika memandangnya. Reyhan selalu datang dengan membawa bunga Mawar. Bunga kesukaan Sheena ketika dia masih hidup. Dan ada lagi benda yang selalu dia bawa saat dia kemari. Benda yang digunakan Reyhan untuk mengenali mayat Sheena. Cincin bertahtakan berlian dengan ukiran nama Reyhan Cakradinata. Pasangan cincin yang sekarang dipakai Reyhan dijari manisnya dengan ukiran Rosheena Aleana.

“aku turut sedih mendengarnya kak” Reva melihat air mata jatuh di pipi Dokter Reyhan. Kini Reva mengerti mengapa setiap hari dia melihat dokter Reyhan membawa bunga Mawar. Rosheena Aleana adalah belahan jiwa dokter Reyhan, wanita yang tak akan tergantikan di hati Dokter Reyhan. Reva Menangis ketika menyadari, walaupun Dia berusaha sekuat tenaga untuk menggatikan Sheena di hati dokter Reyhan, tapi itu tak akan mungkin terjadi. Karena Sheena telah membawa seluruh hati Reyhan bersamanya. “Terima kasih, sekarang beristirahatlah.” Dokter Reyhan bangkit dari kursi dan mohon ijin untuk keluar dari kamar Sheena.

Ketika Reyhan akan kembali ke ruangannya dia menabrak seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang membawa buah buahan segar. Reyhan membantu ibu paruh baya itu memunguti buah yang terjatuh, “Maafkan Saya bu, saya tidak sengaja.”

“Tidak apa-apa saya juga salah karena jalan terburu-buru.” Reyhan memberikan buah-buahan yang tadi telah dipungutnya serta memohon ijin untuk pergi. Ibu itu menerima dan berjalan menuju salah satu kamar rumah sakit. Di dalam ruangan bernuansa putih itu, terbaring seorang gadis yang berbaring lemah dengan penuh dengan alat penunjang kehidupan di tubuhnya. Di lehernya tergantung kalung dengan 2 Liontin berukiran nama Sheena Cakradinata.

Cerpen Karangan: Kasih Yunuseeysa
Facebook: Kasih Yunuseeysa

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Antara Dua Bunga Yang Memabukkan

Oleh:
Beberapa hari telah berlalu, sebelumnya hanya dirimulah seorang wanita yang kucinta, jika aku lebahnya maka dirimulah bunga yang sungguh membuatku terpana. Namun kini, seiring berjalannya waktu, di antara sekian

Ketulusan Diva

Oleh:
risa : hay fa? diva : hay juuga ris.. risa : kamu kmana sich kog gc kelihartan beberapa hari ini, trus wajah kamu pucat bgtt kamu sakit ea div?

Secarik Kertas Putih

Oleh:
5 tahun meninggalkan Indonesia, Randy kembali lagi bersama dengan berita sedih. Kekasihnya Winda berada di rumah sakit terbaring lemah di dinginnya kasur beroda itu. Randy ditemani robby, dengan berat

Senja itu Bukan Lagi Aku

Oleh:
Pada saat itu kamu pernah bilang bahwa aku adalah senja yang terlukis indah di detik-detik pergantian siang dan malam. Kamu juga pernah bilang bahwa aku satu-satunya perempuan yang dapat

Tepat di Depan Mata

Oleh:
Langit pagi ini sedikit mendung. Sinar mentari yang biasanya hangat, kini sedikit dingin tertutup oleh awan yang berwarna abu-abu. Kicauan burung-burung yang biasanya bersautan di pohon samping kamarku, hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Penyesalan”

  1. Nhaken rusna says:

    Cerpennya bagus ! 🙂 ada lanjutannya kan ? Teruslah berkarya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *