Permen Karet Kematian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 October 2016

“Kematian adalah hal yang pasti. Mati merupakan pintu maka setiap orang yang ingin masuk kepada sebuah rumah harus melewatinya” kata seorang ustad dalam cermahnya. “namun cara untuk mati atau penyebab kematian itu bermacam-macam” melanjutkan perkataannya.

Ayah juga pernah bercerita tentang malaikat maut, malaikat yang mencabut nyawa setiap makhluk di dunia ini. Tugasnya hanya mencabut nyawa setiap makhluk, bahkan gugurnya sehelai daun adalah tanggung jawabnya.
“Berarti kalau digambarkan dalam bentuk wajah, malaikat maut itu lebih sangar dibanding hewan buas. Lebih sangar dibanding buaya. Karena buaya adalah hewan yang paling saya takuti, membayangkannya saja aku takut, apa lagi melihatnya” pikirku ketika ayah memberikan gambaran malaikat maut sambil memandangi balon lampu yang sebentar lagi mendekati ajalnya.
“Mungkin malaikat maut juga akan menjemputnya” Lanjut fikirku pada bola lampu.

“ayah, tapi kenapa kalau ada yang meninggal, Kita akan bilang, dia meninggal karena sakit. Kita tidak bilang karena malaikat maut?” Tanyaku pada ayah dengan mengerutkan kening di wajahku.
“suatu ketika, malaikat maut bertemu kepada tuhan, dia meminta satu permintaan agar nantinya memudahkan menjalankan tugasnya yang berat itu.”
“apa itu ayah??” tanggapku penasaran.
“malaikat maut ingin, agar mencabut nyawa dengan penyebab. Agar nantinya makhluk tidak mengutuk saya kalau ada keluarganya yang meninggal. Mungkin dalam Bahasa sederhana kita akan mengutukinya, malaikat maut sialan”

Fuada adalah wanita yang menjadi cinta pertamaku, lebih keren juga disebut dengan cinta monyet. Berawal waktu kami masih duduk di kelas 5 SD. Dia adalah anak kota yang pindah ke desaku. Dia meninggalkan kota ke desa karena tak ada lagi yang mengurus neneknya yang sementara sakit-sakitan di desa.
Namanya juga anak kota, kami menjadi penasaran dibuatnya. Setiap siswa yang berasal dari kota penampilannya lebih maju dibanding kami anak-anak kampung. Selain itu, sering juga mereka membawa hal-hal baru dan diperkenalkan kepada kami. Maklumlah, di desa itu tidak seperti di kota. Bahkan televisi, hanya ada tiga buah di kampung ini; milik pak desa, pak kepala sekolah dan pak madi juragan besar di kampung kami.

Ahmad juga seorang anak pindahan dari kota sejak kelas 3 SD. Dia memperkenalkan kami dengan permainan robot-robot; power rangers, batman, pokemon dan lain-lain. Dia juga sangat pintar dalam pelajaran, namanya juga anak kota dengan fasilitas yang lebih dibanding kami. Sementara kami anak desa, ketika lonceng sekolah berbunyi, Kami hanya bermain petak umpet, dende unyil, asing-asing. Permainan yang tidak membutuhkan biaya. Wajarlah untuk membeli seragam sekolah baru saja kami tak punya.
Demikian juga Fuada gadis kota yang memperkenalkanku dengan permen karet. Permen yang habis manis, sepah dibuang. Hal yang unik bagiku, permen yang hanya dikunyah sampai capek, sesekali membuatnya berbentuk ballon yang dikeluarkan dari mulut, atau membuat letusan-letusan yang menarik bagi anak seumuranku.

Biasanya, Fuada meminta kiriman permen karet dari orangtuanya di kota dan membagi-bagikan kepada kami. Pada akhirnya warung-warung di desa menjual permen karet karena peminatnya sangat banyak. Di semua kalangan bahkan nenek-nenek yang sudah tidak punya gigi yang kuat menggandrungi permen karet.

Permen karet menjadi penghubung cintaku dan Fuada. Namun, itu juga menjadi penyebab perpisahanku dengannya. Sayang, Fuada tidak berumur panjang. Seandainya saja malaikat maut tidak cepat menjemputnya, mungkin dia sudah menjadi istriku.

Ketika aku duduk di kelas 2 SMP, kuberanikan diriku mengungkapkan perasaanku padanya. Pikirku, dia juga mencintaiku tapi namanya juga remaja SMP, perasaan malu sangat tinggi, apalagi persoalan cinta, seperti kucing yang malu ditawari ikan tapi nalurinya sangat ingin melahap hingga ke tulang-tulangnya.

Kutulis surat-surat berisi perasaanku padanya. Tentang bagaimana peraaanku selama ini, yang berusaha aku tampung dalam hati. Tapi cinta ini semakin hari tumbuh membesar sehingga tak muat lagi ditampung oleh satu hati maka dibutuhkan hati yang lain untuk menyimpannya agar dia tetap hidup. Kini kutuangkan sedikit isi hatiku lewat pena dalam selembar surat. Berharap dia juga merasakan hal yang sama denganku.

Aku mengirim surat yang berada dalam amplop, direkatkan dengan permen karet. Kuletakkan pada laci meja Fuada. Agar ketika sampai di sekolah dia bisa membacanya. Harapku demikian.

Setelah menunggu dua hari, Fuada tidak membalas surat itu, dia langsung datang padaku pada waktu istirahat. Waktu itu aku duduk menyendiri di bawah pohon mangga. Pohon mangga ini adalah teman curhatku. Seolah-olah saya dan pohon mangga ini memiliki Bahasa baru yang hanya saya dan dia yang mengerti. Terkadang dia memberiku inspirasi dan jawaban lewat gesekan-gesekan dedaunan, sesekali dia memberiku kesegaran dengan teduhan seperti payung.

“Kau itu Pengecut!! Beraninya Hanya lewat surat. Kenapa baru sekarang, aku sudah lama menunggu ucapan itu” kata Fuada, membuka pembicaraan.
“Ma… maafkan Aku Fuada, aku tidak memiliki keberanian apapun” dengan terbata-bata kubalas tuturan Fuada.

Enam bulan berlalu, aku menjalani kehidupan cinta ini dengan penuh khidmat. Seperti Qais yang dibuat gila oleh Lailah dalam kisah popular Lailah majnun. Seolah dunia ini milik kami berdua yang lain hanya ngontrak. Hampir setiap waktu kuhabiskan bersama. Dalam setiap doa kusebut namanya.

Seperti takdir, cinta tak selurus yang diimpikan. Selalu saja ada jalan rusak yang harus kita lewati. Begitulah yang terjadi dalam kisah cintaku dengan Fuada yang berujung maut. Meskipun itu hanya hal sepele.

“Bagi dong permennya” pinta Fuada padaku
“ngak ah… kalau mau, beli sendiri dong!!” jawabku dalam keadaan bercanda.

Dengan sedikit baper, Fuada meninggalkanku di bawah pohon mangga dimana aku selalu menghilangkan penatku. Dia menuju ke warung untuk membeli permen karet. Tapi apa yang terjadi, Mobil truk, pengambil barang dagangan yang dikirim ke kota menggilas tubuh mungil Fuada, hingga rata dengan tanah.

Aku tak mau lagi mengingat hal itu. Aku merasa itu semua salahku. Seandainya saja tak kulakukan hal itu padanya, tidak akan terjadi apa-apa. Ini karena permen karet sialan itu. Sejak saat itu aku benci permen karet.

Cerpen Karangan: Muhammad Miraj Pasegeri
Blog: mirajpasegeri.blogspot.com
Muhammad Miraj Pasegeri, lahir 10-januari- di Makassar. Menyelesaikan Sarjana di Universitas Hasanuddin, Jurusan Sastra Asia Barat FIB-UH. Saya hanya penikmat sastra, tidak memiliki capaian dalam menulis. Kini tinggal di Iraq. Bisa di sapa lewat Facebook: Muhammad Miraj Pasegeri, Twitter:@tho_Caddi, Email: muhammadmirajpasegeri[-at-]gmail.com

Cerpen Permen Karet Kematian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Tersampaikan

Oleh:
“brisik” grutuku mendengar orang-orang di sebelah rumahku sedang melakukan pembangunan rumah. Bangunan tingkat dua sama seperti rumahku. Rumah itu sudah hampir jadi sekarang. Aku tak sabar menuggu rumah itu

Halte Bus

Oleh:
Namaku Anthony, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku adalah orang yang tidak percaya adanya cinta.. Sore itu, aku menunggu bus di halte, tiba tiba datang seorang

Selamat Tinggal Tyo (Part 2)

Oleh:
Hari demi hari pun berganti. Sudah dua hari berlalu sejak Vika mendapatkan mimpi buruk itu lagi, dan sudah dua hari pula Vika tidak ujung keluar dari kamarnya. Setelah sekian

The Last Destination (Part 1)

Oleh:
Kini purnama malam telah singgah di peraduan Sedang aku termenung di sudut kamar Membiarkan kenagan mengusik ingatan Dan membiarkan bayangmu masuk Melalui celah jendela bersama angin malam Aku merindu

Mimpi Terakhir Andi

Oleh:
Malam ini aku terbangun.. Terbangun dari mimpi mimpi burukku. Entah apa yang terjadi seolah aku tidak bisa menceritakannya secara lisan. Aku hanya butuh membilas muka ini dengan air wudhu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *