Perpisahan Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

Pernahkah kau menyukai seseorang, bahagia saat sedang bersamanya, merasa nyaman saat di dekatnya, tapi sadar tidak mungkin bisa bersama selamanya? Atau semacam tidak dipersatukan oleh takdir. Karena alasan-alasan yang kadang kita asumsikan sendiri. Seperti, dia sudah tidak ‘lagi’ menyukai kita, dia jatuh hati pada orang lain, atau memang ada yang telah berubah darinya.

Pernah.

Kini aku tengah menjalaninya. Ketika aku berusaha menenangkan diri dengan menyelamatkan hatiku dari perasaan kecewa, mengatakan semuanya baik-baik saja, aku hanya perlu menikmati peran ini, aku salah. Batinku menolak. Aku tidak sanggup terus berpura-pura menjadi orang paling bahagia karena bisa bersamamu. Orang yang kukasihi.

Katanya, keyakinan tak beralasan yang kau sebut takdir itu hanya imajinasi, hanya khayalan. Bagaimana mungkin kau meyakini seseorang yang tak pernah mau berlutut untukmu, tak sudi sekedar menoleh padamu itu adalah milikmu? Jika kau berpikir begitu, mungkin kau menganggap kehendak Tuhan adalah lelucon. Tuhan tidak akan bercanda dengan takdir kita.

“Menjauhlah dariku jika kau tidak ingin serius!” Aku mengatakannya (lagi) dengan senyum berat sembari kembali menatap langit yang beranjak senja. Penyakit akut setiap wanita. Bahkan saat aku ingin menahannya agar menetap di sisiku tapi malah memakinya untuk pergi. Aku berharap malaikat tidak sedang menertawakanku. Jika iya, lebih baik mereka membawaku ke langit.

“Aku tidak yakin kau akan baik-baik saja.” Ucapan Arga sukses membuat mataku yang sudah sendu menahan rindu semakin berair. Aku memang tidak akan baik tanpamu, Arga. Andaikan aku bisa mengatakannya saat itu, pasti sekarang kita masih betah bersandiwara bahwa kita saling nyaman dan bahagia. Setidaknya lebih baik untukku daripada harus tidak melihatmu.

“Kau tidak memberi dampak apapun dalam hidupku.” Aku mengakhirinya dengan tawa kecil. Seharusnya dia paham aku tidak serius. Aku membuat gurauan bahwa dirinya tak berarti apa-apa padahal Arga yang membuat aku merelakan jam belajarku untuk menonton pertandingannya. Ya, dia tidak meminta, aku yang terlalu menganggapnya berharga. “Aku baik-baik saja, jadi pergilah! Kau melukaiku jika kita terus seperti ini.” Kali ini aku mengakhirinya dengan senyuman. Senyum yang kupaksakan. Menandakan aku serius dengan perkataanku. Aku memang merasa sakit setiap kali dia meninggalkanku setelah mengukir kenangan manis bersama.

“Baiklah, aku pergi.” Ucapnya ringan. Tanpa menatapku, tanpa ekspresi penting, hanya yang kutangkap dia lega mengatakannya. Arga, apa kau menunggu aku mengusirmu? Lalu bisa meninggalkanku sebagai predikat ‘korban’ dan menjadikanku tokoh antagonis? Kuharap aku salah.

Arga menoleh ke arahku saat aku masih menatap kepadanya. Berharap dia mau menyadarkanku jika emosi sesaat yang sekarang mengendalikan ucapanku. Arga tahu aku selalu mengedepankan perasaan sensitifku tapi tidak berniat menenangkanku. Dia menyetujui segala amarahku lalu malah meminta maaf. Dia tidak melakukan kesalahan tapi selalu mengucapkan maaf. Aku hanya ingin disalahkan jika aku salah, teriaki aku saat kau marah, bela dirimu ketika aku mencercamu. Jangan hanya meminta maaf dan membuatku terlihat seperti orang jahat.

“Haruskah aku pergi sekarang?” Tanpa jeda aku mengangguk. Aku tidak mengerti kenapa egoku menang atas perasaanku yang membutuhkannya.
“Lebih cepat lebih baik.” Mulutku benar-benar dikontrol oleh pikiran egoisku.

Dia beranjak dari kursinya, berdiri sesaat di tempatnya, lalu pergi. Sungguh, dia tidak bisa melihat kebohonganku? Aku ingin berlari ke arahnya lalu memeluknya. ‘Jangan pergi, kumohon.’ Kalimat yang ingin kukatakan sesungguhnya.

Kemudian yang bisa kulakukan hanya menangis di tepi danau hingga langit oranye berubah menjadi biru tua dan cahaya bulan menggantikan sang surya menerangiku yang masih terisak.

Ini bukan pertama kalinya aku gagal menahan Arga. Atau lebih tepatnya harga diriku tidak mau melakukannya. Kemungkinan ini yang terakhir kami begini. Karena belum tentu Arga akan kembali padaku hingga aku harus menahannya lagi.

Perpisahan kita.. seperti kupu-kupu yang terbang meninggalkan kepompongnya. Saat dia kembali, tidak akan sama lagi. Kepompong yang dia tinggalkan sudah tidak di sana. Mungkin sudah hilang tertiup angin atau digantikan dengan kepompong baru. Perasaanku, perasaanmu, dan impian yang pernah kita bangun bersama tidak akan bisa sesempurna saat awal kita bersama.

Aku mencintaimu, Arga. Dalam diam. Dalam setiap mimpiku aku juga melakukannya. Aku sungguh membutuhkanmu. Aku ingin hidup denganmu.

Bersama melihat salju pertama yang turun di bulan Desember lalu menyaksikan sakura yang mekar di musim semi.

Kapal karam di Navagio menunggu kita mengucapkan janji untuk bersama selamanya di sana.

Aku menangis saat mengarang cerita ini dan tetap sama bahkan setelah membacanya berulang-ulang.

Aku akan mengakhirinya. Perasaanku padamu.

Bye~ Arga~

TAMAT

Cerpen Karangan: Ennofira
Blog: ceritanologi.wordpress.com

Cerpen Perpisahan Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jika Tuhan Berkata Lain

Oleh:
Di sepanjang jalan Asis terus memandangi ponselnya terlihat dia tidak menikmati perjalanan, nampak ada yang mengganggu benaknya. Mungkin karena Jesica tidak bersama kami sekarang, Jesica adalah calon istri Asis,

Menyayangimu Tapi Tak Bisa Memilikimu

Oleh:
Dera sedang duduk di halaman belakang rumah sambil memandangi bunga yang tumbuh subur, hujan baru saja berhenti. dia selalu sedih setiap ingat sosok pria gagah, cool dan keren yang

November Rain

Oleh:
November sore selalu saja hujan, bahkan pada minggu kelabu ini. Langit seolah ikut menertawakan nasib-nasib yang tak beruntung. Sementara itu, di luar gereja, Annisa merapatkan lagi rompi tipis yang

Cincin Kenangan

Oleh:
Pagi ini Dira dibuat tertawa ria oleh Ririn, sahabatnya. Ia bercerita tentang banyak hal, tentang Mas Hendra yang udah gede tapi takut sama gelap, tentang Mini mouse lucu miliknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *