Perpisahan Tak Semanis Pertemuan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 25 March 2015

Gelap malam telah berganti menjadi cerahnya pagi, mentari mulai terbit dengan memancarkan seberkas sinar cahaya kekuning-kuningan. Nampak indah menghiasi langit ditemani gumpalan awan putih. Di pagi yang cerah ini kulangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang indah, nyaman, damai dan tenang. Tak pernah sebelumnya aku merasakan kedamaian seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku duduk terdiam sendiri di bawah pohon besar di seberang sungai. Menikmati hembusan angin pagi sambil memandangi aliran air sungai dengan tanaman rumput liar di sekelilingnya yang melambai-lambai karena tertiup angin.

Disaat aku terdiam tiba-tiba aku mendengar sesuatu, seperti suara ranting pohon yang patah. Karena merasa terkejut seketika aku langsung menoleh ke belakang. Tak kusangka saat aku menoleh, pandanganku langsung tertuju pada sosok seorang lelaki yang berdiri tepat di belakangku. Aku merasa kaget dan heran karena sebelumnya tidak ada seorang pun di tempat itu hanya ada aku sendiri, lantas mengapa tiba-tiba ada lelaki tersebut. Aku tak mengenalnya, memandang wajahnya saja baru satu kali ini. Di benakku aku bertanya-tanya apa yang dia lakukan di tempat ini dan mengapa dia tepat berdiri di belakangku, apa mungkin dia mengenaliku…

Aku tetap duduk terdiam di bawah pohon, aku tak berkata apa-apa, aku hanya menatapnya sembari melontarkan senyuman kepadanya. Tak selang berapa lama dia juga membalas senyumanku sambil bertanya “siapakah namamu?”
Engan rasa malu-malu karena baru pertama bertemu aku pun menjawab pertanyaannya “namaku Vanni, kalau nama kamu siapa?”
“namaku Brian, apa yang kamu lakukan disini dan mengapa masih pagi-pagi begini kamu sudah duduk terdiam sendiri di tempat ini?” tanyanya.
“aku sering mengunjungi tempat ini. Di tempat ini setidaknya aku bisa mendapatkan kedamaian hati, bisa sejenak melupakan beban pikiranku, dan bisa merasa sedikit bahagia” jawabku.
Kemudian dia bertanya lagi kepadaku “bolehkah aku duduk di sebelahmu?”
“yaaa silahkan” jawabku dengan lugu.

Kami terus berbincang-bincang hingga tanpa kami sadari waktu telah lama berlalu, tak terasa hari menjelang siang, mentari mulai memancarkan panas yang menyengat tubuh. Ketika aku menyadari hari mulai siang, aku pun berpamitan kepadanya untuk pulang duluan. Dia mengizinkanku pulang, meninggalkannya duduk sendiri di bawah pohon. Aku pun mulai beranjak pergi, akan tetapi sebelum aku beranjak pergi dari tempat dudukku dia sempat meminta nomor telephoneku. Itu merupakan awal pertemuanku dengannya. Setelah pertemuan singkat tersebut, aku berlanjut berteman dengannya.

Waktu memang terus berjalan, tak terasa 8 bulan sudah aku berteman dengannya. Karena saling suka dan sudah saling mengenal sebelumnya akhirnya kami pun jadian. Namun hubungan itu tak berlangsung lama, sebagaimana lama pertemanan kami. Selang 3 bulan setelah kami jadian, kami pun memilih untuk mengakhiri hubungan ini.
Aku merasa kecewa dan sakit hati. Tak pernah aku menyangka selama aku menjalin hubungan dengannya bukan ketulusan yang aku dapatkan darinya, melainkan sebuah pengkhianatan dan dusta. Memang selama kami menjalin hubungan, kami hanya menjalin hubungan jarak jauh. Aku berusaha mempercayainya, namun balasan pahit yang harus aku terima, ternyata selama ini dia menghianati kepercayaanku.

Sungguh tak kusangka awal pertemuan yang manis harus berakhir dengan perpisahan yang teramat begitu pahit. Kekecewaan, sakit hati dan pengkhianatan tak membuatku sedikit pun mempunyai keinginan untuk membenci maupun memusuhinya. Aku berusaha melupakannya dan berusaha merelakannya pergi dari kehidupanku. Tak pernah aku sesali semua yang pernah terjadi. Semua kenanganku bersamanya akan menjadi rentetan kisah perjalananku yang kan tersimpan selamanya dalam memori ingatanku. Semua yang telah terjadi, menyadarkanku untuk lebih berhati-hati lagi dalam menjalin hubungan.

Biarkan waktu yang kan menyembuhkan lukaku dan biarkan angin yang kan senantiasa menghapuskan air mataku. Tempat pertama awal pertemuanku dengannya menjadi tempat kenangan terindah yang tak kan pernah aku lupakan.

Cerpen Karangan: Nauva Achruni
Facebook: @nauva Achruni

Cerpen Perpisahan Tak Semanis Pertemuan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Carnation

Oleh:
Mentari pagi menyinari wajahku. Terasa hangat. Desiran ombak mengenai pergelangan kakiku yang telanjang. Air jernih itu terasa segar. Setiap tetesnya membawa kesejukan tersendiri. Angin perlahan meniup rambut ikalku. Aku

1 Bunga Yang Layu (Part 1)

Oleh:
Aku menangis sejadi-jadinya melihat belahan hatiku terbaring lemas di rumah sakit. Dia tidak pernah menceritakan penyakitnya itu kepadaku. Aku marah sekaligus tak tega melihatnya. Sore menjelang malam, hanya ada

Kasih Sayangku Kasih Sayang Tuhan

Oleh:
Langit semakin menunjukkan warna keemasannya, dan burung-burung pun beterbangan kembali ke sarangnya masing-masing, angin lembut membelai helaian rambutku melalui jendela yang sengaja aku buka, mencoba menghilangkan bau obat-obatan dari

Menyesal

Oleh:
Ini adalah hari Senin, dan aku sangat membencinya. Karena hari Senin itu ribet. Ada upacara segala lagi dan aku paling benci dengan yang satu ini. Tapi mau gimana lagi

Ku Nantikan Pertemuan Kita

Oleh:
“Yan.. melamun aja ayo pulang, mau jadi penunggu kampus lo,” ujar sahabatku Rusdi. “Iya sabar dikit napa?” dengan nada santai. “Rus aku nebeng ya..” dengan wajah sumringah. “No problem..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *