Pertemuan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 September 2016

Jam terus berputar. Detik, menit dan waktu terus berlalu. hingga Salah satu teman di sampingku berbisik keras dan kemudian menyadarkanku dari lamunan. Peristiwa memalukan kemarin membuat hari-hari yang kujalani depenuhi oleh lamunan kosong yang tiada guna. Peristiwa itu juga membuat hampir setengah dari 24 jam hidupku dalam sehari hanya kuhabiskan untuk menyesalinya. “hidupku benar-benar sial”. Dan tak terasa, lonceng kelas sudah berbunyi dan aku hanya melihat kertas kosong di depan tanpa ada jawaban satupun di dalamnya. Aku pun mulai panik, hingga membuat otak ini tidak dapat bekerja dengan semestinya, membuat pikiranku terpenjara oleh kepanikan yang kualami hingga akhirnya datang Pak Guru untuk mengambil kertas kosong jawabanku. Hari ini begitu sial, kondisi ini kian sulit dan ditambah lagi bayangan peristiwa itu sering kali melintasi pikiranku yang makin memperburuk hidupku.

Ya itulah aku, pria dengan ribuan macam kesialan dalam hidup. Mulai dari peristiwa memalukan, ditambah lagi ujian yang tidak berjalan dengan baik, sampai dengan kondisi pikiranku yang dipenjara oleh peristiwa memalukan itu. Ke luar kelas, Mulai kulangkahkan kaki menapaki jalan menuju kantin sekolah yang kebetulan tidak jauh dari kelasku. Kulihat banyak sekali siswa yang hanya duduk dan asyik dengan smartphone mereka, ada juga para siswi yang begitu dengan semangatnya bergosip, dan terdapat juga siswa-siswa yang hanya sekedar minum untuk melepas dahaga sehabis penatnya belajar. Segera kulirik meja-meja kosong untuk kududuki dan akhirnya menjatuhkan pandangan pada meja kosong nomor 12 tepatnya pas di ujung sudut dinding kantin. Sesampai di meja, mulai kujelajahi menu-menu yang disedikan kantin dan mengakhiri pencarian dengan hanya memesan 1 gelas Teh dingin. Sederhana memang tapi begitu nikmat untuk cuaca seperti ini.

30 menit telah berlalu, para siswa dan siswi pun mulai beranjak pergi meninggalkan kantin. Namun cuaca yang begitu panas membuatku enggan meninggalkan kantin dan memilih mengahabiskan minuman yang tinggal sedikit lagi. Disela-sela waktuku menghabiskan minuman, tanpa sengaja kulihat seorang siswi dengan rambut tergerai panjang sampai bahu sedang menulis sesuatu di meja nomor 10 di sudut kanan. Setelah kulihat-lihat lebih seksama, aku seperti mengenal atau pernah melihat wanita itu, tapi aku lupa dimana. “Ah mungkin hanya khayalanku saja” Gumamku. 1 jam berlalu, hari pun mulai sedikit kehilangan sinarnya dan aku pun memilih meninggalkan kantin beranjak pulang ke rumah.

Esok hari, waktu dimana SMA kami merayakan ulang tahunnya yang ke 20, umur yang cukup dewasa dengan sederetan prestasi yang telah diukir. Hari besar tersebut membuat semua mata pelajaran di kosongkan, dikarenakan hari ini banyak rangakain acara mulai dari pembagian hadiah permainan menyambut ultah sekolah yang sudah digelar 1 minggu sebelumnya sampai pada pemilihan siswa-siswi prestasi sekolah tahun ini. Acaranya cukup meriah, juga ditambah dengan Stand-Stand Setiap Kelas dengan beraneka ragam pamerannya. Ketika asyik berkeliling sambil melihat pameran-pameran yang ada di perayaan, tak sengaja aku melihat seorang wanita yang kemarin kulihat di kantin sekolah. “Ya. Aku yakin dia yang kulihat Kemarin” Gumamku. Aku kembali sadar kalau aku seperti pernah melihat dia. Tapi dimana?. Segera kudatangi dan kusapa. Bukannya menjawab, ia malah pergi dan meninggalkanku seperti orang ketakutan. Aku pun dibuat bingung dengan sikapnya. Kucoba mengejar dan mencari namun sayangnya ia hilang di dalam banyak kerumunan orang.

Sampai di rumah, aku langsung mengambil salah satu minuman dingin di dalam kulkas, setidaknya untuk melepas dahaga setelah seharian beraktivitas. Langsung ku menuju ke atas balkon rumah sambil menikmati indahnya sore ibu kota. Aku pun mulai berfikir tentang sosok wanita yang kutemui di kantin dan acara sekolah, wajah dia tidak asing, dan setelah kejadian di sekolah tadi bayangan dia mulai mondar-mandir di dalam pikiran. “lagi-lagi aku dihantui pikiran-pikiran seperti itu setelah sebelumnya kejadian itu menimpa diriku” gumamku. Tapi aku bingung terhadap sikapnya yang seolah-olah mejauhiku. “Apa dia mengenalku?” tanyaku dalam hati. Tiba tiba aku teringat kejadian yang sebelumnya pernah menimpaku, kejadian yang membuat hidupku menjadi buruk, kejadian yang membuat setengah dari 24 jam hidupku hanya kuhabiskan untuk memikirkannya. Aku mulai mengait-ngaitkan antara kejadian itu dengan wanita yang kutemui di sekolah. Apakah wanita itu ada ketika kejadian itu menimpaku?

Esoknya ketika kegiatan belajar mulai normal kembali, aku berusaha mencari wanita itu di sekolah, semua sudut sekolah kudatangi mulai dari kantin sekolah yaitu tempat pertama aku melihat dia, hingga ke perpustakaan sekolah. Namun, hasilnya nihil aku sama sekali tidak menemukan dia. Aku mulai penasaran dan bertambah yakin bahwa dia adalah wanita yang ada dalam kejadian itu. Namun aku belum mendapatkan kepastian tentang kebenarannya. Namanya saja aku tidak tahu apalagi dengan latar belakang atau kehidupan pribadinya. Hari demi hari terus berlalu namun wajah dia belum pernah sekalipun aku lihat semenjak kejadian itu, Itu membuat rasa penasaranku sudah sampai di puncak. “ya Tuhan berikan petunjukmu” dalam hatiku.

Tentang wanita itu, aku pun menceritakannya kepada David. Salah satu teman kelasku, dengan harapan ada solusi dari dia. Dia mendengarkan dengan seksama tentang semua kejadian yang kualami tentang wanita itu. setelah lama bercakap dia pun memberikan saran untuk mengecek wanita itu di daftar murid Sekolah di bagian Akademik.
“bagaimana aku bisa mengecek wanita itu, sedangkan namanya saja aku tidak tahu?” tanyaku.
“Kamu kan mengetahui wajah dia, kamu bisa mengecek wajah dia di daftar siswa sekolah kita di akadmik. Kamu bisa meminta itu sama petugas disana” jawab dia.
“Tapi siswa kita kan terlalu banyak vid! Aku tidak mungkin mengeceknya satu persatu” jawab aku dengan nada yang sedikit keras.
“Ya itu terserah kamu, itu cara-cara satunya kamu mengetahui sosok wanita itu” jawab David dengan nada cuek.

Pulang ke rumah. Aku langsung menjatuhkan badan ke kasur tempat tidurku. “ini benar-benar hari yang melelahkan” gumamku. Aku kembali teringat dengan saran yang diberikan David kepadaku untuk mengecek daftar siswa sekolah. Setelah kupikir-pikir, itu ada betulnya juga, dari pada aku mati penasaran karena tidak mendapatkan kejelasan tentang wanita tersebut, lebih baik aku mencarinya. Walaupun itu hal yang sangat melelahkan karena aku harus menatap satu persatu dari sekitaran 1250 siswa Sekolah. Tapi tak apa, aku akan mendapatkan hasil dari usaha yang kulakukan. Ini juga akan membuat misteri dan rasa penasaranku terhadap wanita itu terpecehkan.

Esoknya, aku mulai mengunjungi bagian akademik sekolah. Aku meminta izin kepada petugas untuk melihat daftar siswa di komputer sekolah. Awalnya aku mendapatkan penolakan dan tidak diberi izin menggunakan komputer. Namun, setelah berusaha meyakinkan dan dengan sedikit merengek kepada petugas, akhirnya komputer itu diberikan. Dengan syarat aku harus bertanggung jawab ketika terjadi hal-hal buruk. ‘Horeeeee” teriakku sambilan mengiyakan perkataan petugas. Aku kegirangan karena berhasil meminjam komputer. Langsung kuhidupkan komputer dan mulai melihat daftar siswa sekolah. Berharap wanita itu dapat kutemukan.

30 menit telah berlalu, Aku telah lelah melihat layar monitor namun tiada hasil. Masih ada sekitara 300an siswa lagi yang masih di deretan bawah. Awalnya, aku merasa pesimis dan ingin mengentikan pencarian itu. Namun setelah kupikir-pikir ulang tidak salahnya aku melanjutkan pencarian itu. dengan muka yang sedikit cemberut, kucari dan terus kucari wanita yang satu minggu terakhir ini menggangu ketenangan hidupku. Dan akhirnya aku terkejut melihat sosok perempuan di urutan 982 terlihat mirip dengan wanita yang kucari. Kulihat lebih dalam foto tersebut untuk memastikan kebenaran ini, kebenaran dan kepastian yang kutunggu-tunggu dan akhirnya aku yakin bahwa dia wanita yang kucari, wanita yang selama 1 minggu terakhir ini mengantui pikiranku. Sentak aku langsung membuka profil itu untuk melihat biodatanya. Aku pun secara detail melihat tiap-tiap point biodatanya dengan seksama.

Hujan lebat sore itu membuat seluruh tubuhku Basah kuyub. Kuparkirkan motorku di bagasi rumah dengan cepat. Hawa dingin ini mulai menusuk ke dalam tulang-tulangku. “gak biasanya hari ini hujan, padahal kemarin cuaca cukup panas”. Bisikku. Bergegas kutinggalkan bagasi menuju kamar untuk mengganti baju yang sudah kuyub. Selepas itu, mengingat hujan turun belum pirang, aku teringat jika minum kopi adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan dalam keadaan seperti ini. Segera kusiapkan kopi dan selepas itu menuju ke kamar melihat hujan jatuh lewat di balik jendela kamar sambil ditemani Kopi.

Ya. Aku mulai lega. Akhirnya, wanita yang selama ini membuatku penasaran dan menjadi misteri akhirnya kuketahui. Dialah Keumala salah satu siswi sekolahku. wanita misteri yang satu minggu terakhir begitu senang menyita waktuku dalam memikirkanya. Di dalam biodata yang kubaca kemarin, dia salah satu siswi kelas 12 tepatnya Ipa 1. Tapi aku sedikit bingung kenapa dalam satu minggu terakhir aku tidak pernah melihat dia, padahal jarak kelas kami jelas dapat dikatakan dekat, karena aku sendiri siswa 12 Ipa 4. Logikanya, aku sudah pasti akan melihat wajah dia dalam keseharian di sekolah. Namun ini malah sebaliknya. Apa yang sebenarnya terjadi?. Rasa penasaran itu aku tutup dengan meneguk kopi terakhir dan kulihat hujan pun mulai reda, segera kubereskan semuanya, lalu beranjak istirahat malam.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, jam dinding pun sudah menunjukan pukul setengah 8, segera kubergegas mempersiapkan diri berangkat ke sekolah agar tidak telat. 20 menit aku memacu motor dan akhirnya sampai di sekolah. Di kelas aku langsung nyamperin David. Hari ini akan ada banyak hal-hal yang ingin kusampaikan padanya.

“Vid, akhirnya aku udah tau siapa cewek itu vid!!” kata ku mengejutkannya.
“Astaga. Aku pikir setan dari mana. Bikin orang jantungan aja” nadanya kesal
“Berhasil kan saran yang aku kasih, aku bilang juga apa, David gitu looh” sambungan dengan nada sombong.
“Iya iya, kamu emang hebat. Makasih” Lanjut ku.
“Tapi ada hal yang buat aku bingung vid, pas aku lihat biodata dia, dia itu anak kelas 12 ipa 1, tapi kok aku jarang lihat ya. Namanya Keumala Vid” Jawab ku lagi.
“aku mana tau, cari aja ndiri” pungkas David
“bantuin napa vid, itung-itung pahala vid, hehehe” kataku
“kamu cari di kelas Ipa 1 yang namanya Vina, dia temen aku, orangnya tinggi, terus putih, dan rambutnya sebahu, biasanya rambutnya diikat. Ntar bilang aja kamu temenku. cari aja informasi dari dia” David lagi.
“Vina? Emm oke oke vid! Makasih yee..” Ucap ku nada kegirangan.
“Iya Sama-sama” tutup David

Atas saran David, pulang sekolah aku mulai mencari namanya vina di kelas 12 ipa 1, moga aja ketemu terus dapat informasi dari dia. Mulai kulihat ciri-ciri fisik yang diberikan David yang namanya Vina. Setelah lama mencari, akhirnya aku ketemu dia di depan kelas baru ke luar. Terus aku samperin dan nanya terlebih dahuku dia betul Vina apa bukan.
“Eh kamu Vina kan?” Tanya ku.
“Iya, emang ada perlu apa?” jawabnya agak judes.
“Nggak, aku mau nanya sesuatu tentang salah satu teman kelas kamu. Keumala” jawabku lagi.
“Keumala? Dia sahabat aku. Emang ada perlu apa sama dia? Dan dari mana tau dia?” jawaban Vina lagi.
Setelah lama bercakap-cakap panjang lebar bilang ini itu dengan Vina, akhirnya Vina tau dan mau bantu aku beritahu tentang pribadi Keumala. Dan dia minta aku ceritain apa yang terjadi sebenarnya.

“Jadi gini, kira-kira satu bulan yang lalu tepat ketika acara ulangtahun salah satu siswa sekolah kita, jadi semua murid diundang, maklum, anak pengusaha minyak terkemuka. Jadi acaranya gede banget dan banyak tamu undangan dari keluarga konglomerat di indonesia. Semua anak-anak pengusaha menghadirinya. Dan aku sama Kemala adalah dua orang yang kebetulan menerima undangan itu, saat itu aku belum kenal siapa kemala. Sampai, saat aku jalan, tanpa sengaja aku menginjak sebuah Bola kecil yang aku duga itu salah satu pernak-pernik perayaan ulang tahun. Lalu aku jatuh dan kepalaku menghantam salah satu meja kue. Orang orang yang melihatnya bukannya membantu tapi malah menertawakan, hal tersebut sentak membuatku malu di hadapan para undangan lain. Tapi ada salah satu cewek saat itu yang mau bantuin dan obatin kepala aku yang keluar sedikit darah. Dengan kepala terbentur jelas membuat mataku agak remang-remang dan tidak terlalu melihat siapa sosok wanita yang telah membantuku. Hanya terliahat wajah putih dan rambut panjang tergerai saat itu, dan aku tidak lupa akan sosok itu, meski wajahnya tanpak remang-remang saat malam itu. Rudi temanku yang saat ketika kejadian tidak berada di tempat terkejut melihatku dan akhirnya membawa pulang ku ke rumah. Sampai rawat rumah selama hampir satu minggu. Peristiwa itu membuat hari-hariku setelahnya menjadi berantakan, bagiku itu sangat memalukan. Dan aku cukup sulit melupakannya”. Cerita panjangku kepada Vina.
“oooo gitu” jawab Vina simpel.
“lo, kok Cuma Ooo, udah capek-capek dijelasin.” Jawab ku sedikit marah
“Dan aku ingin bertemu Keumala Vina, wanita yang telah menolong malam itu” lanjutku.
“Kumala… Keumala menderita penyakit Kanker Otak, penyakit itu udah lama menyerang dia, sekarang udah masuk stadium akhir, dan dokter bilang dia gak bakalan lama lagi bertahan hidup, dan kenapa selama ini dia jarang nampak ke sekolah?, karena dia sedang dirawat di salah satu rumah sakit di kota ini” jelas Vina
Penjelasan Vina sontak membuat sekujur tubuh ku melemas, membuat seluruh tubuh ku tidak dapat bergerak. Penjelasan yang diberikan oleh Vina seperti disetrum oleh listrik bertengangan tinggi. Aku benar-benar Shock. Tak terasa Air mataku mulai mengalir, membasai pipi dan wajah yang awalnya begitu semangat mendengar kabar tentang Keumala. Wanita yang selama ini begitu kucari, wanita yang selama ini sangat misterius keberadaannya. Sungguh, aku tidak dapat menahan semua ini. Marah, kesal, sedih semua bercampur menjadi satu.

Aku pun meminta Vina untuk mengantarkan ku ke rumah sakit yang merawat Keumala. Kupacu motorku hingga kecepatan tinggi, tak sabar rasanya sampai ke rumah sakit untuk melihat kondisi Keumala bagaimana. Sampai disana, Vina langsung menuntunku ke kamar yang merawat Keumala sakit. Aku melihat banyak orang dan dokter yang berdiri di samping Keumala, kulihat wajah Keumala begitu bersahaja, dia tampak seperti orang tidak merasakan penyakit apapun. Aku pun menghampiri Keumala yang tidak sadar kembali menumpahkan air mataku. “Kamu kenapa gak bilang sama aku kalo kamu lagi sakit, terus kenapa kamu juga menghindar ketika aku ingin menyapamu? Dan aku tau kalo kamu yang pernah nolongin aku.” Tanya dan jelasku dengan suara yang lirih. “Aku gak mau kamu tau tentang semua ini, biar saja aku yang merasakannya” jawab Keumala mengeluarkan air mata. Setelah lama berdialog dengan Keumala, Keumala tidak dapat menahan emosi kesedihan yang ada dalam hatinya, sampai terakhir ia mengatakan “Jangan sedih” kepadaku dan memberikan sebuah bukunya padaku.

Suasana kamar pun hening seketika tanpa ada suara apapun, Keumala pun mengehembuskan nafas terakhir di rumah sakit, dengan senyum manis terakhir di wajahnya dan meninggalkan satu buah Buku yang dibuat dan diberikan kepada orang yang dituju. Itu adalah pertemuan terakhir Zafran dengan Keumala setelah sekian lama proses mencari. Tiada lagi rasa penasaran di dalam hati zafran, yang tinggal hanyalah rasa kesedihan yang di alami Zafran. Semua Penderitaan yang selama ini Keumala rasakan akhirnya berakhir. Dan Zafran yang dalam pencarian Keumala, secara tidak sadar mulai tertanam benih-benih cinta terhadap Keumala hingga akhirnya dipertemukan. Dan juga sebenarnya ketika Zafran masih dirawat di rumah, Keumala juga sering menjenguk zafran dan ini diketahui oleh sahabatnya Vina. Lalu kenapa Vina seolah tidak mengenal Zafran ketika bertemu? Dan tentang Isi buku yang diberikan oleh Keumala kepada zafran sesungguhnya hanya zafran yang tau tentang semua itu, tidak ada yang mengetahui akan Rahasia itu.

Cerpen Karangan: Khairul Umam
Facebook: Facebook.com/UmamCelo
Nama ku Khairul umam biasa dipanggil Umam, sekarang tinggal di Banda Aceh, sekarang sedang belajar di salah satu Uinversitas Negri Banda Aceh.

Cerpen Pertemuan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Cinta dan Cita Citaku

Oleh:
Namaku Agnes, usiaku 17 tahun. Dilihat dari usiaku saja kalian pasti sudah tau bahwa aku masih duduk di bangku sekolah. Dan itu memang benar, aku duduk di kelas XII

Cinta Yang Singkat

Oleh:
Cinta mungkin bisa dikatakan ilusi tapi nyata dan berbentuk, yang berawal dari kenyamanan dan kelembutan. Hari pertamaku dipertemukan denganmu, hari pertamaku mengenalmu, mengenalmu dalam diam, mengenalmu dari kejauhan dan

Belum Cukup Umur

Oleh:
Ini kisah gue, kisah di putih abu-abu. Nyebelin sih, tapi nyenengin juga. Kenalin, nama gue Diandra. Dan gue baru kelas X, tepatnya X-6. Yaa, itu kelas gue, kelas yang

Kita Dalam Ingatanku

Oleh:
Jemariku tergerak untuk menulis beberapa frasa tentang dirimu. Namun, ketika aku sadar bahwa gambaran tentang dirimu tak lagi terpajang dalam otakku, tiba-tiba aku kehilangan arah. Aku malah terdiam mencoba

Akibat Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
Siang ini mentari menyembunyikan sinarnya di balik awan cumulus. Kejayaannya di gantikan oleh cumulus cumulus tebal di langit. Rinai hujan mengiringi waktu yang berjalan. Gadis berambut pendek sebahu ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *