Piala Untukmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Hari yang cerah, cukup melelahkan. Keringat membuat hampir seluruh tubuhku basah. Handphone berbunyi tanda ada panggilan masuk, panggilan itu dari seseorang yang sangat aku tunggu-tunggu dari tadi pagi, aku pun segera mengangkatnya. “Iya kak” ujarku “put, kakak udah di bandung, putri sekarang dimana?” “Iihh, kok kakak gak bilang-bilang sih kalo mau pulang, putri lagi latihan badminton di tepat latihan biasa.” “Oh gitu yah, ya udah kakak ke situ” “iya kak, emang kakak sekarang dimana?” “Di rumah putri” “tuh gak bilang-bilang lagi mau ke rumah, putri kan bisa izin buat gak latihan, diem disana putri aja yang pulang kak” “gak usah, tungguin aja disana, kakak kesitu, ini lagi di jalan udah dulu.” Telepon terputus.

“Pak saya izin dulu mau ke luar sebentar” kataku kepada pelatih “mau ketemu sama toni yah” ujarnya “emm, iya pak” kataku pelan “tadi toni udah izin sama bapak, silahkan kalo mau pergi sekarang” ujarnya. “0h iya pak, makasih” kataku sambil tersenyum tipis dengan pipi yang sedikit merah. Aku pun segera pergi ke depan untuk menemui orang yang sangat aku sayangi ini.

Tidak lama aku menunggu, mungkin hanya beberapa menit terlihat seseorang yang memakai motor ninja berwarna merah, dengan jaket berwarna merah melaju dari arah barat. Dia berhenti tepat di depanku, dia tersenyum dan berkata “Ayo put!” “Kemana?” Ujarku “Kemana aja, cari makan yu, pasti kamu belum makan yah?” “Emm, tapi (mengerutkan kening)” “tapi apa aku udah izin sama pelatih kamu, lagian cuma sebentar kok put” “iya putri tau, tapi kak masa baju aku kaya gini? Pake kaos tim gini?” “Gak papa biar orang-orang tau kamu atlet badminton” “haha, ya udah deh”. Aku pun menaiki motornya.

Motor melaju dengan kencang. Kami berhenti di sebuah cafe, tempat kami biasa makan bersama.
“Mau pesen apa mba, mas?” Kata seorang pelayan “Kamu mau makan apa?” Ujar kak toni “apa aja deh, sama in aja kak” “mba saya pesan spageti dua” ujarnya kepada sang pelayan “minumnya mas?” “Teh lemon panas aja mba” tidak lama pesanan pun datang. Kami makan sambil ngobrol, langit mulai mendung, dan akhirnya turun hujan. Tidak terasa kami mengobrol cukup lama, kurang lebih satu jam setengah, makanan kami pun sudah habis yang tersisa hanya teh lemon panas yang sudah dingin.

“Kak udah jam setengah tiga, pulang yu. Tas aku juga masih ada di gor.” “Iya ayo, eh tapi kan masih gerimis put, lima menit lagi aja ya nunggu hujannya berhenti.” Ujar kak toni “tapi kak,” belum selesai aku bicara kak toni memotong pembicaraan ku “ya udah ayo, ini pake jaket kakak” ujarnya memberikan jaket berwarna merah. “Nggak ah kak, kakak aja” memberikan jaket itu kembali. “Ya udah kalo gak mau gak jadi pulang nih, kakak kan pake baju panjang nah kamu?” “Ya udah deh” memakai jaketnya dengan sedikit terpaksa. Kami pun pergi dari cafe itu, motor melaju dengan cepat, karena hujan turun dengan deras. Beberapa kali aku menarik baju kak toni, dan berkata “kak pelan-pelan aja” tapi mungkin karena dia memakai helm jadi dia tidak mendengarnya. Aku yang saat itu hanya memegang bajunya, karena takut dan dingin aku mempererat pegangan bisa dibilang aku memeluknya.

Rasanya motor ini melaju dengan sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Tiba-tiba rasanya seperti terguncang, dan mendengar suara benturan yang sangat keras, membuat badanku seperti terombang-ambing, mataku sulit terbuka, sejenak berfikir, apakah kami jatuh? Aku mendengar keributan, suara sirine ambulan, dan mobil polisi. Juga suara orang-orang yang tidak terdengar jelas. Aku berusaha untuk membuka mata ini, akhirnya aku bisa membuka mata ini, kulihat di sekelilingku banyak orang, dan ada seseorang yang tergeletak di sisiku, dia dia orang yang sangat aku sayangi dia kak toni, hampir seluruh badannya berlumuran darah, helmnya masih terpasang dan lalu ada orang yang membukanya. tapi mata dia masih terbuka, aku sangat ingin berbicara menanyakan apa dia baik-baik saja tapi ini sulit, aku melihat dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, kami saling menatap entah apa yang ingin ia sampaikan kepadaku, tapi aku sangat mengkhawatirkannya. Tiba-tiba matanya tertutup, datang beberapa orang yang mengangkatnya dan membawanya ke ambulan. aku ingin bangun dan berlari mengejarnya, ada seseorang yang berbicara kepadaku dengan pelan, bahwa dia sudah meninggal entah siapa yang berbicara seperti itu, tapi dunia ini seperti kiamat, dan pandanganku tiba-tiba gelap, lalu aku tidak ingat apa lagi yang terjadi pada waktu itu.

Kubuka mata ini, terlihat seperti kamar, tapi ini bukan kamarku. Apakah ini rumah sakit? Tapi mana mungkin ruangannya seperti kamar anak laki laki dengan beberapa poster dan catnya sedikit gelap, serta terdapat gitar di pojok kamar. Kepalaku diperban, dan infusan ini ada di tanganku. Aku lupa kejadian apa yang telah aku lalui sebelumnya sehingga aku bisa terluka. Lalu ada beberapa orang yang datang ke ruangan ini, lalu mereka duduk di tempat tidur itu, aku tidak kenal dengan mereka, mereka memakai baju hitam dan kerudung hitam. Beberapa orang dari mereka mengolesi leher dan hidungku dengan kayu putih. Salah satu dari mereka berkata “kak, ini aku dewi adiknya kak toni. Kakak ingat kan?” Iya aku mengingatnya dia adiknya kak toni dewi. Mereka yang ada di kamar itu seperti aneh, mereka saling berbisik. Lalu dewi mendekat ke arahku dan bibirnya mendekati telingaku dia berkata kakak yang sabar kak toni udah nggak ada, mendengar itu membuat aku berfikir sejenak dan iya aku ingat semuanya, semua kejadian sebelumnya, kecelakaan yang membuat pacarku itu terluka, dan dia sekarang meninggal? Aku menangis, menjerit, rasanya ini seperti mimpi buruk, seperti kiamat, diriku tidak bisa terkendali aku seperti gila.

Orang-orang datang ke kamar itu, mereka menenangkanku, lalu ibuku datang dan memeluku, setelah itu ibunya kak toni juga datang dia terlihat sangat hancur dia memeluku dengan sangat erat, dia berkata bahwa aku harus kuat, hidupku harus tetap berlanjut. Setelah aku mulai tenang, ibunya kak toni mengajaku untuk pergi ke makam kak toni, dia meminta maaf karena jasadnya kak toni langsung dimakamkan karena aku pada waktu itu tidak kunjung sadar. Beberapa orang menuntunku ke mobil, tidak lama kami pun sampai di pemakaman. Aku tidak mampu berjalan, beberapa orang menyanggaku agar aku tidak jatuh.

Tibalah dimana di depanku terdapat makam seseorang yang sangat aku cintaku dan sayangi, dia yang paling mengerti diriku setelah orangtuaku, dia yang selalu memberiku semangat, dia yang ada ketika dunia menjauh, dialah satu-satunya. Tertulis namanya di batu nisan, bunga yang masih segar dan tanah yang masih basah. Aku hanyut dalam tangisan, lantunan surat Yassin yang dibacakan oleh beberapa orang di tempat itu membuat aku semakin deras meneteskan air mata. Mungkin aku tidak seperti sebelumnya yang sangat histeris, aku mencoba untuk tenang dan menerima keadaan. Karena diamnya aku, mungkin emosi yang tidak keluar itu membuat aku pusing, pandangan menjadi kabur dan bruukkk aku tidak sadarkan diri.

Cahaya itu membuat mataku silau, dan memaksaku untuk membuka mata. Kulihat kamarku seperti biasa. Air mata ini kembali menetes menyadari bahwa hari sekarang berbeda dengan hari kemarin, karena seseorang telah pergi, pergi jauh dan aku tidak bisa menggapainya. Tapi ketika aku ingat dia, ingat semua pesan yang selalu ia sampaikan. Bahwa aku harus maju, harus menjadi orang sukses. Aku berfikir bahwa tuhan pasti memberi jalan yang terbaik untuk hambanya. Aku menghapus air mataku, dan mulai bangkit dari tempat tidur. Terlihat di dinding terbanyak foto kami, foto kami dengan moment yang berbeda. Mencoba untuk ikhlas dan menjadikan dia sebagai motivasi untuk terus maju.

Dengan kembali ke kehidupanku seperti biasa, mungkin berbeda, tapi ini harus dijalani. Emosiku keluar pada saat aku bermain badminton, mengingat dia ingin melihat aku menjadi atlet badminton yang hebat. Aku terus berlatih, mungkin hikmah dari semua ini adalah aku menjadi juara pemain badminton putri tunggal di beberapa kejuaraan, mendapat piala, piagam dan yang lainnya. Piala terbesar dan aku dedikasihkan untuk dia, dia membuat aku seperti ini, dialah kak toni.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Piala Untukmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu

Oleh:
Saking banyaknya kegiatan yang kita lakuin sama sama, kesannya kayak ada yang kurang gitu pas ingat kalau sekarang kita udah gak bisa lakuin itu sama sama lagi. Kita sekarang

Rahasia Cinta dan Waktu (Part 2)

Oleh:
‘Brak!’ Rayhan terjatuh di tumpukan kardus, ia baru saja melompat dari atas lemari. “Sial! Aku nggak lihat tangga itu.” Gumamnya. Ia memang harus membuka eternit di kamar ayahnya yang

Bertahan

Oleh:
Sore itu, terlihat dari kaca mobil seorang anak kecil berumur 5 tahun duduk di dalam mobil dengan boneka kelincinya. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia karena ia akan mengunjungi

Definisi Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku baru bangun dari tidur siangku. Kugosok–gosok kedua mataku dengan punggung tanganku, dan menatap jam weker di meja kecil samping tempat tidurku. ‘Baru pukul setengah lima sore, tapi di

Guru Magang

Oleh:
Di sebuah Taman tepatnya Di SMA jeguk tampak seorang gadis berhijab sedang memejamkan matanya, dia tampak menikmati udara yang amat segar saat jam istirahat pertama di SMA jeguk “Hei

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *