Puisi Tanpa Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 7 August 2014

Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik kehidupan dan meninggalkan sebuah luka. Pencarian dan penantian begitu lama ia hadapi. Siapa? Dimana? Dan kemana?

Sebuah puisi dalam secarik kertas, masih ia simpan dalam sebuah kotak di laci kamarnya. Sebuah puisi tanpa nama. ‘Siapa gerangan? Dan untuk apa?’ Hatinya terus diliputi tanya dan rasa penasaran. Prahara mulai memanas dan memuncak, tatkala ada cinta dalam hatinya. Sebuah cinta yang tak tahu harus ia uangkapkan kepada siapa. Memendam cinta abu-abu bagai hidup tanpa arah dan tujuan.

Hati kecilnya enggan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari. Siapakah gerangan yang telah menulis puisi nan indah untuknya. Cinta telah hadir lantaran membaca lantunan bait cinta nan indah dan mendayu-dayu. Mengalun lembut mengikuti sebuah irama, menyentuh hati hingga terasa nikmat yang luar biasa. ‘Akankah cinta ini terbalas?’
“Sampai kapan aku harus mencari? Dan akan terus menanti. Penantian yang mungkin tiada berarti dan hanya sia-sia.” Rahma mengamati sebuah secarik kertas bertuliskan puisi itu. Hatinya menerawang jauh, penuh kebimbangan dan tanya. Hatinya tak kuasa menopang cinta yang teramat besar dibalut rasa penasaran. Matanya terus terbuka tanpa berkedip. Berfikir dan menerawang kejadian-kejadian di masa lampau.

“Apakah benar, Dony yang telah menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma. Ia sangat mengagumi Dony. Dia adalah teman sekelas Rahma di kampusnya. Tapi, selama ini ia hanya memendam perasaannya pada Dony. Ia tak berani mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Dony. Ia hanya bisa hidup dengan perasaannya. Hidup dengan bayang-bayang cinta semu.

Kemarin, ia melihat Dony meminjam buku yang sekarang ia pinjam. Ternyata, di dalam buku itu bertuliskan sebuah puisi. Puisi yang mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang. ‘Tetapi, untuk siapa puisi itu ditulis?’ Tanya Rahma dalam hati. Hatinya terus bertanya, dan berharap bahwa puisi itu Dony tulis untuk dirinya. Sekarang, Dony juga mulai mendekatinya. Dulu, ia sangat cuek terhadap Rahma. Hatinya pun semakin penasaran. “Apa benar, Dony menuliskan puisi ini untukku?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri.

Rahma memasukkan puisi itu ke dalam laci meja belajarnya. Kemudian ia berbaring di atas kasur membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Hatinya masih penasaran dengan puisi itu. Apalagi, kini sikap Dony terhadapnya juga berubah. Tidak seperti dulu, cuek. ‘Tapi, kenapa justru Dony lebih sering membahas Angga? Aneh!.” Pikir Rahma.
“Sudahlah. Yang penting, sekarang aku sangat senang dengan puisi itu. Entah itu dari Dony atau bukan, tak masalah bagiku. Tapi, apa benar hatiku merelakan Dony begitu saja? Aku sangat mencintainya. Kalau bukan untukku, lalu untuk siapa? Siapa wanita yang Dony maksud dalam puisinya itu? Kenapa Aku melihat tulisan Rahma dalam kertas itu? Terus sikap Dony juga biasa padaku, hanya lebih akrab saja.” Kata Rahma panjang lebar.
Rahma hanya bisa menebak dengan hati yang diliputi rasa penasaran yang terus menggunung. Ia tak tahu harus mencari tahu dari mana. Tapi, ia juga tak kuasa menahan perasaannya terhadap Dony. “Angga, kan sahabatnya Dony. Tapi, sikapnya begitu cuek terhadapku. Bahkan, dia terlihat kaku saat aku bertanya padanya. Kenapa, ya?” Tanya Rahma penasaran. “Mereka berdua benar-benar aneh, akhir-akhir ini.” Kata Rahma.

Rahma mendapatkan puisi lagi dari sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya. Entah siapa yang telah menuliskan puisi nan indah itu. Dan untuk siapa puisi itu ditulis. Luapan perasaan, dan jeritan terdengar tatkala ia membacanya. Merinding seketika, hawa sejuk dingin menggelayuti leher dan tubuhnya. Sebuah puisi permintaan maaf terhadap orang yang sangat dicintai. ‘Ah…, mungkin ini hanya perasaanku saja, yang tengah merindukan seseorang’. Kata Rahma tatkala membacanya. Ia sadar, bahwa puisi itu bukan untuknya.

Ia tetap menyimpan puisi itu dalam sebuah kotak. Kini, ia mempunyai sebuah misi mencari titik temu akan sebuah puisi nan misteruis itu. ‘Siapakah gerangan yang telah menulisnya’ Katanya dalam hati. Puisi yang lahir dari buah pemikiran dan luapan perasaan yang teramat dalam. “Kata maaf untuk apa? Sakit apa yang sebenarnya ia lakukan pada kekasihnya?” Tanya Rahma pada dirinya sendiri. “Sebuah puisi tanpa nama. Tapi penuh makna.” Kata Rahma. “Apakah puisi ini amat berarti dalam hidup orang itu? Hingga secarik kertas bertuliskan puisi ini bergelombang dan memudar penanya. Sepertinya, air mata kesedihan telah membasahi kertas ini saat ia menulisnya.” Kata Rahma. “Aku tidak bisa menggambarkan rasa sedih seperti apa yang ia rasakan. Dan menyakiti seperti apa yang ia maksudkan.” Kata Rahma lagi.

Maafkan Aku

Maafkan aku jika pertemuan itu membuat hatimu sakit
Ingin sekali aku membalas senyum yang sudah kau berikan
Tapi aku justru membalasnya tanpa senyuman
Ingin sekali aku membalas tatapan yang kau tujukan padaku
Tapi aku berpaling seolah-olah tidak tahu
Ingin sekali bercanda seperti pertemuan dahulu
Tapi aku justru membalasnya dengan kebisuan
Ingin sekali engkau pergi dengan membawa segunung semangat yang aku berikan
Tapi aku justru memberikan beban seluas air di lautan
Maafkan aku,
Ingin sekali engkau mengerti apa yang ada di dalam lubuk hati ini
Sikapku membuatmu marah
Jika kau mau menggali lebih dalam
Akan engkau temukan cinta yang selama ini kau cari
Tapi..
Aku tak mengerti dengan jalan otakku
Menyakiti dan selalu menyakiti orang yang ku cintai

“Kamu mau kemana, Ma?” Tanya Eva, teman satu kelasnya. “Aku mau ke perpustakaan, mengembalikan buku.” Jawab Rahma. “Kalau begitu, aku ke kantin dulu ya, sama Aris.” Kata Eva sambil tersenyum pada Aris. “Oke…” Jawab Rahma. Ingin sekali ia bisa bermesraan, dan terpancar kebahagiaan karena cinta, sebagaimana apa yang tengah Eva dan Aris rasakan. ‘Tapi, sayang. Kini Dony telah tiada. Namun, rasa cinta ini entah kenapa masih saja bersarang di hatiku. Bahkan, aku belum sempat mengutaraknnya, saat ia pergi untuk selama-lamanya’ Kata Rahma dalam hati, kemudian membuka pintu perpustakaan untuk masuk.

Rahma langsung mengambil posisi duduk di bawah AC, sesudah mengurus pengembalian bukunya. Di sampingnya, ada dua orang cewek. Matanya memerah, hidungnya memerah dan sesekali ia mengusapnya dengan tisu. Kedua pipinya basah karena air mata. Rahma hanya menatapnya sejenak, kemudian mengabaikan kedua orang itu. “Maafkan aku Don…” Isak cewek yang sedang menangis. “Sudahlah, Sya! Kamu harus bisa melupakannya. Dia sudah pergi.” Kata temannya menenangkan. “Aku mungkin saja bisa melupakannya. Tapi, aku merasa bersalah pada Don. Aku tidak bisa melupakan kesalahanku pada Don.” Jawab cewek itu.
“Dia sudah tiada. Kamu harus bisa bangkit. Jangan sampai kamu terus dihantui rasa bersalah itu. Kamu akan semakin tertekan.” Kata temannya. “Sudahlah Sya, Dony sudah tiada. Aku yakin dia pasti memaafkanmu.” Kata Angga yang langsung mengejutkan Rahma yang sedang membaca, mengalihkan perhatiannya. Hatinya seperti di hantam godang, hancur lebur tak karuan.
“Aku menulis puisi untuknya sebagai ungkapan maaf. Aku menaruhnya di dalam buku yang aku pinjam dari perpustakaan, dan aku lupa mengambilnya. Aku ingin memberikan puisi itu pada Don, aku ingin ia membacanya, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya. Sikapku selama ini terhadapnya, hanya sebuah kesalahpahaman. Aku bersikap demikian karena aku trauma dengan masa laluku yang sering disakiti. Aku tidak bermaksud menyakitinya. Tapi, kini Don telah tiada…” Kata cewek yang dipanggil, Sya oleh temanya dan juga Angga. Ia menagis tersedu-sedu dan tidak bisa menahannya.
‘Apa?! Jadi, puisi yang berjudul maafkan aku itu? Cewek itu yang menulisnya? Untuk Dony, orang yang telah disakitinya. Orang yang sangat menintainya.’ Kata Rahma dalam hati. Hatinya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Rahma begitu sangat mencintai Dony. Tentu ia tak ingin ada orang lain yang menyakitinya, bahkan hingga membuatnya bunuh diri hanya karena cinta terhadap cewek itu. Hatinya sakit.
“Ini puisimu. Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau puisi itu milikmu. Aku menemukannya di dalam buku yang aku pinjam. Tidak seharusnya kamu menyakiti, Dony. Dia sangat mencintaimu. Dan aku…” Rahma menghentikan perkataannya sejenak. “Aku sangat mencintai Dony. Tak ada sedikit pun kata menyakiti dalam hatiku. Terlebih untuk orang yang sangat aku cintai.” Rahma kemudian pergi begitu saja. “Aku tidak bermaksud menyakitinya… aku sangat mencntai Don…” teriak gadis itu sambil menangis meraung semakin keras. Ia tak mau dikatakan bahwa dirinya telah menyakiti orang yang sangat mencintainya.

Angga pun segera mengejar Rahma yang keluar dari perpustakaan. “Tunggu Rahma!” Angga meraih tangan Rahma. “Lepaskan aku Angga. Aku sangat benci dengan gadis itu. Tega-teganya dia menyakiti Dony. Dony tidak akan senekat itu, dengan melakukan bunuh diri hanya karena gadis itu. Dia merasa bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa orang yang dicintainya. Lalu bagaimana denganku? Aku sangat mencintainya. Dan aku sangat sakit saat mengetahui Dony mati gara-gara dia. Orang yang sangat dicintai Dony.” Rahma menangis di hadapan Angga. Kemudian ia duduk pada sebuah kursi.
“Aku pernah mendapat puisi. Sebuah puisi tanpa nama. Di sana tertulis namaku, Rahma. Aku merasa bahwa itu dari Dony. Karena sikapnya akhir-akhir ini padaku jauh berbeda dari sebelumnya, dia begitu ramah dan dekat denganku. Tapi, melihat kenyataan ini rasanya semua itu tidaklah mungkin. Dony lebih mencintai wanita itu. Entahlah…, lebih baik aku lupakan saja puisi-puisi tanpa nama itu. Semua ini hanya perasaanku saja yang terlalu merindukan seseorang.” Kata Rahma yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa Rahma, aku masih belum bisa memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanku padamu.” Kata Angga, sambil mengamati foto Rahma yang ia dapatkan dari Dony. “Kini, Dony sudah tiada. Tak ada seseorang yang bisa menolongku. Aku hanyalah pengecut. Laki-laki yang tidak punya keberanian. Bahkan, untuk memperjuangkan cintaku sendiri.” Kata Angga.
“Itu hanyalah sebuah puisi tanpa nama, aku tak memiliki keberanian juga untuk menuliskan namaku di kertas itu. Andaikan aku menuliskannya, niscaya aku akan menolong diriku sendiri saat Dony sudah tiada. Ini kebodohanku, dan aku hanyalah seorang pengecut…!” Angga pun membakar foto Rahma, dan mengambil sebilah pisau yang bersandar di buah apel, lantas ia memotong urat nadinya. Cinta benar-benar telah membuat ia putus asa dalam menjalani hidupnya. Hingga ia harus mengakhiri kisah cinta dan hidupnya.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin

Cerpen Puisi Tanpa Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lantas, Salah Siapa?

Oleh:
Sudah 3 tahun aku berpacaran dengan dirinya. Kita selalu terbuka, jujur dan saling percaya, itulah fondasi awal hubungan kita dan kita jadikan itu komitmen hubungan kita, tanpa itu mungkin

N (End)

Oleh:
Dear diary.. Hay Ry, masih ingat aku? semoga kamu gak lupa yah. Kamu tau Ry, hingga saat ini aku masih sayang sama kamu, jujur aku gak bisa berpaling ke

Sebelum Cahaya Temaram

Oleh:
Cahaya, sebuah sinar terang yang selalu ada di sekitar kita. Entah itu cahaya matahari, cahaya bulan, maupun cahaya lampu pijar. Cahaya begitu penting bagi semua orang. Karena tanpa cahaya,

Berharap Hujan

Oleh:
Langit mendung enggan mengguyurkan hujan tuk membasahi bumi. Hanya sesekali terlihat kilat dan Guntur terdengar menggema menyelimuti hari. Hari bertambah larut namun hujan tak kunjung datang. Tanaman yang haus

Duniaku Berbeda

Oleh:
Namaku Sera. Aku manusia biasa. Bahkan menurutku aku tidak mempunyai kelebihan. Duniaku berbeda dengan yang lain. Saat ini aku sedang berada di ruang kelas, mengikuti pelajaran Biologi yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Puisi Tanpa Nama”

  1. Putri Nur Azizah says:

    Ngenes banget hidupnya. Bosen hidup kali gara gara cinta. Tapi aku suka cerpennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *