Puisi Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 9 May 2014

Suatu hari di waktu senja terlihat seorang anak laki-laki berjalan gontai menuju arah pulang, begitu sepi sore itu tak ada kendaraan yang melintas hanya angan dan hayalan temani dia berjalan.

“Apakah semua ini akan tetap begini..? Apakah waktuku masih lama, Dan apakah aku masih bisa menagis dan tertawa? Apakah aku masih bisa bercerita, Tuhan beri aku waktu..” dalam hati pemuda tersebut berkata, raut muka begitu sedih, Gundah tak ada mimik semangat dalam wajahnya.

Tiba-tiba ada dua remaja turun dari motor dan berkata “Adrin… ada apa dengan mu? Wajah mu udah kaya dompet tanggung bulan, lecek gitu..!”
Adrin pun menjawab “ah aku biasa aja, udah ganteng kaya gini” Jawab Adrin cuek
“haha parah… ngejam yu..? mumpung gue lagi punya duit neh..!”
“Gak ah males aku lagi gak mau ngapa-ngapain”
“ya udah kalau gak mau mah gue duluan ya..!”
“ya udah sana” jawab Adrin sambil terus berjalan, teman-teman Adrin pun bingung dengan sikap yang sangat berbeda daripada hari-hari sebelumnya, Dengan hati yang penuh tanya mereka pun beranjak pergi meninggalkan Adrin. Waktu terus berlalu tak terasa sudah sore, Adrin baru sampai di rumah setelah Magrib.

“Darimana aja kamu drin..? jam segini baru pulang..?” tanya ibu Adrin, Adrin pun menjawab
“Banyak tugas kuliah bu, jadi aku pulang telat”. Jawab adrin pelan
“kamu udah makan..?” Tanya Ibu
“udah kok bu tadi di kampus..” Jawab Adrin sambil menuju kamar

Waktu terus berlalu Adrin masih dengan perasannya yang tak menentu, bingung, takut, gelisah bercampur dalam benak Adrin. Singkat cerita di salah satu Sekolah Menengah atas di kawasan kota bandung, di kantin belakang sekolah. Banyak anak sekolah yang lagi makan, terlihat ada sekumpulan remaja putri sedang makan bersama, dan tiba-tiba salah satu dari mereka berkata
“ciehhh.. senyum-senyum sendiri aja kenapa nih..?”
“ah ganggu aja nih gak tau orang lagi jatuh cinta apa?” Jawabnya.
“cieh yang lagi jatuh cinta..” kata teman-temannya.
Begitu obrolan kecil mereka, banyak hal yang mereka bicarakan dan yang paling bahagia di antara mereka Sisa namanya. Sisa adalah salah satu siswi kelas 3 SMA pasundan bandung.

Singkat cerita bel pulang pun berbunyi seprti biasa Sisa pulang bersama teman-temannya. Sambil berjalan pulang banyak hal yang mereka bicarakan, dari mulai pelajaran sampai pacaran. Dan yang jadi topik pembicaraan mereka adalah Sisa yang lagi jatuh cinta.
“Kamu udah jadian sama si Adrin?” tanya salah satu teman Sisa, Haysia namanya.
“belum” Jawab Sisa.
“Kok bisa? Tapi aku perhatikan kamu dah deket banget sama adrin!”
“heheee… ya gitulah, gak ada kata jadian yang penting aku tau perasaan dia, dan dia tau perasaan aku..” jawab Sisa
“aneh hahha” sambung haysia sambil tertawa kecil.

Waktu terus berlalu, tak terasa mereka sudah tiba di persimpangan jalan, karena arah pulang mereka berlawanan. Sisa pun pulang sendiri
Dalam hati Sisa berkata “terima kasih tuhan kau telah beri aku setetes kebahagiaan hari ini. Tapi kebahagiaan ku kurang lengkap tuhan, Adrin hari ini belum kasih kabar aku.. ahh tapi mungkin lagi sibuk, nanti aku telpon aja..” dalam hati Sisa terasa mulai tak nyaman karena Adrin tidak ada kabar, sudah dua hari sejak Adrin bilang mau nganter ibunya ke rumah sakit, sejak itu Sisa tidak menerima kabar dari Adrin. Tiba-tiba dari arah belakan adrin datang dan berhenti.
“Bagai mana kabarmu?”
Sisa pun kaget bercampur bahagia karena yang dibayangkan dari tadi pun kini ada di depannya
“alhamdulilah baik A” jawab Sisa sambil tersenyum.
“syukurlah kalau kabar kamu baik itu yang A harapkan, De Aa tak bisa lama A di tunggu temen-temen Aa, baik-baik ya, jangan lupa makan, solat, belajar yang rajin, kan mau jadi dokter..!” kata Adrin sambil usap-usap kepala Sisa,
“ia Aa bawael, jelek.” Jawab Sisa sambil tersenyum, Sisa tak mampu menyembunyikan rasa bahagia itu,
“de simpan ini ya, a buat dengan penuh cinta..” kata adrin sambil memberikan secarik kertas.
“Apa ini A..?” tanya Sisa
“nanti aja lihatnya.” jawab Adrin sambil pergi dengan motornya.

Tak lama Sisa sudah sampai di rumah.
“aku penasaran apa sih ini..?” kata Sisa dalam hati.
“ya ampun so sweeet..”
Ternyata adrin memberikan sebuah gambar seorang laki-laki yang sedang memeluk erat pacarnya yang sedang menangis dan di samping gambar tersebut tertuliskan puisi. Adrin memang pintar menggambar dan suka membuat puisi tiap malam menjelang, Adrin sering mengirimi Sisa puisi lesat SMS.
Dan Sisa pun membaca puisi yang Adrin berikan sore tadi,

“Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui, apakah kau masih selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap, sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Kabut tipis pun mulai turun pelan di lembah kasih,
lembah Mandalawangi,
kau dan aku tegak berdiri menatap hutan-hutan yang menjadi suram.
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
Apakah kau masih selembut dahulu. Ketika kudekap,
Kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
Apkah kau masih berkata.
kudengar detak jantungmu, kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam CINTA.”

Itulah isi puisi Adrin untuk Sisa. Dan Sisa pun berkata. “ya tuhan terima kasih karena kau berikan aku seorang kekasih yang sangat baik padaku dan tulus mencintaiku.”

Lain cerita Adrin yang sibuk dengan kerjaannya di kampus mulai gelisah. “sudah tanggal 17 waktunya aku ke rumah sakit lagi, sampai kapan tuhan aku begini, aku harus kuat dan bisa melawan semua ini, aku ingin bahagiakan dia tuhan beri aku waktu tuk buktikan bahwa aku sungguh mencintainya,” dalam hati Adrin sambil membereskan buku yang ada di meja. Waktu sudah siang Adrin bersiap untuk pergi ke rumah sakit, di sela perjalanan Adrin terhenti di salah satu toko kado di pinggir jalan tak jauh dari Rumah sakit.
“mending aku beli sekarang aja meski ulang tahunnya Sisa masih 2 bulan lagi, aku takut waktu dia ulang tahun aku sudah pergi jauh”

Adrin pun masuk toko tersebut sambil mulai mencari yang akan dia beli. Tak lama kemudian Adrin keluar toko dan berangkat ke rumah sakit. hari menjelang sore, hari itu aliran listrik mati dan malam itu pun gelap gulita, tugas kuliah adrin tak bisa dikerjakan karena mati lampu dan laptop adrin pun tak bisa nyala karena low batre, seperti biasa kalau sore hari adrin sering SMSan atu Telponan dengan Sisa, kala itu Sisa lagi mengantar saudaranya untuk bertemu pacarnya, Nuri nama saudara. Sore itu sehabis mengantar saudaranya, Sisa pun bergegas menemui adrin yang sudah lama menunggu di pinggir jalan
“dah lama nunggu A?” Tanya Sisa
“belum kok de” jawab Adrin. Dede adalah Nama panggilan dari Sisa

Banyak hal yang mereka bicarakan rasa sayang, rindu, cinta malam itu tercurahkan, tak lama kemudian Nuri berkata
“Sis.. idah malam nih yuk kita pulang nanti dimarahin loh..!”
“Ia kenapa Bentar dulu masih kangeuuun nihh,” Jawab Sisa cuek.
“yah parah ayoo cepetan pulang nanti diomelin bapakamu loh..” Kata Nuri setengah memaksa.
“iah..” Jawab Sisa.
“A..de pulang ya makasih hari ini sudah mau ketemu aku dan kasih setetes kebahagiaan hari ini.” Kata Sisa
“ia A juga makasih udah mau ketemu aa, hati-hati di jalan ya,” Kata adrin sambil mencium kening dan mata Sisa.

Malam pun sudah menunjukan jam 22.05 mereka pun pulang dengan membawa berjuta kebahagiaan. Adrin yang sangat bahagia karena malam itu Adrin untuk yang pertama kalinya bisa memeluk dan mencium Sisa.

Hari demi hari terlalui semua berjalan normal, tapi rasa takut adrin membuat kondisi Adrin kiat memburuk.
Pada suatu hari adrin pun menghubungi Nuri saudaranya Sisa dan Adrin pun Menceritakan semua masalahnya ke Nuri
“Nur boleh curhat gak.?.” tanya Adrin
“boleh, tumben emeng ada apa?” Tanya Nuri
“begini,tapi kamu jangan bilang- bilang Sisa ya,”
“iya” Jawab Nuri singkat.
“Gini sebenarnya aku punya rahasia besar, Sisa gak pernah tau masalah ini, cuman yang dia tau kalau aku sering nganter ibu aku ke rumah sakit padahal yang sebenarnya yang sakit itu aku”
“emang kamu sakit apa Drin?” tanya Nuri.
“aku sudah mulai sakit-sakitan lagi penyakit leukimia Nur.. sudah stadium lanjut, kata dokter usia ku sudah gak lama lagi, walau aku yakin usia di tangan tuhan, tapi kalau melihat kondisi aku, aku rasa hidup ku takkan lama lagi, tiap kali aku kecapean pasti kau jatuh sakit, aku titip dede.. tolong ingetin dia kalau dia lagi salah, ingetin dia supaya jangan telat makan, solat, belajar yang rajin aku pengen dia bisa jadi dokter seperti yang dia cita-citakan, walaupun nanti aku tak bisa menemaninya, tapi setidaknya saat ini, aku berusaha beri yang terbaik untuknya, semampu dan sebisa aku kasih yang terbaik untuknya aku sayang banget sama dia, aku gak mau kehilangan dia, aku gak mau membebani dia dengan penyakitku ini, apalagi kalau dia sampai tau aku seperti ini mungkin dia bakal sedih banget. aku ingin ada selalu di samping dia. bantu aku ya nur!”
“iya drin aku gak akan bilang Sisa”
“makasih ya nur.”
Adrin pun agak sedikit lega setelah bercerita tentang masalahnya.

Hingga suatu hari Adrin menemui sisa, waktu itu Hujan rintik-rintik turun tapi tak menyulutkan niat Adrin untuk bertemu Sisa, Dengan penuh Cinta, sayang, rindu dan berjuta harapan Adrin memeluk erat tubuh Sisa. Tak banyak kata yang diucapkan Adrin, di hanya berkata. “aku sayang kamu lebih dari yang kamu tahu, dan aku akan jadikan kamu perempuan paling bahagia di seleuh dunia,”
Adrin pun menangis, begitu pula dengan sisa, “de gak mau kehilangan kamu A, kamu takkan terganti dan aku juga sayang kamu”

Hari menjelang malam senja pun mulai meleberkan sayap kegelapan, Adrin dan Sisa Pun beranjak pulang.
Dua bulan terlewati, seminggu sebelum Sisa ulang tahun Adrin tiada kabar, nomer ponsel adrin pun tidak aktif.
“aku ingin di hari ulang tahun ku nanti Adrin ada di sampingku tuhan, semoga dia baik-baik saja”

Waktu terus berlalu tibalah pada hari ulang tahun Sisa Yang ke 17 Adrin tak kunjung datang lama Sisa menunggu sampai sore menjelang, tapi adrin tak juga menampakan Dirinya.
“Apakah aku sudah dilupakan? Apakah aku sudah tidak ada di hatinya sudah tidak ada kabar dan sekarang di hari ulang tahunku dia tidak datang, Aku benci kamu A.. mana janji kamu buat aku bahagia, mana janji kamu mau buat aku jadi perempuan paling bahagia di dunia ini,” Sisa pun menangis karena kecewa dengan Adrin yang tak ada kabar dan tidak kunjung datang.

Tiba-tiba Ada suara motor yang datang,
“pasti adrin… semoga saja adrin yang datang” Kata Sisa dalam hati.
Ternyata yang datang hanya tukang pos.
“eh pak, pos kiriman buat siapa pak? Tanya Sisa.
“buat neng sisa” Jawab pak pos, ternyata mereka sudah akrab karena sisa sering menerima kiriman surat dari sahabat jauhnya.
“dari siapa pak” Tanya Sisa.
“itu ada nama pengirimnya” Jawab pak pos.
“makasih ya pak”
“sama-sama neng” jawab pak pos

“Ini dari adrin, tapi kenapa dia tak datang langsung untuk memeberikannya kepadaku?” dalam hati Sisa penuh tanya
Sisa pun bergegas ke dalam kamar dan membuka kiriman tersebut, pelan-pelan sisa membuka dan setelah dibuka ada sebuah kotak yang berisi boneka, kalung, Foto, jam tangan, permen dan secarik kertas yang bertulisan.
“peluk aku seperti boneka di kala malam menyapamu, aku akan mengikatmu erat seperti kalung yang menempel di lehermu dan taruh foto ku di kamar mu agar aku bisa perhatikanmu, dan makan permen itu walau aku jauh darimu aku bisa memberi rasa manis untukmu, dan pakai lah jam itu, agar kamu bisa mengingat bahwa waktu akan menyatukan kita nanti di surga, aku tak bisa kasih kamu apa-apa, semoga panjang umur, sehat selalu, banyak rejeki, jadilah perempuan yang bisa membanggakan dan di banggkan keluarga dan sahabat,
Baca puisi terakhirku ini dan aku akan tinggal selamnya di hati dan jiwamu”

Sisa pun membaca puisi yang di tulis Adrin.

“perempuan datang atas nama cinta, bunda pergi karena cinta. digenangi air racun jingga adalah wajahmu.
Seperti bulan lelap tidur di hatimu.
Yang berdinding kelam dan kedinginan,
Ada apa Dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci,
lalu sekali aku lihat karya surga dari mata seorang hawa.
Ada Apa dengan Sisa?
Tapi aku pasti akan temui mu kemabli dalam
Surga untuk menanyakan kembali cintanya.
Bukan untuknya. bukan untuk siapa.
Tapi untuk ku.
Karena aku ingin kamu.”

Sisa pun menagis dan masih di selimuti berjuta tanya.
Lama Sisa merenung dan tak lama Nuri datang, dan dia berkata “Sis, maafkan aku”
“ada apa Nur, kok tiba-tiba kamu minta maaf” sahut sisa
“begini bukanya aku gak mau bilang tapi ini sangat berat buat aku katakan dan kamu juga pasti berat menerima semua ini.” Ucap Nuri
“emang ada apa?” Tanya Sasi bingung
“dulu beberapa bulan lalu Adrin sempat bercerita dan meminta aku merahasiakan semuanya, tapi aku tak tahan dengan rahasia ini dan aku ingin ceritakan semua padamu..”
“maksud kamu apa, aku binggung!” Tanya Sisa.
Dan Nuri pun berkata. “Adrin punya penyakit Leukimia stadium akhir, dan yang ke rumah sakit itu bukan ibunya yang seperti kamu tau, tapi adrin sendiri yang sakit bukan ibunya. adrin tidak kasih tau kamu tuh karena dia gak mau kasih beban. kasih rasa sedih buat kamu dan dia bilang dia sangat mencintai kamu dan dia ingin lihat kamu jadi dokter seperti yang kamu cita-citakan.”
“ya tuhaaannn… kenapa kamu gak jujur padaku Drin, kenapa kamu gak cerita sama aku, kamu bohongi aku drin,” Ucap Sisa sambil nangis
Dan Nuri melanjukan ceritanya. “kado yang kamu terima itu sudah adrin simpan di kantor pos sejak 2 bulan lalu dan meminta untuk dikirim pada hari ini karena dia takut tidak bisa memberikan langsung kado itu hari ini dan sudah dua minggu Adrin kata Sahabatnya masuk Rumah sakit dan,”
Nuri berhenti bicara
“Dan apa Nur… apa? Adrin kenapa?” Tanya Sisa
“Adrin meninggal Sis, aku baru tahu tadi maafkan aku sis..”

“Adrin kamu jahat kenapa kamu tinggalkan aku kamu janji bakal ada untuk aku selamnya kenapa kamu pergi di saat rasa cinta ini tumbuh sangat besar untuk mu. Kamu kenapa sesingkat ini beri aku cinta, aku sayang kamu drin…”
Sisa menangis, air matanya tak terbendung lagi, Nuri mencoba menenangkan sisa yang menangis tapi sisa tetap menangis rasa Benci, sayang sedih berjuta persaan ada di hati Sisa saat itu.

Cerpen Karangan: Indra Wirawan
Facebook: Alexandria Hitam_Putih

Cerpen Puisi Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because of You

Oleh:
Pagi yang cerah. Kudengar deburan ombak pantai yang perlahan mulai hilang ditelan bisingnya suara kendaraan. Tirai-tirai yang menutup jendela kamarku mulai kubuka secara perlahan. Dengan mata ini, aku melihat

Kasih Sayangku Kasih Sayang Tuhan

Oleh:
Semilir angin sejuk berhembus, membawa terbang helaian rambutku yang tak terikat, mata ini masih memandang jalan raya melaui jendela kaca rumah sakit di lantai lima. Mengapa aku ada di

Waiting For The Time

Oleh:
Waktu berjalan begitu cepat. Dahulu Anggun begitu memuja-muja Reva meskipun mereka belum saling mengenal. Sejak pertama kali bertemu, Anggun sudah merasakan sesuatu yang beda. Akan tetapi Anggun selalu bersabar

13 Maret 2016

Oleh:
Pekanbaru, Senin 13 Maret 2016 Dear deary. Sungguh, aku mengatakan jika hari ini adalah hari yang begitu memilukan untukku. Aku sudah sekitar 2 tahun lamanya menyimpan rasa kepada kakak

Aku dan 29

Oleh:
“gak bisa semudah itu kamu bilang sayang sama aku, kalau kamu sayang sama dia Faz” aku menatapnya pedih. Aku berusaha tak ingin menyela kehidupannya kini, tak ingin kembali untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *