Puisi Valentine Buat Valentino

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 24 August 2013

Sekar memang begitu manja dengan Ibu dan Bapaknya, sehingga tak heran bila anak bungsu dari tiga bersaudara ini begitu dekat dan mendapatkan perhatian lebih dibandingkan kakak-kakaknya. Maklum, Sekar merupakan anak perempuan satu-satunya. Lantaran begitu dekatnya Sekar dengan Ibu, sehingga hubungan mereka kadang seperti teman dan ia pun lebih gampang terbuka mencurahkan apapun tentang isi hatinya dengan Ibu. Tapi bukan berarti seperti anak mama dong, yang selalu digambarkan cengeng, kolokan, kemana-mana selalu bersama Ibu, sampai-sampai pergi dan pulang sekolah pun selalu diantar dan dijemput Ibu. Itu bukan gambaran seorang anak seperti Sekar.

Pada Minggu sore, seperti biasa Sekar dan Ibu selalu asik ngobrol di depan TV sambil ngemil menunggu acara favorit mereka di salah satu stasiun TV. Ketika menyaksikan salah satu episode di acara TV tersebut, membuat Sekar terinspirasi untuk membuat sesuatu kejutan terhadap seseorang.
“Bu, suatu saat Sekar ingin membuat satu kejutan, ya surprise-lah buat seseorang,” kata Sekar tiba-tiba bicara pada Ibu.
“Kamu terinspirasi dari acara itu?” kata Ibu sambil menunjuk ke TV.
“Iya Bu,” jawab Sekar.
“Bikin surprise buat siapa?” tannya Ibu iseng.
“Seseorang lah,” jawab Sekar seperti malu mau menyebutkan siapa orangnya.
“Sepertinya seseorang yang sangat khusus banget,” kata Ibu lagi.
“Ah! Ibu seperti nggak pernah muda aja,” kata Sekar manja.
“Kamu bisa aja,” jawab Ibu. “Emang dasar anak muda sekarang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan anak muda dulu di zaman Ibu dan Bapak. Lihat aja sekarang, sudah bukan hal tabu lagi bila seorang cewek lebih agresif untuk mengungkapkan maksud hatinya kepada seorang cowok. E, zaman dulu itu sesuatu yang sangat tidak biasa untuk dilakukan alias tabu banget,” lanjut Ibu panjang lebar bercerita.
“Ya Ibu norak, kuno. Jangan disamakan dong, cinta dulu dengan cinta sekarang, anak dulu dengan anak zaman sekarang. Beda dong, zaman sudah berubah,” protes Sekar.
“Anak Ibu yang manis dan yang manja, zaman boleh berubah tapi terkadang yang kuno atau tradisi lama masih dibutuhkan di zaman yang serba cepat berubah. Dia dibutuhkan sebagai filter untuk menyaring budaya negatif yang masuk yang tentunya akan merusak akhlak generasi muda. Sekali lagi, zaman boleh berubah tapi kita tidak lantas harus latah dengan perkembangan dunia. Adat budaya timur harus tetap dipegang sebagai warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya. Pantang larang dan yang tabu harus dipatuhi serta nasehat orang tua harus selalu didengar. Kita sebagai perempuan harus tetap menjaga kodratnya sebagai perempuan, bukan berarti perempuan tidak boleh maju dan berkembang. Tapi perempuan juga wajib menjaga martabat dan punya jati diri. Kata pepatah “Ibarat ikan di air asin tapi ia tidak pernah asin. Nah itu yang Ibu maksud, nak,” kata Ibu seperti memberi kuliah kepada Sekar.
Seketika itu pula, Bapak yang tadinya lagi asik bersih-bersih ditaman depan rumah, tiba-tiba saja Bapak masuk dan ikut nimbrung pembicaraan Sekar dan Ibu. “Waktu zaman Bapak dan Ibu dulu untuk ketemu dan pacaran susah banget. Ketemu seminggu sekali aja susah. Ya, kalau nggak bisa ketemu melepas rindu, paling cukup melihat rumah Ibu aja udah seneng banget dan rasanya lepas dah rindunya. Kalau anak-anak sekarang satu hari aja tidak ketemu, ya seperti satu bulan katanya. Mungkin maunya diketek melulu, mending kalau keteknya wangi, tapi kalau asem?” kata Bapak bercanda lalu tertawa. “Kalau Bapak dulu pacaran sama Ibu, bila mau menyatakan sesuatu paling bisa melalui surat, abis mau ketemuan susah dan selalu dilarang. Apalagi berduaan sangat tabu banget. Nah! anak sekarang kalau nggak dua-duaan nggak asik katanya, bahkan di tengah umum pegangan tangan. Bapak sama Ibu dulu berbicara aja susah dan kalau pun bisa ketemu sama malu-malu, bicara juga seperlunya,” lanjut Bapak.
“Malu-malu kucing,” timpal Sekar tertawa sambil berlalu meninggalkan kedua ortunya karena ia sudah gerah pingin cepat mandi.

Walaupun Sekar begitu manja dan mendapat perhatian lebih dari ortunya, bagi kakak-kakaknya Randy dan Frans adalah hal wajar karena dia adik cewek satu-satunya. Namun begitu mereka juga sangat menyayangi Sekar dan ngejaga banget dengan adiknya ini. Habis manis sih. (memangnya gula, tentu banyak semut yang mendekatinya dong. Ooo so pasti).

Untuk ukuran seorang gadis seperti Sekar, rasanya terlalu manis untuk ngejomblo, tapi pada kenyataannya ia masih saja ngejomblo. Sehingga ia digelari ratu jomblo oleh teman-temannya. Dia selalu sendiri bukan berarti kagak ada yang mau sama dia, bahkan lebih dari itu sudah banyak yang mencoba mendekatinya, tapi dasar ini cewek nggak gampangan menerima cinta seseorang. Semua itu perlu proses bagi Sekar.

Sekar termasuk anak yang kreatif, banyak ide dan cukup aktif untuk kegiatan di sekolah. Ia juga sebagai pengurus OSIS sehingga dikenal dikalangan guru-guru dan temannya di sekolah. Seperti kegiatan lomba cipta dan baca puisi yang beberapa hari lagi akan dilaksanakan di sekolah merupakan ide dia. Acara lomba ini sudah diatur akan dilaksanakan pada valentine day.

Untuk lomba antar SMU, Sekar seringkali meraih juara. Namun pada lomba cipta dan baca puisi kali ini baginya bukan juara yang ingin diraihnya, kali ini ia hanya ingin mengungkapkan semua perasaannya, melepas segala yang ada di dalam sanubarinya. Untuk kali ini ia hanya ingin memberikan kejutan dan surprise buat seseorang yang selama ini selalu ada dalam hatinya, sobat yang berlainan kelas dengannya yaitu Valentino.

Bagi Sekar, Valentino berbeda dari cowok-cowok yang selama ini mencoba mendekatinya. Valentino adalah cowok yang ia idamkan selama ini. Jauh sebelum teman-teman menjodohkan Valentino dengan dirinya, sebenarnya ia sudah lebih dulu menaruh hati, tapi ia nggak berani mengungkapkannya. Karena gelora asmara yang selalu menggeloralah yang membuatnya tak sanggup menahan perasaannya. Sehingga pada moment lomba kali ini ia berharap mampu membuka pintu hati valentino.
Oleh karena Sekar sangat dekat dengan guru-guru, apalagi temen-temennya maka idenya untuk nembakin Valentino pada lomba nantinya sangat didukung banget. Mereka semua sangat ingin sekali Sekar melepas status jomblonya dan nembakin sang pangerannya.

“Kar, rasanya aku nggak percaya dengan apa yang telah kamu katakan melalui ide mu itu, tapi aku ngedukung banget kok,” kata Dita sembari memberi semangat.
“Iya Kar, kamu juga harus membuat persiapan yang cukup dan sedemikian rupa, sehingga lomba ini memberi makna bagi kamu dan dia tentunya,” kata Rani Bule sambil mencuil dagu Sekar. “Gua do’akan semoga kamu berhasil dan kami semua siap mendukung dan membantu kamu,” lanjut Rani Bule sambil membetulkan roknya dan kemudian duduk di atas meja Sekar.
Tapi Sob, sebenarnya Valentino juga mempunyai hasrat hati yang sama dengan Sekar, tapi hasrat itu selalu terpendam, ia malu untuk mengungkapkannya. Ia adalah cowok yang paling pintar, tapi cowok yang satu ini agak lain, ia sangat super cuek, sehingga Sekar suka dengan cowok demikian.

Sebenarnya Sekar berharap suatu hari Valentino mengungkapkan perasaannya kepada Sekar, tapi hari yang ditunggu-tunggu tak pernah terwujud dan tak kunjung datang, sampai akhirnya ia membuat ide lomba yang disampaikannya kepada Guru dan temannya.

Tanpa terasa malam pun semakin larut. Namun menjelang lomba cipta dan baca puisi besok, Sekar masih asik di depan laptop dan larut dengan perasaannya. Tangannya masih asik menari, mengetik dan membuat puisi yang akan dibacakannya besok. Kertas-kertas hasil print out yang salah pun berserakan dan sudah banyak menumpuk di keranjang sampah, tapi Sekar masih asik mengetik dan sekali-sekali merenung agar mendapat kata-kata yang pas untuk mengeluarkan ungkapan hatinya. Sekar sangat berharap puisinya itu akan menyentuh perasaan Valentino yang akan ia persembahkan bertepatan dengan hari Valentine besok.

Ibu yang merasa terusik dengan suara ketikan dan bunyi printer dari kamar Sekar, akhirnya beranjak juga dari tidurnya yang terganggu. Kemudian ibu pun mengetuk pintu kamar Sekar yang tertutup rapar. “Kar, ayo buka pintunya,” panggil ibu sambil terus mengetuk pintu kamar. “Sudah larut malam kok belum tidur juga. Ntar besok telat bangunnya. Besok aja dilanjutin tugasnya,” lanjut ibu lagi.
“Iya deh, Bu,” jawab Sekar dari dalam kamar yang enggan membuka pintu kamarnya. Ntar deh Bu, lagi tanggung banget nih. Sedikit lagi juga kelar. Ntar juga Sekar tidur,” jawab sekar lagi.
“Iya sudah, kalau dah selesai kamu harus istirahat dan tidur lagi,” kata Ibu dari luar kemudian meninggalkan kamar Sekar dan kembali tidur.

Tak beberapa lama kemudian semuanya pun selesai. Sekar pun tertidur pulas sambil memeluk boneka winnie the pooh kesayangannya. lantaran saking lelahnya, ia pun lalu bermimpi indah seperti kenyataan saja. Dalam mimpi itu Sekar sedang membaca puisi yang sudah ditulisnya itu dengan penuh perasaan dan menjiwainya banget, sehingga semua yang hadir menjadi terhanyut, terpaku diam dan membuat suasana menjadi hening, larut dalam kata demi kata, bait demi bait puisi yang dibacakannya.

Tanpa didahului dengan judul sebagaimana biasa ketika seseorang membaca puisi, tiba-tiba saja Sekar langsung membaca isinya. Rupanya judul itu sengaja tidak dibacakan di awal karena ingin memberi surprise buat Valentino.

Hadirmu
Mengilhami seluruh hidupku
Canda dan tawamu
Obat penawar segala derita dan pelipur laraku

Sejenak teman-teman Sekar memberikan tepukan, kemudian mereka semua kembali diam, kembali terpaku, semua hanyut dan hening.

Risau hatiku bila kau jauh
Betapa hari-hariku sunyi dan sepi
Bila kau tiada
Karena kau adalah nafasku

Andaikan aku pujangga
Akan kucipta syair-syair puisi cinta
Akan kubuai kau dengan kata-kata indah
Dan akan selalu kubisikan nada-nada syahdu
Hanya untukmu

Duhai arjunaku
Betapa aku memujamu
Betapa lelah sudah penantianku
Aku sudah tak sanggup menahan gelora ombak jiwaku
Aku ingin membahagiakanmu
Sampai akhir hidupku

Setelah selesai membaca puisi itu, sejenak Sekar terdiam. Lalu ia berucap pelan, “Puisi Valentine Buat Valentino,” Sekar lalu menunduk hormat lalu tersenyum bahagia.
Seketika itu pula, suasana pun menjadi ramai dengan suara riuh, suit-suit dan tepukan tangan sambil meneriakan suara “Sekar… Sekar” menggema seisi gedung. Valentino yang berada di barisan kursi ketiga, dan dari tadi ikut larut menyaksikan buaian syair dan kata puisi yang dibacakan oleh Sekar menjadi serba salah, mukanya memerah dan malu banget. Walaupun sebenarnya ia begitu tersanjung, ia tak bisa menutupi salah tingkahnya sambil menunduk dan menutup mata, begitu juga detak di jantungnya berdebar kencang tidak karuan.

Dalam suasana riuh itu, Pak Ibnu Guru Bahasa Indonesia pun langsung cepat tanggap dan mengambil alih suasana dan naik ke atas pentas. Kemudian setelah semua diam, Pak Ibnu lantas memanggil Valentino dan memintanya untuk naik ke atas pentas tepat dimana Sekar lagi berdiri menunggunya. Namun Valentino tetap duduk diam, menunduk malu, membuat teman-temannya yang berada di sekitar dia menjadi nggak sabaran.
“Hayo, Valen!” kata Pedro memberi semangat. “Tunjukkan kejantananmu,” lanjut Pedro disambuat gelak tawa seisi gedung.
Lantaran Valentino tetap diam dan tidak juga menunjukan sikap untuk berdiri, akhirnya Theo, Pedro, Bambang, Didin, Dharma dan Erik mengangkat Valentino secara paksa ke atas pentas lalu menurunkannya tepat berhadapan dengan Sekar.
Tepuk tangan dan sorak sorai terus membahana di tempat acara. Semua meneriakkan nama Sekar dan Valentino, sehingga membuat Pak Ibnu meminta semua tenang agar acara itu bisa dilanjutkan. Pak Ibnu pun kemudian meminta Sekar untuk bicara.
“Buat semua yang telah mendukung Sekar, Bapak-bapak dan Ibu Guru, serta teman-teman, terima kasih atas semua ini sehingga acara ini terselenggara dengan sukses. Sekar merasa senang dan puas, rasanya semua perasaan yang selama ini terkurung terasa sudah lepas. Aku bahagia sudah dapat mengungkapkan perasaan hatiku yang selama ini seperti terkubur, walaupun hanya melalui selembar puisi,” kata Sekar lalu terdiam sejenak sambil menarik nafas panjang. “Valentino, apa yang telah aku ungkapkan melalui puisi tadi semuanya telah mewakili hatiku. Puisi itu kucipta hanya untukmu. Aku sangat berharap kamu meyakini dan mendengarkannya. Jujur aku katakan bahwa aku sangat mengagumimu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Aku ingin kamu jawab dengan kejujuran pula. Apakah kamu bersedia menerima aku? Aku ingin jawabannya sekarang juga?” lanjut Sekar tanpa malu-malu sedikit pun.
“Gila!” kata Valentino kaget dan seperti tidak percaya. “Aku harus jawab sekarang?” tanya Valentino tuk meyakinkan.
“Iya dong, bukan tahun depan,” balas Sekar.
Valentino terus gelisah kaku sambil menggaruk-garukan kepalanya yang tidak terasa gatal, sementara temen-temennya terus memberikan semangat kepada Valentino.
“Jawab dong Valen,” kata Dharma menyemangati.
“Iya, bila kamu mau menjadi pacarku terimalah puisi ini, tapi jika kamu menolaknya sobeklah selembar kertas puisi yang tiada artinya ini,” lanjut Sekar lagi.
Belum sempat Valentino menjawab, tiba-tiba saja ibu mengagetkan Sekar dengan menepuk pantat putrinya yang lagi asik menikmati mimpi indahnya. “Hey putri manis! Mimpinya udah kesiangan tuh. Ayo bangun, Valentinonya ada di depan,” canda ibu setelah ibu mendengar tanpa sengaja Sekar menyebut nama Valentino.
Sekar pun terperanjat kaget dan terbangun, ia pun malu mendengarkan ibunya menyebut nama itu.
“Ah! Ibu ganggu orang lagi tidur aja. Masih ngantuk nih!” jawab Sekar manja sambil bermalas-malasan.
“Cepetan bangun, sudah siang nih. Ntar keburu-buru lagi ke sekolahnya,” kata ibu.
Mendengar apa kata ibu, Sekar lantas tambah kaget lagi, rupanya sambil bermalas-malasan tadi ia masih berusaha terlena menyusun mimpinya, tapi gagal. “Duh! Sudah jam berapa, Bu. Terlambat dong gua.”
“Makanya tidurnya jangan sampe larut malam. Mimpinmya ntar dilanjutin lagi. Ngomong-ngomong siapa sih Valentino?” tanya ibu sambil tersenyum mencandai putri kesayangannya.
“Ah! Ibu mau tahu aja. Emangnya ibu tahu dari mana?” tanya Sekar malu-malu.
“Ooo, rupanya tuan putri tadi bermimpi menyebut nama itu. Duh! Kasian deh rupanya manja ibu lagi jatuh cinta. Kenalin dong, ibu pingin tahu gimana sih orangnya. Ganteng nggak,” kata ibu terus memberondong dan bercanda.
Frans yang dari tadi sudah berdiri di depan pintu kamar adiknya, jadi ikut-ikutan ngerjain Sekar. “Jangan-jangan manja ibu kena guna-guna si Valentino, Bu.”
“Enak aja lho bilang,” gerutu Sekar sambil melemparkan guling ke arah kakaknya Frans.
Buuuk! Terdengar bunyi guling yang dilempar Sekar menyentuh muka Frans. Frans nggak bisa mengelak dan ia terus mengerjain Sekar sambil bernyanyi. “Jatuh cinta berjuta rasanya, rasa manis, rasa asem kayak bau ketek, ada juga rasa asin. Emangnya nano-nano kali, ya?” kata Frans bernyanyi sesukanya sambil tertawa dan ia pun terus berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Sekar yang mencoba mengejarnya.
“Awas lho!” gerutu Sekar dari depan pintu.

Sementara di suasana yang lain di rumah Valentino. Valentino sedang sarapan pagi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Sedangkan mamanya melarang anaknya untuk ke sekolah, karena mamanya sangat khawatir dengan kesehatan Valentino. Tadi malam sakit sesak dan jantungnya kambuh lagi yang sempat membuat papa dan mamanya khawatir, makanya mama ingin agar Valentino beristirahat saja. Tapi Valentino tetap semangat ingin ke sekolah, seolah lupa dengan perjuangannya melawan sakitnya tadi malam. Baginya acara di sekolah hari ini sangat sayang jika terlewati bersama teman-temannya. Akhirnya mama nggak bisa menahan semangat anaknya untuk tetap ke sekolah, walaupun di hati kecilnya merasa was-was.
“Ya sudah, yang penting obatnya jangan lupa dimakan yang teratur,” kata mama.

Suasana di depan gerbang sekolah ternyata lain lagi, teman-teman Sekar sudah pada gelisah menunggu kehadirannya sementara acara lomba sudah berlangsung. Rani Bule dan Dita yang dari tadi hilir mudik terus menggerutu sobatnya itu.
Beberapa saat kemudian, Rani Bule dan Dita baru bisa bernafas lega, ketika melihat Sekar muncul dan bergegas turun dari motornya.
“Lu gila tauk! Lu yang punya ide tapi lu sendiri yang telat. Kita udah pada cemas nungguin elo yang nggak kunjung muncul, tauk!” kata Dita marah dan kesel.
“Please… i’m sorry, sorry banget. Gua juga takut terlambat. Gua ketiduran dan untung dibangunin nyokap,” jawab Sekar membela diri.

Lalu mereka pun bergegas menuju gedung tempat dimana lomba sedang berlangsung. Dasar dewi fortuna lagi berpihak kepada Sekar, ketika sampai di depan pintu masuk namanya pun kebetulan dipanggil.
“Alahmdulillah, terima kasih ya Allah. Pas banget,” kata Sekar dengan semangat dan senang.

Tanpa pikir panjang Sekar pun menuju pentas pertunjukan sambil menggenggam selembar puisi di tangannya. Apa yang terjadi saat itu persis dengan apa yang dirasakannya dalam mimpi semalam. Mimpinya terjawab sudah, selembar puisi cinta miliknya diambil oleh Valentino. Itu pertanda cintanya dikabulkan.
“Terima kasih Valentino,” kata Sekar sambil mencium pipi Valentino.
Seketika itu pula Valentino tiba-tiba berlutut dan bersujud di kaki Sekar. Sekar yang tidak tahu dengan kondisi Valentino yang sebenarnya lalu berkata, “Kamu tidak harus seperti ini Valentino. Kamu tidak harus berlutut di kakiku,” kata Sekar sambil memegang kepala Valentino.
Namun tanpa diduga tiba-tiba saja tubuh Valentino rebah dan terbaring di lantai, ia tidak sadarkan diri. Suasana yang tadinya gembira berubah menjadi jeritan histeris. Semua mata tertuju ke Valentino dan teman-teman pada keburu mengejar ke atas pentas untuk membantu menyelamatkan Valentino. Ternyata selama ini Sekar tidak pernah tahu dengan penyakit yang di derita oleh Valentino.

Ambulance pun akhirnya membawa Valentino ke rumah sakit. Sekar terus menangis mendampingi Valentino di dalam mobil ambulance. Tetapi sayang, Tuhan berkehendak lain, sebelum tiba di rumah sakit, Valentino sudah menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung.

Sekar sangat terpukul dan semakin histeris. Puisi Valentine Buat Valentino ternyata adalah puisi terakhir untuk Valentino.

Cerpen Karangan: Ardhian S.Sos.
Facebook: ardhian dhian
TTl : Kuala Tungkal, 25 Desember 1967.
Pekerjaan : PNS di Pemkab.Tanjung Jabung Barat Jambi.
email : ardhianssos[-at-]gmail.com

Cerpen Puisi Valentine Buat Valentino merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pupus

Oleh:
Hari ini adalah hari yang paling istimewa… Karena di hari ini aku mempunyai sahabat baru dia tu tammy dan ray… Aku (manda), tammy dan ray selalu kompak. Tapi entah

Couple

Oleh:
Aku bisa melihatnya. Sinar jingga yang muncul di balik laut. Aku tetap menatapnya sendiri. Meski sudah terasa di sekitarku mulai sepi. Aku hanya merasakan angin sore menjelang malam. Kadang

F For Farah

Oleh:
Aku senang membiarkan diriku terbuai dalam lamunan. Bagiku itu sangat mengasyikkan, sekaligus membuat diriku sibuk daripada berbuat sesuatu yang tidak jelas. Kali ini aku kembali melamun, sambil menatap melalui

Penantian Yang Sia-Sia

Oleh:
Sudah sewajarnya kita para cewek sebagai seorang pacar yang setia, ingin sekali melihat kekasihnya ada di dekat kita. Tapi aku berbeda, sudah sebulan ini di tinggal kekasihku merantau untuk

Sebuah Janji

Oleh:
Tessa seorang gadis yang duduk di bangku kelas 2 SMA itu tak henti hentinya memandangi alan, seorang senior yang tidak pernah memberikan contoh yang baik kepada juniornya, sering membolos

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *