Putus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 5 July 2016

Ketika aku melihat mendung ada satu hal yang aku ingat, yaitu berakhirnya hubungan kita. Aku teringat bagaimana sedihnya dirimu. Engkau meneteskan air mata di hadapanku. Tersayat hatiku ketika aku mengucap kata itu. Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat itu. Hanya emosi yang menguasai diriku. Aku tau ini sangat menyakitkan untukkmu. Tapi semuanya sudah terjadi.

Ingin rasanya aku mendapatkan kembali kenangan-kenangan kita dulu. Susah, sedih, senang, khawatir, takut, dan masih banyak lagi rasa yang kita alami bersama. Aku menggandeng tanganmu ketika kita berjalan menyusuri gemerlapnya cahaya kota. Lampu-lampu kota menambah romantisme kita berdua. Kau memegang lenganku dan tersenyum kepadaku. Senyum manismu itu tak pernah kulupakan. Detik demi detik kita lewati bersama. Aku bersyukur ketika itu.

Setiap aku bangun dari tidur lelapku, namamu adalah hal pertama yang terlintas di pikiranku. Aku mengirimkanmu pesan “selamat pagi” dan berharap aku menjadi penyebab senyum pertamamu di hari itu. Setiap nafas yang kuhembuskan menjadi begitu berarti karena kau menemaniku melewati hari demi hari. Malam yang dingin memaksa kita untuk saling mendekap erat. Kucium keningmu lalu terucap kata “i love you”.

Hari itu pun terjadi. Hari dimana semua berubah, entah apa sebabnya. Mulut kita saling mencaci dan memaki. Ucapan kasar tak terhindarkan. Bahkan, sesekali aku berpikiran untuk melukai pipimu itu. Egois, emosi, dan ingin menang sendiri. Kita sudah berada di titik puncak emosi. Aku tak percaya aku bisa bersikap seperti itu kepadamu. Ini bukanlah hal yang kita inginkan, bukan? Apakah kita sudah capai untuk mempertahankan hubungan ini? Apakah tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk memperbaiki kesalahan? Tangisanmu membuat hatiku semakin sakit. Tetapi lagi-lagi, aku tak bisa mengusap air matamu. Tangan ini seakan tertahan. Iya, tertahan oleh emosi yang menggebu-gebu.

Sudah, aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Perasaanku sudah tak lagi ‘hidup’ untukmu. Mungkin tak ada gunanya lagi melanjutkan kisah kita. Maafkanlah aku, aku terpaksa mengucap kata ini, kata yang akan merubah segalanya tentang kita, kata yang selama ini tidak pernah aku pikirkan untuk aku katakan kepadamu. Inilah dia, PUTUS!

Cerpen Karangan: Aloysius Yunanto
Blog / Facebook: aloyalay.blogspot.co.id / Aloysius Yunanto

Cerpen Putus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Tentangmu

Oleh:
Jantung ini bardegup semakin kencang, memompa darah dua kali lebih cepat. Hujan terus mengguyur bumi disertai dengan suara gemuruh guntur dan juga kilat. Di tengah badai ini aku berdiri

Dua Doa

Oleh:
“Kau lah wanita yang selama ini ku cari dalam hidupku, kau yang kembalikan iman dalam dada ini, hati ini ingin memilihmu namun apalah daya jika kesempatan itu tiada” kata-kata

Antara Tangis dan Tawa

Oleh:
“Lunaaaa, lunaa!” ku dengar teriakan Lina memanggil saudara kembarnya yaitu aku, sontak aku yang sedang asyik baca majalah pun kaget dan langsung menemui Lina yang amat cerewet “Apaan sih

Keabadian Cinta

Oleh:
“Aku sayang sama kamu,” ucap Kak Vincent perlahan dengan tatapan penuh kesungguhan. “A..a..akuu,” perkataanku dihentikan oleh jari telunjuk Kak Vincent yang menempel di bibirku. “Kamu nggak perlu jawab apapun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *